
Ayman turun dari kamar bersama dengan Baby Ars. Dia menuju ruang makan, di mana sang istri sedang menyiapkan makanan untuk makan malam. Pria itu terus tersenyum melihat kesibukan istrinya.
"Eh, Mas, Baby Ars sudah bangun?" tanya Zayna.
"Iya, tapi alhamdulillah nggak nangis. Dia pintar, kok," jawab Ayman sambil melihat ke arah putranya yang ada dalam gendongan.
"Mas, duduk saja dulu, biar aku ambilkan stroller buat Baby Ars."
"Biar saya saja yang ambil, Neng Neng Zayna duduk saja. Pasti capek dari tadi sibuk." Bik Ira pun mengambil stroller yang ada di ruang tengah.
"Mama belum pulang, Mas? Kita makan duluan atau nungguin mereka?" tanya Zayna setelah duduk di kursi.
"Kita makan duluan saja, Sayang. Baru saja Papa telepon, katanya masih ada urusan keluarga. Mungkin juga mereka makan di sana."
"Papa sama Mama sudah pulang dari rumah sakit?"
"Sudah, yang di sana hanya ada Kinan sama Hanif saja. Mereka harus menunggu anak itu. Sampai saat ini nggak ada yang tahu siapa keluarganya. Nggak ada juga yang mencari. Hanif juga sudah membuat laporan ke kantor polisi."
"Apa tidak apa-apa lapor polisi, Mas? Bagaimanapun juga Hanif yang menabrak anak itu."
"Tidak apa-apa, bagaimanapun juga mereka harus tetap membuat laporan. Supaya ke depannya tidak menjadi masalah. Hanif juga membawa bukti, bahwa dia berkendara dengan benar. Anak itu saja yang mungkin menyeberang tidak hati-hati."
Zayna mengangguk, dirinya sama sekali tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, tapi apa pun itu, dia berharap yang terbaik untuk adik iparnya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan. Ayo, kita makan malam dulu. Nanti keburu baby Ars menangis," ucap Ayman setelah meletakkan anaknya di stroller.
Keduanya pun menikmati makan malam hanya berdua. Setelah selesai menikmati makan malamnya, Ayman dan Zayna duduk di ruang keluarga. Mereka saling berbincang sambil menunggu kedatangan kedua orang tuanya. Baby Ars sendiri berada dalam pangkuan papanya.
Saat sedang menonton televisi, ponsel Zayna berdering. Tertera nama Papa Rahmat di sana. Wanita itu tersenyum melihat nama papanya, segera dia mengangkatnya.
"Halo, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kamu apa kabar, Na?" tanya Papa Rahmat yang berada di seberang telepon.
"Alhamdulillah, aku selalu baik, Pa. Papa sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Zayna balik.
__ADS_1
"Alhamdulillah, berkat doa kamu sekarang Papa sudah sembuh."
"Alhamdulillah, Papa sembuh karena usaha Papa sendiri. Aku hanya bantu doa saja, semoga seterusnya Papa sehat-sehat, biar nanti saat aku datang ke sana Papa bisa main sama Baby Ars."
"Insya Allah papa akan berusaha agar selalu sehat."
"Amin, semoga seterusnya seperti itu.”
“Anak Kamu sudah tidur, Na?" tanya Papa Rahmat.
"Belum, Pa. Ini masih main sama papanya."
"Papa jadi kangen sama cucu Papa, boleh Papa video call? Papa ingin lihat wajahnya."
"Tentu boleh, dong, Pa. Sebentar ya biar aku aja dulu mengganti panggilan dengan panggilan video call."
Segera Papa Rahmat mengangkatnya. Terlihat begitu jelas wajah Baby Ars memenuhi layar ponsel. Pria paruh baya itu begitu senang melihatnya. Kemarin waktu acara aqiqahan dia ingin datang, sayangnya dia dalam keadaan sakit.
"Cucu Opa semakin ganteng. Doakan Opa selalu sehat, ya! Biar bisa datang ke sana nengokin kamu."
"Iya, Opah akan menunggu kedatangan kalian semua ke sini."
