Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
264. S2 - Keputusan


__ADS_3

“Pa, apa Papa juga ngerasain yang Mama rasakan?” tanya Oma Aisyah pada sang suami saat keduanya berada di kamar.


“Merasakan apa, Ma?” tanya Opa Hadi dengan wajah kebingungan.


“Mama merasa ada sesuatu yang anak-anak sembunyikan dari kita.”


“Masa, sih? Papa ngerasanya biasa-biasa saja," sahut Opa Hadi dengan cuek.


“Papa memang seperti itu, nggak peka dengan sekitar,” sahut Oma Aisyah dengan cemberut yang kemudian merebahkan tubuh dan menutupinya dengan selimut.


Opa Hadi hanya diam memandanginya. Bukan dia tidak peka, justru pria itu juga merasakannya. Hanya saja dirinya tidak ingin sang istri kepikiran. Opa Hadi tahu jika ada sesuatu yang anak dan cucunya sembunyikan. Hanya saja, biarkan mereka menyelesaikannya sendiri. Pria itu pun mengikuti sang istri ke alam mimpi dengan merebahkan tubuhnya.


****


Pagi-pagi sekali semua orang sudah ada di taman samping rumah, sementara Zayna dan Kinan membantu Bik Ira memasak di dapur. Keadaan sudah mulai kondusif. Anak-anak terlihat sudah mulai berbaur meski tidak sebaik seperti biasanya, setidaknya sudah lebih baik daripada kemarin. Ayman merasa lega melihatnya meski dalam hati dia tahu, rahasia ini pasti akan terbongkar suatu hari nanti.


“Assalamualaikum,” ucap seorang pemuda yang baru memasuki taman. Siapa lagi kalau bukan Adam.


Kedatangannya sudah pasti membuat semua orang terkejut, termasuk Zayna dan Kinan yang berada di dapur. Mereka takut jika Adam mengatakan sesuatu. Entah pria itu tahu apa tidak dengan apa yang sudah direncanakan semua orang.


“Waalaikumsalam, Adam! Kata mamamu, kamu ke rumah calon mertuamu?” tanya Oma Aisyah.


“Iya, Oma. Tadi malam aku dengar dari Mama katanya Oma pulang jadi, aku putuskan untuk pulang saja. Aku juga sudah cukup berkenalan dengan mereka,” jawab Adam sambil mencium punggung tangan wanita itu dan bergantian dengan Opa Hadi.


"Nanti jangan lupa kenalin pacar kamu sama Oma, ya?"


"Iya, Oma. Nanti Adam kenalin," sahutnya sambil tersenyum kemudian melirik ke arah Zea dan papanya.


"Kakak baru pulang! Pasti haus, sebentar aku ambilin minum. Kakak maunya minum apa?" tanya Zea yang berusaha untuk biasa saja, sesuai janji gadis itu pada kedua orang tuanya.


"Apa saja kamu juga pasti tahu minuman kesukaan Kakak," jawab Adam yang sudah mengetahui maksud Zea.

__ADS_1


"Oke, tunggu sebentar di sini. Akan aku buatkan." Zea pun menuju ke dapur.


Semua orang lega melihat itu, tadinya mereka kira akan ada kecanggungan diantara kedua saudara. Namun, ternyata tidak. Zea pergi ke dapur untuk membuatkan kakaknya minuman. Zayna dan Kinan yang tadi sempat ke kembali ke dapur mengikuti gadis itu.


"Mama senang kamu bisa menempatkan dirimu saat ini. Semoga kedepannya kamu bisa melakukannya," ucap Kinan dengan pelan.


"Aku tidak janji bisa seperti ini di kemudian hari, Ma, di saat tidak ada satu orang pun yang mendukungku," sahutnya yang kemudian mengambil buah alpukat yang ada di kulkas.


Zea pun membuatkan jus untuk kakaknya. Itu adalah minuman kesukaan keduanya, berharap ini tidak akan berubah. Kinan menatap putrinya dengan pandangan sedih. Dia sangat mengerti apa yang putrinya rasakan. Namun, wanita itu juga bingung harus bagaimana, menyetujui atau tidak.


Padahal sudah jelas-jelas mereka memang tidak memiliki hubungan darah. Untuk saat ini biar mereka berpikir lebih dulu. Zayna yang mengerti kesedihan adik iparnya hanya bisa mengusap pundaknya. Dia sendiri juga bingung harus memberi nasehat apa. Kinan pun mencoba untuk tetap tersenyum meski jauh dilubuk hatinya dia juga terluka.


Zea kembali ke taman belakang dengan membawa segelas jus alpukat, yang sengaja dia buat untuk kakaknya. Tidak ada niat untuk mengambil hati Adam atau yang lainnya. Itu murni gadis itu lakukan agar Oma dan opanya tidak curiga.


"Ini, Kak, minumannya. Minuman kesukaan kakak," ucap Zea sambil memberikan jus yang dia buat tadi.


