
“Berarti baby-nya mau manjain mamanya. Mungkin karena dari dulu mamanya sudah terlalu sering bekerja keras. Sekarang saat dirinya ada, dia ingin mamanya beristirahat total,” ujar Ayman.
“Apa sih, Mas. Mana ada seperti itu,” kilah Zayna.
“Ada, dong, Sayang. Iya, kan, Dokter?”
“Setiap ibu hamil memang berbeda-beda, Bu. Ada yang nafsu makannya bertambah. Ada pula yang sama sekali tidak menyukai bau nasi, melihatnya saja sudah mual. Ibu merasa beruntung karena tidak mengalami hal itu. Ibu juga tidak mengalami morning sick, yang menyiksa bagi sebagian orang," ujar dokter tersebut.
“Iya, Dok. Saya bersyukur baby saya tidak terlalu merepotkan. Ya, hanya mau dimanja saja.”
“Mari, berbaring di ranjang! Biar saya periksa baby-nya. Bapak pasti ingin melihat keadaan anaknya.”
“Iya, Dok. Saya sudah tidak sabar,” sahut Ayman.
Zayna dituntun oleh sang suami dengan dibantu oleh suster yang kemudian mengoleskan gel di atas perut ibu hamil itu. Dokter meletakkan alat USG di atas perut wanita itu. Wajah Ayman terlihat begitu senang. Meski tidak dapat melihat bentuk anaknya karena saat ini hanya berupa gumpalan, tetapi dia cukup bahagia.
Ayman menanyakan beberapa hal mengenai kehamilan istrinya, dokter pun menjawabnya dengan begitu jelas. Setelah selesai diperiksa, Zayna dan Kinan menebus vitamin di apotek. Setelah itu, meninggalkan rumah sakit.
“Mas, Bagaimana dengan keadaan Wina?” tanya Zayna saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Sekarang dia tinggal sama adiknya Dokter Rudi. Aku lupa namanya siapa. Beliau juga sama profesinya seperti Dokter Rudi. Semoga saja Wina bisa sembuh dalam penanganannya.”
“Apa tidak merepotkan keluarga mereka, Mas?”
“Tidak apa-apa, mereka seorang dokter dan juga sering membantu pasiennya. Kalau kita tempatkan Wina di rumah sakit jiwa, takutnya keadaannya malah makin parah. Dokter Rudi takut jika Wina dibawa ke rumah sakit jiwa, keadaannya akan semakin depresi. Terkadang Wina masih bisa bicara normal, jadi lebih baik tinggal di sana saja.”
__ADS_1
“Aku berharap Wina bisa segera sembuh dan tidak lagi mengganggu rumah tangga kita.”
Tidak ada orang yang ingin rumah tangganya hancur. Semua pasti ingin bahagia bersama suami dan anak-anak mereka. Termasuk Ayman dan Zayna, banyak mimpi yang sudah keduanya rajut dan mereka tidak ingin semua hancur begitu saja.
“Amin, semoga saja. Aku sangat beruntung bisa memiliki istri seperti kamu, yang selalu mengerti aku dalam keadaan apa pun.” Ayman menggenggam telapak tangan istrinya.
****
Kinan Baru saja sampai di kampus. Gadis itu memarkirkan mobilnya dan segera turun menuju kelas. Di sepanjang perjalanan, semua orang tampak berbisik-bisik sambil melihat ke arahnya. Dia merasa aneh atas apa yang terjadi.
Kinan berpikir jika mereka masih membicarakan tentang dirinya yang dikhianati oleh Nayla dan Niko. Gadis itu pun tidak ambil pusing dan terus saja berjalan menuju kelasnya. Saat jam hampir sampai ke kelas, ada seorang yang menegurnya.
“Kin, kamu sudah lihat papan pengumuman belum?”
“Memang ada pengumuman apa?”
"Foto? Foto apa?"
"Lihat saja sendiri."
Kinan yang penasaran pun segera menuju tempat yang disebutkan orang tadi. Begitu sampai, dia begitu terkejut, banyak foto dirinya saat makan malam bersama dengan Hanif tertempel di sana. Bahkan foto saat Kinan terjatuh di atas tubuh Hanif pun ada di sana.
