
"Bagaimana keadaan Baby Ars, Sayang?" tanya Ayman saat mereka bersiap untuk tidur.
"Sudah turun demamnya, Mas. Tadi setelah minum obat langsung turun demamnya," jawab Zayna yang sudah berbaring di sampingnya.
Ayman tersenyum lega. "Syukurlah, kalau dia baik-baik saja. Aku sangat khawatir tadi."
"Iya, Mas. Aku juga khawatir tadi, syukurlah sekarang dia baik-baik saja. Kamu kasih tahu Kinan juga, ya, Mas? Tadi dia kirim pesan ke aku, tanya keadaan Baby Ars terus bilang semoga cepat sembuh."
"Enggak, palingan juga mama."
Zayna mengangguk, dia tidak masalah dengan hal itu. Justru wanita itu senang banyak yang doain dnaknya. Hanya saja Zayna tahu jika saat ini adik iparnya juga ada masalah. Dia tidak ingin menambah beban pikirannya saja.
"Oh ya, Mas. Mengenai anak yang ditabrak sama Hanif, bagaimana kabarnya? Dia tidak apa-apa, kan?"
"Sudah dibawa pulang sama Hanif. Keluarganya juga masih belum ada kabar."
Zayna mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan orang tua anak itu yang seperti tidak peduli sama sekali pada anaknya. Wanita itu jadi teringat dengan masa lalunya yang juga kurang perhatian dan kasih sayang.
"Keluarganya belum ada yang mencari, Mas?"
"Belum, nggak tahu juga kenapa mereka nggak nyari."
"Apa dia memang tidak punya keluarga, ya, Mas? Mungkin saja selama ini dia hidup di jalanan."
"Ya, mungkin saja, kita juga nggak ada yang tahu. Orang-orang di sekitar juga sudah kita tanyain semuanya. Anak jalanan juga, tapi mereka nggak ada yang kenal sama anak itu. Kita nggak tahu mau balikin dia ke mana."
"Kalau memang benar tidak ada yang mencari dia bagaimana? Apakah dia akan di berikan kepada lembaga sosial?"
"Entahlah, aku juga belum menanyakan hal ini pada papa dan Hanif. Aku juga belum mendengar kabar dari orang-orang yang sudah aku perintahkan."
Zayna sangat penasaran dengan anak itu. Akan tetapi, dia tahu bukan haknya untuk ikut campur. Wanita itu hanya kasihan karena merasa pernah diposisinya, sebagai anak yang tidak diinginkan.
“Apa pun itu semoga saja itu yang terbaik untuk semuanya.”
“Amin.”
***
Hanif dan Kinan sedang membicarakan masalah adopsi Adam. Tiba-tiba pintu diketuk seseorang dari luar. Wanita itu pun membukakan pintu, ternyata ada ada di sana.
"Adam, ada apa?" tanya Kinan sambil tersenyum.
"Ada yang ingin aku katakan sama Tante dan juga Om."
Wanita itu mengerutkan keningnya. Dia merasa ada sesuatu yang sedang ditutupi oleh anak itu. Kinan menatap sang suami, yang dijawab anggukan oleh Hanif.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo masuk! Mau bicara apa, sih?"
Kinan merangkul bahu Adam dan membawanya untuk duduk di sofa. Anak itu duduk di tengah antara Kinan dan Hanif. Sedari tadi dia terus saja memainkan jarinya. Orang lain pun tahu jika anak itu sedang gugup.
"Mau bicara apa? Katanya tadi mau bicara? Apa kamu mau minta mainan yang baru?" tanya Hanif yang disengaja untuk memancing Adam agar membuka mulutnya.
"Tidak, aku ... aku mau mengatakan yang sejujurnya tentang aku. Sebenarnya aku sudah ingat semuanya, tapi aku tidak mau pulang." Adam berkata dengan menundukkan kepalanya.
Hanif dan Kinan saling berpandangan. Ternyata anak ini menyembunyikan hal yang besar terhadap mereka. Namun, anehnya kenapa anak itu menolak untuk pulang. Apa telah terjadi sesuatu pada keluarganya atau anak ini sudah terlalu nyaman tinggal bersama dengan mereka, hingga tidak mau kembali kepada keluarganya.
"Bisa kamu katakan maksudnya? Om dan Tante sama sekali tidak mengerti. Apa dari awal kamu memang tidak pernah lupa tentang diri kamu sendiri?" tanya Hanif.
Kinan segera menatap Adam. Jika benar anak itu hanya mempermainkan dirinya dan sang suami, betapa sedihnya dia karena merasa dibohongi. Selama ini wanita itu sudah sangat baik padanya. Meskipun itu bentuk dari penebusan rasa bersalahnya, tetap saja Kinan tulus menyayanginya.
"Tidak, awalnya aku memang benar-benar lupa. Aku tidak ingat siapa aku, tapi saat mau pulang dari rumah sakit, tiba-tiba aku ingat siapa aku. Aku tidak mau kembali."
"Memang siapa namamu? Dan kenapa kamu tidak mau kembali ke keluargamu?" tanya Hanif lagi.
Anak itu menundukkan kepala. Dia takut untuk mengatakan yang sejujurnya. Adam tidak ingin kembali ke keluarganya lagi. Anak itu tidak mau jika harus berpisah dengan orang-orang baik seperti Kinan dan Hanif. Sangat jarang dalam kehidupannya bertemu dengan orang-orang seperti mereka.
