
“Sayang, dia adalah rezeki buat kita. Meskipun Baby Ars saat ini masih kecil, insya Allah kita bisa menjaganya bersama-sama. Aku percaya kalau kamu bisa membesarkan mereka dengan baik. Kita juga bisa menggunakan Baby sitter, tidak ada salahnya memperkerjakan mereka. Kamu juga masih bisa mengawasinya,” ucap Ayman yang mencoba agar istrinya tidak down.
Zayna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Jujur dirinya belum siap jika harus memiliki anak lagi, mengingat sekarang usia Baby Ars yang belum genap enam bulan. Namun, jika memang ini kehendak dari Tuhan. Dia akan menerima dengan ikhlas. Sqemoga semuanya dipermudah oleh Tuhan.
"Sebaiknya aku pakai tespek saja dulu sebelum periksa ke dokter. Takutnya nanti malu kalau nggak hamil. Kebetulan di lemari masih ada," ucap Zayna yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.
Wanita itu pun menitipkan Baby Ars pada Mama Aisyah. Dia pergi ke kamarnya bersama dengan Ayman. Semua yang masih berada di ruang keluarga, hanya bisa memandangi kepergian dua orang naik ke lantai atas. Dalam hati, mereka harap-harap cemas, menunggu hasilnya.
Zayna mengambil Tespek yang ada di lemari dan membawanya ke kamar mandi. Dia sudah meyakinkan hatinya. Bahwa apa pun hasilnya nanti, wanita itu akan menerimanya dengan ikhlas. Zayna pun mulai melakukan yang diinstruksikan dalam alat tersebut. Beberapa menit kemudian, dia mengambil tespek mencoba melihat hasilnya.
Wanita itu memejamkan matanya sejenak sebelum melihat hasilnya dan berkata, "Alhamdulillah. Jika ini rizki dari-Mu, hamba menerimanya dengan ikhlas."
Zayna keluar dari kamar untuk menemui sama suami. Dia ingin memberi kabar bahagia jika kini dirinya memang sedang hamil. Bukan hanya pada Ayman, tetapi juga pada keluarga besarnya. Kebetulan juga Mama Savina dan Papa Rahmat juga ada.
Jika dilihat dari ekspresi, semua orang terlihat antusias dengan kehamilannya. Dia senang, kali ini semua orang pun sangat menyayangi dirinya dan sang buah hati. Yang diharapkan selama ini sudah terkabul, banyak orang yang menyayangi anak-anaknya. Jadi tidak perlu merasakan apa yang Zayna rasakan dulu.
"Bagaimana, Sayang. Apa hasilnya?" tanya Ayman dengan wajah tegang.
Pria itu begitu khawatir pada sang istri. Dia takut kalau Zayna tidak menerima kehadiran calon anak mereka dalam perutnya. Ayman tidak marah karena pria itu sangat tahu betapa susah mengurus anak dan keluarganya. Apalagi riwayat sang istri saat melahirkan masih sangat jelas.
Zayna memberikan alat tes kehamilannya kepada Ayman dengan tersenyum. Pria itu pun menerima dan mencoba melihat hasilnya. Ternyata benar, ada dua garis merah. Perlu beberapa detik untuk pria itu sadar dengan hasilnya.
__ADS_1
"Hasilnya positif, Mas. Aku hamil anak kedua kita."
"Alhamdulillah," sahut Ayman dengan begitu bahagia kemudian, menatap sang istri. "Kamu tidak masalah dengan kehamilan kamu lagi?”
"Aku tidak pernah mempermasalahkannya, Mas. Aku tadi hanya terkejut saja. Sekarang aku sudah bisa menerimanya dengan ikhlas. Anak ini adalah rezeki untuk kita. Aku masih sangat ingat, saat kita dulu masih awal-awal menikah, kita sangat sulit untuk mendapatkan anak. Sekarang Tuhan memberikannya lagi jadi, kita harusnya lebih banyak bersyukur."
Ayman tersenyum mendengar apa yang dikatakan istrinya. Dia senang karena pemikiran Zayna yang tiba-tiba berubah. Pria itu tidak menyangka akan bisa memiliki anak kembali, di saat dirinya masih trauma dengan kelahiran Baby Ars kemarin. Semoga saja kali ini sang istri melahirkan dengan mudah, tidak ada kejadian seperti kemarin.
"Ayo kita beri kabar pada yang lain! Pasti mereka juga menunggu kabar bahagia dari kita," ajak Ayman yang diangguki oleh Zayna. Wanita itu mengikuti sang suami berjalan keluar menuju ruang keluarga. Di mana semua orang sedang menunggu dengan harap-harap cemas.
