Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
174. Tidak nyaman


__ADS_3

“Kinan kamu mau ke mana? Aku belum bicara sama kamu,” tanya Niko saat melihat Kinan yang sudah berdiri dan akan meninggalkan mejanya.


“Sebentar lagi aku ada kelas. Aku tidak mungkin duduk di sini terus. Silakan saja kalau kamu mau pesan makanan,” jawab Kinan yang segera pergi dari sana.


Dia terlalu malas menghadapi orang-orang seperti Niko, tetapi bagaimanapun juga, wanita itu harus tetap menghormati siapa pun.


Kinan memasuki kelasnya. Dia bisa melihat beberapa orang di sana berbisik sambil melihat ke arahnya, tetapi wanita itu tidak mau ambil pusing. Biarlah mereka bicara apa, yang penting dia tidak membuat kesalahan dan tidak melakukan seperti yang mereka tuduhkan.


“Hai, Kin?” sapa Hira yang baru datang. Dia duduk di samping Kinan.


“Hai, juga. Dari mana?”


“Dari perpus,” jawab Hira yang diangguki Kinan.


“Kin, tadi saat di perpus aku dengar gosip mengenai kamu. Kenapa bisa ada gosip seperti itu?” tanya Hira sambil berbisik.


“Kamu percaya padaku?”


“Tentu saja aku percaya padamu. Aku yakin jika itu cuma gosip, tapi yang buat aku heran adalah, bagaimana bisa semua orang bergosip jika tidak ada yang mendahuluinya.”


“Tadi aku itu benar-benar terpaksa ikut sama Pak Frans karena nggak ada taksi. Aku mana tahu di daerah sana nggak ada taksi. Saat itu ada Pak Frans datang. Dia nawarin aku untuk ikut, ya sudah aku ikut saja daripada telat. Aku juga sudah bilang sama Mas Hanif. Kalaupun ada yang kompor bilang ke suamiku, aku tidak masalah. Dia juga pasti lebih percaya padaku,” ujar Kinan dengan percaya diri.


“Iya, deh, yang sudah bucin.”


Suara mahasiswa yang tadinya berisik kini menjadi sepi. Ternyata ada Pak Frans yang datang. Dia memberi salam dan memulai pelajaran. Sepanjang memberi penjelasan, Kinan terus saja menundukkan kepala sambil mencatat apa yang penting.


“Sekian dulu kelas dari saya, sampai jumpa di hari berikutnya. Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ucap Frans mengakhiri kelasnya.


“Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.” Semua mahasiswa mulai merapikan barang mereka. Juga termasuk Kinan.


“Kin, aku duluan, ya,” pamit Hira.


“Tungguin aku, Hir. Kita sama-sama saja keluarnya.”


“Ada apa? Aku ada kerjaan habis ini, nggak bisa nongkrong.”


“Iya, nggak pa-pa, kita keluarnya saja sama-sama.”


Hira mengerti jika Kinan merasa tidak nyaman dengan keberadaan Frans. Gadis itu pun menunggu sahabatnya dan keluar bersama-sama. Mereka berjalan meninggalkan kelas sambil berbincang.


“Kamu pulangnya bagaimana, Kin?” tanya Hira di sela langkah mereka.


Kinan terlihat berpikir sejenak dan menjawab, “Naik taksi atau ojek, yang ada saja.”


“Apa perlu aku tungguin?”

__ADS_1


“Katanya kamu ada kerjaan habis ini?”


“Iya, tapi kalau kamu nggak nyaman, aku bisa nungguin.”


Kinan terlihat bingung. Dia memang tidak nyaman di sini, tetapi tidak mungkin wanita itu menahan Hira di sini. Bagaimanapun juga gadis itu juga punya tanggung jawab.


“Boleh aku ikut ke tempat kerja kamu saja? Nanti aku bisa cari taksi di sana.”


“Memang kamu nggak apa-apa naik motor sama aku?” tanya Hira sedikit ragu. Jika dulu, itu bukan masalah, tetapi sekarang siapa yang tidak mengenal sahabatnya itu. Semua yang dipakai serba mewah, dia jadi malu kalau menawari Kinan naik motor.


“Nggak apa-apa. Kamu ngeraguin aku? Aku juga sering naik ojek.”


“Baiklah, ayo ke tempat parkir.” Keduanya berjalan menuju tempat parkir.


Saat akan naik motor Hira, Kinan dibuat terkejut dengan kedatangan Hanif. Dia tidak tahu jika sang suami akan datang. Pria itu juga tidak mengatakan apa pun tadi saat mengirim pesan.


“Sayang, mau ke mana?” tanya Hanif dengan berjalan mendekati sang istri.


“Tadinya aku mau ikut sama Hira.”


“Pulang sama aku saja. Terima kasih, ya, Hira, sudah mau ajak Kinan,” ucap Hanif.


“Sama-sama, Pak. Sebenarnya saya mau ke tempat kerja, tapi Kinan bilang mau ikut jadi, saya ajak saja.”


“Aku duluan, ya, Hir.”


“Iya.”


