Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
315. S2 - Ke rumah mertua


__ADS_3

Kini waktu yang ditunggu-tunggu oleh kedua keluarga yang akan melaksanakan pernikahan telah tiba. Mereka melaksanakan akad di rumah Aina, karena ini hanya akad nikah saja jadi mereka tidak mengundang banyak tamu, hanya terdapat keluarga dekat saja yang menjadi saksi pernikahan mereka.


Tadi pagi Oma Aisyah dan Opa Hadi juga melakukan panggilan video call. Mereka minta maaf karena tidak bisa datang. Sejak mereka memutuskan untuk tinggal di desa keduanya memang jarang ke kota. Hanya sesekali Ayman dan Zayna berkunjung jika sedang ada perjalanan bisnis


Keluarga Hanif juga sudah datang sejak tadi pagi. Kinan dan Zea membantu Zayna mempersiapkan jamuan untuk tamu. Tidak banyak yang bisa mereka kerjakan karena semua sudah dari cathering.


Ijab kabul mulai dilantunkan oleh Ustadz Ali. Aina yang berada di dalam kamar kini semakin dibuat berdebar, sedari tadi jantungnya berpacu lebih cepat membuat Aina beberapa kali menarik napas panjang guna menenangkan dirinya.


Ustadz Ali memberikan mahar berupa emas sebesar 10 gram dan juga seperangkat alat sholat. Aina tidak pernah tahu perihal mahar dan apa yang akan diberikan oleh Ustadz Ali kepadanya, yang terpenting untuk Aina adalah mendapatkan Ustadz Ali sebagai suaminya, sudah lebih dari rasa syukur karena lelaki itu diharapkan bisa membimbing Aina untuk menuju ke jalan yang lebih baik.


Kedua tangan Aina saling bergenggaman dikala ia mendengar suara Ustadz Ali yang terdengar hingga kamarnya. Akad nikah dilaksanakan di rumah mempelai wanita, dan peraturannya saat akad dimulai Aina harus menunggu di kamarnya hingga ijab kabul selesai.


Suara tegas Ustadz Ali yang menggunakan bahasa Arab itu semakin membuat hati Aina berdesir. Aina tidak menyangka jika Ustadz Ali akan menggunakan bahasa Arab saat mengucapkan ijab kabulnya, diikuti suara sah yang diucapkan oleh orang-orang yang menyaksikan di bawah sana.


Tak lama kemudian suara ketukan dari luar kamar Aina terdengar. Aini dan Zea pun masuk ke dalam dan menghampiri Aina, melihat pengantin wanita yang terduduk di depan meja hiasnya sambil menatap dirinya, Aini pun tersenyum menatapnya.


"Selamat ya, sekarang kamu sudah menjadi seorang istri," ucap Aini dengan senang. Dia datang ke kamar Aina karena diminta oleh ibunya untuk menjemput Aina agar turun menemui suaminya.


"Iya, Aina selamat atas pernikahanmu, semoga samawa," timpal Zea


"Terima kasih kalian sudah menemaniku," sahut Aina dengan mata berkaca-kaca.


Aina senang karena akhirnya hari ini terlaksana, tetapi dia juga semakin takut dan resah dengan kehidupan selanjutnya yang akan dia jalani bersama suaminya nanti. Wanita itu belum cukup siap secara fisik, mengingat dirinya yang merasa minder dengan keluarga Ustadz Ali, dalam hal beragama.


"Kamu kenapa?" tanya Aini menangkup wajah Aina yang tengah gelisah.


Aina menjawab dengan menggelengkan kepalanya. "Aku hanya sedikit khawatir."


Aina mencoba untuk menetapkan hati supaya dia tidak lagi merasa khawatir. Keputusan dia untuk menikah dengan Ustadz Ali adalah sebuah keputusan yang tepat, dirinya akan berusaha untuk membuat dirinya terbiasa dengan kehidupan barunya nanti, mulai saat ini wanita itu akan mencoba untuk istiqomah dalam hal-hal kecil, seperti berhijab.


"Kamu tidak perlu khawatir lagi, sekarang kamu sudah menjadi istri Ustadz Ali. Mari kita temui suami kamu di bawah," ucap Aini.


"Apa aku harus turun?" tanya Aina sedikit gugup.


