
"Saya kurang tahu, Tuan. Dia perempuan," jawab Erin.
Hanif dilanda rasa penasaran, kira-kira siapa yang datang ke rumah ini untuk mencarinya. Dia pun turun bersama Erin untuk melihat, siapa yang datang. Begitu memasuki ruang tamu, pria itu melihat ada seorang wanita duduk di sana dengan menunjukkan kepala. Dilihat dari postur tubuhnya Hanif tidak bisa mengenalinya.
“Ehem.” Hanif berdehem agar orang tersebut mengetahui kedatangannya. Benar saja, wanita itu mendongakkan kepala menatap ke arahnya. Pria itu merasa seperti pernah melihatnya, tetapi Hanif lupa di mana dan kapan bertemu wanita itu. Dia berjalan dan duduk di sofa.
Pria itu mencoba berpikir dan mengingat siapa wanita yang ada di depannya. Namun, dia tidak mendapat jawabannya.
"Sebelumnya saya minta maaf, tapi saya tidak merasa mengenal Anda. Tadi pekerja saya mengatakan kalau Anda ingin bertemu. Ada apa, ya?" tanya Hanif yang memulai pembicaraan.
"Saya datang ke sini untuk meminta maaf. Saya harap Pak Hanif mau memaafkan kesalahan saya," ucap wanita itu dengan mata berkaca-kaca.
Tentu saja hal itu semakin membuat Hanif penasaran. Jangankan kesalahan, siapa orang yang ada di depannya saja, dia tidak ingat, tetapi kenapa wanita itu datang ingin meminta maaf. Apa kesalahan yang sudah diperbuat. Akhir-akhir ini juga tidak ada masalah yang terjadi pada dirinya.
"Saya minta maaf sebelumnya. Saya benar-benar tidak mengingat siapa kamu jadi, saya tidak tahu harus memaafkan karena apa?" tanya Hanif dengan wajah bingungnya, tidak tahu harus berbuat apa.
"Saya orang yang sudah membuat istri Anda pendarahan saat di kampus. Saya yakin kalau Anda pasti sangat mengingat kejadian itu jadi, saya mohon minta maaf atas apa yang terjadi pada istri Anda. Saya benar-benar tidak sengaja," ucap Felly dengan air mata yang menetes.
Hanif menganggukkan kepala. Kali ini dia ingat wanita itu, pantas saja dirinya tadi merasa seperti pernah mengenal, tetapi lupa siapa. Pria itu tidak akan pernah lupa hari itu.
"Kejadian itu sudah delapan bulan yang lalu, sekarang kamu baru datang untuk meminta maaf. Apa kamu tidak salah?" tanya Hanif dengan tertawa mengejek.
Jika untuk meminta maaf rasanya sangat terlambat. Meskipun itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Akan tetapi, bagi pria itu sudah tidak ada harapan lagi bagi Felly. Tidak ada gunanya juga karena sudah lewat, bahkan Kinan sudah melahirkan.
__ADS_1
"Saya tahu kalau kesalahan saya sangat fatal dan tidak termaafkan, tapi saya mohon kerendahan hati Pak Hanif untuk memaafkan keluarga saya. Mereka tidak tahu apa-apa, kejadian itu semua murni kesalahan saya jadi, saya mohon pada Pak Hanif, untuk mengembalikan apa yang sudah menjadi milik mereka.”
“Sebelum kamu datang ke sini, apakah kamu pernah menanyakan pada kedua orang tuamu, mengenai apa yang terjadi sebenarnya? Apa saja kesalahan yang mereka perbuat? Saya memang tidak memiliki masalah dengan keluargamu. Saya juga tidak berniat untuk melakukan apa pun pada mereka. Mereka memang sudah memiliki masalah terlebih dahulu, hanya saja semua terungkap lebih cepat saja. Sekarang kalau kamu datang untuk meminta tolong agar saya membantu orang tuamu, rasanya sangat sulit. Mengingat apa saja yang sudah mereka lakukan. Ingat baik-baik! Kalau aku tidak pernah ikut campur dengan urusan kalian."
Felly menggelengkan kepalanya frustrasi. Wanita itu tidak habis pikir dengan Hanif yang menolak membantu keluarganya. Dia yakin jika pria itu bisa membantu, tetapi menolak untuk menolongnya.
“Saya tahu, tapi saya yakin jika Anda pasti bisa membantu saya. Saya sangat tahu bagaimana kehebatan anda.”
Felly masih tidak mau menyerah dan tetap ingin meminta pertolongan pada Hanif. Dia yakin jika pria itu pasti akan membantunya, setelah Felly memohon padanya. Wanita itu sering mendengar jika Hanif pria yang baik dan pasti akan membantu, siapa pun yang memohon padanya dengan tulus.
