Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
51. Kepercayaan


__ADS_3

"Mas, baru pulang?" tanya Zayna sambil meraih tangan sang suami dan diciumnya.


"Iya, kamu dari mana?" tanya Ayman balik.


"Dari mall sama mama."


Mama Aisyah mendekati anak dan menantunya sambil tersenyum. "Papa belum pulang, Man?"


"Belum, Ma," jawab Ayman. "Mama cantik sekali pakai baju ini, makin terlihat muda. Kaya saudara kembar sama Zayna."


Mama Aisyah mendengus mendengarnya. Entah itu benar-benar pujian atau tidak, tetapi wanita itu merasa kata-kata Ayman terdengar seperti ejekan. Namun, dia tidak mau ambil pusing.


"Ini istri kamu yang maksa Mama. Katanya biar samaan," gerutu Mama Aisyah.


"Tapi, Mama terlihat cantik, kok! Terlihat lebih muda. Papa pasti makin cinta."


"Kamu bicaranya terlalu lebay. Ayo, masuk!" Mama Aisyah masuk ke dalam rumah lebih dulu. Ayman terkekeh dibuatnya.


"Belanjaannya biar aku yang bawa." Ayman mengambil papper bag di tangan istrinya dan meminta wanita itu merangkul lengannya. Zayna menurutinya dengan senang hati. Keduanya memasuki rumah mengikuti Mama Aisyah yang sudah lebih dulu.


Ayman meletakkan belanjaannya di ruang keluarga. Dia tidak tahu itu belanjaan siapa kemudian berlalu menuju kamar. Zayna pun mengikuti sang suami karena ingin menyiapkan keperluan untuk pria itu.


"Mas, maaf, ya! Tadi aku menghabiskan banyak uang. Aku nggak enak kalau mama yang bayarin," ucap Zayna saat berada di dalam kamar. Ayman yang akan ke kamar mandi pun berbalik mendekati istrinya.


"Uang itu sepenuhnya milik kamu. Terserah kamu mau diapakan. Kenapa jadi merasa bersalah? Aku sudah memberikannya padamu. Aku tidak akan memintanya lagi."


"Tetap saja, aku merasa tidak bertanggung jawab karena sudah menghabiskannya dengan hal yang tidak berguna."

__ADS_1


"Apanya yang tidak berguna? Membuat istriku lebih cantik, itu bukan hal yang sia-sia. Kalau kamu cantik juga aku yang senang."


"Berarti aku selama ini nggak cantik dan kamu nggak senang?"


"Kenapa jadi sensitif begini? Setiap hari kamu cantik, tapi yang lebih dari itu, aku senang melihat kedekatan kamu sama mama. Itu hal yang tidak ternilai dibandingkan apa pun. Bahkan jika kamu menghabiskan isi kartu kredit itu dalam satu hari, aku tidak akan pernah keberatan. Selama itu membuat hubungan kamu dan mama selalu dekat."


"Aku juga senang saat mama mengajakku keluar. Kamu tahu, Mas, tadi Mama juga yang memilihkan semua baju yang aku beli. Dari dulu, aku selalu ingin pergi jalan-jalan dengan seorang ibu dan sekarang mama mengabulkannya. Aku senang sekali," ujar Zayna dengan senyum sumringah, membuat Ayman juga ikut tersenyum. Dia juga merasakan hal yang sama. Pria itu bahagia melihat mamanya bisa terbuka dengan sang istri.


Mengingat Mama Aisyah yang dulu menentang pernikahannya, membuat Ayman selalu khawatir pada sang istri. Akan tetapi, dia sekarang merasa lega karena mamanya benar-benar sudah mulai menerima kehadiran Zayna.


"Oh, ya, Sayang. Hari Minggu aku ada pekerjaan di luar kota, di kampung halaman kamu. Kamu ikut, ya! Kita sekalian berkunjung ke rumah Papa Rahmat."


"Iya, Mas. Aku juga rindu sama papa. Kita akan menginap di sana?"


"Kalau mengenai itu, terserah kamu. Kamu mau nginep di sana juga tidak apa-apa. Di apartemen juga nggak apa-apa. Kebetulan aku di sana juga punya apartemen dan satu lagi mungkin aku akan cerita mengenai diriku pada keluarga kamu. Aku belum jujur sama papa Rahmat. Aku tidak ingin ada masalah dikemudian hari. Kamu setuju, kan?"


