Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
78. Siapa Ayahku?


__ADS_3

Setelah semua keperluan sudah selesai, Mama Aisyah, Zayna dan Kinan pulang ke rumah. Ternyata Papa sudah pulang dari kantor. Pria itu menunggu di ruang tamu bersama dengan Ayman.


"Assalamualaikum," ucap ketiga wanita itu bersamaan saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam, kalian dari mana saja? Ini sudah hampir petang," tanya Papa Hadi.


"Biasalah, Pa. Namanya juga wanita, pasti ada saja yang dibeli," jawab Mama Aisyah.


"Padahal baju di lemari juga masih banyak yang belum dipakai, tapi ada saja yang dibeli," ucap Papa Hadi yang kemudian menatap menantunya. "Itu kenapa Zayna belanjaannya cuma sedikit, sedangkan Mama dan Kinan banyak sekali?"


"Ya, karena Ayman pelit sama istrinya. Dia nggak bolehin istrinya belanja banyak," jawab Mama Aisyah seketika membuat Ayman melototkan matanya. Bagaimana bisa mamanya bicara seperti itu. Sedangkan Zayna sudah memiliki kartu kredit pemberiannya.


Saat akan meralat ucapan mamanya, wanita paruh baya itu malah membawa sang suami masuk ke dalam kamar. Ayman mendengus kesal, tapi dia sangat tahu jika apa yang dikatakan mamanya hanya candaan saja. Kinan tertawa melihat tingkah mama dan kakaknya.


"Mas, aku tadi sudah jelasin sama Mama, kalau itu memang aku yang tidak ingin belanja," ucap Zayna yang merasa tidak enak pada sang suami.


"Iya, aku tahu. Mama emang suka iseng. Tidak usah dipikirkan. Kamu pasti capek, ayo, kita ke kamar." Ayman dan Zayna pergi ke kamar, begitu juga dengan Kinan.


****


Satu bulan sudah Zayna tinggal di rumah mertuanya. Tidak ada satu pun yang berbicara mengenai Papa Rahmat dan Mama Savina. Begitu juga Ayman yang memang sengaja membiarkan istrinya tenang. Keadaan wanita itu juga sudah lebih baik dari sebelumnya.


Beberapa kali Ayman ingin bicara dengan Zayna. Akan tetapi, melihat wajah bahagia istrinya saat berbincang dengan Mama Aisyah dan Kinan, pria itu mengurungkan niatnya. Dia tidak sampai hati harus melukai hati sang istri.


Sementara itu, hukuman untuk Zanita masih belum ditentukan karena sidang masih tetap berlanjut. Hari ini Mama Savina mengunjungi putrinya seorang diri karena Papa Rahmat sedang latihan berjalan. Wanita itu juga tidak ingin merepotkan sang suami.

__ADS_1


"Mama datang sendiri?" tanya Zanita begitu duduk di depan mamanya.


"Iya, Papa kamu lagi latihan berjalan," jawab Mama Savina dengan tidak bersemangat. Zanita yang mengerti pun segera menggenggam telapak tangan wanita yang sudah melahirkannya itu.


"Ada apa, Ma? Kenapa Mama terlihat begitu sedih?"


"Sudah satu bulan Zayna pergi meninggalkan rumah. Sampai detik ini pun tidak ada kabar tentang dirinya. Mama kasihan sama Papa yang setiap hari terus saja menangis, meratapi kesalahannya pada Zayna. Padahal semua ini kesalahan Mama, tapi Mama juga tidak bisa berbuat apa-apa karena Zayna sendiri yang menolak untuk pulang. Beberapa kali Mama sudah mencoba menghubunginya, tapi tidak sekalipun dia mengangkatnya."


"Maafkan aku, Ma. Itu juga karena kesalahanku," sahut Zanita pelan.


"Tidak, kamu tidak salah. Mama yang sudah mempengaruhi kamu. Semua itu kesalahan Mama yang tidak termaafkan."


"Mama tidak boleh bicara seperti itu. Aku yakin nanti Kak Zayna pasti akan memaafkan Papa dan Mama. Dia wanita yang baik."