"Kamu katakan saja yang sebenarnya. Tante dan Om tidak akan marah. Kita cari solusi sama-sama. Kami juga tidak mungkin menahan kamu lebih lama di sini, kalau kamu memiliki keluarga, tapi jika memang keluarga kamu tidak baik maka Om dan Tante akan berusaha membantu kamu," timpal Kinan.
Dia bisa melihat wajah tertekan dari Adam. Anak itu terlihat sangat takut, entah apa yang ditakutkan.
Kinan semakin heran dengan jawaban Adam. "Dari mana kamu tahu, kalau rumah kamu jauh?"
"Aku datang ke sini sama ibu naik kereta, kemudian dia meninggalkanku begitu saja dan kembali naik kereta lagi," jawab Adam membuat Kinan dan Hanif mulai mengerti.
Secara tidak langsung, Adam memang sengaja dibuang oleh orang tuanya. Betapa teganya mereka pada anaknya sendiri. Jika mereka tidak menginginkan Adam, kenapa tidak diberikan pada panti asuhan saja agar mereka yang merawat.
"Ayah kamu di mana?" tanya Hanif.
"Papa sudah tidak mau tahu lagi denganku. Papa akan selalu menghukumku karena kesalahan yang tidak aku lakukan. Padahal yang salah bukan aku, tapi anaknya Ibu. Dia yang berbohong pada Papa. Padahal dia yang melakukan kesalahan, tapi semuanya itu dituduhkan kepadaku. Papa percaya begitu saja dan selalu menghukumku. Aku tidak mau kembali lagi ke sana. Kalau Tante dan Om tidak mau aku tinggal di sini, aku tidak apa-apa. Aku pergi saja, asalkan tidak kembali ke rumah," ujar Adam dengan meneteskan air mata.
"Anak ibumu, berarti dia saudaramu, kan?"
"Dia saudara tiriku. Ibu juga ibu tiriku."
Kinan yang ada di sampingnya juga merasa sedih dengan apa yang dialami anak itu. Dia tidak menyangka anak sekecil Adam sudah mengalami kepahitan seperti itu.
"Kalau kamu sendiri, sudah sekolah kelas berapa?" tanya Hanif.
"Kelas tiga."
"Kelas tiga? Memang umur kamu berapa? Kamu kelihatan masih kecil," tanya Kinan dengan memperhatikan tubuh Adam yang kurus.
__ADS_1
"Umurku sudah sepuluh tahun, Tante."
"Sudah sepuluh tahun! Tante kira kamu masih tujuh tahun. Badan kamu kecil sekali. Apa keluargamu juga jarang memberimu makan?"
"Saya hanya makan sehari sekali, di malam hari. Itu pun kalau ada nasi sisa. Kalau tidak, aku tidak akan makan. Paling juga minum air saja."
Kinan menutup mulutnya dia tidak percaya dengan apa yang dialami Adam. Wanita itu memang sering mendengar berita kekerasan yang seperti dialami oleh anak itu. Namun, melihat korban secara langsung seperti ini, baru kali ini dia melihatnya.
"Kalau kita tidak mengatakan kepada polisi, takutnya nanti akan menjadi masalah di kemudian hari," ucap Hanif membuat Adam menundukkan kepalanya.
Semuanya terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.
"Sebaiknya sekarang kamu istirahat saja. Om akan usahakan agar kamu tetap bersama kami," pungkas Hanif. Dia juga tidak tega jika harus melihat Adam disiksa keluarganya.
"Benar Om? Om tidak akan membawa saya pulang ke rumah?" tanya Adam dengan wajah berbinar.
"Iya, biar nanti Om yang akan mencari cara agar kamu bisa tetap di sini."
"Terima kasih, Om," sahut Adam dengan tersenyum.
"Sekarang waktunya tidur. Ayo sini tante temani!" ajak Kinan sambil merangkul bahu anak itu.
Wanita itu ingin mendengar sedikit cerita dari Adam, tentang keluarganya. Meskipun dia tidak ada hak untuk tahu, tapi saat ini Adam adalah tanggung jawabnya jadi, Kinan ingin tahu segala hal tentang anak itu.
"Oh ya, siapa nama kamu tadi?" tanya Kinan saat mereka sudah sampai di kamar Adam.
"Aldo, Tante."
"Tadi kamu bilang katanya kamu tinggal sama ibu tiri kamu, kalau ibu kandung kamu ke mana?"
"Aku tidak tahu, Tante. Setiap kali aku tanya sama Papa, Papa selalu bilang kalau mama sudah meninggal, tapi aku juga tidak tahu di mana kuburannya."
"Memangnya kamu tidak tahu siapa saudara Mama kamu atau orang yang bisa menunjukkan makam Mama kamu?"
Adam menggeleng sambil menatap ke arah Kinan.
"Tidak apa-apa, sekarang kamu tidur, ya!" Kinan menemani Adam hingga anak itu tertidur.
Dipandanginya wajah yang tidak berdosa itu, entah bagaimana bisa ada orang yang begitu tega meninggalkannya seorang diri di kota ini. Dirinya yang sudah sebesar ini saja, tidak mau ditinggalkan seorang diri. Apalagi seorang anak seperti Adam.
Kejadian ini juga menjadi pelajaran bagi Kinan yang sebelumnya sangat menginginkan seorang anak. Tuhan memang punya kehendak lain. Sekarang mengirim seorang anak untuk menyadarkan dia, bahwa pentingnya kesiapan mental bagi orang tua atas kehadiran seorang anak. Jika dirinya belum siap mungkin dia akan melakukan hal yang sama seperti yang orang tua Adam lakukan.
.
.
__ADS_1