Zayna terdiam, ada perasaan tidak rela dalam dirinya. Bagaimana jika mereka sudah tahu siapa Ayman yang sesungguhnya, akan ada lagi tragedi yang terulang. Kalau mama dan saudaranya melakukan hal yang sama, seperti dulu yang mereka lakukan pada Fahri, bagaimana? Dia tidak akan sanggup menahannya. Dulu Fahri hanya kekasih, sekarang Ayman adalah suaminya.


"Kenapa kamu diam? Bukankah ini sudah saatnya mereka tahu tentang diriku? Kita tidak mungkin selamanya berbohong pada keluarga kamu, kan?" tanya Ayman.


"Aku hanya takut, Mas," jawab Zayna dengan lirih.


"Takut? Takut kenapa?" tanya Ayman dengan wajah bingungnya. "Takut papa marah? Biar nanti itu menjadi urusanku karena semua aku yang melakukannya."


"Bukan itu, aku takut kalau mereka akan melakukan hal yang sama padamu, seperti yang mereka lakukan pada Fahri," jawab Zayna dengan menundukkan kepalanya. Dia tidak sanggup melihat wajah sang suami.


Ayman menyernyitkan keningnya karena tidak mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya. Setelah berpikir beberapa detik, pria itu pun mengerti ketakutan yang dirasakan oleh Zayna. Dia menggenggam telapak tangan wanita itu untuk meyakinkannya bahwa dirinya tidaklah sama dengan Fahri ataupun pria lain di luar sana.

__ADS_1


Sejujurnya Ayman sangat berterima kasih pada Fahri yang sudah melakukan kebodohan. Kalau pernikahan itu tetap terlaksana, dirinya tidak akan pernah bisa memiliki Zayna. Sekarang wanita itu sudah menjadi istrinya dan dia akan tetap menggenggam tangannya ke mana pun dan dalam keadaan apa pun.


"Sayang, kamu harus percaya padaku. Aku tidak akan pernah berpaling darimu, sekalipun mereka memaksaku, aku tidak akan pernah berubah. Aku hanya tetap milikmu, tidak akan pernah ada yang mengubah apa pun. Kamu harus percaya padaku karena hanya kepercayaan, yang mampu menguatkan hubungan kita."


Zayna mengangguk dengan mata berkaca-kaca. Dia bisa melihat kesungguhan di mata Ayman. Entah bagaimana nanti, kepercayaan adalah yang utama. "Aku percaya padamu, aku hanya tidak percaya pada diriku sendiri."


"Sudah, jangan terlalu dipikirkan lagi. Aku akan selalu bersamamu," ucap Ayman sambil mengusap setetes air mata yang jatuh di pipi Zayna. "Aku mau membersihkan diri dulu atau kamu mau duluan?"


"Aku tadi sudah mandi. Sepulang dari mall tadi mama mengajakku mampir restoran milik mama dan aku mandi di sana. Makanya aku sudah pakai baju ini yang sama seperti mama."


"Ya sudah, kalau begitu. Aku mau mandi dulu." Ayman mengecup kening istrinya dan berlalu menuju kamar mandi.


Zayna mengembuskan napasnya. Dia harus baik-baik saja karena tidak ingin mengecewakan sang suami. Sekalipun nanti dirinya harus menghadapi Mama Savina, wanita itu harus berani melawan. Zayna tidak ingin lagi ditindas. Sudah cukup bertahun-tahun dirinya mengalah.


Tidak mau terlalu memikirkannya, dia pun memilih menyiapkan pakaian untuk sang suami kemudian keluar. Dia ingin membereskan belanjaannya dan memasak untuk keluarga.


"Eh, Mama, ada di sini," sapa Zayna saat melihat mertuanya duduk di ruang keluarga.


"Kamu mau ambil ini? Ini milik kamu, punya Mama sudah Mama bawa ke kamar," ujar Mama Aisyah sambil menunjuk papper bag yang ada di meja.


"Maaf, ya, Ma. Aku jadi ngerepotin Mama."


"Tidak repot, hanya memilih saja."


"Terima kasih, Ma." Zayna mengambil bagian miliknya dan membawa ke kamar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2