
Kenapa Makanannya sebanyak ini, Bik? Apa ada tamu yang datang?” tanya Zayna yang baru saja memasuki dapur.
“Tadi Den Ayman yang minta, Neng. Saya tidak tahu kenapa dia minta saya masak begini banyak,” jawab Bik Ira.
“Apa mungkin Mas Ayman membawa semua makanan ini ke kantor?”
“Saya kurang tahu, Neng. Tadi saya belum sempat bertanya, tapi Den Ayman sudah masuk ke dalam kamar.”
“Ya sudahlah, tunggu Mas Ayman saja. Siapa tahu memang dibawa ke kantor.”
Tidak berapa lama, seseorang menyapa Zayna dari belakang. Hal itu tentu saja membuat wanita itu menoleh dan merasa terkejut. Ada papanya di rumah ini, entah sejak kapan pria itu datang.
“Apa kabar, Nak?” tanya papa Rahmat pada putrinya.
Zayna masih terbengong, dia tidak percaya dengan apa yang wanita itu lihat. Zayna berpikir jika itu hanya halusinasi. Namun, setelah beberapa detik. Papa Rahmat tidak juga menghilang, barulah dia sadar jika gadis itu sedang tidak bermimpi.
“Papa kapan datang? Kenapa tidak bilang sama Zayna, tahu begitu aku bisa jemput Papa di bandara.”
“Tidak perlu, semalam Pak Doni sudah menjemput kami,” sela Mama Savina.
“Semalam? Jadi Papa dan Mama sudah dari semalam di rumah ini?”
“Iya, kami tidur di kamar tamu. Mertua kamu yang menyiapkan semuanya.”
“Jadi semua orang di rumah ini tahu kedatangan Papa dan Mama? Hanya aku yang tidak tahu apa-apa? Menyebalkan sekali,” ucap Zayna dengan cemberut.
Dia merasa kesal karena tidak diberi tahu. Pantas saja sang suami meminta Bik Ira memasak banyak. Ternyata ada kedua orang tuanya. Seketika rasa kesal menjadi haru kala mengingat Ayman yang memperlakukan Papa Rahmat dan Mama Savina seperti orang tuanya sendiri
“Ini memang kejutan untuk kamu dan ini kado ulang tahun dari kami. Memang tidak seberapa dibanding dengan hadiah yang sudah kamu dapatkan sebelumnya.” Ucap Mama Savina.
__ADS_1
Zayna menerimanya dengan senang hati. Ini adalah kado pertama dari orang tuanya. Sesuatu yang dia inginkan dari dulu. Setiap wanita itu berulang tahun, selalu menunggu papa dan mamanya memberi hadiah, tetapi itu tidak pernah terjadi. Tidak penting apa isinya, dia lebih senang dengan niat baik mereka.
“Aku tidak pernah membandingkan pemberian orang, jadi Mama jangan berpikir yang tidak-tidak. Apa pun hadiah dari Papa dan Mama, aku pasti akan menyukainya.”
“Oh ya, Papa ada satu kado lagi untukmu,” sela Papa Rahmat.
“Ada kado lagi? Mana?” tanya Zayna balik dengan melihat ke kiri dan ke kanan. Namun, wanita itu tidak melihat ada kado atau apa pun di sana.
Papa Rahmat memundurkan kursi rodanya sedikit jauh. Perlahan pria itu menurunkan kedua kakinya dan mencoba untuk berdiri. Dia mencoba untuk berjalan dengan pelan. Zayna menutup mulutnya karena merasa tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Wanita itu terlihat begitu bahagia, melihat perkembangan papanya yang sekarang sudah mulai bisa berjalan. Rasa bersalah yang selama ini ada di hatinya, perlahan mulai menghilang.
“Papa sudah bisa berjalan? Sejak kapan semuanya bisa terjadi? Kenapa tidak ada yang bilang apa pun padaku?” tanya Zayna dengan air mata yang menetes.