Jujur Feli merasa iri pada Kinan karena memiliki suami sehebat Hanif. Padahal Jika dilihat secara saksama, terlihat biasa saja. Tidak secantik dirinya, tetapi nasibnya sangat beruntung sehingga di peristri seorang dosen, sekaligus pengusaha seperti Hanif.
"Kamu terlalu meninggikan saya. Kamu tidak benar-benar mengenal saya dengan baik. Seharusnya sebelum kamu datang ke sini, kamu cari tahu dulu, siapa saya sebenarnya. Saya bukan orang yang bisa bermurah hati pada seseorang, yang berusaha mencelakai istri dan anaknya."
Wanita itu benar-benar tidak tahu harus berbuat apalagi. Segala usaha sudah Felly lakukan, demi mendapatkan pekerjaan untuk menutupi semua kekurangan mereka. Dia juga berusaha untuk masa depannya. Felly duduk di lantai dan bersujud di depan Hanif untuk meminta maaf sambil meneteskan air mata. Wanita itu sudah tidak memiliki cara lain lagi. Semua jalan sudah buntu jadi dia tidak harus berbuat apa.
Hanif menghindar, dia tidak suka ada orang yang memohon seperti ini, tetapi percuma juga bicara dengan Felly. Wanita yang keras kepala dan sulit menyadari kesalahannya jadi, lebih baik menghindar saja.
"Saya mohon, Pak Hanif. Tidakkah Anda kasihan kepada kedua orang tuaku dan juga adik-adikku? Mereka masih belum mengerti apa-apa dan masih memerlukan pendidikan jadi, saya mohon untuk Anda agar usaha keluarga saya kembali. Setidaknya masih bisa berdiri."
Hanif membuang napas pelan. Dia ingin berbicara lagi, tetapi suara sang istri yang memanggilnya, membuat pria itu batal memanggil sang suami.
“Mas,” panggil Kinan yang baru saja keluar.
__ADS_1
Dia tadi penasaran, siapa tamu yang ingin bertemu dengan sang suami. Wanita itu pun turun untuk memastikannya. Kinan seperti merasa ada sesuatu yang aneh di sini. Apalagi dengan apa yang dilakukan Felly dengan bersujud di depan suaminya, tetapi dia tidak ingin berburuk sangka terlebih dahulu.
Sebaiknya Kinan bertanya, daripada harus menebak sesuatu yang belum pasti.
"Kenapa kamu turun, Sayang? Sebaiknya kamu istirahat saja.” Hanif membantu Kinan untuk duduk di sofa.
Namun, belum juga wanita itu duduk, Feli sudah mendekat dan bersujud di depan Kinan. Wanita itu mengatakan apa yang dia katakan tadi pada Hanif. Felly memohon pada wanita yang ada di depannya agar membantu keluarganya. Semoga saja keinginannya bisa terwujud.
“Felly, jangan seperti ini. Saya tahu kamu sedang ada masalah yang berat, tetapi bukan berarti kamu harus bersujud di depan saya seperti ini!" seru Kinan yang menghindar. Dia tidak bisa membantu Felly karena masih kesulitan menunduk dan berjongkok usai melahirkan.
"Aku sudah melakukan kesalahan padamu, Kin. Sudah seharusnya aku meminta maaf."
Felly memohon dengan air mata yang masih terus mengalir. Dia hanya ingin meminta tolong pada Hanif, supaya masalah yang telah terjadi pada keluarganya bisa segera teratasi.
Kinan yang melihat hal itu pun menjadi tidak tega. Dia memang tidak mengenal siapa itu Feli, tetapi bukankah setiap orang juga berhak untuk mendapatkan kesempatan Kedua. Wanita itu juga tidak ingin mengambil keputusan secara sepihak, saat sang suami sudah memberi jawaban.
"Aku juga Mohon maaf sekali, tetapi semua keputusan ada pada Mas Hanif. Aku juga tidak tahu harus membantu apa. Jika memang keluarga kamu tidak melakukan sebuah kesalahan, aku yakin Mas Hanif pasti akan membantu."
Kinan menghela napas panjang. Dia memang tidak tahu apa yang sudah terjadi pada keluarga Felly dan juga Niko. Wanita itu tahu jika sang suami sudah memberi pelajaran pada keduanya. Akan tetapi, Kinan sama sekali tidak tahu apa saja, pelajaran yang dimaksud oleh Hanif. Selama ini dia juga selalu berdoa agar sang suami, tidak melakukan kesalahan yang lebih parah lagi.
.
.
__ADS_1