Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
258. S2 - Perjodohan


__ADS_3

"Aku setuju sama Kak Arslan. Nanti kalau kakak sudah punya calonnya, kenalin sama kita-kita, ya, Kak. Biar kita bisa deket sama calon kakak ipar," sahut Aina yang diangguki oleh Aini.


"Iya, Kak. Sekalian juga kita bisa menilai dia itu baik apa enggak buat Kakak."


"Enggak mau, yang ada nanti kalian recokin. Sama seperti wanita-wanita yang pernah dekat dengan Adam," sahut Arslan dengan menggelengkan kepalanya.


"Itu mereka saja yang mentalnya kurang kuat, makanya langsung kabur," kilah Aini yang mendapat dengusan dari Arslan.


Arslan menatap langit-langit kamar sambil berpikir, kemudian dia pun bertanya, "Menurut kalian wanita yang seperti apa yang baik untuk dijadikan seorang Istri."


"Kalau itu jangan tanya kami, Kak. Kami juga tidak tahu, kita masih minim pengetahuan. Kakak tanyakan saja sama Mama atau sama Papa. Mereka pasti lebih paham tentang kriteria seperti itu," jawab Aini.


Arslan mengembuskan napas kasarnya. Bagaimana bisa dia bertanya pada kedua orang tuanya saat pria itu sedang dihukum. Tentu saja Arslan tidak memiliki keberanian. Mungkin nanti saat ada waktu yang tepat dia bisa bertukar pikiran dengan kedua orang tuanya. Biasanya dia juga selalu bicara dengan Zayna dan mengadu pada wanita itu, setiap kali ada sesuatu yang mengganjal hatinya.


Saat mereka sedang berbincang, pintu kamar diketuk oleh seorang yang tidak lain adalah Bik Ira. Wanita paruh baya itu memberi tahu jika mereka sudah ditunggu di ruang makan, untuk makan malam. Ketiganya pun turun ke lantai bawah untuk menikmati makan malam. Di meja makan sudah ada Zayna dan Ayman yang sudah menunggu.


Arslan memimpin doa kemudian, mereka menikmati makan malam bersama. Ketiga bersaudara itu sama sekali tidak berselera untuk menikmati makan malamnya. Si kembar masih berharap Papa Ayman mengembalikan gadget mereka. Akhir-akhir ini juga banyak tugas.


"Kenapa kalian tidak makan? Apa makanannya tidak enak?" tanya Zayna pada anak-anaknya. Wanita itu tahu apa yang membuat mereka seperti ini, dia hanya ingin tahu jawaban dari ketiganya.


"Tidak, Ma. Makanannya enak, cuma kami lagi malas saja," jawab Aini.


"Kalau kalian bersikap seperti itu hanya karena ingin barang kalian kembali, sebaiknya lupakan saja. Papa tidak akan mengembalikannya selama setahun ke depan," ucap Ayman yang semakin membuat Aini cemberut.


Memang sangat sulit untuk membujuk papanya, kecuali Mama Zayna yang bisa. Entah kenapa kali ini sepertinya rayuan wanita itu pun tidak mempan. Mereka semakin yakin jika Ayman sedang merencanakan sesuatu. Entah apa itu.


"Apa tidak ada hukuman yang lain saja, Pa? Kenapa harus menyita barang-barang kami?" tanya Arslan.


"Memangnya hukuman apa lagi yang cocok untuk kalian? Hanya itu saja yang tersisa, kalau yang lain pasti kalian bisa lewati. Sudah terlalu sering Papa menghukum kalian."


"Pasti ada, jangan sita ponsel kami. Paling tidak ponselku saja, jangan mereka. Mereka butuh laptop dan ponsel untuk kuliah," ucap Arslan. Dia tidak tega melihat adik-adiknya harus menulis di buku sebanyak itu.

__ADS_1


Ayman terlihat berpikir kemudian, menatap anaknya satu persatu. Arslan dan si kembar merasa ada sesuatu yang tidak enak saat ini. Pasti papanya menginginkan sesuatu, yang sangat sulit untuk mereka lakukan. Begini saja sudah menyeramkan, bagaimana nanti.


"Jangan menatap kami seperti itu, Pa. Rasanya horor sekali," ucap Arslan dengan begidik ngeri.


"Ada satu syarat. Kalau kalian setuju, Papa akan mengembalikan barang-barang kalian semua," ucap Ayman.


Ketiga anaknya pun terlihat begitu antusias ingin tahu apa syarat dari papanya. "Apa syaratnya, Pa? Jangan terlalu sulit."


"Ini tidak sulit, hanya perlu satu orang yang melakukannya. Setelah itu yang lain bebas melakukan apa pun."


Ketiga bersaudara itu saling berpandangan, kira-kira siapa yang dimaksud oleh Papa Ayman. Kenapa perasaan mereka tiba-tiba tidak enak, sepertinya ini akan sangat sulit. Terlihat dari ekspresi yang dibuat papanya.


"Memang Papa menginginkan apa dari salah satu diantara kami?" tanya Aini dengan sedikit was-was.


"Papa kemarin bertemu sahabat lama Papa dan sekarang dia ternyata sudah menjadi seorang pemimpin pondok pesantren. Dia memiliki seorang anak gadis dan Papa ingin Arslan menikah dengannya," ucap Ayman yang membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut, termasuk Zayna yang juga tidak mengetahui rencana sang suami.


