Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
154. Panggilan 'Sayang'


__ADS_3

Sepasang pengantin baru tengah menunaikan shalat subuh berjamaah. Ini untuk pertama kalinya Kinan menjadi makmum. Rasa haru menyelimuti relung hati wanita itu. Biasanya yang melakukan itu hanya papa dan kakaknya. Kini orang lain yang sudah sah baginya.


Setelah melakukan ibadah dua rakaat, keduanya memutuskan untuk keluar dari hotel. Mereka ingin jalan-jalan menikmati udara pagi di sekitar hotel. Suhu masih begitu dingin, tapi Hanif tetap mengajak sang istri keluar.


“Kita mau ke mana sih, Mas?” tanya Kinan saat berada di lift menuju lantai bawah.


“Di bawah ada taman, kita jalan-jalan sebentar di sana.”


“Tapi ini masih gelap, dingin juga," ucap Kinan dengan menggosokkan kedua telapak tangannya.


“Makanya itu aku suruh kamu pakai jaket biar nggak kedinginan,” jawab pria ituk dengan menggenggam telapak tangan sang istri.


Hanif membawa wanita itu keluar dari hotel menuju taman yang ada di sekitar tempat itu. Suasana sekitar masih tampak sepi karena ini juga masih gelap.


“Tuh, kan, belum ada orang sama sekali. Kita kembali saja, Mas," ajak Kinan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


“Ada itu mereka,” sahut Hanif sambil menunjuk beberapa orang yang berjalan.


“Tapi mereka nggak berhenti, Mas. Mereka cuma lewat saja.”


Hanif tertawa mendengar apa yang diucapkan sang istri. Baginya Kinan sekarang terlihat sangat lucu. Dia suka melihat wanita itu bermanja-manja padanya. Itu membuat dirinya merasa diperlukan.


“Justru itu, berarti tempat ini aman. Khusus untuk kita berdua saja saat ini.” Kinan ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan sang suami. Wanita itu pun tidak lagi bicara. Genggamannya pada sang suami semakin erat, pertanda jika dia sudah mulai kedinginan.


“Kinan, benar kamu tidak keberatan jika kita tinggal di rumah orang tuaku?” tanya Hanif setelah keduanya terdiam beberapa saat.


“Dari awal kita sudah membahasnya dan aku tidak masalah tinggal di mana pun, asalkan bisa bersama dengan suamiku, tapi tidak di kolong jembatan juga.”


“Nggak dong, Sayang. Aku hanya khawatir jika kamu merasa terpaksa mengikutiku. Zaman sekarang banyak seorang menantu yang tidak betah tinggal bersama dengan mertuanya. Mereka sering berdebat, bahkan sampai hal yang sangat kecil sekalipun.”


“Insya Allah itu tidak terjadi padaku. Aku akan berusaha agar bisa sepemikiran dengan Mama Aida.”

__ADS_1


“Aku senang mendengarnya, tapi jika suatu saat nanti kamu berada di titik yang tidak bisa lagi bersama dengan Mama Aida, katakan saja padaku.”


“Memangnya kalau aku bilang padamu, kamu akan mengajakku pindah?” tanya Kinan sambil melihat ke arah sang suami, membuat pria itu menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


“Em ... tidak juga. Aku akan berusaha untuk memberi pengertian pada Mama dan padamu. Jika sampai benar-benar tidak bisa bersatu lagi, barulah kita akan mencari tempat yang nyaman untuk kita tinggal.”


"Dan kamu akan meninggalkan mereka hanya berdua?"


"Tidak juga. Sesekali aku akan menginap di sana."


“Kamu tenang saja, Mas. Aku akan berusaha untuk bisa sepemikiran dengan Mama Aida. Sekalipun sulit, aku akan tetap berusaha agar beliau luluh. Aku yakin itu tidak sulit karena Mama Aida orang yang baik."


Hanif mengangguk. Keduanya terdiam sambil menikmati udara pagi. Waktu seolah berjalan sangat lambat, membiarkan pasangan pengantin menghabiskan waktu kebersamaannya.


“Sebentar lagi matahari akan terbit. Kita ke sebelah sana saja, biar bisa melihatnya dengan jelas," ucap Hanif dengan mengulurkan tangan pada sang istri, berniat mengajak wanita itu ke tempat yang bisa melihat matahari terbit. Namun, Kinan masih enggan.


