Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
104. Dia tunangan saya


__ADS_3

“Saya tidak apa-apa, Pak. Seharusnya Anda istirahat saja,” ucap Kinan pada Hanif.


“Tetap saja aku khawatir sama kamu. Apa foto-fotonya ada sama kamu? Coba aku lihat, biar nanti aku yang urus masalah ini. Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa,” ujar Hanif sambil menadahkan tangannya.


Kinan mengambil beberapa foto di dalam tas dan menyerahkannya pada Hanif. Ada rasa malu kala Hanif melihat foto satu persatu. Apalagi gambar yang tidak pantas itu.


“Sebenarnya saya khawatir, kalau pekerjaan bapak sebagai dosen akan terancam. Saya sangat tahu jika ini adalah cita-cita Anda. Bahkan Anda menolak permintaan orang tua Anda untuk memimpin perusahaan hanya demi menjadi seorang dosen.”


Hanif menatap Kinan dengan saksama. Dia tidak menyangka jika gadis itu tahu juga mengenai urusan pribadinya. Pasti keluarganya yang bercerita mengenai hal itu. Tidak dipungkiri dia senang Kinan perhatian padanya.


Tanpa Kinan ketahui, bahwa Hanif memang sudah berniat untuk berhenti menjadi dosen karena gadis itu. Dia dan orang tuanya sudah membuat kesepakatan. Kalau hubungan Hanif dan Kinan berhasil, maka pria itu harus bersiap menggantikan posisi papanya sebagai pemimpin perusahaan. Dia masih bisa menjadi dosen untuk mengisi kelas jika pekerjaannya sudah selesai.


“Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Aku bisa mengatasinya sendiri. Kamu hanya perlu memikirkan diri kamu sendiri. Jangan biarkan orang lain menindasmu," ujar Hanif.


“Tentu saja, aku bukan gadis lemah, yang bisa dengan mudah mereka tumbangkan.”


Hanif tersenyum, dia senang jika Kinan punya kepercayaan diri yang besar. Setidaknya gadis itu bisa membela diri, tanpa meminta bantuan orang lain. Akan ada saatnya dia yang berdiri melindungi Kinan.


“Aku harus kembali ke ruangan dosen. Apa setelah ini kamu masih ada kelas?”


“Tidak ada, Pak. Saya mau pulang saja.”


“Hati-hati di jalan,” ucap Hanif yang segera berlalu meninggalkan ruang kelas.


Gadis itu pun membereskan perlengkapannya dan pergi dari sana. Saat keluar dari kelas, ternyata sudah ada teman-temannya yang dulu di sana. Mereka berdiri di depan kelas dengan memandangi Kinan. Dia sudah sangat tahu apa yang mereka inginkan.


“Wah wah wah, hebat sekali kamu. Setelah putus dari Niko, sekarang yang menjadi incaranmu dosen. Dosen yang paling terkenal dan killer pula,” ujar Nayla. Namun, Kinan hanya diam saja tidak menanggapi.


Baginya itu tidaklah terlalu penting. Semakin diladeni, mereka akan semakin senang. Melihat Kinan yang hanya diam saja pun, Nayla kembali berbicara.


“Setelah dosen nanti, siapa lagi yang mau kamu incar? Apa mau kepala rektor? Atau pemilik yayasan? Wih, ngeri juga ya mainan kamu.”

__ADS_1


“Sayang sekali aku nggak suka mainan.”


“Oh ya! Jadi maunya apa? Mau langsung jalan saja, nih, sampai pelaminan!" seru Nayla.


"Dia maunya main cepet, Nay," sahut teman Nayla.


“Kalau bisa, kenapa tidak? Ya ... setidaknya aku tidak pernah melakukan dosa. Lagi pula Pak Hanif juga bukan pria beristri ataupun memiliki hubungan dengan wanita lain, jadi aku bebas untuk mengejar dia,” ucap Kinan yang memang sengaja ingin membuat Nayla marah.


Nyatanya dalam hati ingin sekali dia mengumpat, bagaimana bisa tadi berkata seperti layaknya wanita murahan. Akan tetapi, setelah dipikir-pikir, memang benar ‘kan tidak ada yang salah jika dia dekat dengan Hanif? Dia pria single, tidak terikat dengan siapa pun.


“Aku ingin lihat seberapa lama kamu menjalin hubungan dengan Pak Hanif. Setahuku dia orang yang dingin, pasti tidak bisa bersikap romantis sama kamu. Bisa-bisa nanti kamu yang harus agresif sama dia.”