Ayman sama sekali tidak pernah membicarakan mengenai hal ini sebelumnya. Bahkan bercerita temannya saja tidak pernah. Entah kapan tepatnya mereka bertemu dan apa saja yang dibicarakan. Zayna sendiri tidak keberatan dengan perjodohan ini jika calon gadisnya memang orang baik.


Arslan sendiri tidak menyangka akan dijodohkan oleh sang papa. Meskipun dia tidak suka berpacaran, bukan berarti pria itu juga menerima perjodohan. Arslan ingin menikah dengan orang yang dia cintai dan mencintainya.


"Pa, kenapa syaratnya sulit sekali? Apa tidak ada syarat yang lainnya?" keluh Arslan yang tidak ingin menerima perjodohan ini, tetapi kasihan pada adik-adiknya.


"Pilihannya hanya dua. Barang-barang kalian Papa sita sampai setahun ke depan atau kamu mau menerima perjodohan ini. Lagi pula dia gadis yang baik, Papa yakin dia bisa menjadi istri dan ibu yang baik untuk rumah tangga kalian kelak."


"Tapi aku nggak mau dijodohin, Pa!"


"Terus kamu maunya apa? Mau pacaran dengan bebas di luar sana begitu? Sudah beberapa kali Papa bilang, Papa tidak suka kamu menjalin hubungan wanita dan mempermainkannya. Seperti yang kamu lakukan pada Imel. Bagaimana perasaan wanita itu nanti jika mengetahui kalau kamu, mendekatinya hanya untuk menginginkan sesuatu? Jangan kira Papa tidak tahu, orang-orang Papa ada di mana-mana."


"Itu bukan sesuatu yang berarti untuknya. Dia juga sudah biasa bergonta-ganti laki-laki."


"Bukan berarti kamu juga termasuk laki-laki itu. Papa tidak suka kamu berbuat seperti itu. Papa tidak pernah mengajari kamu menjadi seorang pria pengecut. Bagaimana jika ada orang yang mempermainkan perasaan adikmu dengan alasan balas dendam? Apa kamu akan diam saja?"

__ADS_1


"Tentu saja tidak, Pa. Aku tidak akan membiarkan orang itu hidup dengan tenang," sahut Arslan dengan cepat.


"Begitu juga dengan keluarga Imel. Mereka tidak akan melepaskan kamu. Kalau kamu ada waktu senggang, temui Imel dan minta maaf padanya. Apa yang dilakukan wanita itu tidak ada urusannya dengan kamu. Lain kali pikirkan dulu sebelum melakukan sesuatu. Sebaiknya segera lakukan perintah Papa,"


"Iya, Pa. Aku akan minta maaf padanya. Mengenai perjodohan itu, aku tidak mau menerimanya."


"Itu terserah padamu. Papa juga tidak akan memaksa, tapi kemarin selama satu tahun ini, tidak ada alat elektronik, gadget dan lainnya untuk kalian."


"Yah, Papa Kok gitu, sih!" keluh si kembar.


"Kalau kalian mau barang kalian kembali, suruh Kakakmu menerima perjodohan ini," ucap Ayman yang membuat si kembar menatap kakaknya.


Namun, Arslan menggeleng dengan tegas. Dia memang tidak mau berpacaran, tapi bukan berarti dia mau menerima perjodohan ini. Pria itu hanya ingin menikah dengan wanita yang dia cintai. Si kembar menunduk sedih, hukuman mereka benar-benar akan terlaksana selama satu tahun.


Sebenarnya mereka bisa saja memaksa kakaknya untuk menerima perjodohan ini. Akan tetapi, setelah dipikirkan kembali pernikahan bukanlah sebuah permainan, mereka juga ingin kakaknya bahagia. Tidak mungkin keduanya memaksa Arslan. Pasti ada cara lain untuk meringankan hukuman yang mereka terima nanti.


"Sekarang kalian lanjutkan saja makannya," ucap Ayman yang kemudian menatap Arslan. "Mengenai syarat dari Papa, bisa kamu pikirkan baik-baik. Kapan pun kamu berubah pikiran, katakan saja sama Papa."


Ayman dan Zayna kembali melanjutkan makan malamnya, sementara ketiga anaknya sudah tidak berselera makan. Mereka hanya makan sedikit kemudian, berpamitan untuk kembali ke kamar. Zayna terdiam sambil memandang ke arah sang suami.


"Ada apa, sih, Sayang? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Ayman sambil melihat sang istri sejenak.


"Apa maksud kamu menjodohkan Arslan dengan seorang gadis? Kenapa kamu tidak mengatakan apa pun sama aku, Mas?" tanya Zayna pada sang suami dengan kesal. Bagaimanapun juga dia adalah ibunya, tetapi Ayman sama sekali tidak mengatakan apa pun.


"Sebenarnya aku juga baru bertemu dengan Lukman kemarin bersama istrinya. Mereka orang-orang yang baik. Aku yakin mereka bisa mendidik anaknya dengan baik."


"Apa kamu yakin? Bukankah kamu bilang kalau kamu tidak bertemu dengan dia cukup lama?"


.


.

__ADS_1


__ADS_2