“Kamu tahu banget tempat ini, Mas. Apa kamu pernah menginap di sini!” tanya Kinan dengan menatap sang suami.


Hanif masih mengulurkan tangan pada sang istri. Kinan menyambutnya dengan senang hati. Keduanya mencari tempat yang bisa melihat matahari terbit. Mereka duduk di kursi panjang. Selang beberapa menit, akhirnya yang ditunggu pun terjadi, matahari terbit dengan begitu indahnya.


“Kinan, sebagai manusia biasa, bisa saja suatu hari nanti aku berubah. Disaat itu jika aku membuat kesalahan, jangan ragu untuk menegurku,” ucap Hanif tanpa mengalihkan pandangannya dari cahaya matahari.


Udara yang semula dingin, perlahan mulai menghangat. Suasana pun berubah menjadi romantis. Tidak peduli berapa banyak orang yang berlalu-lalang. Yang penting mereka bersama bahagia.


“Mas, kita sama-sama manusia biasa. Mungkin aku juga bisa saja melakukan kesalahan, jadi kita harus sama-sama saling mengingatkan. Saat itu tiba aku harap tidak ada kesalahpahaman diantara kita berdua.”


“Tentu, terima kasih sudah menjadi istriku seutuhnya. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu.”


Kinan mengangguk dan menyandarkan kepalanya di bahu sang suami, tempat dirinya bersandar mulai hari ini. Cukup lama keduanya duduk di sana, hingga akhirnya mereka memutuskan kembali ke kamar. Keduanya harus pulang hari ini juga. Lebih dulu mereka harus pulang ke rumah Papa Hadi untuk mengambil pakaian wanita itu.


Kinan membereskan pakaian mereka dengan dibantu oleh Hanif. Pria itu sama sekali tidak membiarkan sang istri melakukan pekerjaan sendiri. Setelahnya pasangan pengantin itu keluar dari hotel dan menaiki taksi menuju Rumah Kinan.

__ADS_1


“Mas, hari ini kita tidur di rumah orang tuaku dulu, ya! Nggak pa-pa, kan? Untuk semalam saja.” Kinan mencoba membujuk sang suami.


“Iya, tidak apa-apa, tapi kita mampir dulu ke toko baju. Aku nggak bawa baju sama sekali, nggak enak kalau pinjam sama Kak Ayman terus.”


“Iya, terserah kamu saja.”


“Nanti kamu pilihin baju yang pas buat aku, ya? Aku ingin juga dipilihin sama istri.”


“Aku nggak tahu selera kamu, Mas.”


“Kalau kamu yang pilih, aku bakalan pakai.”


“Tapi nanti kalau nggak sesuai sama kamu bagaimana? Lebih baik kamu saja sendiri yang pilih.”


“Aku sudah bilang, Sayang. Apa pun yang kamu pilih, aku akan memakainya.”


Kinan menundukkan kepala, wajahnya memerah karena malu saat mendengar Hanif memanggilnya 'sayang’. Bukan hal yang aneh baginya karena di rumah Ayman juga sering memanggil Zayna seperti itu. Aneh saja saat panggilan itu tertuju padanya.


“Kenapa malu-malu begitu, kita ini suami istri, tidak apa-apa kalau aku memanggilmu sayang. Begitu pun sebaliknya, kamu juga bisa manggil aku seperti itu.”


“Nggak mau, malu.”


“Kenapa malu? Sesekali nggak apa-apa, paling tidak saat kita hanya berdua saja.”


Kinan hanya diam dengan menundukkan kepala, tanpa mau menjawab apa yang sang suami tanyakan. Hanif meminta sopir untuk singgah ke sebuah toko pakaian yang berada di pinggir jalan. pria itu membawa sang istri masuk ke dalam toko tersebut dengan bergandengan tangan. Sepertinya itu sudah menjadi kebiasaan baru baginya.


Hanif tidak akan pernah melepaskan genggamannya di mana pun mereka berada. Dia tidak peduli bagaimana pandangan orang lain terhadapnya. Yang penting dirinya bisa bersama dengan sang istri.


.


.

__ADS_1


__ADS_2