Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
73. Luka masa lalu dan kini


__ADS_3

Usai shalat subuh, Zayna masih berada di kamar. Dia memilih untuk membaca buku saja. Mengenai makanan untuk sarapan, dia tidak ingin memasak hari ini. Mereka bisa memesan dari luar jika memang sudah lapar.


Ayman mendekati sang istri dan memberikan kode padanya agar menyelesaikan bacaannya. Pria itu tahu Zayna pasti sengaja menyibukkan diri di kamar. Wanita itu pun menurut dan mengakhiri apa yang dia baca.


"Kenapa kamu masih di sini? Apa tidak memasak?" tanya Ayman dengan lembut.


"Tidak, Mas. Aku lagi malas. Lebih baik pesan dari luar saja," jawab Zayna singkat tanpa mau menatap sang suami.


"Sayang, maafkan aku jika terlalu memaksamu. Aku tahu kamu masih terluka, tapi jangan terlalu berlarut, ya! Tidak baik seorang muslim menyimpan dendam. Apalagi sama orang tua sendiri."


Zayna hanya diam, tidak menanggapi ucapan sang suami. Dia menundukkan kepala. Padahal sedari tadi wanita itu tidak ingin membahas hal ini sama sekali, tetapi Ayman malah membuka kembali luka yang dia coba untuk tutupi.


"Ya sudah, kalau begitu. Biar aku pesan makanan, kamu mau makan apa?" tanya Ayman.


"Terserah, Mas, saja."


Ayman pun mengangguk dan mengotak-atik ponselnya. Dia memesan makanan kesukaan sang istri. Sedangkan untuk mertua, pria itu hanya memesan makanan yang umum saja. Ayman takut jika mertuanya tidak suka.


"Aku mau keluar dulu, ya, Sayang. Mau jalan-jalan di taman sebentar," pamit Ayman yang diangguki oleh Zayna. Saat pria itu keluar, terlihat Mama Savina dan Papa Rahmat berjalan ke arah dapur.


"Selamat pagi, Pa, Ma," sapa Ayman.


"Selamat pagi, Zayna di mana?"


"Ada di kamar, Pa."


"Oh, Papa kira sedang masak tadi," sahut Papa Rahmat dengan nada sedih.

__ADS_1


"Saya yang melarang Zayna untuk masak, Pa. Aku lihat dia masih capek, jadi aku pesankan makanan dari luar. Kita tunggu saja, sebentar lagi juga datang."


"Oh, begitu, tidak apa-apa. Zayna memang terlalu banyak kegiatan akhir-akhir ini."


"Aku keluar dulu, Pa, Ma. Mau jalan-jalan sebentar," pamit Ayman yang diangguki kedua mertuanya.


"Ma, Papa mau bicara sebentar sama Zayna. Tolong antar ke depan kamarnya," pinta Papa Rahmat.


"Apa Papa yakin? Apa perlu Mama temani?"


"Tidak perlu, Papa ingin bicara berdua dulu."


"Baiklah." Mama Savina pun mendorong kursi roda sang suami menuju kamar putri sulungnya.


Begitu sampai di depan pintu kamar Zayna, Mama Savina meninggalkan sang suami di sana. Papa Rahmat mengetuk pintu kamar putrinya beberapa kali, hingga terbukalah pintu kamar tersebut. Tampak Zayna yang berdiri di sana.


"Papa mau bicara sebentar, boleh, kan?"


"Mau bicara apa? Aku lagi capek." Zayna berusaha menghindar. Dia masih belum sanggup bicara dengan papanya.


"Hanya sebentar saja. Papa tahu kamu marah sama Papa."


Zayna sama sekali tidak terkejut dengan pertanyaan papanya. Terpaksa wanita itu mengangguk dan membiarkan pria itu masuk ke kamar. Papa Rahmat menghentikan kursinya di samping ranjang, sementara Zayna duduk di tepi tempat tidur. Keduanya terdiam, tidak tahu harus bicara mulai dari mana.


"Bukankah tadi Papa bilang mau bicara sesuatu? Kenapa diam saja? Kalau tidak jadi, sebaiknya Papa keluar saja. Aku ingin istirahat," ujar Zayna memecah keheningan.


"Papa minta maaf atas apa yang terjadi selama ini sama kamu," ucap Papa Rahmat sambil menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Minta maaf soal apa?" tanya Zayna pura-pura tidak tahu.


