
Mama Savina meringis kala Zayna mengobati luka yang ada di dahinya. Lukanya cukup panjang, Zayna sudah menawari untuk pergi ke rumah sakit. Namun, wanita itu menolak karena baginya luka itu tidak seberapa.
"Maafin aku, ya, Ma. Tadi sudah dorong Mama," ujar Zayna.
"Kamu tidak salah, jadi tidak usah meminta maaf. Mama tahu bagaimana perasaanmu. Lagi pula ini juga tidak seberapa. Kesalahan Mama padamu jauh lebih besar."
"Apa Papa juga ada yang terluka?" tanya Zayna setelah selesai mengobati luka Mama Savina.
"Tidak ada, Papa baik-baik saja," jawab Papa Rahmat. "Suami kamu kerja, Na?"
"Iya, Pa. Biasanya pulang sore."
"Kalau begitu, nanti sampaikan salam Papa buat dia. Sekalian katakan maaf, Papa tidak bisa menunggunya."
"Papa mau balik sekarang?"
"Iya, nanti pesawatnya jam dua, jadi kami tidak bisa lama-lama."
"Sekarang 'kan masih jam dua belas, Pa. Kita makan siang dulu."
"Tidak perlu, kami bisa makan di luar saja," tolak Papa Rahmat. Dia merasa tidak enak, niatnya datang ke sini adalah untuk meminta maaf, tapi sekarang malah dijamu. Mana pemilik rumah sedang tidak ada."
"Jangan begitu, dong, Pa. Ini pertama kali Papa dan Mama datang, masa aku biarin Papa pergi dengan perut kosong. Sebentar, aku tanya Bik Ira dulu, apa makanannya sudah siap." Zayna masuk ke dalam rumah dan bertanya pada bibi. Untung saja wanita itu sudah menyiapkan semuanya, ada juga makanan tadi pagi yang masih banyak.
"Pa, Ma, ayo, makanan sudah siap." Kedua orang tua itu mengikuti Zayna masuk ke dalam rumah menuju ruang makan dan di sana sudah ada Bik Ira yang sedang menyiapkan makan siang.
"Bik Ira, ayo, ikut makan sekalian!" ajak Zayna.
"Tidak perlu, Neng. Saya biasanya makan nanti. Saya juga masih kenyang."
"Ya sudah, makasih sudah disiapin makan siangnya, Bu."
__ADS_1
"Sama-sama, Bibi mau ke belakang dulu," pamit Bik Ira yang diangguki oleh Zayna.
"Ayo, Pa, Ma, silakan dinikmati."
Mereka pun menikmati makanan dengan tenang. Tidak ada pembicaraan apa pun karena sudah terbiasa seperti itu. Dulu setiap seluruh keluarga makan, hanya suara Zanita dan Zivana yang mendominasi. Dia tidak pernah mengatakan apa pun.
Kalaupun berkata sesuatu juga tidak ada yang menanggapi ucapannta. Saat ini, dia ingin bicara pun terasa ada yang aneh, jadi lebih baik diam saja. Setelah selesai makan, mereka berbincang sejenak di ruang tamu. Tidak berapa lama, Mama Aisyah datang.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh, ada tamu. Maaf saya tidak tahu jika besan datang," ucap Mama Aisyah yang merasa tidak enak. "Zayna, kenapa tadi nggak telepon Mama dan mengatakan kalau ada orangtuamu datang?"
"Aku nggak enak, Ma. Takut ganggu waktu Mama."
"Iya, bu Aisyah kami juga cuma sebentar, kok! Kami ingin melihat keadaan Zayna," jawab Papa Rahmat.
"Kalian lanjutkan saja ngobrolnya. Saya mau masuk dulu."
"Tunggu, Bu Aisyah. kami mau sekalian pamit." Cegah Mama Savina pada besannya.
"Kenapa cepat sekali? Saya baru pulang."
"Sebentar lagi kami harus berada di bandara. Penerbangan pesawat kami jam dua, Bu. Jadi kami tidak bisa lama-lama."
