Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
314. S2 - Dukungan keluarga


__ADS_3

Kedua keluarga telah sepakat, menentukan hari di mana kedua insan bersatu menjalani kehidupan yang penuh dengan lika-liku. Walaupun dalam perencanaannya banyak sekali halang rintang yang menerjang. Namun, semuanya terlewati dengan ketabahan serta kelapangan hati antara kedua keluarga. Ustaz Ali dan Aina, pasangan yang sangat serasi, kini mereka berdua menunggu-nunggu hari istimewa itu. Hari yang akan terukir hanya sekali dalam sejarah hidup mereka berdua.


Hati keduanya berbunga-bunga. Ustaz Ali, ia tak sabar untuk memimpin keluarga kecilnya dengan ajaran-ajaran agama Islam. Ia bisa membayangkan suatu saat akan menjadi sosok yang menjadi panutan bagi anak-anaknya. Di lubuk hati yang paling dalam, ia berharap bahwa semuanya akan tampak nyata, benar-benar terjadi di depan matanya tatkala ia melihat keluarga yang ia pimpin sangat harmonis.


Begitu pun dengan Aina, ia telah siap menjadi seseorang yang akan dipanggil “ibu” oleh anak-anaknya nanti. Ia juga yang akan menjadi madrasah pertama bagi mereka. Namun, hatinya saat ini menjadi agak cemas. Jantungnya berdegup kencang, Aina khawatir ia gagal menjadi ibu yang baik bagi keluarganya. Berkali-kali dihembuskannya nafas panjang dengan maksud menenangkan hati. Beribu-ribu kalimat basmalah diucapkan dalam hati, meminta pertolongan kepada Allah SWT untuk menuntunnya.


Satu Minggu kemudian, waktu yang lumayan cepat bagi mereka berdua. Kedua pihak keluarga memutuskan untuk melaksanakannya dengan cepat demi menghindari dosa-dosa yang tak diinginkan. Ustaz Ali dan Aina masih belum percaya bahwa kehidupan baru tengah menanti mereka. Aina merasa bahwa waktu berjalan dengan cepat. Baru kemarin rasanya Aina masih menjadi anak yang sedikit manja, ia selalu mengadu kepada ibunya jika sesuatu terjadi. Namun, kini ia harus membulatkan tekad untuk menjadi wanita yang tangguh demi suami serta buah hatinya nanti.


Acara resepsi dilakukan satu bulan setelah akad nikah, begitulah pembicaraan yang didengar oleh Aina. Ia merenung di dalam kamar. Pikirannya berkelana ke sana ke mari, membayangkan beberapa gambaran masa depan yang tercetak jelas di depan matanya. Sudah tiga hari ini ia tak bisa tidur dengan tenang, seperti ada yang mengganjal di dalam otaknya. Selama tiga hari itulah Aina meningkatkan ibadahnya, ia tak pernah lupa bangun pada jam tiga pagi untuk melakukan ibadah tahajud, senantiasa berdoa agar semuanya berjalan dengan lancar.


Suatu hari, selesai shalat tahajud, Aina memutuskan untuk tak kembali ke alam mimpinya karena ia merasa bahwa rasa kantuknya telah lenyap. Aina memutuskan untuk membersihkan kamarnya sendiri. Entah apa yang merasuki tubuhnya, tiba-tiba saja dirinya menjadi rajin. Mendengar suara bising yang berasal dari kamar anaknya, Zayna, akhirnya memutuskan untuk melihatnya ke dalam kamar Aina.


Betapa terkejutnya wanita itu tatkala melihat anak perempuannya yang tengah membereskan beberapa barang tak rapi di kamarnya. Zayna menggeleng-gelengkan kepala, memandangi tingkah laku Aina yang sedikit aneh. Sadar akan kehadiran ibunya, gadis itu menghentikan kegiatannya sejenak, lantas menyapa ibunya dengan senyum kikuk yang terukir di bibir manisnya tersebut. Mamanya lalu menghampirinya.


“Tumben bersih-bersih jam segini?” tanya Zayna yang merasa asing dengan semua ini.


Aina menjadi salah tingkah. Ia tak tahu harus menjawab pertanyaan ibunya dengan kalimat apa.


“Eh, i–iya, Ma. Aina nggak ada kegiatan lain, jadi daripada bosan, Aina bersih-bersih kamar sambil nunggu adzan subuh,” jelasnya.


