Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
113. Pendapat


__ADS_3

“Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pegawai toko.


“Saya sedang mencari cincin, Mbak,” jawab Hanif sambil melihat etalase, tempat berjajar berbagai macam perhiasan. Dia jadi bingung bagaimana memilihnya.


“Anda ingin cincin yang seperti apa? Untuk Anda sendiri atau untuk kekasih Anda?”


“Saya sedang mencari cincin tunangan.”


Pegawai itu melihat ke sekeliling. “Ke mana tunangan Anda?”


“Di rumahlah, kenapa kamu mencarinya?”


“Maaf, jadi Anda datang sendiri? Kenapa tidak dengan pasangan Anda? Bagaimana bisa mencoba cincinnya kalau begitu?”


Hanif terlihat berpikir, dia malu jika harus mengajak Kinan ke toko perhiasan sekarang. Pria itu takut dianggap tidak serius karena melupakan hal yang sangat penting.


“Coba pakai jari kelingking saya saja, Mbak.”


“Baiklah, Anda mau cincin yang bagaimana?”


Hanif menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dia tidak tahu cara memilih cincin, entah bagaimana dia harus memilih. Pria itu pun menatap pegawai tersebut.


"Menurut, Mbak, mana yang paling bagus?"


“Semuanya bagus. Mungkin Anda bisa melihat sebelah sana. Mari! Ada beberapa contoh Anda bisa melihat-lihatnya lebih dulu,” ucap pegawai toko itu.


Hanif hanya mengangguk mengikutinya. Pria itu begitu takjub saat melihat deretan cincin pasangan yang ada di sana. Berbagai macam model dan harga sudah tertera di sana.


“Mbak, saya maunya yang warna putih saja. Saya malu kalau pakai warna yang kuning.”


“Oh iya, Pak. Yang putih ada beberapa contohnya. Sebenarnya ada juga yang model terbaru, tapi ada sedikit warna emasnya. Ini keluaran terbaru, siapa tahu Anda suka,” ucap pegawai toko sambil memperlihatkan cincin itu. Hanif begitu menyukainya dari pandangan pertama. Pasti akan sangat cantik di jari Kinan.


“Boleh saya coba, Mbak. Sepertinya saya menyukainya.”


“Oh, silakan.” Saat dicoba, ternyata ukurannya sangat pas dengan jari manis Hanif, sedangkan untuk wanita saat pria itu mencobanya di jari kelingking agak sempit, tetapi Hanif tetap memilihnya. Dia yakin cincin ini sangat cocok untuk Kinan.


“Saya pilih yang ini saja, Mbak. Saya cocok dengan yang ini," ucap Hanif. "Pasti sangat cantik di jarinya," lanjutnya bergumam.


“Boleh, sebentar saya buat notanya.”


“Di sini bisa pakai kartu kredit, kan, Mbak?”

__ADS_1


“Oh, tentu bisa, Pak,” jawab wanita itu membuat Hanif merasa lega.


Baru kali ini dia datang ke toko emas, pria itu takut jika harus menggunakan uang cash. Setelah membayar cincin, Hanif ingin segera kembali pulang. Namun, saat melewati toko pakaian dia melihat sebuah gaun yang begitu cantik. Pria itu jadi teringat dengan Kinan.


Seandainya Gadis itu memakainya pasti akan terlihat lebih cantik. Tanpa sadar langkah kaki Hanif memasuki toko gaun tersebut. Bibirnya tersenyum membayangkan wanita pujaan hatinya memakai gaun itu.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya seorang pegawai.


“Oh ... saya mau yang ini, Mbak,” jawab Hanif sambil menyentuh gaun yang diinginkan.


“Iya, boleh, Pak. Ukurannya berapa kalau boleh saya tahu?”


“Saya tidak tahu, tapi sepertinya ini cocok.”


“Apa Anda yakin? Karena di toko kami barang yang sudah dibeli tidak bisa dikembalikan, sekalipun barang masih bagus hanya ukurannya yang tidak cocok.”


Hanif terlihat berpikir, Dia sangat menyukai gaun itu. Bagaimana jika nanti ukurannya tidak cocok? Bukankah akan terbuang sia-sia. Akan tetapi, pria itu sudah sangat menyukainya. Sudahlah, Hanif yakin jika ini sudah pas.


“Iya, Mbak, saya yakin jika ini sangat pas untuknya.”


“Baiklah, mari, ikuti saya!” ajak pegawai tersebut dengan membawa baju yang diinginkan oleh Hanif. Pria itu mengikutinya untuk membayar.


