Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
179. Acara Aqiqah


__ADS_3

Hari ini Ayman dan Zayna akan mengadakan acara aqiqah untuk putranya. Mereka hanya mengundang keluarga besar serta anak yatim dari panti asuhan, yang sebelumnya mereka undang dalam acara tujuh bulanan kehamilan Zayna waktu itu. Semua persiapan dilakukan oleh keluarga sendiri.


Kinan juga dari kemarin menginap di rumah kedua orang tuanya bersama Hanif. Keduanya juga ikut membantu, sementara orang tua Zayna tidak bisa datang karena Papa Rahmat sedang sakit. Sejak dua hari lalu pria paruh baya itu demam, sebenarnya sekarang keadaannya sudah membaik, tetapi belum sehat benar jadi, mereka memutuskan untuk tidak datang.


Zayna memakluminya dan tidak memaksa mereka. Baginya doa untuk cucunya saja itu sudah cukup. Dia juga pasti akan merasa bersalah jika keadaan Papa Rahmat memburuk jika memaksa datang.


“Kak cateringnya kok belum datang?” tanya Kinan saat dia tidak melihat makanan. Padahal satu jam lagi acara akan dimulai.


“Iya, ini katanya masih di jalan, tadi katanya terjebak macet. Kakak juga nggak tahu ini kapan datangnya, masa nanti tamu sudah datang, tapi mereka belum juga datang.”


Ayman mencoba untuk menghubungi pihak catering sekali lagi. Mereka mengatakan sebentar lagi akan sampai. Pria itu merasa sedikit lega karena tidak harus menanggung malu, pada tamu yang akan datang.


Sementara itu, Hanif dari tadi sibuk dengan Baby Ars, yang berada di box bayi. Meskipun tidak menggendongnya, tapi pria itu cukup senang bisa bercanda dengan keponakannya.


“Kamu yang nungguin Baby Ars, Hanif. Yang lain mana?” tanya Mama Aisyah yang mendekati menantunya.


“Semuanya lagi sibuk, Ma. Kak Ayman juga lagi nungguin catering. Katanya sampai sekarang belum datang.”


“Sebentar lagi tamu akan datang, tapi cateringnya belum datang juga, bagaimana sih?”


“Saya juga tidak tahu, Ma.”


Mama Aisyah menatap menantunya, yang terlihat sangat senang menggoda bayi kecil itu. Terlihat Kinan mendekati mereka dan duduk di samping sang suami.


“Kamu dari mana, Kin?” tanya Mama Aisyah.


“Dari depan, Ma. Tadi nanya sama Kakak, kateringnya kenapa belum datang.”


“Belum datang juga sampai sekarang?”


“Sudah, Ma. Baru saja.”


“Syukurlah kalau sudah datang. Mau dikasih makan apa kalau tamunya sudah datang,” gumam Mama Aisyah.


Kinan melihat ke arah sang suami yang bercanda dengan Baby Ars. Padahal bayi itu belum mengerti sama sekali, tetapi Hanif terlihat begitu senang. Senyum tidak luntur dari bibir pria itu.


“Kapan, ya, Mas. Kita punya yang seperti ini?” tanya Kinan sambil bersandar di pundak sang suami. Pandangannya tidak lepas dari keponakannya.

__ADS_1


“Insya Allah, jika Tuhan menghendaki.”


“Rasanya aku pengen bawa pulang saja si Baby.”


“Kamu harus banyak bersabar, jangan terlalu banyak pikiran. Itu juga akan berpengaruh pada diri kamu. Calon ibu hamil tidak boleh banyak pikiran, harus tetap bahagia,” sela Mama Aisyah yang mendengar apa yang putrinya katakan.


Wanita paruh baya itu sangat mengerti perasaan putrinya. Akan tetapi, sebagai manusia kita hanya bisa pasrah, entah kapan Tuhan akan menurunkan rezekinya.


“Bagaimana nggak mau kepikiran, setiap hari aku tuh selalu ingin hamil. Aku sudah mencoba melupakannya, tapi nggak bisa.”


Sebagai seorang istri dan wanita, Kinan merasa sudah gagal. Dia belum bisa memberikan keturunan, seperti wanita lain.


“Kamu ingat Zayna nggak? Dia juga satu tahun lebih saat itu belum hamil juga, tapi dia selalu sabar karena yakin bahwa nanti akan ada saatnya. Jika memang Tuhan sudah memberikan kepercayaan,” ujar Mama Aisyah mencoba memberi pengertian pada anaknya. Dia tidak ingin Kinan sedih terlalu berlebihan.


“Tuh, dengerin kata Mama. Kamu jangan terlalu banyak pikiran. Lagi pula aku juga tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Kapan pun Tuhan memberi rezeki, kita harus menerima, begitu juga sebaliknya. Kapan Tuhan memberi ujian, kita harus melewatinya dengan sabar,” timpal Hanif.


“Iya, Mas.”


Tidak berapa lama, para tamu mulai datang satu persatu. Semuanya dari kalangan keluarga dari Papa Hadi dan Mama Aisyah. Keluarga Zayna sama sekali tidak ada yang datang karena jauh di luar kota. Wanita itu juga tidak begitu dekat dengan keluarga besarnya.


Saat acara telah usai semua orang memberi selamat pada Ayman dan Zayna. Beberapa kerabat dekat juga memberikan kado pada Baby Ars. Ada juga yang mengajak mereka berfoto.


