
Mata Zea terbuka, begitu Adam menutup pintu kamarnya. Dia masih memikirkan apa yang baru saja kakaknya katakan. Gadis itu benar-benar tidak mengerti maksud dari ucapan Adam. Dalam hati Zea bertanya, apa benar pria itu mencintainya. Apa juga maksudnya untuk menunggu satu tahun kemudian. Benar-benar penuh dengan misteri.
Memang benar, tadi Zea sebenarnya tidak benar-benar tertidur. Gadis itu hanya berpura-pura. Dia ingin tahu bagaimana reaksi kakaknya, ternyata semuanya di luar dugaan. Bahkan pria itu mengatakan sesuatu yang tidak Zea pikirkan sebelumnya. Tadinya gadis itu hanya mengira jika Adam akan membangunkannya karena kesal, harus menggendong dirinya.
Namun, semua di luar dugaan. Tiba-tiba dia teringat kata-kata kakaknya yang mengatakan, jika ada sesuatu yang terjadi saat dirinya pergi ke luar negeri. Zea penasaran apakah yang sudah terjadi saat itu? Sepertinya kejadian itu mengubah kehidupan Adam. Gadis itu terpikirkan dengan keluarga kandung Adam.
Apakah mereka merebut pria itu dari keluarganya atau ada sesuatu yang lain, yang keluarga kandungnya inginkan dari Adam. Dia semakin penasaran apa yang sudah terjadi, tetapi yang membuatnya lebih penasaran adalah, mengenai kata cinta yang diucapkan oleh pria itu. Entah hal tersebut benar-benar dari dalam hatinya atau hanya bualan semata.
Akan tetapi, tidak mungkin jika itu bualan. Itu karena kalimat tersebut dikatakan saat dirinya sedang tertidur. Dipikirkan berkali-kali pun Zea tidak akan menemukan jawabannya. Hanya satu yang bisa menjawab yaitu, di negaranya, tetapi gadis itu tidak mungkin kembali ke sana. Pernikahan Adam sudah semakin dekat, dia juga sudah kuliah di sini, tidak ingin merepotkan keluarganya lagi.
Satu tahun juga bukan waktu yang lama. Nanti dia juga akan tahu saat pulang nanti. Entah sudah terlambat atau tidak, yang saat ini harus dikejar adalah cita-citanya. Mengenai yang lain, biarlah berjalan mengikuti alur.
Hari ini Zea bangun terlambat. Ini gara-gara semalam dia tidak bisa tidur memikirkan kata-kata yang Adam katakan. Gadis itu pun segera bergegas turun untuk bertemu dengan kakaknya, sebelum pria itu pulang. Zea juga harus pergi kuliah.
"Pagi, Oma," sapa Zea sambil mencium pipi wanita itu.
"Selamat pagi, Sayang," sahut Oma Aida yang duduk di kursinya.
Zea melihat ke kiri dan kanan, mencari keberadaan kakaknya. Namun, ternyata pria itu tidak tampak kehadirannya. Dia pikir mungkin Adam masih di kamar, tetapi omanya mengatakan jika sudah pulang.
"Kamu cari siapa, Zea? Kakak kamu? Dia sudah pulang tadi pagi-pagi sekali," ucap Oma Aida yang seolah mengerti kebingungan cucunya.
Zea terkejut mendengarnya. Memang Adam sudah mengatakan jika besok dirinya akan pulang. Namun, tidak menyangka jika perginya akan pagi-pagi sekali. Padahal dia sudah berusaha cepat agar bisa melihat wajah kakaknya sebelum pria itu pergi.
"Kenapa tidak pamit sama aku, Oma?" tanya Zea dengan nada kecewa.
"Tadi sudah masuk ke kamar kamu, katanya kamu masih tidur jadi, kasihan kalau dibangunkan. Oh ya, tadi kakak kamu juga pesan, kalau dia meninggalkan hadiah untuk kamu di meja. Memang tadi kamu belum melihatnya?"
Tanpa menyahut omongan omanya, gadis itu segera berlari kembali ke kamar. Tadi memang dia tidak sempat melihat ke segala arah karena sudah terburu-buru, ingin bertemu dengan kakaknya. Begitu sampai kamar, Zea melihat di atas meja memang ada satu kotak kecil. Gadis itu yang penasaran pun segera membukanya.
Isinya ternyata sebuah kalung dengan liontin hati. Dia tersenyum melihatnya, bagi Zea kalung itu cantik sekali. Padahal gadis itu tidak suka memakai perhiasan, tetapi ini pemberian Adam, tidak mungkin dia mengacuhkannya begitu saja.