"Tentu saja, kamu sudah cantik seperti ini. Tidak mungkin jika kamu terus berada di dalam kamar, biarkan suamimu melihatnya." Aini tersenyum kepada Aina, mencoba untuk menenangkan saudara kembarnya itu


"Lihatlah di cermin. Kamu sangat cantik, kamu tidak perlu khawatir Aina." Aini mengarahkan wajah Aina pada cermin yang berada tepat di hadapannya.


Aina menatap dirinya dalam cermin, kemudian ia menarik nafasnya panjang dan menghembuskan secara perlahan. Kini dia sudah sedikit lebih tenang, dia pun memantapkan hatinya dan bersiap untuk turun ke bawah menemui Ustadz Ali. Aina mengangguk pelan, kemudian beranjak dari duduknya menghadap Aini yang tengah menatapnya dengan senyuman yang tak luntur dari wajahnya.


"Ayo," ajak Aini menuntun Aina untuk berjalan.


Hati Aina semakin dibuat berdebar dikala Aini mulai membuka pintu kamarnya dan membawa Aina untuk keluar. Aina berjalan secara perlahan dengan gaunnya yang cukup berat membuat Aini harus berada di belakangnya untuk membantu mengangkat ujung gaun Aina yang terseret lantai.

__ADS_1


Aina mulai menuruni tangga rumahnya untuk sampai di lantai dasar. Beberapa orang yang berada di bawah sana menatap kedatangan Aina dengan mata yang tak berkedip. Mereka sangat mengagumi kecantikan Aina yang terlihat begitu cantik mengenakan gaun putih anggun yang sangat cocok dengan kulit serta riasan pengantinnya.


Aina tak berani menatap ke arah mereka, dia terus saja menundukkan kepala menatap ke bawah sana hingga akhirnya Aina pun diarahkan oleh Aini untuk mendekat pada Ustadz Ali.


"Angkat kepalamu Aina," bisik Aini tepat di telinganya. Aina perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Ustadz Ali yang berada di hadapannya sekilas sebelum akhirnya Aina kembali menunduk.


Aina diminta oleh kedua orang tuanya untuk mencium punggung tangan Ustadz Ali yang kini sudah resmi menjadi suaminya. Dia ragu untuk melakukan itu, dia belum terbiasa dengan hal tersebut. Wanita itu bingung apakah dia harus meraih tangan Ustadz Ali lebih dulu atau tidak, cukup lama Aina berseru dengan isi kepalanya sebelum akhirnya Ustadz Ali memberikan tangannya ke arah Aina, sontak saja Aina langsung mencium punggung tangan Ustadz Ali.


Cukup lama Aina berada di posisi tersebut karena dia merasakan tangan Ustadz Ali yang lain tengah memegang pucuk kepalanya sambil melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Aina pernah melihat hal tersebut beberapa kali ketika seorang Ustadz menikah dan dia akan membacakan sesuatu untuk istrinya.


Setelah selesai, Aina dan Ustadz Ali pun menggunakan cincin yang sudah disiapkan. Pertama-tama Ustadz Ali yang memakaikan cincin tersebut kepada Aina, kemudian bergantian dengan Aina yang memakaikan cincin pada jari Ustadz Ali.


Setelah selesai, mereka menandatangani surat nikah dan mengambil beberapa foto. Kini mereka sudah resmi menjadi pasangan suami istri, hati Aina kini menjadi lebih tenang dan lapang.


Acara selanjutnya adalah sungkem, ini adalah acara yang akan membuat sedih dan haru, terlebih lagi untuk keluarga Aina karena mereka akan melepaskan Aina untuk tinggal bersama keluarga barunya.


Kedua orang tua Aina dan Ustadz Ali sudah duduk berderet pada kursi yang sudah disediakan. Kemudian Aina dan Ustadz Ali pun menghampiri mereka secara bergantian untuk memohon restu dan meminta doa agar kehidupan mereka selanjutnya berjalan dengan bahagia dan terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.


Aina menangis saat dia sungkem kepada kedua orang tuanya. Kini Aina akan pergi dari rumah dan menjadi perempuan yang mandiri untuk merawat suaminya, Aina sangat sedih karena dia akan meninggalkan kedua orang tuanya walaupun dia bisa datang kapan saja ke rumah ini, tetap saja Aina merasa sedih.


Papa Ayman juga memberikan pesan kepada Ustadz Ali untuk menjaga Aina dengan baik. Mereka sudah melepaskan Aina untuk menjalani kehidupan bersama dengan keluarga barunya, kini tanggung jawab sebagai seorang Ayah untuk Aina dia serahkan kepada Ustadz Ali sebagai suami Aina.


