Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
80. Memaafkan


__ADS_3

"Papa sama Mama ke sini ada keperluan apa?" tanya Zayna memulai pembicaraan karena keduanya hanya terdiam sedari tadi.


Papa Rahmat berusaha untuk turun dari kursi rodanya dan bersujud di depan Zayna. Bahkan hampir saja pria itu mencium kaki putrinya, kalau saja wanita itu tidak menarik kakinya. Mama Savina pun melakukan hal yang sama seperti suaminya lakukan.


"Papa, kenapa seperti ini? Mama juga?" tanya Zayna. Dia juga ikut turun dari sofa dan berusaha membantu papanya untuk bangun. Namun, pria itu menolak.


"Maafkan Papa sama Mama. Kami tahu kesalahan kami sudah tidak bisa dimaafkan lagi. Kamu bisa menghukum Papa, apa pun yang kamu lakukan, Papa pasti menerima. Kamu boleh menjadikan papa pembantu atau budak kamu. Apa pun itu Papa bersedia asalkan kamu mau memaafkan kesalahan Papa," ucap Papa Rahmat dengan meneteskan air mata.


Mama Savina yang berada di sampingnya pun ikut menangis. Keduanya sudah tidak tahan jika harus menunggu. Jadi mereka memutuskan untuk datang memohon maaf kepada putrinya. Apa pun yang akan Zayna lakukan pada mereka. Papa Rahmat dan Mama Savina akan menerima dengan lapang dada.


"Mama juga minta maaf. Kesalahan Mama lebih besar padamu. Tuhan sudah menunjukkan jika didikan Mama adalah salah. Zanita kini sudah mendekam di penjara, sementara Zivana sudah pergi dengan aib yang sudah dia berikan ke muka Mama. Justru kamu yang terbaik diantara mereka. Mama malu padamu."


"Tolong maafkan kami."


"Apa benar yang Papa katakan, Papa akan menerima apa pun yang akan aku lakukan pada Papa?" tanya Zayna.


"Ya, tentu saja. Papa akan menerimanya dengan senang hati."


"Baiklah kalau itu yang Papa inginkan, tapi sebelum itu, aku ingin mengatakan semua yang aku rasakan selama ini," ujar Zayna.

__ADS_1


Papa Rahmat mengangguk dia juga ingin mendengar semua keluh kesah sang putri. Pria itu sangat tahu jika Zayna sudah menahannya sedari dulu. Inilah saatnya wanita itu mengeluarkan isi hatinya.


"Papa tahu, Papa adalah Ayah yang paling jahat di dunia ini. Papa tidak pernah memperlakukanku layaknya seorang anak. Papa selalu membela Zanita dan Zivana, tidak sekalipun Papa membelaku. Padahal aku adalah anak Papa. Papa selalu memintaku untuk mengalah pada adik-adikku, tapi Papa tidak pernah mengajarkan mereka untuk menghormatiku. Padahal aku juga bekerja untuk masa depan mereka, tapi tidak pernah sekalipun mereka menghormatiku!" ujar Zayna dengan terisak kemudian memukul dadanya, guna mengurangi rasa sesak yang dia rasakan.


Pak Rahmat hanya bisa mengucapkan kata maaf dengan menundukkan kepala. Dia tidak sanggup mengangkat kepala di depan putrinya. Benar apa yang dikatakan Zayna, semua adalah kesalahannya. Dia seorang kepala rumah tangga, tetapi tidak mampu membimbing keluarganya dengan baik.


"Setiap malam aku selalu membesarkan hatiku, bahwa suatu hari nanti Papa akan memelukku dan berkata maaf atas semua perilaku Papa, tetapi semua itu tidak pernah terjadi, bahkan sampai akhirnya hari pernikahanku tiba. Papa masih melukaiku dengan menyetujui pembatalan pernikahan dan menikahkan calon suamiku dengan Zanita. Di mana perasaan Papa saat itu?Namun, dibalik itu aku bersyukur karena aku bisa memiliki suami yang baik seperti Mas Ayman. Seandainya saja Zanita tidak merebut Fahri dariku. Mungkin hidupku tidak akan sebahagia seperti sekarang. Aku memiliki suami uang baik. Kedua mertuaku juga memperlakukanku seperti anak sendiri. Aku bisa merasakan kasih sayang dari mereka yang tidak pernah aku dapatkan di rumah. Aku bisa melihat ketulusan mereka, yang tidak pernah kulihat dari kalian. Papa, orang yang jahat."


