
“Aku ingin penjelasannya sekarang, Pak. Kalau bersama yang lainnya pasti aku kurang jelas. Mereka terlalu berisik,” ucap Nayla yang masih memohon pada Hanif.
"Mereka yang terlalu berisik atau kamu yang kurang memperhatikan?" tanya Hanif yang membuat Nayla terdiam. Nyatanya gadis itu memang kurang memperhatikan penjelasan Hanif saat di kelas.
“Tunggu sebentar,” ucap Hanif yang kemudian mengambil ponselnya yang ada di saku dan menghubungi seseorang.
Dia meminta orang tersebut untuk datang. Pria itu tidak menjelaskan alasan memintanya datang. Lima menit kemudian seorang gadis mendekati mereka dengan buku di tangannya. Nayla hanya memperhatikan saja tanpa bertanya. Dia sangat tahu jika gadis yang baru datang adalah asisten dosen yang terkadang menggantikan Hanif.
“Maaf, Pak. Kenapa Anda meminta saya datang?” tanya seorang gadis yang bernama Fatimah.
“Fatimah, bantu gadis ini. Dia masih ada yang belum mengerti pelajaran saya,” jawab Hanif yang kemudian beralih menatap Nayla. “Dan kamu, Fatimah adalah asisten saya. Kamu bisa meminta penjelasan padanya. Saya permisi, mari Pak Munif!”
Hanif pergi bersama Pak Munif menuju ruang dosen. Sepanjang perjalanan keduanya berbincang, sesekali membalas sapaan mahasiswa.
“Bagaimana penyelidikanmu mengenai kejadian kemarin? Apa sudah tahu siapa pelakunya?” tanya Pak Munif.
“Belum, dia memakai jaket dan memakai masker, jadi sulit untuk mengetahui siapa pelakunya.”
“Kamu sendiri, apa punya gambaran siapa pelakunya?”
“Tidak ada. Di kampus sebesar ini, siapa pun bisa jadi pelakunya," jawab Hanif sambil menerawang ke atas. Memikirkan kira-kira siapa pelakunya.
Pak Munif mengangguk. Apalagi mengingat bagaimana killer-nya Hanif. Pasti banyak yang menaruh dendam pada pria itu. Orang zaman sekarang bisa sangat nekat melakukan segala sesuatunya.
“Ya sudah, aku harus mengisi kelas. Nanti kita ngobrol lagi.” Pak Munif meninggalkan Hanif yang sibuk dengan beberapa buku.
****
Hari ini Zayna dan Ayman mengajak Papa Rahmat dan Mama Savina jalan-jalan di pantai. Tadinya mereka juga ingin mengajak Papa Hadi dan Mama Aisyah. Namun, keduanya menolak dengan alasan sudah punya kesibukan. Jadilah mereka berempat yang sekarang di sini.
“Pantai di sini sangat bersih, ya, Pa!” seru Mama Savina.
“Iya, Ma. Beda jika di kota kita yang keruh dan banyak sampah di mana-mana,” sahut Papa Rahmat sambil melihat sekeliling.
“Papa sama Mama sering-sering saja berkunjung. Nanti kita bisa ke sini bersama atau mau ke tempat lain juga masih banyak,” ucap Ayman.
__ADS_1
"Boleh, kapan-kapan kalau ada waktu kami akan ke sini."
“Ma, Zanita apa kabar?” tanya Zayna.
Entah kenapa tiba-tiba dia merindukan sang adik. Meski Zanita sudah terlalu sering menyakitinya, tidak dipungkiri bahwa Zayna menyayanginya. Terkadang ada rasa ingin menghubungi Zanita, tetapi takut jika adiknya menolak.
“Dia baik-baik saja. Dia juga ikut senang mendengar kehamilanmu. Dia ingin segera bisa keluar agar bisa melihat keponakannya lahir nanti,” jawab Mama Savina dengan tersenyum.
“Alhamdulillah jika dia baik-baik saja. Titip salamku untuknya."
“Iya, nanti Mama sampaikan,” sahut Mama Savina.
Zanita sekarang memang sudah banyak berubah. Wanita itu sekarang menjadi orang yang baik dan sangat sabar menghadapi apa pun. Sebagai seorang ibu, tentu saja Savina senang melihatnya. Dia ingin yang terbaik untuk anak-anaknya.
Mengingat bagaimana kepribadian Zanita dulu, membuat Mama Savina berkali-kali mengucap syukur. Papa Rahmat juga ikut senang melihatnya. Meski dia sekarang harus duduk di kursi roda, tetapi setidaknya ada hikmah dibalik semua kejadian.
“Sayang, ayo kita jalan-jalan di tepi pantai! Masa kita ke sini cuma duduk-duduk saja,” ajak Ayman.