****


“Mama lagi nungguin Hanif, Pa. Dari tadi belum pulang-pulang, padahal pamitnya cuma beli cincin,” jawab Mama Aida.


“Ya ... siapa tahu dia mampir ke tempat temannya atau beli apa gitu. Mama ini, Hanif itu bukan anak kecil lagi. Kenapa juga masih khawatir seperti itu.”


“Pa, Mama itu khawatir sama cincinnya. Hanif itu jadi beli nggak, sih! Kenapa nggak ngabarin Mama?"


“Astaghfirullah, Ma, jadi khawatirnya bukan karena anaknya! Tapi karena cincin!"


“Hanif sudah besar ngapain dikhawatirin.”


“Terserah Mama lah, Papa jadi ikutan pusing,” sahut Papa Wisnu yang kemudian masuk ke dalam kamar.


Tidak berapa lama, terdengar suara mobil memasuki halaman rumah. Segera Mama Aida keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata bukan orang yang ditunggu, tentu saja membuat wanita itu membuang napas kasar.


“Assalamualaikum, Nyonya,” ucap Ivan—sopir keluarga Wisnu.


“Waalaikumsalam, ah kamu ini Ivan. Saya kira Hanif yang datang,” sahut Mama Aida dengan ketus.

__ADS_1


“Memang Tuan Hanif belum pulang, Nyonya?”


“Kalau sudah pulang mana mungkin saya bertanya sama kamu. Kamu ini lama-lama bikin orang kesel saja. Sudah tahu dari tadi orang bingung nungguin Hanif, kamu malah datang ke sini. Suami saya sudah pulang, ngapain kamu bolak-balik ke sini? Nggak tahu apa orang sedang khawatir,” gerutu Mama Aida sambil berjalan memasuki rumah.


Ivan hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia Mana tahu jika majikannya menunggu kedatangan Hanif. Pria itu ke sini juga ingin mengembalikan mobil, tadi Pak Wisnu memintanya untuk mengisi bahan bakar.


****


“Kak!” panggil Kinan sambil mengetuk pintu kamar Zayna.


“Iya, sebentar,” sahut Zayna yang kemudian membuka pintu kamar. “Kinan, ada apa?”


“Boleh ngobrol sebentar, Kak?”


“Tentu boleh, mau ngobrol di mana?”


“Di sini saja, di kamar Kakak,” jawab Kinan yang diangguki Zayna. Keduanya memasuki kamar, Zayna pun menutup pintu agar tidak ada orang yang mendengar. Dilihat dari ekspresi sang adik ipar, sepertinya ini cukup privasi.


“Mau bicara apa?” tanya Zayna memulai pembicaraan.


Kinan mencoba menenangkan dirinya. Dia sedikit ragu apa harus menceritakan hal ini pada kakak iparnya atau tidak. Akan tetapi, jika tidak, maka gadis itu akan semakin penasaran.


“Dulu saat Kak Ayman melamar kakak, apa yang Kakak pikirkan? Saat itu ‘kan Kakak sama sekali tidak mengenal Kak Ayman?”


“Berbagai perasaan aku rasakan saat itu. Bingung, heran, takut juga. Aku takut jika Mas Ayman hanya mempermainkanku saja. Aku bimbang sekali, hingga akhirnya aku meminta petunjuk pada Tuhan. Alhamdulillah Mas Ayman memang jodoh yang Tuhan kirim. Memangnya kenapa?”


“Aku ragu, apakah Mas Hanif yang terbaik atau tidak. Sama seperti Kakak, aku juga tidak begitu mengenalnya.”


“Boleh aku menilai Hanif?” tanya Zayna yang diangguki Kinan.


Gadis itu menatap Kakak iparnya, menunggu wanita itu berbicara mengenai Hanif. Dia juga ingin tahu pendapat orang lain mengenai calon suaminya. Pria itu layak atau tidak untuk dijadikan pemimpin.


“Aku tidak begitu mengenalnya, tapi aku bisa melihat kebaikan dalam diri Hanif. Dia sangat sopan pada siapa pun yang dikenalnya. Aku lihat agamanya juga bagus, sangat menghormati orang tua. Seorang laki-laki seperti ini sangat cocok untuk dijadikan imam, jadi apa yang masih membuatmu ragu?”


“Entahlah, Kak.”


“Mintalah petunjuk pada Sang Maha Pencipta, mudah-mudahan kamu bisa yakin setelah itu. Entah jawaban apa yang akan kamu dapat.”


.


.

__ADS_1


__ADS_2