Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
62. Mengunjungi Zanita


__ADS_3

Ponsel yang ada di genggaman tangan Mama Savina terjatuh. Wanita itu terkejut dengan apa yang baru saja Fahri katakan. Tidak mungkin Zanita melakukannya. Apalagi wanita itu juga menyayangi papanya, tetapi bukankah tujuan awalnya adalah Zayna?


Memang baru saja Fahri menghubungi mama mertuanya dan mengatakan keadaan Zanita. Pria itu juga meminta Mama Savina untuk datang ke kantor polisi karena dia ada meeting penting di kantor hari ini. Wanita itu kesal karena menantunya lebih mementingkan pekerjaan daripada istrinya.


"Ma, ada apa? Mama sepertinya sangat terkejut sampai menjatuhkan ponsel. Lihat, Ini sampai retak layarnya!" seru Zayna sambil menyerahkan kembali ponsel mamanya.


Mama Savina hanya diam dengan menatap kosong ke arah depannya. Dia masih mencoba menjernihkan pikirannya.


"Ma," panggil Zayna lagi sambil menepuk pundak wanita itu, membuat Mama Savina gelagapan dan langsung tersadar.


"Kamu tolong tungguin papa, ya! Mama ada perlu sebentar," ucap Savina sambil ponsel dan memasukkan ke dalam tas.


"Mama mau ke mana?" tanya Zayna.


"Mama ada janji sama teman sebentar saja. Kamu jaga papa," ucap Savina lagi yang segera berlalu keluar dari ruangan tersebut tanpa menunggu jawaban dari Zayna.


Untung saja Papa Rahmat masih tertidur jadi, dia tidak perlu merangkai alasan untuk bisa pergi. Mama Savina mencoba menghubungi Zivana. Namun, putrinya tersebut sepertinya sangat sibuk hingga tidak mengangkat panggilan. Wanita itu pun memutuskan untuk menaiki taksi.


Dia harus pergi ke kantor polisi untuk melihat keadaan putrinya. Selama perjalanan, Mama Savina tampak gelisah. Wanita itu tidak habis pikir dengan apa yang putrinya lakukan. Dia tahu apa sebenarnya tujuan Zanita. Akan tetapi, Mama Savina tidak menyangka jika putrinya bisa melakukan hal sampai sejauh ini.


Setetes Air mata jatuh membasahi pipi wanita paruh baya itu. Dia sadar jika Zanita berlaku seperti itu juga karena ulahnya. Savina terlalu memanjakan putrinya selama ini. Seandainya saja wanita itu bisa berlaku adil pada anak kandung maupun anak sambungnya, pasti semua tidak akan seperti ini. Penyesalan memang datangnya terlambat. Sama yang seperti yang dirasakan Savina saat ini.


Setelah menempuh perjalanan hampir setengah jam, akhirnya Mama Savina sampai juga di depan kantor polisi. Wanita itu segera membayar taksi dan bergegas masuk. Dadanya sesak mengingat putrinya berada di dalam sana.

__ADS_1


"Permisi, Pak. Saya Mamanya Zanita. Apa benar putri saya dibawa ke sini?" tanya Savina yang baru saja masuk.


"Iya benar, Bu, tapi saat ini saudari Zanita masih dalam pemeriksaan. Anda bisa menunggunya di ruang tunggu."


"Baiklah, saya akan tunggu di sana saja." Mama Savina pun duduk di ruang tunggu.


Cukup lama dia menunggu. Hingga dua jam pun berlalu. Akhirnya wanita itu bisa bertemu dengan putrinya. Zanita yang melihat keberadaan sang mama pun segera berlari dan memeluknya. Memang hanya Mama Savina yang selalu ada untuknya. Wanita itu juga yang sedari dulu selalu membelanya.


"Mama, tolong aku! Aku tidak bersalah. Aku tidak melakukannya. Itu semua pasti ulah Zayna. Dia pasti yang melaporkan aku karena dia iri aku sudah merebut Fahri darinya. Mama harus membebaskan aku bagaimanapun caranya," ujar Zanita yang terisak dalam pelukan Mama Savina.


"Mama akan bantu kamu kalau kamu benar-benar tidak bersalah," sahut Mama Savina yang membuat Zanita segera mengurai pelukannya.


"Maksud Mama apa? Jadi Mama tidak mau membantuku?" tanya Zanita dengan nada tinggi.


"Bukan begitu, maksud Mama, Mama akan membantu kamu kalau benar-benar bukan kamu pelakunya," ujar Mama Savina membuat Zanita terdiam dengan menatap kosong mamanya. Melihat keterdiaman putrinya, wanita itu kembali bertanya. "Bu—bukan kamu, kan, pelakunya?"


