Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
90. Alasan Indri


__ADS_3

“Bu Aisyah—“


“Tante, sudah, tidak usah bicara lagi. Benar kata Tante Aisyah, kita juga sama-sama wanita. Tidak seharusnya menyakiti perasaan istri Mas Ayman. Biarlah keinginan almarhumah Mama terkubur bersama jasadnya. Mudah-mudahan saja almarhumah Mama bisa menerima semuanya dengan ikhlas. Meskipun orang yang dia percaya tidak mau mengabulkan keinginannya, jadi Tante tidak perlu bicara lagi. Terima kasih Tante sudah mau memikirkan perasaan Mama. Saya juga ikut sedih melihat orang yang Mama anggap seperti saudara tidak memikirkannya lagi,” ujar Wina dengan wajah sedihnya.


Mama Aisyah sangat tahu siapa yang dimaksud oleh Wina. Namun, wanita paruh baya itu pura-pura saja tidak mendengar. Dia terlalu malas untuk menanggapi ocehan seorang yang sudah frustrasi. Biarkan saja mereka bicara apa, yang penting baginya rumah tangga anaknya baik-baik saja.


“Maafkan, Tante, yang tidak bisa mengabulkan keinginan mama kamu. Kamu benar, tidak semua orang mengerti keinginan terakhir orang yang sudah meninggal,” ucap Tante Indri sambil melirik ke arah Mama Aisyah.


Ayman dibuat geram dengan kedua wanita yang ada di depannya. Mereka sama sekali tidak menghormati mamanya selaku tuan rumah. Dia ingin menyela ucapan mereka. Namun, Mama Aisyah menarik tangan anaknya dan menggelengkan kepala. Wanita paruh baya itu tidak ingin menambah masalah, biarlah mereka berbicara apa saja, yang penting semuanya segera selesai dan mereka bisa pergi dari rumah ini.


Sebenarnya Mama Aisyah ingin sekali mengusir mereka. Namun, dia masih tahu tata cara menghormati tamu, jadi wanita itu membiarkan saja. Mama Aisyah merasa sedih dengan sikap Wina. Padahal dulu, dia wanita yang baik. Bahkan sudah dianggap seperti anak sendiri.


“Baiklah, Tante Aisyah, kami pamit dulu. Terima kasih sudah menerima kami di rumah ini. Maaf jika kedatangan kami mengganggu ketenangan Tante Aisyah dan keluarga.” Wina berdiri diikuti Tante Indri.


“Iya, tidak apa-apa. Kalian hati-hati di jalan.”


Wina bersalaman dengan Mama Aisyah dan Ayman. Sedangkan Indri pergi begitu saja tanpa berpamitan dengan pemilik rumah. Dia masih kesel dengan Aisyah karena tidak sependapat dengannya. Kalau seperti ini wanita itu akan semakin susah.


“Ma, kenapa Mama diam saja saat mereka menyindir Mama?” tanya Ayman, begitu tamunya sudah pergi.


“Biarkan saja, mereka sedang frustrasi. Kalau kita ikutan terpancing emosi, masalah tidak akan selesai. Mereka hanya sedang khilaf. Sudah, tidak usah dipedulikan, sekarang kamu temui istrimu. Mama takutnya dia berpikir yang tidak-tidak mengenai kedatangan Wina.”


“Iya, Ma," sahut Ayman. "Oh, iya, tadi di perjalanan kami beli bakso. Mungkin Zayna memberikannya kepada Bik Ira."


“Iya, terima kasih. Nanti Mama akan memakannya.”

__ADS_1


Ayman berlalu menuju kamarnya. Dia ingin mencari keberadaan sang istri. Ternyata Zayna sedang duduk di atas ranjang sambil membaca majalah. Pria itu mendekati sang istri dan duduk di sampingnya.


“Kamu nggak makan baksonya, Sayang?” tanya Ayman.


“Aku nungguin kamu, Mas. Apa tamunya sudah pulang?”


“Sudah, baru saja. Ayo, kalau gitu kita makan baksonya sekarang!”


“Kamu nggak mau mandi dulu?”


“Nanti saja, setelah makan bakso.”


“Ya sudah, ayo! Kebetulan aku juga sudah lapar.”