"Papa tahu kamu pasti terluka dengan sikap Papa selama ini, yang sudah membeda-bedakan kamu, tapi perlu kamu tahu, Papa tidak berniat dengan sengaja melakukannya. Papa selalu menyamaratakan kalian. Hanya saja Papa tidak pernah bisa dekat dengan kamu karena setiap melihat wajahmu, Papa pasti teringat dengan almarhumah Mama Aisyah."


"Apa karena Mama Savina yang mengatakan jika akulah penyebab Mama meninggal dan aku juga membawa sial?"


"Kenapa kamu jadi bawa-bawa nama Mama Savina?" tanya Papa Rahmat yang tidak suka mendengar kata-kata putrinya.


Hal itu membuat Zayna berdecih sinis. Papanya selalu membela istri dan anaknya yang lain, tapi tidak dengan dirinya. Tidak bisakah pria itu membelanya sekali saja?


"Karena memang itulah kenyataannya. Dia yang selalu bilang ke semua orang kalau aku adalah sumber malapetaka, sumber kesialan di keluarga ini. Mama Aisyah meninggal karena melahirkanku dan semua yang aku lakukan pasti akan membawa bencana. Semua orang pun percaya akan hal itu, termasuk Papa. Apa Papa pernah menyelidiki semuanya? Apa Papa pernah bertanya apa yang aku inginkan? Tidak pernah. Papa selalu menanyakan keadaanku lewat Mama Savina. Bahkan memberikanku hadiah pun lewat Zanita, yang ternyata semuanya tidak pernah sampai kepadaku."


Papa Rahmat masih diam dengan menundukkan kepalanya. Dia sama sekali tidak menyangkal apa yang putrinya katakan karena memang itulah kenyataannya. Seandainya saja pria itu mau berdamai dengan keadaan dan menerima takdir dengan ikhlas. Pasti semua tidak akan seperti ini.


"Jangan papa kira aku tidak tahu! Aku tahu semuanya. Saat Zanita membakar semua hadiah dari Papa untukku, dia beralasan akulah yang membakarnya. Saat Papa menanyakan keadaanku pada Mama Savina, dia mengatakan kalau aku baik-baik saja. Papa tidak pernah tahu bagaimana keadaanku, saat demam aku hanya diberi obat penurun panas, tanpa ada yang menyentuhku. Aku juga ingin seperti anak-anak yang lain. Dipeluk oleh orang tuanya dan berkata bahwa aku akan baik-baik saja. Aku ingin dijaga sepanjang malam saat demam. Merayakan ulang tahun meski hanya dengan sebuah tumpeng nasi. Apa salah jika seorang anak memiliki keinginan seperti itu? Aku yakin Papa tidak tuli dan tidak juga buta hanya pura-pura tuli dan pura-pura tidak melihat keadaanku. Saat itu aku mencoba untuk membesarkan hatiku bahwa aku anak tertua di keluarga ini dan sudah sepantasnya aku berkorban untuk adik-adikku, tapi—"


Zayna menjeda kalimatnya karena terlalu menyakitkan. Luka yang ditorehkan keluarganya benar-benar sangat dalam. Bisakah dia mengobatinya saat semuanya benar-benar menyakitkan.


"Tapi, kebenaran yang aku dengar kemarin sungguh menyakiti hatiku. Selama ini Zanita ternyata bukan anak kandung, tapi dia mendapat perlakuan yang begitu istimewa. Tidak bolehkah aku iri padanya? Apakah selamanya aku harus mengalah dan mengalah? Apa kalian pikir aku tidak memiliki hati dan perasaan? Aku juga manusia, bukan hewan yang bisa kalian perlakukan seenaknya," lanjut Zayna.


Zayna menangis terisak, meratapi nasibnya yang sungguh-sungguh miris. Jika orang mengatakan Zayna tidak tahu rasa bersyukur, rasa syukur mana yang bisa dia syukuri? Wanita itu hanya ingin kasih sayang keluarganya, tetapi hal itu tidak dia dapatkan bahkan sampai wanita itu menikah.


Papa Rahmat juga ikut menangis. Dia meratapi kebodohannya selama ini. Terlalu banyak yang sudah pria itu lewatkan. Rasa bersalah bukan hanya pada Zayna, tapi juga pada almarhumah istrinya. Bagaimana nanti Papa Rahmat bertanggung jawab pada Mama Aisyah mati.


.


.

__ADS_1


__ADS_2