Gadis itu benar-benar marah, dia segera mengambil satu persatu foto yang tertempel di sana. Kinan akan mencari tahu siapa pelakunya. Apa Hanif sudah tahu tentang ini? Jika tahu, kenapa diam saja? Bukankah mereka sepakat untuk merahasiakan semuanya.
“Siapa yang nempelin ini?” tanya Kinan pada semua orang yang ada di sana. Namun, mereka menggeleng karena tidak ada yang tahu. Foto itu sudah tertempel pagi-pagi sekali.
__ADS_1
Kinan berjalan ke arah ruang dosen untuk mencari keberadaan Hanif. Dia juga ingin tahu apakah pria itu mengetahui tentang foto-foto ini atau tidak. Begitu sampai, Kinan tidak melihat keberadaan Hanif. Justru yang mendekatinya adalah dosen wanita yang selama ini dikabarkan selalu mencoba mencari perhatian Hanif. Namun, pria itu tidak pernah menanggapinya.
“Kamu cari Pak Hanif? Beliau tidak datang karena sakit. Tadi Pak Hanif menghubungi saya. Semua orang tahulah kalau saya orang yang paling dekat dengannya di kampus ini, tapi sekarang ternyata ada juga mahasiswa yang mencoba mencari perhatiannya. Sampai-sampai memasang foto yang tidak pantas seperti itu."
Kinan mengepalkan tangannya kuat-kuat. Andaikan saja wanita yang ada di depannya ini bukanlah dosen, sudah pasti dia akan membungkam mulut wanita itu. Akan tetapi Kinan masih tahu batas kesopanan, jadi dia hanya bisa diam dengan amarah yang tertahan.
“Terima kasih, Bu, atas informasinya. Saya permisi.” Kinan pergi begitu saja.
Mau tidak mau, dia harus kembali ke kelas karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Sebenarnya gadis itu sudah mulai malas karena kejadian hari ini. Akan terapi, Kinan tidak ingin membuat kedua orang tuanya kecewa. Terutama sang papa yang sudah sangat percaya padanya.
Sepanjang pelajaran, gadis itu sama sekali tidak bisa fokus. Bahkan beberapa kali mendapat teguran dari dosen. Setelah selesai kelas, Kinan tidak langsung pergi. Dia masih duduk di tempatnya, memikirkan apa yang sudah terjadi akhir-akhir ini dalam kehidupannya.
Gadis itu yakin ada seseorang yang tidak menyukai dia, hingga melakukan hal ini padanya. Akan tetapi, siapa mungkin yang melakukannya? Apa itu orang yang sama yaitu atau Nayla dan Niko? Atau mungkin teman-teman yang lain.
Kinan penasaran, apa yang sebenarnya tejadi, bagaimana bisa sebuah foto bisa tertempel jika bukan ada orang yang sengaja. Apalagi beberapa foto diantaranya seperti memang sengaja meninggalkan kesan buruk. Padahal kejadiannya tidak seperti yang orang pikirkan.
Sebenarnya dia juga sangat malu melihat foto dirinya terpampang di sana, tetapi Kinan bukanlah gadis cengeng yang menghadapi semua masalah dengan menangis. Mungkin ada kalanya dia bisa seperti itu, tetapi Kinan tidak pernah melakukan itu di depan orang lain, terutama orang yang memang ingin melihatnya hancur.
“Kinan, kamu tidak apa-apa?” tanya seorang pria membuat Kinan mendongakkan kepalanya. Ada Hanif di sana yang tengah berdiri dengan napas yang sudah ngos-ngosan. Pasti pria itu tadi berlari.
“Bapak ada di sini, bukannya Bapak lagi sakit?” tanya Kinan.
“Bukan sakit yang berat, hanya demam saja. Tadi saya mendapat pesan dari Pak Munif mengenai kejadian hari ini. Aku takut terjadi sesuatu sama kamu karena itu saya langsung ke sini.”
Hati Kinan menghangat setelah mendengar apa yang dikatakan Hanif. Dia tidak menyangka jika pria itu sangat perhatian padanya. Padahal semalam Kinan yang sudah membuat Hanif terluka. Meski itu bukan keinginan gadis itu.
__ADS_1
.
.