"Kenapa Kakak tidak bilang dari semalam?" monolog Zea.
Gadis itu pun segera memakainya. Dia menganggap ini kenang-kenangan sebagai kakak, sebelum pria itu menikah. Nanti Zea juga akan mengirim hadiah untuk kakaknya sebagai kado pernikahan. Semoga pemberiannya bermanfaat untuk pria itu.
Hari ini Arslan dan Hira pulang ke rumah kedua orang tuanya. Seluruh keluarga Hanif menyambutnya dengan suka cita. Terutama si kembar, yang begitu senang karena mendapatkan kakak ipar yang begitu cantik dan solehah. Mereka sudah merencanakan ingin mengajak wanita itu ke mana saja, yang mereka sukai.
"Inilah rumah kami, Hira. Anggap saja seperti rumahmu sendiri karena sekarang kamu istrinya Arslan. Meskipun nanti kalian sudah memiliki rumah sendiri, ini juga termasuk rumah kalian," ucap Zayna begitu sang menantu memasuki rumah bersama sang suami.
"Iya, mm ....” Hira bingung harus memanggil apa pada kedua mertuanya.
Arslan yang mengerti kebingungan sang istri pun menjelaskan. "Panggil mereka Papa dan Mama. Aku juga manggilnya seperti itu."
Hira mengangguk dan melihat ke arah mertuanya. "Iya, Ma."
Arslan membawa istrinya ke dalam kamar. Dia juga perlu menunjukkan di mana tempat tidurnya. Mengenai rumah, pria itu juga belum membicarakan dengan sang istri. Biar nanti saja, setelah resepsi baru dia akan mencari rumah. Entah seperti apa rumah impian Hira.
"Kamar kamu besar sekali, Mas. Ada AC-nya juga, pasti kemarin saat kamu di rumahku merasa nggak nyaman, ya?" tanya Hira yang begitu takjub dengan kamar sang suami, juga merasa tidak enak pada Arslan karena sudah membuatnya susah kemarin.
Wanita itu merasa tidak percaya diri dengan apa yang dia miliki. Abinya tidak pernah menceritakan tentang keluarga Arslan yang ternyata sangat kaya. Sungguh begitu berbeda dengan dirinya. Meskipun ayahnya seorang pemimpin pondok pesantren, tetapi keluarganya hanya dari kalangan biasa saja.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu, jangan kamu kira aku juga tidak pernah hidup susah. Setiap orang juga pasti kadang di bawah, kadang juga di atas. Kamu tidak perlu merasa rendah diri, kita semua sama di mata Tuhan." Hira mengangguk meski dalam hati dia tetap tidak percaya diri.
Arslan menunjukkan lemari untuk dipakai menempati baju-baju Hira. Saat membukanya, wanita itu semakin tidak percaya diri saat melihat banyaknya berjajar baju sang suami. Baju miliknya saja tidak sebanyak itu dan serapi itu, pasti ada sesuatu yang sudah terjadi. Arslan memang sungguh sangat luar biasa.
__ADS_1
"Dhek, mulai hari ini kamu harus mulai membiasakan, untuk beradaptasi di rumah ini. Aku tahu pasti akan sangat sulit, tapi aku yakin kamu bisa. Bukan maksudku untuk merubah karaktermu, tetaplah jadi Hira yang baik dan santun. Hanya saja kamu harus terbiasa dengan apa yang aku miliki. Bukan untuk menyombongkan diri. Aku hanya tidak ingin kamu merasa tidak percaya diri, saat bertemu dengan orang lain. Tunjukkan kalau kamu juga berkualitas."
"Aku akan mencobanya. Meskipun semua ini masih terasa baru, tapi aku akan berusaha yang terbaik," sahut Hira.
Arslan mengangguk, dia yakin pada Hira, wanita itu tidak akan mungkin membuatnya kecewa. Saat sang istri sedang merapikan pakaian, Aini memanggil Arslan dan Hira untuk turun karena semua orang sudah menunggu untuk makan malam.
"Mas, aku tadi nggak bantuin masak," ucap Hira yang merasa tidak enak.
"Tadi aku sudah bilang, kalau kamu harus membiasakan diri untuk tinggal di sini. Sudah ada Bik Ira yang sudah menyiapkan semuanya jadi, kamu tidak usah merasa bersalah. Kalau kamu mau bantu, silakan saja
Aku tidak akan melarang, tapi itu bukan pekerjaan kamu. Kamu hanya membantu saja karena sudah ada yang mengerjakannya."
"Apa tidak apa-apa kalau aku diam saja?" tanya Hira yang masih belum yakin dengan apa yang dikatakan sang suami.