Mama Zayna hanya menganggukkan kepala, menatap senyum anak perempuannya yang sebentar lagi akan menjadi istri dari seorang laki-laki yang saleh.


“Ya sudah, bersih-bersihnya yang rajin. Mama tinggal dulu, ya. Jangan lupa langsung ke mushola waktu sudah adzan subuh.” Zayna lantas meninggalkan Aina yang melanjutkan kegiatannya.


Setelah shalat subuh dilaksanakan, seperti biasa Ustadz Ali menjadi guru mengaji bagi anak-anak di pondok. Walaupun mendapatkan imbalan berupa uang yang jauh dari kata melimpah, Ustadz Ali masih tetap mau mengajari anak-anak desa dengan hati yang ikhlas. Ia percaya bahwa kelak ia akan mendapatkan balasan pahala yang jauh lebih besar dari Allah SWT, mengalahkan indahnya lembaran-lembaran berharga yang kerap diperebutkan di dunia yang fana ini.


Jam enam pagi, waktu yang tepat bagi Ustaz Ali untuk berjalan-jalan santai mengitari desa yang berada di sekitar pondok pesantren. Beberapa orang yang lalu lalang di hadapannya menyapa dengan ramah, lantas dibalas olehnya dengan senyuman yang tak kalah ramah. Di tengah-tengah perjalanannya, Ustadz Ali bertemu dengan seorang laki-laki yang lebih muda darinya, ternyata itu adalah mantan muridnya yang bernama Ahmad. Menyadari keberadaan Ustadz Ali, pemuda itu lantas turun dari sepeda jepangnya dan menghampiri Ustaz Ali.


“Assalamualaikum, Ustaz,” ucap Ahmad sembari menyalami telapak tangan Ustaz Ali.


Ustaz Ali pun menjawab salam dari pemuda itu. “Waalaikumsalam. Eh, Ahmad, mau ke mana?” tanyanya, memandangi sepeda yang Hasan gunakan.


“Ahmad mau ke pasar, Ustaz. Seperti biasa, ibu saya titip belanjaan hari ini,” jawab Ahmad sembari menunjukkan tas anyaman bambu yang tengah dibawanya.

__ADS_1


Ustadz Ali tersenyum, ia mengucapkan kalimat thayyibah. “Masyaallah! Bagus-bagus, berbakti kepada ibu adalah hal yang utama. Ustaz bangga sama kamu, Mad.” Ustaz Ali menepuk pundak Ahmad, membuat pemuda itu merasa kikuk.


Setelah agak lama berbincang-bincang, Ahmad memutuskan untuk berpamitan karena dia akan melanjutkan perjalanannya. Mereka pun kembali berpisah, meneruskan kegiatannya masing-masing.


****


"Mas, kemarin Kak Ayman menghubungiku, katanya Aina akan segera menikah. Aku lupa semalam nggak kasih tahu kamu," ucap Kinan pada Hanif saat sedang menyiapkan sarapan untuk suaminya.


"Aina mau nikah? Sama siapa? Kok, aku nggak tahu!" sela Zea yang juga berada di sana. Dia tidak tahu berita apa pun tentang si kembar akhir-akhir ini karena jarang bertemu juga.


"Mama juga nggak tahu siapa namanya, katanya dia salah satu pengajar di pondok pesantren tempat besan Om Ayman ngajar."


"Aku jadi penasaran seperti apa orangnya," gumam Zea yang masih bisa didengar semua orang.


"Sudah, sebaiknya sekarang kamu habiskan sarapanmu, nanti baru tanyakan sama orangnya saat ada waktu senggang," sela Adam. Mereka pun menikmati sarapan meski dalam hati masih bertanya-tanya.


Sementara itu, keluarga Ayman sedang membahas mengenai pernikahan Aina yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Keluarga tampak begitu antusias dalam membahasnya, berbeda dengan calon pengantin wanita yang menjadi murung. Bukan kesedihan yang saat ini tengah dipikirkannya, melainkan sebuah kekhawatiran yang akhir-akhir ini menghantui hidupnya. Entah kenapa, Aina tampak begitu sulit untuk melupakan rasa itu dan mempercayai dirinya sendiri.


Buru-buru Aina mengembalikan ekspresi wajahnya kembali ceria, lantas bergabung dengan pembicaraan keluarga dengan perasaan yang tengah ia sembunyikan.


