Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
70. Meninggal


__ADS_3

"Zivana!" teriak Zayna. Dia begitu terkejut melihat keadaan adiknya yang sudah bersimbah darah. Wanita itu segera mendekati Zivana dengan tubuh gemetar. Darah mengalir dari sela paha adiknya membuat Zayna semakin ketakutan.


"Papa! Mama! Mas! Cepet ke sini! Tolong!" teriak Zayna lagi. Namun, tak kunjung ada yang datang. Dia pun kembali berteriak dengan keras, meminta tolong pada keluarganya agar cepat datang.


"Ada apa, Sayang? Kenapa kamu berteri ... astaghfirullahaladzim!" pekik Ayman yang begitu terkejut melihat keadaan adik iparnya. Darah yang mengalir di sekitar tubuh Zivana membuat pria itu tidak mampu bergerak.


"Zivana!" teriak Mama Savina yang segera memeluk sang putri.


"Se–sebaiknya kita bawa ke rumah sakit," ucap Zayna.


Ayman menatap sang istri meminta persetujuan untuk mengangkat tubuh adik iparnya. Zayna yang mengerti pun segera mengangguk. Pria itu segera mengangkat tubuh Zivana dan membawanya ke rumah sakit.


"Mama sama papa nyusul, ya! Biar aku yang bawa sama Zayna," ucap Ayman setelah memasukkan Zivana di kursi belakang dengan Zayna.


Sebenarnya Mama Savina ingin ikut dengan Ayman, tapi melihat kondisi sang suami pasti nantinya akan lebih merepotkan. Mau tidak mau wanita itu pun mengangguk. Papa Rahmat merasa menjadi Ayah yang tidak berguna di saat seperti ini. Padahal putrinya sedang membutuhkan dirinya. Namun, dia sama sekali tidak bisa membantu apa pun.


Ayman dan Zayna segera meninggalkan rumah. Selama perjalanan, wanita itu terus saja mencoba menyadarkan adiknya yang masih enggan untuk membuka mata. Darah di sela paha Zivana terus saja mengalir hingga membasahi kursi mobil. Zayna semakin ketakutan melihat hal itu.


Berbagai pemikiran buruk masuk ke kepalanya. Dia bertanya-tanya, apa yang membuat adiknya bisa seperti ini? Apa mungkin terjatuh atau Zivana melakukan sesuatu yang berbahaya.


Air mata Zayna mengalir semakin deras. Meskipun hubungannya dengan sang adik tidak begitu akrab, tetap saja Zivana adalah adiknya. Wanita itu juga sangat menyayangi sang adik.


Perjalanan ke rumah sakit seolah terasa sangat jauh bagi mereka. Ayman yang juga sedang gugup, mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Dia tidak ingin istrinya semakin khawatir. Baru kali ini pria itu mengemudikan mobil yang ada pasien kritis. Rasanya benar-benar menegangkan.


Tidak berapa lama, akhirnya sampai juga di rumah sakit. Ayman memanggil perawat dan memintanya untuk menolong sang adik. Perawat pun datang dengan membawa brankar. Mereka mengeluarkan Zivana yang sudah lemas. Wajahnya pun berubah jadi pucat.


Gadis itu dibawa ke ruang ICU. Ayman dan Zayna menunggunya di depan ruangan. Keduanya tampak gelisah memikirkan keadaan Zivana. Selang beberapa menit, Mama Savina datang sambil mendorong kursi Papa Rahmat dengan berlari.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan Zivana?" tanya Mama Savina dengan napas yang ngos-ngosan.


"Masih belum tahu, Ma. Masih di tangani sama dokter di dalam," jawab Zayna.


"Semoga Zivana baik-baik saja." Doa Mama Savina. Meskipun jauh di dalam hatinya dia tahu pasti akan terjadi sesuatu pada putrinya, mengingat bagaimana keadaan Zivana saat ditemukan.


"Keluarga pasien!" panggil seorang dokter yang baru saja keluar.


"Iya kami, Dok."


Dokter itu menarik napas dalam-dalam sebelum bicara. "Mohon maaf, kami sudah sangat berusaha, tapi Tuhan berkehendak lain. Pasien tidak bisa kami selamatkan dan meninggal dua puluh menit yang lalu. Saya sangat menyesal. Saya turut mengucapkan duka cita."