"Kamu harus menjaga putriku, jangan melukai fisik dan hatinya. Jika sampai dia kembali ke rumah dan mengadu kepadaku sambil menangis, maka aku tidak akan segan-segan memberimu pelajaran." Itulah pesan Ayman sebagai seorang Ayah dari Aina.


Aina masih terus menitikkan air mata, beberapa kali ia mengusap mencoba mengusap mata dan air yang mengalir di pipinya untuk meredakan tangis. Matanya tak bisa berbohong meski ia sekuat tenaga menahan tangisnya, Aina akan terus menangis dikala ia menatap mata kedua orang tuanya, Aina merasa bahwa dirinya tidak ingin berpisah dengan mereka walaupun hanya sementara.


"Aina pamit, ya, Pa, Bu. Aina akan sering datang ke sini untuk melihat kalian," ucap Aina memeluk kedua orang tuanya dengan air mata yang kembali menetes.


Setelah acara selesai, Aina akan pulang ke rumah Ustadz Ali dan tinggal di sana bersama keluarga Ustadz Ali. Ini adalah satu hal yang membuat Aina merasa khawatir dan resah sedari kemarin, jika saja Aina tidak tinggal di rumah keluarga Ustadz Ali mungkin Aina akan biasa-biasa saja dan tidak ada yang perlu dicemaskan.


Mengingat keluarga Ustadz Ali adalah seseorang yang religius membuat Aina takut jika dirinya tidak dapat menyesuaikan diri. Biar pun begitu, Aina akan mencoba untuk menjadi istri yang baik untuk Ustadz Ali.


Aina menghampiri Aini dan juga Arslan, kakaknya. Aina juga berpamitan kepada mereka dan memeluk mereka dengan begitu erat, Aina juga berterima kasih kepada mereka karena mereka sudah membuat Aina merasa jauh lebih baik dengan perasaannya saat ini.


"Kak, Aini. Aina pergi dulu ya, Aina pasti akan sangat merindukan kalian. Kalian tenang aja ya, kalian jangan khawatir, Aina pasti akan selalu ingat nasihat kalian yang kemarin, terima kasih karena berkat kalian Aina jadi merasa lebih tenang," ucap Aina tersenyum ke arah mereka dengan air mata yang mengalir membasahi pipinya.


Aini mengusap air mata Aina menggunakan tisu, mengusapnya pelan agar make up pada wajah Aina tidak luntur. "Kamu jangan menangis lagi, sayang loh ini make up-nya nanti luntur," kekeh Aini walaupun dalam hatinya dia juga masih merasa sedih dan sempat menangis.


"Kamu jangan bandel, ya, di sana, kamu harus ikuti apa kata suami kamu. Perlu kamu ketahui, menjadi istri yang baik itu juga suatu ibadah dengan pahala yang cukup besar," pesan Arslan kepada Aina yang diangguki patuh oleh gadis itu.


Tidak lupa juga Aina berpamitan pada Hira, Zea dan Adam. Dia begitu terharu mendengar doa dan pesan dari orang-orang yang begitu sayang dan peduli padanya.


Akhirnya Aina pun pergi dengan membawa koper yang sudah berisi baju-bajunya. Aina melangkahkan kakinya dengan berat meninggalkan rumah tersebut, Aina berharap bahwa dia bisa betah di rumah keluarga Ustadz Ali nanti.

__ADS_1


Mereka pergi dengan menggunakan satu mobil. Di dalam mobil tidak ada percakapan diantara mereka membuat Aina semakin canggung dengan keadaan saat ini, Aina terus menatap ke luar jendela dengan pikirannya yang terus berisik karena memikirkan banyak hal.


Aina membayangkan bagaimana nanti ketika sampai di rumah keluarga Ustadz Ali, apa yang harus Aina lakukan dan persiapkan. Aina terus bertanya-tanya dalam benaknya, Aina belum begitu siap dengan segala resiko yang akan ditanggung setelah menikah dengan Ustadz Ali karena keluarga mereka begitu agamis, berbanding terbalik dengan Aina, karena itulah kenapa Aina terus merasa khawatir dan takut. Takut jika dia tidak bisa mengimbangi keluarga suaminya itu.


Perjalanan terasa cukup lama bagi Aina, hingga akhirnya dia pun merasa bahwa mobil sudah berhenti dan mereka sudah sampai di rumah keluarga Ustadz Ali. Mereka pun turun dari mobil untuk segera masuk ke dalam rumah.