Dua hari sebelum acara yang paling dinantikan itu tiba, Aina mengurung diri di dalam kamar. Sedari pagi, dia tak banyak berinteraksi dengan orang-orang yang mengunjungi rumahnya. Zayna yang menyadari sifat putrinya yang berubah drastis pun mencoba menemui dan berbicara dengan hati-hati.


Namun, Aina tak juga memberikan alasannya. Dia berusaha menutup-nutupi perasaan sesungguhnya, membuat Zayna menjadi khawatir terhadap putrinya itu. Tak kehabisan akal, dia pun meminta agar Aini, adik kembarnya, serta Arslan untuk menenangkannya.


Malam itu, ketiga saudara itu berkumpul di satu tempat yang sama. Ekspresi serius terpampang di setiap wajah mereka, memandangi Aina yang tampak tak bergairah pada hari ini.


“Na, kamu nggak apa-apa?” tanya Arslan, mencoba berkomunikasi kepada adiknya itu. Namun, Aina menjawab dengan murung sembari menundukkan kepalanya


“Aku nggak apa-apa. Aku cuma lagi nggak enak badan,” jawabnya. Tentu saja itu bukanlah jawaban asli dari apa yang Aina rasakan saat ini. Hal itu disadari oleh Aini, saudara kembarnya yang paham betul akan perasaan mengganggu hati Aina. Sedari kecil, Aini memang memiliki ikatan batin dengannya. Oleh karena itulah hanya dia seorang yang betul-betul paham akan hal ini.


“Bohong. Na, tolong jujur sama kita, sebenarnya kamu itu kenapa?” tanya Aini, mengulangi apa yang Arslan lontarkan tadi.


Aina menatap lesu ke arah Aini, lantas air matanya pun keluar dengan deras. Seketika Aini segera memeluk saudara kembarnya itu, memberinya ruang untuk melampiaskan seluruh perasaannya melalui aliran air mata.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, tangisan Aina sudah mulai mereda. Hal itu membuat Arslan dan Aini bernapas lega.


“Sudah bisa cerita sekarang?” tanya Aini memastikan. Ia takut jika saudaranya itu belum siap mengungkapkan isi hatinya. Namun, tak urung Aina pun menatap kedua saudara itu, lantas menanyakan sebuah kalimat tanya yang selama ini dipendam di dalam pikirannya.


“Menurut kalian, apakah aku bisa menjadi istri dan ibu yang baik?” Pertanyaan itu membuat Aini dan Arslan terperanjat. Mereka berdua tak menyangka bahwa Aina akan menanyakan hal itu kepada mereka.


Setelah memahami situasi serta perasaan yang dialami Aina melalui pertanyaan yang ia lontarkan, Aini membalas dengan senyum tulus yang terukir di bibirnya.


“Tentu saja kamu akan menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluargamu, Na,” jawab Aini.


Namun, jawaban itu tak berhasil membuat wajah murung yang ada di wajah Aina runtuh. Ia justru mengucapkan satu kalimat lainnya.


“Laki-laki yang akan aku nikahi adalah seorang ustaz, orang yang dalam hidupnya selalu melibatkan Tuhan dalam setiap urusan. Pastilah orang seperti itu selalu menerapkan aturan-aturan dalam hidup sesuai dengan ajaran agama. Tapi ....” Aina menjeda kalimatnya sebentar, memberikan waktu untuk menenangkan dirinya sendiri. “Apakah orang yang bahkan jarang memakai hijab seperti Aina pantas bersanding di sebelahnya? Bagaimana jika ternyata Aina bukan wanita yang tepat untuknya?”


Deretan pertanyaan yang dilontarkan membuat kedua saudaranya tercengang. Namun, Aini masih bisa terkekeh geli. Ia lantas menjawab pertanyaan itu dengan santai. “Sejak kapan di sebuah pernikahan ada dua pasangan yang harus setara? Pernikahan diciptakan untuk melengkapi kekurangan satu sama lain dan menjalani hidup bersama tanpa memandang kekurangan itu, bukan tentang cocok atau tidaknya seseorang dalam memilih wanita, lantas mencampakkannya ketika merasa bahwa ia tak cocok dengannya.”


Aini lalu mengangkat dagu Aina, menatap matanya lekat-lekat, memberinya kekuatan untuk menghadapi semua ini.