Semua orang mematung. Tidak ada yang bergerak sedikit pun seolah masih mencerna apa yang dokter katakan. Mereka tidak percaya karena baru kemarin semua orang mendatangi keluarga Tio bersama-sama. Apalagi Mama Savina yang begitu menyayangi putrinya.


"Tidak mungkin secepat ini Zivana pergi. Dokter sedang bercanda, kan? Tidak mungkin putri saya meninggal begitu saja. Tidak mungkin dia meninggalkan saya! Dokter, tolong periksa lagi anak saya. Pasti ada kesalahan di sini!" jerit Mama Savina. Dia tidak bisa menerima keadaan ini begitu saja.


"Mohon maaf, Bu, tapi begitulah kenyataannya."


Perawat yang berada di sana pun mencoba membantu dengan membawanya ke sebuah ruangan yang ada di sebelah sana. Sedangkan Papa Rahmat, tidak mampu melakukan apa pun. Dia masih berdiam diri di tempat. Zayna yang melihat papanya hanya berdiam diri pun segera mendekatinya.


"Papa, tidak apa-apa, kan?" tanya Zayna sambil menyentuh pundak pria itu untuk menyadarkannya.


"Oh, Zayna. Tadi Papa melamun, seperti mendengar kalau dokter mengatakan jika Zivana sudah meninggal. He he he, Papa ada-ada saja, ya! Disaat seperti ini, malah melamun yang tidak, tidak," ucap Papa Rahmat dengan tertawa sumbang.


"Papa sedang tidak melamun. Tadi dokter memang berkata seperti itu. Aku harap Papa bisa kuat menghadapi semua ini," ujar Zayna seketika membuat Papa Rahmat menatap putrinya.


"Tidak, Na. Itu tidak benar. Zivana baik-baik saja. Dia sedang diperiksa di dalam."

__ADS_1


"Pa, jangan seperti ini. Papa harus kuat untuk menguatkan semuanya. Terutama Mama Savina. Dia benar-benar hancur saat ini. Papa adalah kepala keluarga dan harus melindungi semua orang dan memberi kekuatan."


Sementara itu, di sebuah gedung pengadilan, Zanita merasa sedih. Keluarganya tidak ada yang datang untuk menghadiri persidangan pertamanya. Padahal seharusnya Papa Rahmat datang sebagai sebagai saksi sekaligus korban. Mengenai Fahri, dia tidak tahu bagaimana keadaan sang suami kini.


Sejak kedatangan Fahri yang membahas perceraiannya, pria itu tidak pernah datang lagi. Zanita pun tidak bertanya pada pengacara atau mamanya. Dia sudah pasrah dengan rumah tangganya.


Zanita merasa dirinya sudah tidak ada yang menyayangi lagi. Dia benar-benar menyesal atas apa yang sudah dilakukan. Rasa iri pada saudaranya membuat wanita itu melakukan kesalahan yang sangat besar.


Tidak berapa lama pengacara Zanita datang. Dia mengatakan bahwa sidang ditunda. Zanita terkejut dibuatnya. Wanita itu sudah menunggu hari ini, tetapi tiba-tiba batal begitu saja.


"Kenapa ditunda, Pak. Apa ada sesuatu yang telah terjadi?" tanya Zanita sambil menatap pria yang ada di depannya.


Pengacara itu pun bingung harus menjelaskan bagaimana. "Itu ... anu ...."


"Itu apa, Pak? Katakan saja, tidak perlu takut."


"Sidang ditunda karena adik Anda, Zivana meninggal dunia." Zanita terkejut. Tubuh wanita menegang. Dia tidak percaya dengan apa yang didengar. Pasti ada yang salah.


"Tidak! Itu tidak mungkin. Anda pasti salah. adik saya juga baik-baik saja. Dia juga tidak sakit apa pun."


"Tapi, itulah yang saya dengar dari Pak Ayman. Anda bisa datang ke rumah duka dengan dikawal polisi."


"Saya mau, Pak. Saya ingin memastikan apa benar itu adik saya," ucap Zanita antusias dengan mata berkaca-kaca. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana keadaan mamanya saat ini. Kemarin saat melihat dirinya di penjara saja Mama Savina begitu terluka, apalagi sekarang.


"Boleh, sebentar saya bicara dulu dengan petugas kepolisian." Pengacara itu pun berbicara dengan petugas kepolisian yang ada di sana. Dia juga meminta agar mereka memakai pakaian biasa saja saat mengantar Zanita ke rumah duka. Mereka pun menyanggupi hal itu.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2