Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
214. Pembicaraan dua pria


__ADS_3

"Anda mencari saya?" tanya Pak Frans saat mendekati Hanif yang sedang menunggu di taman kampus.


Tadi pria itu mendapat pesan dari Pak Munif yang mengatakan, jika ada yang menunggunya di taman kampus. Namun, di dalam pesan tersebut, tidak menyambutkan siapa orang yang ingin bertemu dengannya. Saat datang ke taman, dia mendapati Hanif di sana. Pria itu menebak jika suami dari Kinan itulah yang ingin bertemu.


"Oh iya, Pak Frans. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Anda, silahkan duduk," jawab Hanif.


Frans pun duduk di samping Hanif. Dia tidak tahu apa yang ingin dibicarakan oleh suami dari Kinan itu. Keduanya juga tidak begitu saling mengenal, hingga sampai harus saling berbincang. Mereka sama-sama orang yang irit berbicara, membuat suasana terasa datar.


"Saya ingin mengucapkan terima kasih pada Anda, Pak Frans. Karena Anda sudah menolong istri saya kemarin. Bantuan Anda begitu sangat berarti bagi kami, Anda sudah menyelamatkan nyawa istri saya dan calon anak kami," ucap Hanif sambil menatap Frans.


Frans juga melihat ke arah Hanif sejenak kemudian menatap lurus ke depan. "Saya tidak melakukan apa-apa, Pak Hanif. Saya hanya menolong, sebenarnya juga ada orang yang lebih berhak atas ucapan itu. Dia adalah mahasiswa yang sudah menolong Kinan saat terjadi kecelakaan itu."


Hanif mengangguk, dia juga sudah mengetahui semuanya. "Saya juga sudah mengucapkan terima kasih padanya. Bantuan kalian sangat berarti bagi saya dan Kinan. Sekali lagi saya ucapkan terima kasih."


"Sama-sama, Pak Hanif. Kita sebagai manusia juga bukankah harus saling tolong-menolong!"


Keheningan menyelimuti keduanya. Mereka tidak tahu harus berkata apa lagi. Hanif ingin memulai pembicaraan. Namun, tidak tahu harus berkata apa, begitu juga dengan Frans. Ada sesuatu yang mengganjal di hati keduanya.


"Anda sangat beruntung memiliki istri seperti Kinan," ucap Frans memecah keheningan.


Ucapan dosen itu membuat Hanif menatap pria yang ada di sampingnya, sambil mengerutkan kening. Dia tidak mengerti maksud dari kata-kata itu. "Maksud Anda apa, Pak Frans. Kenapa saya seperti menangkap sesuatu yang tidak mengenakkan?"


"Jujur, sebagai seorang laki-laki saya tertarik pada istri Anda. Namun, Anda jangan takut, saya bukan orang jahat yang bisa merebut istri orang. Saya sebagai laki-laki juga punya harga diri karena itu, meskipun saya sangat menyukai istri Anda, saya tidak akan melakukan hal yang tidak terpuji,” ucap Frans tanpa melihat ke arah Hanif.


Dia memang mencintai Kinan. Namun, otaknya masih waras dengan tidak mengejar istri orang. Apalagi pria itu sangat tahu bagaimana rasanya dikhianati, dia tidak ingin melakukan hal itu pada orang lain. Frans tidak mungkin melakukan perbuatan yang paling dia benci.


Hanif memejamkan matanya sejenak. Apa yang dipikirkannya selama ini ternyata memang benar. Frans memang memiliki perasaan lebih terhadap istrinya. Namun, saat mendengar bahwa dosen itu tidak berniat untuk merebut istrinya, Hanif merasa lega.

__ADS_1


Meskipun begitu, tetap saja ada perasaan tidak tenang yang menyelimuti hatinya. Sebisa mungkin Hanif akan meredamnya. Namun tetap dia harus waspada dengan kemungkinan apa pun, yang akan terjadi nanti. Dia tidak boleh lemah hanya dengan kata-kata saja.


"Semoga apa yang Anda katakan memanglah dari dalam hati Anda sendiri, bukan hanya bualan semata. Saya juga tidak akan pernah membiarkan siapa pun mengusik rumah tangga kami. apalagi sampai membuat aku dan Kinan berpisah. Kami sudah sangat saling mencintai, aku tidak ingin semuanya hancur begitu saja karena orang ketiga."


Frans tersenyum dan melihat ke arah Hanif. Dia juga bisa melihat cinta yang begitu besar di mata Kinan kemarin. Sekarang pria yang ada di sampingnya juga mengatakan hal yang sama. Itu semakin membuat dia yakin bahwa Kinan dan Hanif memang pasangan yang serasi.