Zayna memukuli Papa Rahmat berulang kali dengan sekuat tenaga. Dia ingin meluapkan kekesalan dan kemarahannya selama bertahun-tahun, yang bersemayam dalam hatinya, hingga Papa Rahmat pun terjungkal. Mama Savina pun tidak luput dari kemarahan putri sambungnya.


Zayna juga memukul wanita itu hingga kepalanya terbentur meja dan berdarah. Namun, Mama Savina tidak ingin mengadu. Luka kecil yang dia dapat, tidak ada apa-apanya dengan luka yang didapat Zayna selama ini. Setelah puas meluapkan kekesalannya, Zayna menangis dengan menutup wajahnya.


Zayna segera memeluk pria paruh baya itu. Pelukan yang sedari dulu sangat dia inginkan. Papa Rahmat pun membalas pelukan putrinya. Mereka menangis bersama, ada perasaan lega dari keduanya. Wanita itu melihat ke arah Mama sambungnya dan merentangkan satu tangannya.


Mama Savina ikut masuk dalam pelukan mereka. Dia juga ikut menangis. Kali ini bukan karena kesedihan, tetapi dia menangis karena bahagia. Akhirnya Zayna mau memaafkan dirinya dan sang suami.


Sebelumnya wanita itu pesimis bahwa putrinya itu akan memaafkannya. Akan tetapi, Mama Savina lupa jika Zayna adalah wanita yang baik, sudah pasti akan memaafkan siapa pun yang benar-benar tulus minta maaf. Zayna mengurai pelukan mereka dan menatap kedua orang tuanya.


"Maafkan aku sudah memukuli kalian," gumam Zayna pelan. Meski dia akui ada sedikit kelegaan yang dirasakan setelah melakukannya.

__ADS_1


"Tidak, kamu tidak salah. Kamu berhak melakukannya. Bahkan yang kamu lakukan tadi tidak ada apa-apanya dibandingkan apa yang kami lakukan sedari dulu," sahut Mama Savina dengan .menggenggam telapak tangan Zayna.


"Iya, Kamu bebas melakukan apa pun. Terima kasih sudah mau memaafkan Papa dan Mama. Papa berjanji akan selalu menyayangimu. Jika Papa mengingkarinya, kamu berhak melakukan apa pun pada Papa," timpal Papa Rahmat.


"Itu tidak perlu. Selama Papa memperlakukanku dengan baik, aku tidak perlu yang lainnya."


"Mama juga mengucapkan terima kasih. Kamu mau memaafkan kesalahan Mama yang sudah sangat menyakitimu," sela Mama Savina.


"Tidak apa-apa, Meskipun selama ini Mama selalu menyakitiku, tapi Mama tetap memberiku makan dan tidak pernah mengusirku. Jika orang lain mungkin aku akan dibuang."


"Kamu bicara apa! Rumah yang kami tempati Itu rumahmu, mana mungkin Mama mengusir kamu. Justru kamulah yang harusnya mengusir kami."


"Tidak, rumah itu rumah kita bersama, jadi tidak ada rumahku atau rumah siapa pun. Itu rumah kita semua," jawab Zayna dengan tersenyum.


Sedangkan Bik Ira yang berada di antara ruang tamu dan ruang keluarga pun ikut menangis. Dia mendengarkan semua yang Zayna dan orang tuanya bicarakan. Tadi wanita paruh baya itu mendengar kebisingan dari ruang tamu, Bik Ira pun jadi penasaran dan akhirnya nguping di sana.


Dia tidak habis pikir dengan orangtua Zayna. Kenapa mereka melakukan hal itu pada wanita sebaik Zayna? Belum lama wanita itu tinggal di sini, tetapi Bik Ira bisa melihat kebaikannya. Kenapa orangtuanya sendiri tidak?


.

__ADS_1


.


__ADS_2