"Justru karena dia wanita yang baik, rasa bersalah Mama semakin besar. Mama lebih senang jika dia balas dendam sama mama. Setidaknya itu bisa mengurangi rasa bersalah Mama yang sangat besar."


Tidak sekalipun Zayna membalas perbuatan mereka. Sudah beberapa kali dia selalu menyakiti kakaknya itu, tetapi Zayna tidak sekalipun membalasnya. Wanita itu sangat ingat bagaimana kakaknya yang menangis tersedu, saat Fahri membatalkan pernikahan dan lebih memilih dirinya. Semua masih sangat jelas dalam ingatannya.


"Ma, boleh aku minta nomor Kak Zayna? Nanti akan aku coba pakai telepon di dalam. Semoga saja Kak Zayna mau mengangkatnya. Setidaknya aku sudah berusaha."


Mama Savina mengangguk. Dia segera menuliskan nomor Zanita pada sebuah kertas. Keduanya berbincang sejenak. Hingga pertanyaan Zanita membuat wanita paruh baya itu terdiam.


"Ma, sebenarnya siapa ayahku?"


Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Mama Savina. Bukan dia tidak mau mengatakannya, tetapi wanita itu benar-benar tidak tahu siapa pria itu. Keadaan saat itu sangat gelap dan Mama Savina tidak bisa melihatnya.

__ADS_1


"Ma, kenapa diam? Tolong katakan siapa ayahku? Aku juga berhak mengetahuinya. Walaupun dia seorang preman atau penjahat."


"Maafkan Mama, tapi Mama benar-benar tidak tahu siapa pria itu. Saat itu keadaan sekitar sangat gelap. Mama hanya bisa melihat bayangan saja," jawab Mama Savina dengan menundukkan kepalanya.


Rasa bersalah dan rasa malu wanita itu rasakan bersamaan. Seandainya saja saat itu dia tidak pergi, pasti tidak akan ada pertanyaan seperti ini ke luar dari mulut putrinya.


Zanita merasa sedih karena dirinya tidak tahu ayah kandungnya. Namun, dia tidak menyalahkan Mama Savina. Wanita itu juga tahu jika mamanya juga korban di sini. Zanita membesarkan hati bahwa mungkin ini yang terbaik untuknya.


Siapa pun ayah kandung Zanita, mudah-mudahan suatu hari nanti mereka bisa bertemu dalam keadaan yang lebih baik. Setelah berbincang banyak hal, Mama Savina pamit pulang. Dia masih harus membuka tokonya.


Sejak kepergian Zayna, Mama Savina memang memutuskan untuk membuka toko sembako di depan rumah. Papa Rahmat sudah tidak bekerja lagi. Hanya dari sana kebutuhan sehari-hari bisa tercukupi. Mama Savina tidak mau menggunakan uang kiriman Zayna karena dia merasa itu bukan haknya. Dia tidak pantas untuk mendapatkan semua itu. Modal yang dipakai pun hasil dari menjual perhiasan miliknya dan Zanita.


"Bagaimana keadaan Zanita, Ma?" tanya Papa Rahmat begitu Mama Savina duduk di sofa ruang tamu setelah mengucap salam.


"Alhamdulillah, sudah lebih baik. Dia juga sudah bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Mama harap setelah dia keluar nanti, dia berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi."


"Amin, semoga saja, Ma. Kita doakan yang terbaik untuk anak-anak."


"Iya, Pa," sahut Mama Savina. "Pa, apa sudah ada kabar dari Zayna?"


"Belum, sepertinya dia masih belum bisa memaafkan kita. Kemarin Papa menghubungi Ayman. Dia bilang Zayna baik-baik saja di sana dan dia juga masih perlu waktu untuk bicara dengan istrinya."


"Zayna pasti sangat betah di sana. Mama lihat mertuanya begitu menyayanginya."


Papa Rahmat mengangguk membenarkan ucapan sang istri. Saat di rumah sakit, dia juga bisa melihat kasih sayang keluarga Ayman pada Zayna, yang tidak bisa pria itu berikan. Terlalu banyak waktu yang Papa Rahmat buang dan kini dia menyesalinya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2