Frans tidak mungkin tega menghancurkan rumah tangga mereka begitu saja. Lagi pula belum tentu juga Kinan tergoda olehnya. Yang ada nanti malah akan semakin menambah rasa curiga yang berkepanjangan. Semoga suatu hari nanti dia bisa bertemu seseorang yang juga mencintainya.


Apakah Frans memang harus menerima perjodohan yang orang tuanya lakukan. Dia sama sekali tidak tahu seperti apa wanita itu. Namun, pria itu yakin jika pilihan orang tuanya memang sangat tepat.


****


Bik Ira sudah sampai di depan rumah keluarga Hanif. Tadi di depan pagar satpam memintanya masuk begitu saja karena memang, semua orang juga berkumpul di dalam. Wanita itu menekan bel yang ada di samping pintu, hingga tiga kali barulah pintu terbuka. Tampak Bik Isa yang membukakannya.


"Assalamualaikum, saya ingin menjenguk Non Kinan, apa boleh?" tanya Bik Ira dengan hati-hati. Dia takut jika kedatangannya mengganggu istirahat Kinan, lebih parahnya nanti akan diusir.


Bik Isa membuka pintu lebar-lebar agar Bik Ira juga bisa masuk ke dalam rumah. Kinan yang melihat kedatangan asisten rumah tangga mamanya pun cukup terkejut. Namun, dia merasa senang. Tidak dipungkiri jika Kinan juga sangat dekat dengan Bik Ira. Dulu setiap mamanya sibuk bekerja, pasti ada wanita paruh baya itu yang selalu menemaninya.


”Bik Ira!” seru Kinan, membuat semua orang yang ada di ruang tamu menoleh ke arah pintu.


"Selamat siang, Non. Saya mau lihat keadaan Non Kinan sekalian bawain bubur," sahut Bik Ira yang segera mendekat.


"Terima kasih, Bik. Duduk di sini sekalian."


Bik Ira pun berjalan menuju sofa ruang tamu. Wanita itu memberikan satu kotak makanan kepada Kinan. "Ini bubur buatan Bibi, nggak tahu Non masih suka atau tidak."


"Masih, dong, Bik. Sudah lama aku nggak nyicipin masakan Bibi. Aku sudah kangen," sahut Kinan saat menerima makanan dari Bik Ira.

__ADS_1


"Non Kinan bisa saja, masakan Bibi cuma begitu-begitu saja."


Kinan meminta Bik Ira untuk duduk di sofa. Awalnya wanita paruh baya itu menolak. Namun, Kinan dan Mama Aida memaksa, bagaimanapun juga Bik Ira tetaplah tamu di rumah ini. Wanita itu sudah jauh-jauh datang ingin menjenguk, bagaimana bisa mereka tidak memperlakukannya dengan baik.


"Baby Ars tadi nggak nangis, kan, Bik?" tanya Mama Aisyah pada asisten rumah tangganya.


"Tadi sempat nangis, Nyonya. Saya hampir tidak bisa menenangkannya. Untung saja Neng Zayna sama Den Ayman bisa cepat pulang. Kalau tidak, entah berapa lama Baby Ars menangis. Padahal selama ini Bibi juga sudah berusaha untuk dekat dengannya, tetapi tetap saja Baby Ars tidak mau dekat dengan Bibi."


"Lama-lama nanti juga dekat, Bik. Biasalah anak bayi juga memang seperti itu."


"Iya, Nyonya. Saya mengerti."


Setelah beberapa menit, akhirnya Mama Aisyah dan mama Aida meminta Kinan untuk masuk ke dalam kamar. Mereka tidak ingin wanita itu terlalu lelah. Lagi pula sebelumnya dokter juga menyarankan agar Kinan tetap berbaring di atas tempat tidur. Suka tidak suka wanita itu harus tetap melakukannya.


Jika ingin jalan dan duduk di luar pun hanya boleh sebentar, takut jika kandungannya masih belum kuat. Kinan hanya menurut saja. Bagaimanapun juga apa yang dilakukan oleh mama dan mama mertuanya itu, untuk kebaikan dirinya dan calon buah Hati. Kedua mama itu membantu wanita itu masuk ke kamar.


Segala keperluan Kinan juga sudah disiapkan dia meja samping ranjang. Tidak lupa juga segelas air, takutnya jika ibu hamil itu akan haus jadi, nanti tidak perlu keluar dari kamar.


"Sudah, kamu istirahat saja. Nanti kalau ada sesuatu, kamu panggil mama, tapi jangan teriak-teriak. Panggil lewat telepon saja, nanti Mama dan Mama Aida pasti akan segera datang," ucap Mama Aisyah sebelum meninggalkan putranya.


"Iya, Ma. Terima kasih atas perhatiannya, ini semuanya sudah cukup, kok."


Mama Aisyah dan Mama Aida mengangguk. Keduanya pun meninggalkan kamar agar wanita itu bisa beristirahat.


.


.

__ADS_1


__ADS_2