“Enak, Ma?” tanya Zayna saat sudah berada di dekat mertuanya.


“Enak. Kamu beli di mana?”


“Di perjalanan pulang tadi, dari kantor Mas Ayman. Kalau mau, nanti kapan-kapan kita ke sana. Makan di tempatnya jauh lebih nikmat daripada dibungkus.”


Ayman dan Zayna pun ikut menikmati bakso. Wanita itu melirik ke arah suaminya. Dia penasaran, apa yang membuat Wina dan tantenya datang ke sini. Zayna berharap Ayman bercerita tanpa ditanya, tetapi pria itu hanya diam saja. Hingga akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.


“Wina dan tantenya apa ada keperluan ke sini, Mas? Atau hanya silaturahmi saja?” tanya Zayna membuat Ayman melirik ke arah mamanya, yang memang pura-pura tidak tahu. Mama Aisyah tidak ingin ikut campur dalam urusan rumah tangga anaknya, sekalipun mereka tinggal satu rumah.


“Nanti saja, ya, Sayang. Aku akan ceritain semuanya, sekarang kita nikmatin dulu baksonya.”

__ADS_1


Meski rasa penasarannya sangat tinggi, Zayna menuruti keinginan sang suami untuk menikmati baksonya lebih dulu. Setelah semuanya habis. Ayman pamit untuk membersihkan tubuhnya, sementara Zayna membersihkan mangkok yang berada di meja. Setelah itu dia masuk ke dalam kamarnya dan duduk di tepi ranjang. Wanita itu menunggu penjelasan dari sang suami mengenai kedatangan tamunya tadi. Zayna berharap tidak ada sesuatu yang akan ditutup-tutupi, mengingat siapa Wina sebelumnya.


****


“Sulit sekali meminta Ayman menikahimu. Kenapa kamu harus mencintai dia, sih? Padahal banyak pria di luar sana yang sudah antre menunggumu. Kamu malah menginginkan pria beristri,” ujar Tante Indri pada Wina.


“Itulah yang membedakan Ayman dengan pria di luar sana. Dia tidak tertarik denganku, berbeda dengan pria di luar sana yang mengemis cinta dariku. Itu juga yang membuatku semakin penasaran pada Ayman. Meskipun dia sudah beristri, aku tidak peduli. Aku akan membuatnya mencintaiku.”


“Tapi sepertinya dia sangat mencintai istrinya. Akan sangat sulit untuk merebut hatinya.”


“Itulah tugas Tante. Tante harus bisa membuat Ayman mau menikah denganku, maka aku bisa menjamin, kalau Om tidak akan aku berhentikan dari perusahaan. Mengenai hatinya, itu urusanku,” ucap Wina.


Sebenarnya Indri tidak mau melakukan hal ini, terlebih dia harus membawa nama almarhum kakak dan kakak iparnya yang sudah meninggal. Namun, tidak ada cara lain agar membuat sang suami bisa tetap bekerja di perusahaan keluarga Wina. Hanya suami Indri yang menjadi tulang punggung keluarga. Zaman sekarang sangat sulit mencari pekerjaan.


Mereka juga masih perlu menghidupi anak-anaknya. Biaya sekolah juga semakin tinggi, jadi dia terpaksa berbohong dengan mengatakan hal tadi sesuai dengan keinginan Wina. Nyatanya kedua orang tua Wina tidak pernah mengatakan apa pun soal pernikahan anaknya.


“Wina, kita adalah keluarga. Kenapa kamu begitu tega pada Tante dan Om? Kamu lihat sepupumu, mereka masih perlu biaya yang besar. Kamu jangan seperti ini,” ucap Indri menghiba agar keponakannya bisa kembali seperti dulu.


“Karena mereka memang membutuhkan biaya yang besar, jadi Tante juga harus berusaha lebih keras agar suami Tante bertahan bekerja di sana. Tante pasti tahu apa yang bisa membuat Om bisa bertahan, kan?”


Indri tidak lagi berbicara, percuma juga berbicara dengan Wina. Dia tahu jika keponakannya saat ini sedang depresi. Makanya kadang bicara suka ngelantur. Wanita itu sudah berkali-kali membujuk Wina agar mau pergi ke dokter. Namun, keponakannya selalu menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.


.


.

__ADS_1


__ADS_2