"Lalu apa tugas Bibi apa, kalau kamu juga kerjain. Kasihan 'kan kalau sampai dipecat. Tidak ada pekerjaan lain," ucap Arslan yang memang disengaja agar istrinya mengerti keadaan di rumah ini.
"Iya, Mas. Aku mengerti."
Keduanya pun turun dan ternyata semua orang sudah menunggunya di sana. Hira semakin tidak enak pada mertuanya. Andai saja tadi dia beberes nanti saja, pasti bisa membantu di dapur. Akan tetapi, seperti yang suaminya katakan, wanita itu harus terbiasa dengan kebiasaan di rumah ini.
"Maaf, Ma. Kami lama," ucap Hira dengan lembut.
"Tidak apa-apa, kami juga baru turun. Kamu tidak ada alergi makanan, kan, Hira?"
"Tidak ada, Ma. Saya makanan apa pun bisa makan."
"Syukurlah kalau begitu. Ayo kita makan!”
Semuanya pun mulai menikmati makanan yang ada di meja. Hira mengambilkan makanan untuk sang suami, kemudian mengambil untuk dirinya sendiri.
"Tidak, Kakak juga sudah tidak mengajar lagi di pondok. Memang ada apa?" tanya Hira balik.
"Besok kita jalan-jalan, yuk, Kak! Kebetulan kita berdua nggak ada kuliah."
"Memang mau ke mana?" tanya Hira yang sebenarnya ragu.
Selama ini dia di pondok tidak pernah pergi keluar. Sangat jarang sekali, bahkan bisa dihitung dengan jari. Takutnya dia nanti akan membuat malu adik iparnya. Apalagi jika harus ke tempat ramai seperti itu, dirinya semakin tidak percaya diri.
"Pergi ke mall, kita belanja, habisin uang Kak Arslan."
Hira terbengong, dia tidak tahu harus menjawab apa. Dirinya saja tidak tahu berapa besar uang suaminya, sekarang malah diajak untuk menghabiskan. Wanita itu juga bukan orang yang suka menghambur-hamburkan uang. Jika ada uang lebih, lebih baik ditabung untuk masa depan.
"Tidak apa-apa, kamu ikut saja sama mereka, asalkan jangan ikut kegilaannya. Kalau mereka sudah mulai aneh, kamu harus ajak mereka pulang," ucap Arslan yang sengaja ingin menggoda adiknya.
"Kakak, apaan sih! Enak saja bilang seperti itu. Siapa yang aneh-aneh?" tanya Aini yang tidak terima dengan apa yang dituduhkan oleh kakaknya. Para orang tua hanya geleng-geleng kepala, sudah terbiasa dengan tingkah mereka.
"Kalau kamu tidak mau ikut mereka, tidak apa-apa. Kamu di rumah saja sama Oma, nanti kita bisa menanam bunga di taman," timpal Oma Aisyah yang melihat wajah cucu menantunya.
"Oma, menanam bunga bisa kapan-kapan. Pokoknya besok Kak Hira harus ikut sama kami ke mall. Menanam bunga sama Oma, bisa kapan-kapan saja. Kegiatannya juga di rumah juga."
"Ke mall juga bisa kapan-kapan,"
"Ya nggak bisa dong, Oma, kalau nggak libur kuliah. Kebetulan besok libur jadi, aku mau ngajak Kak Hira. Oma menanam bunganya besok lagi saja."
"Terserah kakakmu saja, mau ikut kamu atau Oma."
__ADS_1
"Nggak, nggak boleh. Pokoknya kakak ikut kami besok, besoknya lagi terserah mau Oma ajak Kak Hira ke mana."
"Kalian ini, membuat Hira takut saja. Dia belum ada sehari, tapi kalian sudah membuatnya melihat keributan di rumah ini. Nanti yang ada dia malah tidak betah," sela Zayna yang juga kesal dengan mertua dan putrinya yang selalu berdebat
"Tidak apa-apa, Ma. Saya justru senang rumah ini terlihat begitu hangat. Meskipun ada perdebatan, tapi saya tahu jika itu bentuk kasih sayang dari adik dan Oma."
"Tuh, Mama dengar, kan? Kak Hira saja mengerti, kenapa Mama tidak."
"Semoga saja kalian tidak membuat Hira kabur dari rumah ini."
"Sudah, Sayang. Kapan kamu makannya, kalau kamu berdebat terus sama Aini. Itu tidak akan ada habisnya," sela Papa Ayman.