"Oh, ya sudah kalau begitu. Tidak apa-apa, lain kali kalian bisa datang ke sini lagi. Kita ngobrol bareng."
"Iya, Bu. Assalamualaikum," pamit Papa Rahmat.
Mereka saling bersalaman, seorang perawat mendorong kursi roda Papa Rahmat, kemudian masuk ke dalam taksi yang sudah mereka pesan sebelumnya. Zayna menatap kepergian kedua orang tuanya dengan perasaan lega. Meski dalam hati masih ada sisa luka, dia berharap waktu yang akan menyembuhkannya.
__ADS_1
Waktu terus berjalan, tidak terasa kini usia pernikahan Ayman dan Zayna sudah berumur satu tahun. Namun, hingga kini wanita itu tak kunjung hamil. Padahal dia sudah sangat berharap kehadiran seorang anak. Seperti hari ini, Zayna harus kecewa dengan alat tes kehamilan yang hanya bergaris satu.
Padahal wanita itu sudah telat empat hari. Dia mengira sedang hamil. Namun, alat tes kehamilan menunjukkan hasil negatif. Zayna benar-benar kecewa. Harapannya sudah sangat besar, tetapi semuanya tidak sesuai dengan keinginannya.
Setiap hari wanita itu selalu mengadu pada Sang pencipta agar segera diberi momongan. Dia juga sering memakan makanan dan minuman yang mempermudah kehamilan. Tentu saja tanpa diketahui sang suami. Pasti pria itu akan marah.
Pintu kamar mandi diketuk seseorang dari luar. Zayna berusaha agar perasaannya baik-baik saja. Dia tidak ingin sang suami merasa sedih. Ayman bukannya tidak tahu jika istrinya sering memakai alat tes kehamilan.
Pria itu yang selalu melarang Zayna melakukannya karena setiap hasilnya keluar, pasti istrinya akan sedih. Padahal dia juga tidak pernah memaksa wanita itu untuk hamil. Baginya anak adalah titipan. Hanya Tuhan yang bisa memberi dan mengambilnya.
"Sayang, kamu ada di dalam," teriak Ayman dari luar.
"Iya, Mas. Sebentar, perutku sedang mulas," sahut Zayna berbohong karena kalau dia tidak menjawab, pasti Ayman akan menggedor pintu kamar mandi.
Benar saja, Ayman tidak lagi mengetuk pintu. Bukan berarti Zayna harus tetap di kamar mandi. Dia harus segera keluar dan berusaha menyembunyikan kesedihannya. Wanita itu mencoba untuk terlihat biasa saja.
Begitu Zayna keluar, tampak Ayman duduk di tepi ranjang sambil memainkan ponsel. Wanita itu pun mendekati sang suami dan duduk di sampingnya. Terlihat pria itu memeriksa beberapa email yang masuk.
"Mas, ini sudah siang. Kenapa kamu belum pergi ke kantor?" tanya Zayna.
"Bagaimana aku bisa pergi, saat istriku sedang sedih. Sudah aku katakan beberapa kali. Kamu tidak usah melakukan tes itu lagi. Aku tidak pernah memaksamu untuk hamil. Anak itu titipan, Sayang."
Seperti biasa, tanpa Zayna katakan pun aiman pasti tahu apa yang terjadi pada istrinya. Sekuat apa pun dia berusaha menyembunyikannya Ayman pasti tahu yang wanita itu rasakan.
"Iya, Mas, tapi tetap saja, sebagai seorang wanita, aku Ingin segera hamil. Aku ingin seperti wanita lainnya yang bisa menggendong anak dan mengajarkan dia banyak hal. Aku juga bisa membuatmu dan mama bangga karena memiliki aku," ujar Zayna dengan mata berkaca-kaca, membuat Ayman semakin merasa sedih.
"Tapi, aku lebih tidak rela melihat kamu sedih seperti ini. Biarlah waktu yang menjawab semuanya. Yang penting kita banyak berdoa."
"Tapi kita juga perlu berusaha, Mas, jangan hanya berdoa saja."
.
__ADS_1
.