
Sementara itu, di kampus Niko menarik tangan Felly. Pria itu mengajak sang kekasih menuju tempat yang sepi. Dia harus berbicara dengan wanita itu tentang apa yang dilakukannya tadi. Niko yakin itu semua bisa berakibat fatal bagi masa depannya.
Pria itu tidak mau masa depan yang sudah dia rancang, hancur begitu saja oleh wanita seperti Felly. Sudah banyak waktu dan tenaga yang Niko korbankan. Pria itu tidak mau semuanya sia-sia.
"Kamu itu apa-apaan, sih, Feli. Bagaimana kalau terjadi sesuatu pada Kinan? Kita tidak akan bisa selamat. Kamu pasti sudah tahu 'kan siapa keluarga Kinan dan juga Pak Hanif? Mereka dari keluarga terpandang dan berkuasa. Ingat! Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak ingin terlibat di dalamnya."
"Apa kamu bilang? Seenaknya saja kamu mengatakan hal itu. Aku melakukannya juga karena kamu. Ingat! Kita sudah jadian, tapi kamu masih saja mengejar-ngejar mantan kamu itu. Padahal aku lebih cantik," sahut Felly dengan gaya sombongnya.
"Fel, kita sudah sama-sama dewasa. Seharusnya kamu mengerti. Aku hanya bicara biasa saja dengan Kinan. Kami tidak melakukan hal yang di luar batas."
Niko benar-benar kesal dengan kekasihnya itu. Apa gadis itu belum sadar juga, bahaya apa yang sedang menghantuinya. Dia sangat takut jika keluarga Kinan bertindak.
"Memang belum, tidak tahu kalau nanti setelah berbicara sama kamu."
Niko menggelengkan kepalanya. Dia tidak percaya dengan apa yang didengar. "Ternyata tidak ada gunanya berbicara denganmu. Semua percuma, mulutku sampai berbusa.
Pria itu meninggalkan Felly begitu saja. Mereka baru saja jadian, tetapi gadis itu sudah membuat masalah untuknya. Niko memang sudah banyak mendengar tentang sikap buruk Felly. Namun, dia tidak ambil pusing, selama dirinya bisa memanfaatkan gadis itu. Sekarang saat sudah menjadi kekasih malah membuat masalah untuknya.
Sementara itu, Hanif yang berada di luar kota mendapat telepon dari Pak Munif. Temannya itu menanyakan mengenai keadaan Kinan. Hanif yang tidak tahu apa pun menjadi panik setelah mendengar cerita dari Pak Munif. Pria itu berusaha menghubungi istrinya.
Namun, hingga berkali-kali tetap tidak ada yang mengangkat. Ponsel Kinan sendiri kini berada di mobil Frans beserta tasnya. Hanif pun mencoba menghubungi papanya. Dia yakin jika ada seseorang yang menghubungi keluarganya.
"Halo, assalamualaikum," ucap Papa Wisnu setelah menggeser tombol hijau. Suara pria itu terdengar begitu tenang, seperti tidak terjadi sesuatu.
"Waalaikumsalam, Pa. Bagaimana keadaan Kinan? Apa terjadi sesuatu padanya? Kinan tidak apa-apa, kan, Pa?" tanya Hanif beruntun, membuat Papa Wisnu juga ikut panik. Dia tidak tahu apa pun, kenapa sang putra kedengarannya sangat panik.
"Terjadi sesuatu apa? Kinan pergi ke kampus tadi. Dia sudah pergi ," jawab Papa Wisnu dengan suara keras.
"Papa sekarang ada di mana? Tadi barusan Pak Munif telepon katanya Kinan mengalami kecelakaan. Dari tadi aku sudah mencoba menghubungi nomornya, tapi tidak diangkat. Papa tolong cari tahu bagaimana keadaannya. Kata Pak Munif Kinan dibawa ke rumah sakit terdekat dari kampus."
"Iya, nanti Papa cari. Ya sudah, Papa pergi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Papa Wisnu segera mematikan ponselnya. Mama Aida yang sedang tertidur pun terbangun karena mendengar suara sang suami. Dia yakin pasti telah terjadi sesuatu.
__ADS_1
"Ada apa, Pa? Kenapa dengan Kinan? Tadi Mama dengar Papa menyebut nama Kinan?" tanya Mama Aida yang juga khawatir.
"Papak juga tidak tahu, Ma. Kata Hanif Kinan mengalami kecelakaan. Sekarang ada di rumah sakit. Sebaiknya kita segera ke sana saja."
"Apa? Bagaimana bisa seperti itu? Bagaimana keadaannya, Pa?" Mama Aida segera bangun dan mendekati sang suami.
Papa juga nggak tahu, makanya kita harus segera ke rumah sakit. Mama mau ikut ke rumah sakit apa di rumah saja? Mama juga sakit, kalau begitu Mama di rumah saja."
"Mama nggak pa-pa, Mama mau ikut. Mama bisa pakai jaket."