“Boleh, Mas. Ayo, Pa, Ma! Kita jalan-jalan.”
“Tidak, kalian saja. Kami di sini menikmati pemandangan.”
Ayman dan Zayna menelusuri tepi pantai dengan kaki telanjang. Suara gemuruh ombak terdengar seperti alunan musik yang merdu, mengiringi perjalanan keduanya. Air yang begitu jernih terasa menyejukkan kala mengenai kaki mereka. Sesekali canda dan tawa mengiringi langkah keduanya.
Kebersamaan yang begitu sederhana, tetapi sungguh membuat keduanya sangat bahagia. Ayman tidak ingin momen seperti ini hilang begitu saja. Dia akan berusaha menciptakan kebersamaan seperti ini selanjutnya. Pria itu akan berusaha membuat istrinya bahagia.
Selanjutnya bukan hanya mereka berdua yang pergi. Akan ada malaikat kecil diantara keduanya. Yang pasti semakin menambah kebahagiaan keluarga. Ayman sudah tidak sabar menantikan hari itu tiba.
Bayang-bayang kebahagiaan hadir di depan mata. Bahkan tidak jarang terbawa hingga ke alam mimpi.
“Sayang, mau gendong?” tawar Ayman.
“Nggak, ah, Mas. Takut Dede bayinya ketekan.”
“Gendong depan, Sayang. Bukan belakang.”
__ADS_1
“Nggak mau, lebih romantis begini saja,” ucap Zayna sambil bergelayut di lengan sang suami.
Ayman tersenyum menanggapinya. Melihat wajah sang istri bahagia, itu sudah cukup bagi pria itu. Semoga selalu seperti ini.
Senja yang begitu memukau membuat semua orang menghentikan aktivitasnya. Pemandangan yang begitu indah meski hanya beberapa menit.
Papa Rahmat dan Mama Savina juga menikmati waktu berdua, yang sudah hampir tidak pernah mereka rasakan. Kesibukan keduanya telah mengikis kebersamaan itu dan hari ini, mereka seperti sedan bernostalgia.
Ayman mengajak istri dan mertuanya untuk makan mampir ke sebuah masjid. Setelah itu mencari restoran terdekat. Sebuah tempat makan yang hanya menyajikan makanan khas Indonesia. Pria itu memang sengaja memilih tempat itu karena tahu istrinya tidak suka makanan lain. Padahal sebelumnya wanita itu tidak pernah protes soal makanan.
Papa Rahmat dan Mama Savina pun tidak keberatan. Mereka justru senang karena tidak perlu menyesuaikan lidahnya dengan makanan itu. Apalagi jika mentah, pasti akan semakin menyulitkan.
Mereka menikmati makan malam dengan tenang. Tadi Ayman juga sudah menghubungi keluarga jika mereka semua makan di luar. Papa rahmat dan Mama Savina pun ingin tinggal di hotel saja. Padahal besannya sudah menawarkan untuk tidur di rumah, tetapi mereka merasa malu jadi memutuskan untuk menginap di hotel saja.
Ayman dan Zayna pun tidak memaksa karena mereka juga tahu bagaimana perasaan kedua orang tua itu. Ayman juga membantu mertuanya untuk memesan kamar. Papa Rahmat sempat menolak karena kamar yang dipesan menantunya sangat mahal, tetapi Zayna memberi pengertian jika itu bukanlah masalah besar.
Mau tidak mau kedua orang tua itu pin menerima. Ayman dan Zayna mengantar dengan dibantu satu orang petugas hotel.
“Papa dan Mama nggak terburu-buru pulang, kan?” tanya Zayna saat dia masih di hotel menunggu orang tuanya.
“Papa dan Mama sudah pesan tiket. Pesawatnya besok siang,” jawab Papa Rahmat.
“Kenapa terburu-buru sekali, Pa! Baru juga tadi ke sini, besok sudah mau pulang.”
“Kami memang harus pulang. Di rumah nggak ada siapa-siapa yang jaga.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Kalau kandungan kamu sudah kuat, kita bisa berkunjung ke sana,” ucap Ayman yang mencoba menenangkan sang istri. Zayna hanya mengangguk meski dia tidak tahu kapan dirinya bisa pergi naik pesawat.
“Ya sudah, Pa, Ma, kami pamit dulu. Papa dan Mama istirahat saja. Besok kami akan ke sini lagi untuk mengantar Papa dan Mama ke bandara.”
“Jika kamu sibuk tidak usah, kami bisa naik taksi.”
“Nggak sibuk, kok, Pa. Aku masih bisa handle dari jauh. Lagi pula ada Ilham yang bisa menangani semuanya. Kami pergi dulu, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.” Aiman dan Zayna pun meninggalkan hotel. Mereka juga sudah sangat lelah, seharian pergi jalan-jalan.
__ADS_1
.
.