Hanif dan sang istri berjalan bersama menuju mobil. Sepanjang perjalanan, Kinan bergelayut manja di lengan suaminya. Pria itu sama sekali tidak keberatan. Meskipun saat ini banyak mahasiswa yang melihat ke arahnya.


“Pak Hanif, lama tidak jumpa,” sapa Pak Munif.


“Iya, Pak Munif. Akhir-akhir ini banyak sekali pekerjaan jadi, tidak sempat jemput istri.”


“Pak Hanif memang hebat, sudah tidak diragukan lagi kualitasnya.”


“Anda terlalu berlebihan. Saya tidak sehebat itu.” Mereka pun saling bertanya kesibukan masing-masing.


Dari kejauhan, Frans berjalan sambil memperhatikan tingkah Kinan dengan pria yang ada di sampingnya. Wanita yang dia kenal sangat cuek, bisa juga manja terhadap seorang pria. Frans mengira jika mereka bersaudara.


Pak Munif yang melihat Frans berjalan ke arahnya pun menyapa, “Pak Frans, mau pulang?”


“Iya, Pak Munif,” jawab Frans yang berhenti di sana. Dia tidak mungkin lewat begitu saja.


“Pak Frans, perkenalkan ini Pak Hanif, dosen yang sebelumnya mengajar mata pelajaran Anda,” ucap Pak Munif yang kemudian beralih pada Hanif. “Pak Hanif, perkenalkan ini Pak Frans.”

__ADS_1


“Frans,” ucap Frans sambil mengulurkan tangannya.


“Hanif,” sahut Hanif dengan membalas uluran pria itu.


“Maaf, Pak Munif, kami pamit dulu. Masih ada yang harus kami kerjakan,” pamit Hanif.


“Oh iya, silakan Pak Hanif. Maaf sudah mengganggu waktu Anda,” ucap Pak Munif yang merasa tidak enak.


“Tidak masalah, Pak,” sahut Hanif yang kemudian beralih mengajak sang Istri. “Ayo, Sayang, kita pulang!”


Frans yang tadinya tersenyum pun membeku, saat mendengar apa yang dikatakan pria itu kepada Kinan. Jika mereka saudara, panggilan pria itu tidak mungkin selembut itu. Apa benar wanita itu sudah menikah.


“Iya, Mas, ayo!”


“Mari, Pak Munif, Pak Frans,” pamit Hanif, yang kemudian menggenggam tangan istrinya dan meninggalkan kedua pria yang masih berdiri di sana.


“Pak Frans, kenapa?” tanya Pak Munif saat melihat temannya berdiam diri di sana.


“Oh, tidak apa-apa. Mereka ada hubungan apa, ya, Pak? Sepertinya sangat mesra sekali,” tanya Frans pada temannya. Sekaligus mencari jawaban dari rasa penasarannya.


“Mereka itu suami istri. Dulu Pak Hanif mengajar di kelas Kinan, saat akan menikah, dia resign.”


“Jadi mereka sepasang kekasih di kampus ini, Pak?”


“Tidak juga, Pak Hanif pernah mengatakan kalau mereka itu sebenarnya dijodohkan jadi, kalau ada yang bilang kalau mereka sepasang kekasih itu tidak benar. Pak Hanif selama ini juga tidak begitu dekat dengan mahasiswa, apalagi perempuan. Jika ada mahasiswa yang kesulitan tentang pelajarannya, dia melimpahkan pada asistennya.”


“Wah! Hebat juga dia, berarti Pak Hanif adalah pria yang sangat menjaga dirinya terhadap wanita,” ucap Frans. Tidak dipungkiri dia kagum padanya. Zaman sekarang sangat sulit mencari pria seperti dia.


“Iya, Anda benar, tidak jarang juga ada mahasiswa yang suka menggodanya. Untung saja Pak Hanif itu imannya kuat jadi, tidak mudah tergoda. Mungkin itu juga yang membuat Kinan menyetujui perjodohan itu. Wanita zaman sekarang, nggak akan pernah mau dijodohkan, kecuali ada alasan tertentu.”


Sementara itu, di dalam mobil. Sudah dari tadi Hanif tidak mau melepaskan genggamannya pada sang istri.


“Sayang, dosen kamu tadi ganteng juga, ya!” ucap Hanif membuat Kinan menatap sang suami. Dia masih belum paham ke mana arah pembicaraan sang istri.


“Kamu bicara apa, Mas? Kenapa tiba-tiba membicarakan dosen? Kamu nggak lagi ngajakin aku berdebat, kan?”


“Aku cuma bilang saja,” ucapan Hanif. Namun, Kinan tidak memedulikannya. Dia lebih asyik melihat ramainya jalanan kota, sambil menikmati musik yang diputar di radio.


“Sayang, kok diam saja?” tanya Hanif sambil meremas tangan sang istri.


“Nggak pa-pa, Mas. Cuma kalau kamu merasa ada sesuatu yang tidak nyaman, lebih baik dibicarakan saja. Tidak usah berbelit-belit, apalagi sampai menyindir,” ucap Kinan yang membuat Hanif merasa bersalah karena rasa cemburunya. Pria itu mengakui jika Frans memang tampan dan berwibawa. Auranya juga begitu kuat.


.


.

__ADS_1


__ADS_2