“Aina, ingat, setiap orang pasti punya kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik lagi. Seperti halnya kamu, mungkin sekarang kamu bukanlah wanita yang dekat dengan Tuhan-nya. Namun, suatu hari kamu bisa merubah semuanya ketika bertemu dengan laki-laki yang tepat, seperti Ustaz Ali. Aku yakin, Ustaz Ali mau menuntunmu untuk menjadi wanita yang lebih baik lagi. Jadi, kamu tidak usah khawatir lagi, ya.”


Lagi-lagi tangisan Aina pecah ketika mendengar semua perkataan Aini. Namun, tangis kali ini bukanlah tangis karena rasa khawatir dan takut, melainkan tangis karena rasa lega yang menjalar di hatinya. Aina mulai perlahan merasa tenang sekarang. Apa yang diucapkan Aini adalah hal yang benar bahwa semua orang pasti bisa berubah. Jangan sesekali mengutuk diri sendiri karena tak sebaik orang lain.


“Sekarang Aina tidak perlu khawatir lagi, ya. Semuanya akan baik-baik saja, oke?” Senyuman manis kembali terukir di bibir Aina. Entah sudah berapa kali ia memeluk saudara kembarnya itu. Kini keduanya tampak begitu bahagia. Hal itu membuat Arslan menghela napas, lega karena pada akhirnya semua bisa diatasi. Tak lama kemudian, ia pun memeluk kedua adiknya itu dengan penuh kasih sayang.


Malam itu, ketiga saudara itu menghabiskan malam bersama dengan perbincangan masa depan yang tengah mereka rancang. Tak hanya itu, Arslan dan Aini juga bertukar informasi yang mereka tahu tentang cara menjadi pasangan terbaik versi mereka. Di sela-sela pembicaraan, terkadang Aina mengucapkan banyak terima kasih kepada saudara kembarnya itu karena telah membuatnya merasa tenang. Dia tak perlu khawatir lagi akan masalah pernikahan yang akan dihadapinya nanti. Aina yakin bahwa wanita tangguh seperti dirinya dapat melewati semuanya dengan mudah.


Pembicaraan mereka berlangsung selama beberapa jam hingga ketiganya memutuskan untuk beristirahat. Hanya malam ini, Aina merasa bahwa perjalanan menuju alam mimpinya begitu lancar tanpa adanya hambatan yang ditimbulkan akibat pikirannya sendiri seperti biasanya. Terkadang dia tersenyum-senyum sendiri, membayangkan masa depan ketika dia menjadi seorang ibu yang tengah menemani anak-anaknya bermain. Tawa riang pecah di sana sini, membuat suasana rumah tak pernah sepi.


Dalam kesunyian malam, pikirannya kembali berkelana. Namun, kali ini perjalanan yang ia tuju sangatlah menyenangkan, berbeda dari sebelumnya yang dipenuhi dengan kejadian-kejadian yang membuatnya khawatir. Kalimat ajaib yang dilontarkan Aini sanggup membuat Aina menghentikan semua rasa kekhawatirannya. Bak sihir, saudara kembarnya itu mampu memutar balikkan hatinya yang kacau balau dalam sekali waktu.


Tanpa Aina sadari, sedari tadi Zayna tengah memperhatikannya dari sela-sela pintu kamar yang terbuka. Hatinya tampak berbunga-bunga, melihat putrinya yang kembali menjadi wanita yang ceria. Zayna lantas menutup pintu kamar Aina dengan perlahan, berjaga-jaga agar putrinya tak terganggu dengan kedatangannya. Kemudian, ibu dari ketiga anak itu pun kembali ke kamarnya, menemui sang suami yang telah berada di sana sebelum dirinya.


Di malam itulah, Zayna menceritakan semua hal yang Aini ceritakan padanya, tentang perasaan yang selama ini Aina pendam. Ayman tampak begitu antusias mendengar setiap kisah yang diceritakan oleh istrinya. Beberapa kali dia terkejut mendengar cerita bahwa Aina masih tak terlalu percaya diri menghadapi Ustadz Ali yang sangat religius. Padahal ini adalah pilihannya, sementara Aina adalah wanita yang masih belum istiqomah dalam memakai hijab. Namun, Ayman juga ikut lega ketika tahu bahwa putrinya itu telah memulihkan perasaan lagi dan kembali menjadi wanita yang percaya diri. Sebagai seorang ayah, tentu ada rasa khawatir yang berlebihan.

__ADS_1


__ADS_2