Kedua orang itu pun menuju rumah sakit terdekat dari kampus Kinan. Di perjalanan Mama Aida mencoba menghubungi Mama Aisyah. Baru di dering pertama sudah diangkat.
"Halo, Aisyah kamu ada di mana?"
"Aku ada di rumah sakit. Tadi aku dapat telepon katanya Kinan masuk rumah sakit," jawab Mama Aisyah yang berada di seberang telepon. Suaranya juga terdengar begitu khawatir.
"Oh, kamu sudah tahu dan sekarang ada di sana? Bagaimana keadaannya?" tanya Mama Aida.
"Kinan masih diperiksa sama dokter. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaannya."
"Katanya kamu sakit, kenapa kamu memaksakan diri untuk datang. Sebaiknya kamu istirahat saja."
"Siapa bilang aku sakit? Aku tidak apa-apa."
"Kata orang yang menolong Kinan. Tadi mereka menelponku karena tidak mau merepotkan kamu. Katanya Kinan bilang kamu sakit, Hanif juga ada di luar kota."
"Iya, Hanif memang ada di luar kota, dia sedang mengurus surat adopsi Adam. Aku juga nggak pa-pa, cuma lagi capek saja. Kenapa nggak ngabarin saja."
"Kamu tahu Kinan lah, dia tidak mau kamu semakin sakit, makanya dia tidak menghubungi kamu."
"Kamu tunggu di sana, sebentar lagi aku akan sampai. Jika ada sesuatu, segera hubungi aku, ya! Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Mama Aida menutup ponselnya. Wanita itu memijat keningnya. Seharusnya tadi dia ikut saja permintaan Kinan untuk segera periksa jadi, keadaannya pasti sudah membaik. Sekarang Mama Aida harus menahan sakit kepala, belum lagi badannya yang sudah mulai kedinginan.
__ADS_1
"Bagaimana, Ma?" tanya Papa Wisnu pada sang istri.
"Aisyah sudah ada di sana, Pa, tapi dia belum tahu keadaan Kinan. Dokter masih memeriksanya."
Papa Wisnu mengangguk dan kembali fokus pada kemudinya. Dia tidak tahu kecelakaan seperti apa yang dialami sang menantu, tetapi dari apa yang pria itu dengar tadi. Sepertinya keadaan Kinan baik karena masih bisa berbicara.
Tidak berapa lama, akhirnya mobil yang dikendarai Papa Wisnu sampai juga di rumah sakit. Keduanya turun dan segera menuju resepsionis untuk menanyakan keberadaan Kinan. Mereka terkejut saat diberitahu jika Kinan berada di ruang dokter kandungan. Mengingat menantu mereka yang belum hamil atau memang sudah, tapi mereka yang tidak tahu.
Tidak mau terlalu banyak berpikir, Papa Wisnu mengajak Mama Aida menuju tempat ruangan dokter kandungan. Begitu sampai, di depan ruangan tampak Mama Aisyah berbicara dengan seorang dokter.
"Aisyah!" panggil Mama Aida.
"Aida!" seru Mama Aisyah yang segera berlari dan memeluk temannya itu. Wajahnya sudah berlinangan air mata, membuat Mama Aida semakin khawatir.
"Kamu kenapa? Apa yang terjadi pada anak kita? Kinan tidak apa-apa, kan?" tanya Mama Aida dengan mata berkaca-kaca.
Dia mengira jika sesuatu yang buruk telah terjadi pada menantunya. Mama Aisyah mengurai pelukan. Wanita itu menggeleng sambil tersenyum, membuat Mama Aida semakin tidak mengerti, apa maksud dari sahabatnya itu.
"Kamu ini bicara apa, sih? Bicara yang jelas. Kamu jangan membuat aku penasaran." Mama Aida terlihat kesal pada besannya itu.
"Kita akan segera menjadi nenek. Kinan hamil, sekarang masih ada di dalam. Dokter baru saja memeriksanya," jawab Mama Aisyah membuat Mama Aida dan Papa Wisnu terkejut sekaligus bahagia. Mereka tidak menyangka akan mendengar kabar baik yang selama ini ditunggu.
"Benarkah itu?"
Mama Aisyah kembali mengangguk sambil tersenyum.
"Alhamdulillah, akhirnya apa yang kita impikan kesampaian juga. Aku sangat bahagia, Syah. Aku jadi ingin segera bertemu dengan Kinan. Apa kita boleh masuk?"
"Belum, dokter belum memindahkan Kinan ke ruang rawat. Kita tunggu saja di sini."
Mama Aida mengangguk. "Sebaiknya aku telepon Hanif. Pasti dia sangat senang setelah mendengar kabar ini," ucap wanita itu sambil mencari ponselnya yang berada di dalam tas.
"Ma, jangan. Biar itu menjadi urusan anak-anak. Kinan saja yang mengatakan pada Hanif. Pasti dia ingin memberi kejutan untuk suaminya," sela Papa Wisnu yang membuat Mama Aida menghentikan gerakannya.
.
__ADS_1
.