Aini yang melihatnya pun berdecih sinis, dia merasa jika Zea hanya mengambil kesempatan. Aina yang ada di sampingnya pun menyenggolnya, berharap saudaranya tidak membuat ulah. Sebelumnya sudah dikatakan jika mereka, harus menutup masalah ini terlebih dahulu. Semuanya pun berbincang di taman belakang.


Opa Hadi dan Oma Aisyah menceritakan apa saja, yang mereka lakukan di luar negeri bersama dengan sahabat sekaligus besannya. Dia juga menceritakan jika kesehatan Oma Aida masih tetap seperti sebelumnya. Meskipun segala jenis pengobatan sudah dilakukannya, tetapi belum ada perkembangan. Hal itu tentu saja membuat Hanif dan Kinan sedih.


Semua orang terlalu senang dengan kebersamaan ini jadi, tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Semua orang masuk dan menuju ruang makan. Mereka bersama-sama menikmati sarapan pagi dengan tenang.


Setelah selesai, semua orang berbincang sejenak. Mereka juga banyak melakukan yang menyenangkan hingga sore hari.


Hanif beserta keluarga pamit undur diri. Hanif, Kinan dan Zea berada dalam satu mobil, sementara Adam mengemudikan mobilnya sendiri. Tidak ada percakapan apa pun diantara mereka, hingga akhirnya mereka sampai juga di depan rumah. Mereka semua turun satu persatu, Zea memilih kembali ke kamarnya.


Hanif meminta Adam duduk terlebih dahulu, dia ingin menanyakan mengenai pertemuan putranya dengan calon mertuanya. Zea memelankan langkahnya, sengaja ingin tahu apa yang ingin dibicarakan papanya. Saat tahu apa yang ditanyakan Hanif, gadis itu mempercepat langkahnya agar segera sampai di kamarnya.


"Bagaimana pertemuanku dengan orang tua Alin?"


“Biasa saja, Pa. Tidak ada yang spesial, sama seperti bertemu dengan orang lainnya,” jawab Adam seadanya.

__ADS_1


“Apa tidak ada pembicaraan yang serius yang mereka sampaikan?” tanya Hanif.


“Tidak ada, Pa. Hanya saja mereka berpesan agar secepatnya hubungan kami diresmikan agar tidak menjadi ladang dosa.”


“Lalu apa rencanamu?”


“Masih belum tahu, Pa. Aku belum membicarakan hal ini dengan Alin. Rencananya hari Sabtu kita bahas hal ini.”


“Ya sudah, sebaiknya kamu istirahat dulu. Sejak pulang tadi kamu belum istirahat.”


Adam mengangguk dan naik ke lantai atas. Sebelum memasuki kamarnya, pria itu menatap kamar adiknya yang ada di samping kamarnya. Ingin sekali dia ke sana dan berbincang sebentar, menceritakan apa yang Adam rasakan. Namun, pria itu tidak ingin menambah masalah dengan hal itu. Lebih baik seperti ini dulu, nanti akan ada saatnya dia bisa seperti dulu lagi.


****


“Pa, aku setuju untuk menerima perjodohan itu,” ucap Arslan saat menemui papanya di ruang kerja.


Ayman tersenyum, akhirnya sang putra menerima juga. “Benar kamu menerimanya? Apa kamu tidak akan menyesal?”


“Tidak, Pa. Aku yakin pilihan Papa pasti yang terbaik.”


“Baiklah, nanti Papa akan atur waktu agar kamu bisa bertemu dengan gadis itu.”


Arslan mengangguk dan berpamitan untuk ke kamar. Dia terpaksa menerima perjodohan ini karena tidak tega pada adiknya. Si kembar sangat membutuhkan alat komunikasi untuk kuliahnya. Pria itu sering melihat Aina yang telat bangun karena harus menyalin beberapa materi, Arslan tidak punya pilihan lain selain menerima. Bagaimanapun itu juga karena ulahnya.


Pria itu berpikir mungkin ini memang jodoh yang Tuhan kirim. Tidak peduli bagaimana nanti, asalkan adik-adiknya tidak kesulitan, dia ikut senang. Arslan akan mencoba ikhlas menerima semua ini, mudah-mudahan semua berjalan lancar.


Hari-hari dijalani Zea dengan perasaan terluka, hingga saat ini kedua orang tuanya masih menentang perasaan gadis itu. Ingin sekali dia berteriak mengungkapkan apa yang dirasakannya kini. Namun, semua seolah tercekat di tenggorokan. Apalagi tidak ada yang mendukungnya sama sekali.


Adam dan Alin juga sudah memutuskan untuk menikah dua bulan lagi. Kedua keluarga sudah menyetujuinya, bahkan Hanif menyambutnya dengan suka cita. Berbeda dengan Zea dan Aini yang begitu terluka dengan berita ini. Semuanya serba mendadak, mengenai perasaan mereka saja belum ada pembahasan lagi, tetapi Adam sudah memutuskan menikah begitu saja.


“Aini, apa kamu tidak kangen sama Zea?” tanya Aina saat mereka sedang menghabiskan waktu berdua di balkon kamar.

__ADS_1


.


.


__ADS_2