"Ayman, Maaf Tante belum sempat jenguk Baby, baru hari ini bisa datang. Ini Tante ada hadiah kecil untuk anak kamu," ucap salah satu kerabat yang datang membawa kado. Wanita itu memberikannya pada Ayman.


"Terima kasih, Tante. Saya cukup senang dengan kehadiran Tante di sini."


"Sebenarnya hadiah ini tidak seberapa, mudah-mudahan berguna bagi anak kamu."


"Terima kasih, Tante."


"Anak kamu ganteng, ya, Ayman. Mirip sekali sama kamu. Untung saja mirip sama kamu, tidak mirip sama mamanya," ucap wanita itu, yang diakhiri kekehan di akhir kalimat.


Zayna yang dari tadi tersenyum menatap wanita itu. Dia merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan wanita itu. Entah bermaksud bercanda atau tidak, bagi Zayna kata-kata itu sangat tidak enak didengar.


"Memangnya kenapa kalau mirip sama saya, Tante? Wajar saja kalau anak saya mirip sama saya. Kenapa buat Anda itu masalah yang besar?" tanya Zayna dengan menahan kekesalannya.


"Kamu kenapa? Saya hanya mengatakan apa yang saya pikirkan," sahut wanita itu dengan nada ketus.

__ADS_1


"Iya, saya tahu, tapi kenapa kata-kata Tante tidak enak sekali didengar seolah saya ini sangat tidak pantas memiliki seorang anak." Nada Suara Zayna mulai sedikit meninggi. Beberapa orang yang ada di dekat mereka pun mulai menatap mereka.


"Aduh, kenapa kamu begini? Ayman, tolong didik istri kamu dengan baik, supaya dia berbicara sopan sama orang tua. Masa bicara kasar gitu sama Tante. Padahal di keluarga, Tante ini orang yang paling dihormati."


"Saya tidak akan bertanya seperti itu, kalau Tante tidak memulainya."


Zayna tidak tahu siapa dia dan tidak mau tahu. Baginya, wanita itu sudah membuat hatinya terluka sebagai seorang ibu jadi, dirinya hanya ingin mempertahankan harga dirinya.


"Na, sudah. Ini acara anak kita jangan diperbesar, ya! Nggak enak sama yang lain, mereka menatap kita," bisik Ayman membuat Zayna membeku.


Wanita itu tidak menyangka jika sang suami malah membela orang itu. Dia marah pada pria itu karena berbicara seolah, apa yang dikatakan tantenya itu benar. Biasanya Ayman akan membelanya, tetapi kali ini sepertinya tidak. Zayna pun membawa anaknya pergi begitu saja dan mencampakkan kado yang tadi sempat diberikan suaminya dari wanita tadi.


Zayna juga mengabaikan panggilan orang-orang di sekitar. Dia terus berjalan menuju kamarnya. Hatinya terluka karena Ayman lebih membela wanita itu daripada istrinya.


"Kamu mau ke mana, Na?" tanya Mama Aisyah, saat melihat Zayna berjalan terburu-buru.


Wanita itu berhenti sejenak, sambil berusaha tersenyum pada mertuanya. "Aku mau ke kamar, Ma. Baby Ars sepertinya haus," jawab Zayna beralasan, sebisa mungkin dia menutupi apa yang dirasakannya kini.


"Kamu bisa memberinya di kamar tamu, biar lebih dekat."


"Iya, Ma. Lebih enak di kamar saja. Aku masuk dulu."


Mama Aisyah mengangguk sambil memandang kepergian menantunya. Dia merasa seperti Zayna telah menyembunyikan sesuatu, tetapi tidak tahu apa itu. Jika dilihat wajahnya, di sepertinya sangat sedih.


Zayna yang sudah sampai di kamar pun duduk itu di ranjang dengan meneteskan air mata. Dia memang kampungan dan juga tidak berpendidikan tinggi, tetapi bukan berarti wanita itu tidak pantas untuk memiliki seorang anak. Zayna tidak masalah jika anaknya tidak mirip dengannya, jangan juga menghina keberadaannya.


Bagaimanapun juga dia punya perasaan dan dirinya juga yang melahirkan putranya. Terdengar suara tangisan dari Baby Ars, Zayna segera tersadar. Wanita itu pun menimang bayinya. Dia tahu jika saat ini Anaknya pasti merasa sedih.


Zayna pernah mendengar jika bayi memiliki ikatan yang sangat kuat dengan ibunya. Pasti anaknya juga merasakan apa yang dia rasakan. Wanita itu jadi merasa bersalah karena terlalu emosi.


"Maafin Mama, ya, Sayang sudah buat kamu sedih. Mama janji tidak akan membuat kamu menangis," ucap Zayna sambil tersenyum. Wanita itu pun mencoba mengusap air matanya.


Dia tidak ingin bersedih lagi, terserah apa kata orang, baginya Baby Ars segalanya dan saat itu juga bayi itu terlihat tersenyum, membuat Zayna juga itu tersenyum. Wanita itu merasa lucu melihat putranya seperti itu. Bersamaan dengan hal itu, Ayman masuk ke dalam kamar, Zayna yang masih terluka dengan apa yang sang suami katakan pun sama sekali tidak menoleh. Dia masih asik dengan putranya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2