
“Mas, kapan mau ngadain acara aqiqah buat Baby Ars?” tanya Zayna saat dirinya dan sang suami bersiap untuk tidur. Baby Ars sendiri sudah tidur di box sejak tadi.
“Oh iya, Sayang. Aku hampir melupakannya,” sahut Ayman sambil menepuk keningnya.
“Kamu terlalu asyik bersama putra kita, sampai lupa acara untuk penting itu.”
“Iya, Sayang, maaf. Kamu maunya yang seperti apa?” Ayman menghadap ke arah sang istri, dia menyanggah kepalanya dengan tangan.
“Terserah kamu, Mas. Kamu maunya seperti apa?”
“Yang seperti acara tujuh bulanan kamu kemarin saja, sekalian juga sebagai bentuk rasa syukur kita karena kamu dan Baby Ars selamat.”
Zayna tersenyum dan mengangguk. “Iya, Mas. Aku ikut kamu saja.”
“Nanti biar aku hubungi Ilham buat bantu kita.”
“Iya, kamu tentuin harinya dulu, biar nanti aku juga bisa bilang sama Papa Rahmat sama Mama Savina. Barangkali mereka mau datang, kalau nggak juga nggak papa. Mereka sudah semakin tua kalau bolak-balik kasihan naik pesawat.”
“Iya, nanti aku cari harinya.”
“Cari kambing yang bagus, ya, Mas. Kalau bisa kamu cari sendiri, jangan suruh orang. Nanti kalau orang mah sukanya yang beli asal. Asalkan mereka dapat komisi besar.”
“Iya, nanti aku cari sendiri. Ya sudah, ayo kita tidur! Takutnya nanti si baby malah bangun.”
Baru saja mereka merebahkan diri, tiba-tiba saja Baby Ars menangis. Ayman dan Zayna saling pandang dan tertawa bersama. Baru saja mereka membicarakannya, sekarang sudah kejadian.
“Biar aku saja yang melihatnya. Kamu tidurlah,” ucap Ayman yang segera melihat apa yang membuat putranya terbangun.
Saat memeriksa popoknya, ternyata anaknya itu sedang pup. Pria itu mencoba membersihkan sendiri tanpa meminta bantuan sang istri. Ayman banyak belajar tentang apa saja yg harus dilakukan bayi. Zayna menatap apa saja yang dilakukan oleh suaminya. Dia merasa bahagia karena memiliki suami seperti Ayman, yang begitu perhatian pada keluarga.
Pria itu sangat mengerti kerepotan sang istri. Setelah membersihkan anaknya, Ayman menggendongnya lagi. Dia mencoba untuk menidurkan bayi itu kembali. Sekarang Ayman memang sudah tidak takut lagi untuk menggendong anaknya.
Bahkan setiap ada kesempatan, pria itu selalu menggendong Baby Ars. Zayna yang merasa tubuhnya terlalu lelah pun, tanpa sadar sudah tertidur saat melihat kesibukan sang suami.
“Sayang, kamu harus ingat, ya. Kamu nggak boleh nyusahin Mama. Lihatlah dia baru juga merebahkan tubuhnya, sekarang sudah terbang ke alam mimpi. Kamu mengerti, kan, Sayang?” ujar Ayman pada bayinya yang tentu saja tidak mendapatkan tanggapan.
Ayman tersenyum sambil mencium wajah putranya. Cukup lama pria itu menimang Baby Ars hingga akhirnya bayi itu tertidur juga. Dia pun menidurkan anaknya di dalam box bayi dan mengikuti sang istri menuju alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Kinan terbangun, dia melihat pakaiannya, ternyata masih sama seperti semalam. Wanita itu mencoba mengingat acara semalam dan teringat jika dirinya tidur saat di jalan.
__ADS_1
“Apa Mas hanif semalam yang menggendongku?” gumam Kinan.
“Kamu sudah bangun, Sayang. Ini masih pagi sekali.” Hanif berkata sambil memeluk istrinya.
“Ayo, bangun, Mas. Salat Subuh dulu, nanti kita kesiangan.” Kinan mencoba melepas pelukan sang suami. “Mas, semalam kamu yang gendong aku, ya? Kok, aku masih pakai gaun semalam. Aku juga ingatnya tidur di mobil.”
“Iya, aku nggak tega bangunin kamu. Kelihatannya kamu sudah kecapean. Saat aku ingin buka gaun kamu sulit sekali jadi, aku biarkan saja. Semalam kita juga pulangnya malam sekali, kasihan Mama nungguin kita sampai ngantuk.”
Kinan terkejut mendengar apa yang dikatakan sang suami. “Mama nungguin kita?”
“Iya, Mama memang kebiasaan begitu, kalau anaknya belum pulang pasti akan ditungguin. Kadang juga aku suka kesel sama Mama, padahal kita sudah besar masa ditungguin terus. Aku bukannya marah, cuma Mama ‘kan harusnya lebih banyak istirahat. Nggak usah mikirin anak terlalu berlebihan. Aku nggak tega kalau lihat dia sakit.”
“Yang namanya orang tua memang kadang seperti itu, Mas. Mudah-mudahan saja Mama sehat-sehat terus.”
“Amin, ya sudah, ayo kita salat dulu!” ajak Hanif yang kemudian beranjak dari sana.
“Iya, habis ini kamu ajarin aku masak, ya?” Kinan mengikuti sang suami di belakangnya.