Mereka pun terlibat obrolan santai. Ayman hanya sesekali menimpali.
"Ya sudah, Na. Papa tutup dulu teleponnya."
"Iya, Pa. Papa harus istirahat. Ingat jangan lupa minum obat, biar cepat sembuh!"
"Iya, nanti Papa minum obat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam." Zayna pun menutup panggilan. Dia cukup senang melihat keadaan Papanya yang sudah membaik. Semoga saja keadaan pria itu semakin baik setiap harinya.
Tidak berapa lama terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Zayna dan Ayman yakin jika itu adalah mobil Papa Hadi dan Mama Aisyah. Benar saja terdengar suara keduanya memasuki rumah.
"Kalian belum ada yang tidur?" tanya Mama Aisyah yang baru saja memasuki rumah.
__ADS_1
"Belum, Ma. Baby Ars juga baru saja bangun," jawab Ayman.
"Mama sama Papa sudah makan malam apa belum? Mau aku siapin makan malamnya?" tanya Zayna.
"Tidak perlu, tadi kami sudah makan di luar. Nanti kalau lapar lagi, Mama bisa minta Bik Ira, kalian sebaiknya istirahat saja. Terutama kamu Zayna, pasti capek ngurusin Baby Ars sendirian."
"Tidak apa-apa, Ma. Memang sudah tugasku."
"Ya sudah, kami mau mandi dulu. Kalian istirahatlah," ucap Mama Aisyah yang kemudian masuk ke dalam kamar bersama sang suami.
"Ayo, Sayang, kita istirahat juga. Benar kata Mama, kamu pasti capek seharian ngurusin Baby Ars sendiri," ajak Ayman setelah kedua orang tuanya tidak terlihat.
"Tidak, Mas. Aku nggak capek, kok! Aku justru senang bisa ngurusin Baby Ars sendiri," sahut Zayna.
"Ya sudah, ayo istirahat dulu! Baby Ars juga sudah ngantuk sepertinya."
Zayna melihat ke arah putranya dan benar saja, bayi kecil itu terlihat sangat mengantuk karena beberapa kali menguap. Wanita itu pun mengikuti sang suami menuju kamarnya. Begitu sampai di kamar, Ayman meminta sang istri untuk istirahat saja, sementara dirinya yang akan menidurkan Baby Ars.
"Mas, mungkin Baby Ars lapar, sejak dia bangun tadi belum minum ASI. Sebaiknya aku kasih ASI dulu, baru nanti kamu yang menidurkannya," ucap Zayna yang sedari tadi melihat anaknya yang terus saja bergerak, seperti tidak nyaman.
Ayman melihat ke arah putranya. Benar kata Zayna, bayi itu seperti sedang mencari sesuatu.
"Ya sudah, ini kamu kasih minum dulu. Aku mau membersihkan diri, nanti aku gendong Baby Ars lagi," ucap Ayman yang kemudian masuk ke dalam kamar mandi, sementara Zayna memberi ASI pada putranya, hingga bayi itu tertidur. Wanita itu tersenyum melihat putranya yang tidur begitu pulas di pangkuannya.
"Kalau sama kamu tidurnya lebih mudah, ya, Sayang? Dikasih ASI sudah langsung tidur," ucap Ayman yang baru saja keluar dari kamar mandi.
"Ya, mau bagaimana lagi, Mas. Sumber kehidupannya 'kan ada sama aku," jawab Zayna membuat Ayman tertawa.
Bagaimanapun juga apa yang dikatakan istrinya memang benar. Baby Ars memang mudah tidur saat minum ASI jadi, tanpa ditimang pun bayi itu pasti sudah tertidur. Berbeda dengan dirinya yang sudah lelah, baru bisa tertidur.
"Biar aku yang meletakkannya di box. Kamu langsung tidur saja," ucap Zayna yang diangguki oleh Ayman.
Pria itu pun merebahkan dirinya, sementara Zayna pergi ke kamar mandi dulu, setelah itu menyusul sang suami menuju ke alam mimpi.
.
__ADS_1
.