Wanita itu merasa terharu, saat melihat papanya bisa berjalan lagi. Sebelumnya dia merasa ragu kalau Papa Rahmat bisa sembuh kembali. Namun, sekarang pria paru baya itu mematahkan apa yang sebelumnya pernah diyakini. Zayna segera memeluk papanya. Dia merasa senang melihat kesembuhan papanya.
“Aku mengerti, terima kasih sudah memberikan kejutan yang luar biasa untukku.” Zayna mengurai pelukannya dan menatap wajah papanya.
“Selamat, Pak Rahmat. Akhirnya Anda bisa berjalan lagi,” ucap Papa Hadi pada besannya.
“Terima kasih, Pak Hadi. Ini tidak ada apa-apanya dengan pengorbanan yang putri saya lakukan selama ini.”
“Ya, Anda memiliki putri yang hebat.” Semua orang tersenyum mengiyakan apa yang Papa Hadi katakan.
“Aku senang banget lihat Papa bisa berjalan lagi," ucap Zayna sambil bergelayut di lengan papanya.
“Sarapan sudah siap, ayo kita semua sarapan dulu!” ajak Mama Aisyah.
"Iya, Bu Aisyah. Maaf kami sudah sangat merepotkan semua orang di sini," ucap Mama Savina.
__ADS_1
"Tidak repot, Bu Savina. Justru kami senang dengan kedatangan tamu jauh. Apalagi kita juga jarang sekali berkumpul."
"Iya, Bu."
Mereka semua pun menikmati sarapan dengan tenang. Papa Rahmat merasa senang keluarga ini masih menghormati dirinya. Padahal dia bukanlah orang yang baik. Mereka juga menyayangi Zayna dengan sangat tulus. Mereka bahkan tidak memiliki hubungan darah, berbeda dengan dirinya.
"Pak Rahmat, Bu Savina, empat bulan lagi anak saya akan menikah. Nanti Ibu Savina sama Pak Rahmat datang, ya! Harus datangnya sebelum hari H-nya. Biar kita bisa berkumpul bersama."
"Kinan mau nikah? Selamat, ya. Saya tidak janji untuk datang, takutnya nanti sibuk, tapi saya akan usahakan," sahut Mama Savina.
Setelah selesai sarapan, Ayman dan Papa hadi pergi ke kantor, sementara Kinan pergi ke kampus. Zayna sendiri mengajak kedua orang tuanya untuk pergi berbelanja di mall. Dia juga mengajak Mama Aisyah, tetapi mertuanya itu sedang ada arisan dengan teman-temannya.
"Na, kenapa kita tidak di rumah saja? Setiap kami ke sini, pasti kamu ngajak kami jalan-jalan. Apa kamu tidak lelah? Kamu sedang hamil pasti perlu banyak waktu untuk istirahat," ucap Papa Rahmat saat mereka sedang dalam perjalanan. Mereka diantar oleh Pak Doni.
"Aku cuma mau jalan-jalan saja sama Papa dan Mama. Kita jarang sekali bertemu, apa salahnya kalau saat bersama, kita pergi."
Papa Rahmat hanya mengangguk. Apa pun akan dilakukannya asal sang putri bahagia.
"Na, kemarin Zanita titip salam buat kamu. Dia juga minta maaf atas semua yang sudah dia lakukan sama kamu. Dia berharap kamu mau menghubunginya lewat telepon karena dia ingin berbicara denganmu. Meski tidak bisa bertemu dengan secara langsung, paling tidak dia bisa bicara denganmu lewat sambungan telepon," ujar Mama Savina.
"Apa benar Zanita bicara seperti itu, Ma?" tanya Zayna yang belum percaya sepenuhnya.
"Tentu saja, untuk apa juga Mama berbohong. Dia benar-benar ingin minta maaf sama kamu."
Zayna memandang wajah mamanya. Sudah lama Mama Savina memberi nomor telepon lapas tempat Zanita tinggal, tetapi wanita itu tidak memiliki keberanian untuk menghubungi adiknya. Dia takut akan kecewa dengan penolakan yang didapat jadi, Zayna berpikir lebih baik tidak menghubunginya saja.
.
.
__ADS_1