“Jika memang itu diharuskan, kenapa tidak! Bukankah kamu juga seperti itu? Lain kali kalau bicara sesuatu sebaiknya dipikir dulu,” ucap Kinan yang kemudian berlalu dari sana.


Farah yang tadinya bersama Nayla pun mengikuti Kinan. Dia ingin bicara dengan sahabatnya itu. Selama ini hanya gadis itu yang baik dengannya. Tidak seperti lainnya yang hanya memanfaatkan ketidakberdayaannya.


“Kinan! Kamu mau ke mana?” tanya Farah dengan sedikit berlari.


Kinan berhenti dan berbalik. “Aku mau pulang, memangnya ada apa?”


Selama ini memang hanya dia yang tidak ikut mengejek seperti teman yang lain. Kinan tahu karena Farah hanya dijadikan pembantu oleh mereka. Sebenarnya gadis itu kasihan pada sahabatnya, tetapi mau bagaimana lagi, dia sendiri yang menolak. Farah termasuk orang yang tidak mampu.


“Lagian Farah, kenapa kamu masih mau berteman sama mereka? Padahal setiap hari kamu hanya dijadikan pembantu.”


“Kamu kan tahu bagaimana keluargaku. Aku bukan orang kaya seperti mereka. Aku juga masih butuh pekerjaan sama Nayla.”


“Tapi nggak harus juga kamu menjadi pembantunya di kampus. Kamu cukup kerja di restoran dia setelah pulang kuliah.”


“Tapi kalau aku nggak mau menuruti keinginannya, dia pasti akan mengadukan aku pada orang tuanya dan mereka akan memecatku. Aku tidak ingin kehilangan pekerjaanku. Adik-adikku masih sekolah, aku juga masih tetap ingin kuliah.”


“Iya, aku ngerti. Aku tidak masalah, kok! Nanti kalau kamu sudah tidak tahan lagi dengan mereka dan membutuhkan pekerjaan, kamu bilang saja sama aku. Insya Allah nanti aku akan bantu untuk mencarikannya.”

__ADS_1


“Iya, terima kasih, untuk saat ini aku masih tetap kerja di sana saja.”


“Iya, tidak apa-apa. Aku tidak bisa memaksamu. Ya sudah, aku balik dulu. Kamu mau aku antar?”


“Tidak perlu, aku masih ada kelas.”


“Aku balik dulu, assalamualaikum.” Kinan melambaikan tangannya, begitu juga Farah.


“Waalaikumsalam.”


*****


Sementara itu, Hanif saat ini masih berada di ruangan dosen. Semua temannya menunggu jawaban dari pria itu, mengenai gosip dan foto yang beredar hari ini. Selama ini dia tidak dekat dengan siapa pun, tetapi sekarang tiba-tiba saja beredar foto seperti itu. Hingga tersebarlah gosip jika mereka punya hubungan yang spesial.


Sebenarnya tidak ada masalah jika mereka memang menjalin hubungan, tetapi yang menjadi masalah adalah foto-foto itu. Tidak sepantasnya gambar seperti itu dilakukan oleh seorang dosen. Hanif juga tidak bisa disalahkan karena itu adalah ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab.


“Jadi, Pak Hanif, apa hubungan Anda dengan mahasiswa yang bernama Kinan itu?” tanya salah seorang dosen.


“Dia adalah tunangan saya. Maaf saya sudah membuat masalah di kampus ini, tapi sungguh saya tidak ada niat seperti itu. Dari awal memang kami ingin merahasiakan karena tidak ingin menjadi masalah.”


“Apa, Bapak, tidak salah? Dia tunangan Pak Hanif?” tanya Bu Lisa, wanita yang menaruh hati pada Hanif.


“Iya, Bu. Memang benar apa ada masalah?” tanya Hanif membuat wanita itu terdiam.


Lisa tidak mengira jika Hanif bisa memiliki tunangan. Wanita itu tahu jika selama ini Hanif tidak pernah membalas perasaannya. Akan tetapi, mendengar jika pria itu sudah bertunangan, rasanya sangat menyakitkan. Harapan yang sudah dia berikan sangat besar, sekarang hancur begitu saja.


“Apa Anda tidak takut jika dikeluarkan dari kampus ini?” tanya Lisa.


“Apa maksud Anda, Bu? Di kampus ini tidak ada peraturan untuk melarang para penghuninya menjalin hubungan. Bukankah pak rektor dulu juga istrinya seorang dosen di sini?”


“Tapi Kinan seorang mahasiswa.”

__ADS_1


.


.


__ADS_2