Hira kagum dengan panggilan papa mertuanya pada sang istri. Sebelumnya, waktu di pondok, Papa Ayman memanggilnya dengan Mama, tetapi saat di rumah justru memanggil sayang. Kedengarannya aneh di telinga wanita itu. Namun, terdengar manis. Dia senang melihat orang tua yang seumuran mertuanya tapi tetap romantis. Wanita itu berharap dirinya dan sang suami akan seperti itu selamanya"
"Ada apa, Dhek? Apa kamu juga mau dipanggil sayang?" tanya Arslan sambil berbisik, yang tentunya hanya bisa didengar oleh keduanya.
Hira hanya terdiam, tidak menanggapi ucapan suaminya. Terlalu malu untuk mengatakannya, apalagi di sini ada banyak orang. Wanita itu juga tidak terlalu suka mengumbar segala sesuatu miliknya.
"Tidak usah malu, keluargaku bukan orang yang kuno. Mereka selalu terbuka dengan pemikiran anak-anaknya. Papa dan Mama saja panggilannya 'sayang', masa kita nggak. Mulai hari ini aku panggil kamu sayang saja. Kalau panggil dhek rasanya aku seperti memanggil adikku sendiri."
"Tapi kalau di pondok, panggil aku Dhek, ya, Mas. Aku malu kalau kedengaran Umi sama Abi," sahut Hira pada sang suami yang juga sambil berbisik. Dia takut jika didengar oleh keluarga yang lain.
Arslan mengangguk, dia juga pastinya tidak akan nyaman saat memanggil Sayang di lingkungan pondok pesantren. Meskipun keduanya sudah sah sebagai suami istri.
Setelah semua selesai menikmati makan malamnya, Hira membantu Bik Ira membereskan sisa-sisa makanan.
Padahal Mama Zayna sudah melarangnya karena semua sudah dilakukan oleh Bik Ira. Namun, Hira tetap memaksa membantu. Sang mertua pun tidak melarang karena dirinya dulu juga seperti itu. Mungkin itu karena kebiasaan sang menantu saat di rumahnya.
Setelah selesai Mama Zayna meminta Hira untuk bergabung di ruang keluarga. Wanita itu ingin memberi hadiah untuk menantunya. Awalnya Hira ragu untuk menerima benda tersebut, tetapi setelah mendapat angkutan dari sang suami akhirnya dia menerima. Dia yakin jika isinya bukanlah barang murah seperti biasa yang dia terima. Pasti isinya sangat mahal, tetapi dia tidak ingin terlalu banyak bertanya, pasti suaminya akan malu.
"Terima kasih, Ma. Apa pun hadiah yang Mama beri, aku pasti akan menghargainya."
"Kalian berdua ada rencana untuk pergi bulan madu?" tanya Mama Zayna yang disambut gelengan oleh Hira.
"Kenapa? Apa kamu tidak ingin jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kamu kunjungi? Pasti akan menyenangkan, saat nanti kalau kamu bisa pergi berdua dengan suamimu," tambah Papa Ayman yang sengaja agar menantunya mau mengatakan keinginannya untuk pergi.
"Untuk saat ini aku tidak ingin ke mana-mana, Pa."
"Ya sudah, jika itu memang sudah keputusan kamu, tapi sebenarnya papa ada hadiah untuk kamu. Terserah nanti kamu mau mengambilnya atau tidak. Kalian bebas menentukannya. Ini untuk kalian," ucap Papa Ayman sambil meletakkan dua tiket umroh untuk anak dan menantunya.
Hira begitu terkejut melihat hadiah yang diberikan oleh mertuanya. Dia tidak menyangka akan mendapat hadiah sebesar itu. Wanita itu dari dulu memang ingin pergi, hanya saja memang belum ada kesempatan. Sekarang mertuanya memberi dengan cuma-cuma, sungguh membuat dia terharu.
"Bagaimana, Sayang? Apakah kamu mau menerimanya?" tanya Arslan yang diangguki oleh Hira dengan mata berkaca-kaca.
Wanita itu tidak akan menyangka akan mendapat hadiah seperti ini. "Terima kasih, Pa. Saya menerima hadiah pemberian Papa. Saya tidak menyangka akan mendapatkan hadiah seperti ini."
Ayman tersenyum dan berkata, "Papa harap hadiah ini bermanfaat untuk kamu."
"Tentu, Pa. ini sangat bermanfaat untuk kami. Papa doakan saja agar kami selamat sampai tujuan dan pulang juga dalam keadaan selamat."
"Iya, doa Papa selalu ada untuk kalian."
Hira begitu bahagia memiliki keluarga seperti mertuanya. Keinginan yang selama ini wanita itu harapkan, akhirnya bisa terwujud dengan bantuan sang mertua. Dia memandangi tiket yang ada di tangannya dengan perasaan haru.
.
__ADS_1
.