“Lagi semangat mau belajar masak, nih?”
“Iya, dong, aku juga ingin seperti wanita yang lain, bisa menyenangkan hati suami.”
“Tidak perlu mengikuti orang lain. Asal kamu selalu ada di sisiku, itu sudah cukup untukku.”
Hanif dan istrinya membersihkan diri, dan mengambil air wudhu. Selanjutnya melaksanakan salat subuh berjamaah. Seperti janjinya tadi, pria itu mengajari sang istri memasak. Kedua orang itu saat ini sedang menguasai dapur.
Dia meminta Bik Isa untuk istirahat saja karena dia ingin berdua saja dengan Kinan. Bik Isa pun melakukan pekerjaan lainnya. Hanif mengajari Kinan dengan telaten, terkadang juga mereka saling bercanda. Tentu saja memasak kali ini didominasi oleh si suami.
Mama Aida yang baru turun pun mendengar suara ribut di dapur. Dia penasaran siapa yang ada di sana, saat sampai wanita itu terkejut melihat dapur yang begitu berantakan dengan dua anaknya di sana. Mama Aida hanya bisa menggelengkan kepalanya.
“Kalian ini mau masak apa mau berantakin dapur? Lihat kotor semua,” tegur Mama Aidah dengan bertolak pinggang.
“Eh, Mama ... iya, ini Mas Hanif yang berantakin, Ma. Masa mau ngajarin aku memasak, tapi malah masakan dia buat sendiri, nggak ngajarin aku,” ucap Kinan membela diri.
“Makanya kamu belajar sama Mama saja, jangan sama suami kamu. Yang ada dia melarang kamu buat pegang ini itu,” sahut Mama Aida membuat Kinan tertawa.
Memang benar seperti yang mertuanya katakan. Hanif sangat posesif sekali pada istrinya, dia akan melarang Kinan pegang ini itu karena takut tersakiti. Pria itu tidak peduli sindiran mamanya, dia tetap melanjutkan masaknya.
“Mama, sebaiknya mandi saja dulu. Nanti baru ke sini lagi. Kita makan sama-sama kalau sudah matang,” kata Kinan.
__ADS_1
“Iya, Mama mau mandi dulu,” sahut Mama Aida sambil melihat ke kiri dan ke kanan kemudian bertanya, “Bik Isa mana?”
“Tadi ke belakang, Ma. Mungkin cuci baju.”
“Ya sudah Mama mau ke kamar dulu. Ingat kalian harus beresin dapurnya! Jangan bergantung sama Bik Isa.”
“Iya, Ma.”
Hanif masih melanjutkan masaknya, sementara Kinan mulai membersihkan peralatan yang sudah tidak dipakai. Setelah semuanya selesai keduanya kembali ke kamar dan membersihkan diri.
“Kamu ada kuliah pagi, Sayang?” tanya Hanif saat keduanya bersiap.
“Iya, Mas. Hari ini ada dua mata pelajaran, satu pagi satu siang. Aku boleh bawa mobil, kan? Nanti kalau habis pelajaran pertama, aku mau ke rumah Mama sebentar, mau nengokin Baby Ars. Aku kangen sama dia.”
“Iya, terserah kamu saja. Hati-hati nyetirnya.”
“Iya, Mas. Terima kasih, ayo kita ke depan!”
“Kamu sudah selesai? Sekalian bawa tas kamu, kita langsung berangkat saja.”
“Aku nanti saja, Mas. Masih ada waktu setengah jam.”
Hanif mengangguk kemudian menarik tangan istrinya. “Ayo kita turun, Papa sama Mama pasti sudah nungguin kita. Nanti bisa-bisa mereka ngomel lagi.”
Hanif dan Kinan turun menuju ruang makan. Di sana sudah ada Mama Aida dan Papa Wisnu.
“Kalian baru turun, Papa sudah makan duluan itu,” ucap Mama Aida sambil menunjuk ke arah sang suami.
“Nggak apa-apa, Ma. Papa juga pasti sudah lapar karena terlalu lama nunggu kita. Kita juga nggak keberatan. Mama sendiri kenapa nggak ikut makan juga?”
“Mama nungguin kalian.”
Hanif mengembuskan napas, lagi-lagi seperti itu. Mamanya selalu saja seperti itu, tetapi percuma juga jika dilarang dirinya yang akan kalah. Dibalik itu dia senang Mama Aida begitu menyayangi Kinan seperti anak sendiri.
Kinan tersenyum dan berkata, “Kenapa harus nungguin kami? Mama bisa makan duluan, nggak apa-apa."
"Mama lebih suka makan rame-rame.”
Hanif dan Kinan duduk di kursi yang biasa mereka tempati. Mereka pun menikmati sarapan pagi, sebelum melanjutkan aktivitasnya masing-masing. Kinan sangat senang memiliki mertua seperti Mama Aida. Yang begitu perhatian pada keluarga, begitu juga pada anak mantu yang diperlakukan seperti anak sendiri.
__ADS_1
Dulu dia sangat iri kepada Zayna karena memiliki mertua sebaik mamanya. Kini wanita itu bersyukur dirinya juga memiliki mertua yang baik juga. Setelah semuanya selesai menikmati sarapan, Papa Wisnu dan Hanif pun pergi ke kantor, sementara Mama Aida dan Kinan masih di rumah. Keduanya membersihkan meja dan piring bekas makan tadi.
.