Zanita masih terdiam membuat Savina tahu jawabannya, tanpa putrinya membuka mulut. Tubuh wanita itu terduduk di kursi yang ada di belakang. Tangannya meremas ke dada yang terasa nyeri. Dia tidak pernah berniat untuk menjadikan putrinya seorang penjahat seperti sekarang ini. Entah dari mana jiwa pemberontak dan penjahat yang ada di tubuh Zanita. Apakah mungkin ini karma yang dia terima atas perbuatannya selama ini?


"Kenapa kamu bisa bertindak sampai sejauh ini?" tanya Mama Savina dengan suara lirih.


Zanita terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Baru kali ini dia melihat mamanya begitu terluka. Selama ini Mama Savina pasti akan selalu membela apa pun yang dia lakukan. Akan tetapi, sepertinya saat ini hal itu tidak berlaku. Cukup lama Mama Savina menangis. Zanita hanya diam dengan menundukkan kepala. Dia duduk di depan mamanya yang terhalang satu buah meja.


"Selama ini Papa Rahmat begitu baik sama kamu, tetapi kenapa kamu melakukan hal ini padanya?" tanya Mama Savina.

__ADS_1


"Aku tidak pernah berniat untuk mencelakakan papa. Tujuanku adalah menyingkirkan Zayna. Aku juga ingin bahagia. Begitu Zayna pergi, aku pasti bisa mendapatkan Ayman dan hidup bahagia. Aku selalu menderita hidup di rumah Fahri. Keluarganya tidak bisa memperlakukanku dengan baik. Mereka hanya menganggapku orang asing yang kapan pun bisa mereka perintah. Aku juga ingin seperti Zayna yang dicintai suami dan mertuanya. Aku lebih baik daripada dia, tapi kenapa kebaikan selalu menyertainya," ujar Zayna dengan berapi-api.


"Maafkan Mama yang salah mendidikmu. Seharusnya Mama tidak memanjakan kamu dari kecil, hingga membuat kamu seperti sekarang ini."


"Kenapa Mama harus minta maaf? Mama tidak berbuat salah." Zanita menggelengkan kepala, menolak permintaan maaf mamanya. Dia dan wanita itu tidak bersalah jadi, buat apa meminta maaf. Satu-satunya yang bersalah di sini adalah Zayna, begitulah pikir Zanita.


"Tidak, Mama yang salah di sini. Seharusnya Mama mengajarkanmu untuk menghormati Zayna sebagai kakakmu. Bukan memperlakukannya seperti pembantu di rumah. Dia dari kecil selalu hidup susah karena Mama dan sekarang mungkin ini balasan dari Tuhan. Dia memberikan kebahagiaan dalam rumah tangganya, sementara untuk kamu Tuhan membuat kebalikannya. Kamu diperlakukan mereka seperti pembantu. Mama sungguh-sungguh minta maaf," ujar Mama Savina dengan terisak.


Mendengar ucapan mamanya. Air mata itu menetes begitu saja. Benar apa yang dikatakan Mama Savina. Dulu dia memperlakukan Zayna sama seperti keluarga mertuanya memperlakukan dirinya.


Tiba-tiba saja bayangan perlakuannya pada Zayna terlintas di depan mata. Bagaimana dia marah saat apa yang diminta tidak sesuai dengan apa yang kakaknya lakukan, padahal itu hanya hal kecil. Zanita juga sering memerintah Zayna melakukan pekerjaan sepele, nyatanya dia sendiri sangat mampu melakukannya.


"Andai saja Mama mendengar apa yang papa katakan untuk berlaku adil kepada kalian. Sama seperti yang dilakukan papa. Pasti saat ini kita semua hidup berdampingan dan bahagia," lanjut Savina.


"Untuk papa pasti sangat mudah untuk berlaku adil kepada anak-anaknya karena kita semua anaknya, tapi Mama, kan, sudah pasti tidak bisa karena Zayna bukanlah anak mama," sela Zanita yang mencoba membela mamanya.


Savina menatap putrinya. Seandainya saja Zanita tahun siapa dia sebenarnya. Apakah wanita itu masih bisa berkata demikian? Ingin sekali Mama Savina mengatakan yang sejujurnya. Namun, bibir ini seolah terkunci. Dia tidak sanggup mengatakan hal yang sesungguhnya pada sang putri. Apalagi di tengah musibah yang dihadapi.


.


.


.

__ADS_1


Hai teman-teman sambil nunggu aku up date selanjutnya silakan mampir ke karya teman saya, ya. Judulnya Dzikir cinta sang pendosa karya dari Santi Suki. Jangan lupa tinggalkan jejak



__ADS_2