Semua orang yang ada di ruang keluarga melihat ke arah tangga, saat kedua orang itu datang. Ayman menggenggam telapak tangan sang istri, untuk menguatkan wanita itu. Dia mengira jika Zayna takut pada kedua orang tuanya karena sudah kebobolan. Padahal sebelumnya Mama Aisyah sudah memperingatkannya agar tidak lupa minum pil kontrasepsi. Sekarang tetap saja hamil lagi.
“Bagaimana hasilnya, Na?” tanya Mama Aisyah. Semua orang hanya diam, menunggu jawaban dari wanita itu.
"Alhamdulillah," jawab semua orang dengan serentak.
"Ini adalah rezeki kalian, kalian harus menjaganya dengan baik."
"Iya, Ma. Mudah-mudahan semuanya berjalan dengan lancar, aku dan calon anakku selamat sampai lahiran," jawab Zayna dengan Mengusap perutnya.
Jujur dia masih takut dengan proses kelahiran yang pertama. Namun, sebisa mungkin wanita itu terlihat biasa saja. Zayna tidak ingin membebani keluarganya. Apalagi sampai membuat mereka kepikiran.
__ADS_1
Semua orang terlihat begitu senang. Maysa juga bisa melihat wajah sang suami yang begitu ceria. Mertua dan orang tuanya pun juga sangat bahagia. Mudah-mudahan seterusnya keluarga mereka selalu bahagia Semoga dia juga diberi kemudahan dalam mengasuh anak-anaknya kelak.
Zayna juga ikut tersenyum sambil mengusap perutnya yang datar. Entah bagaimana jalannya nanti, mudah-mudahan kali ini anaknya lahir dengan mudah. Para orang tua memberi nasihat agar kehamilannya kali ini, baik ibu dan bayinya baik-baik saja.
"Ya sudah, ini sudah malam. Sebaiknya kalian tidur. Lihat Baby Ars juga sudah mengantuk!" seru Mama Aisyah sambil menunjuk cucunya yang sudah terlelap di gendongan. "Pak Rahmat dan Bu Savina juga sebaiknya beristirahat," lanjut Mama Aisyah.
"Iya, Bu Aisyah. Kami juga sudah mengantuk, biasanya jam segini sudah tidur. Kamu permisi dulu," jawab Mama Savina yang kemudian pergi bersama dengan sang suami. Begitu juga dengan Ayman dan Zayna. Keduanya masuk ke dalam kamar dengan membawa Baby Ars.
"Ma, apa tidak apa-apa kalau Zayna hamil lagi? Waktu lahiran yang kemarin saja, itu hampir membuat kita panik. Ini belum ada satu tahun, sudah hamil lagi. Papa pernah dengar, kalau jarak kelahiran terlalu dekat juga tidak baik. Apa benar?"
"Mama juga tidak tahu, Pa. Nanti saja biar Ayman dan Zayna yang konsultasi sama dokter kandungan. Sebaiknya untuk saat ini kita tidak usah membahas hal itu dulu. Papa tahu sendiri Zayna sepertinya masih trauma, biar nanti Ayman yang memikirkan hal itu."
Papa Hadi mengangguk. Dia juga tidak begitu mengerti tentang kehamilan, apalagi saat istrinya melahirkan. Pria itu saja tidak pernah menemani sang istri di dalam ruang bersalin. Mana tahu dia tentang hal seperti itu.
Mama Aisyah juga memikirkan keadaan Zayna. Dia berharap menantunya itu akan baik-baik saja. Meski kehamilannya kini dalam jarak yang dekat, mudah-mudahan semuanya baik-baik dan lancar hingga lahiran nanti.
"Sudahlah, Pa. Ayo kita tidur! Besok biar Mama yang bicara sama Ayman. Mudah-mudahan tidak apa-apa." Mama Aisyah dan Papa Hadi pun pergi ke kamarnya. Mereka juga sudah sangat lelah dan ingin beristirahat.
Sementara itu, di kamar Ayman dan Zayna belum tidur. Keduanya masih belum percaya dengan berita yang dia dapat hari ini. Bukannya tidak mau menerima, hanya saja mengejutkan bagi mereka. Awalnya Ayman memang menginginkan anak lagi, tetapi mengingat perjuangan sang istri. Yang harus mempertaruhkan nyawa demi melahirkan putra pertamanya, Semuanya dia kubur dalam-dalam.
Untuk saat ini tidak dulu. Mungkin suatu hari nanti jika semua sudah siap, Ayman akan merencanakan memiliki anak. Sekarang Tuhan berkehendak lain, sekarang sudah mengirimkan malaikat kecil di dalam perut istrinya. Pria itu pun dengan ikhlas menerima, begitu juga dengan Zayna.
__ADS_1
.
.