Koper Aina diturunkan oleh sopir dan dibawa masuk ke dalam. Aina melihat sekeliling rumah Ustadz Ali yang terlihat sangat menenangkan, udara di dalam rumah tersebut sangat sejuk padahal Aina tidak melihat adanya AC dalam ruangan tersebut.


"Aina, kamu langsung masuk ke kamar saja ya, biar bisa istirahat dulu dan berganti pakaian." Bu Nur menghampiri Aina dan berucap dengan lembut kepada Aina yang dibalas senyuman ramah oleh Aina.


"Baik Bu, terima kasih," ucap Aina dengan canggung.


"Ali, kamu antarkan Aina ke kamar dulu ya, biar ganti baju, baru nanti kita makan siang sama-sama," ucap Ibu Nur kepada Ustadz Ali.


"Baik Bu. Mari ikut aku," ucap Ustadz Ali membawa Aina menuju ke kamar mereka sambil membawakan koper Aina.


Saat akan berjalan Aina merasa kesusahan dengan gaunnya yang kepanjangan. "Mari aku bantu." Ustadz Ali membantu mengangkat gaun Aina pada bagian belakang yang kepanjangan itu. Mendapati hal tersebut Aina menjadi sedikit tidak enak karena sudah merepotkan suaminya.


"Terima kasih, Mas." Aina berucap dengan sedikit gugup, terlebih lagi Aina baru kali ini memanggil Ustadz Ali dengan sebutan "Mas" karena dia sudah resmi menjadi suaminya.


"Sama-sama. Ayo masuk, sekarang kamar ini sudah menjadi kamar kita," ucap Ustadz Ali mempersilahkan Aina untuk masuk ke dalam kamarnya.


Terlihat kamar ustadz Ali begitu rapi dan tertata. Aina juga melihat beberapa Al-Qur'an dan kitab lainnya tertata rapi di sebuah lemari kecil yang sepertinya memang digunakan untuk menaruh berbagai macam kitab yang Ustadz Ali miliki.


Aina rasa kamar ini tidak begitu buruk dan dia bisa dengan nyaman tidur di sini. Aina kini sudah sedikit lebih tenang karena dia juga mendapatkan perlakuan baik dari keluarga Ustadz Ali.


"Ini koper kamu. Sebaiknya kamu mandi dulu dan berganti pakaian, aku akan mandi di kamar mandi lain," ucap Ustadz Ali.


"Kenapa tidak di sini saja? Kita bisa bergantian menggunakan kamar mandinya," ucap Aina. Mereka baru saja menikah dan Ustadz Ali memilih untuk memakai kamar mandi lain karena ada Aina. Tentunya Aina jadi merasa tidak enak dengan apa yang dilakukan oleh Ustadz Ali.


Ustadz Ali tersenyum. "Baiklah kalau begitu."


"Mas mandi lebih dulu saja, aku akan menunggu sambil membereskan baju," ucap Aina yang diangguki oleh Ustadz Ali.


Setelah selesai mandi dan berganti pakaian mereka pun segera turun untuk makan siang bersama dengan keluarga Ali. Mereka berbincang dan Aina menimpali sedikit demi sedikit karena dia masih begitu canggung dengan keluarga ini.


Saat azan Ashar dan Maghrib tiba mereka melaksanakan shalat berjamaah di rumah karena rumah ini juga terdapat mushola untuk keluarga mereka shalat berjamaah. Selesai shalat Maghrib Aina merasa ada yang salah dengan dirinya karena tiba-tiba saja dia merasakan sakit pada perutnya, Aina langsung ke kamar mandi untuk mengeceknya dan ternyata dia kedatangan bulan di malam itu.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ustadz Ali ketika melihat Aina yang sedikit murung dan lebih banyak diam saat di setelah selesai sholat Maghrib tadi.


"Aku minta maaf untuk malam ini," ucap Aina sambil menunduk. Dia merasa tidak enak kepada Ustadz Ali, karena ini adalah malam pertama mereka sedangkan Aina tiba-tiba saja kedatangan tamu bulanan.


"Aku baru saja haid, aku minta maaf padahal ini adalah malam pertama," cicit Aina.

__ADS_1


Ustadz Ali tersenyum dengan tenang dia pun mendekat ke arah Aina. "Tidak apa-apa, kamu tidak perlu khawatir," ucapnya membuat Aina merasa lebih lega.


__ADS_2