Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
107. Bimbang


__ADS_3

“Jadi begini, Aisyah. Tadi Hanif meminta agar pertunangannya dan Kinan dipercepat. Dia tidak ingin ada masalah di kemudian hari, yang akan semakin menyulitkan Kinan. Bagaimana menurutmu?" tanya Mama Aida.


Mama Aisyah sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Aida. Namun, wanita itu mencoba untuk mengerti maksud dan tujuan Hanif. Dia tahu pria itu sudah sangat mencintai putrinya. Akan tetapi, Mama Aisyah tidak mungkin memaksakan kehendaknya pada Kinan.


Semua keputusan ada di tangan gadis itu, entah mau menerima Hanif atau tidak. Dia yakin dengan keputusan yang akan diambil putrinya. Pasti Kinan sudah memikirkannya dengan baik.


“Seperti yang sebelumnya sudah pernah aku katakan, kalau semua keputusan ada di tangan Kinan. Aku tidak berhak untuk ikut campur. Begitu pun juga dengan papanya.”


“Iya, itu tidak masalah untuk kami. Hanif sendiri yang akan berusaha untuk meluluhkan hati Kinan. Asalkan kamu setuju dan merestui mereka.”


“Kalau masalah itu jangan khawatir. Jika Kinan sudah setuju, aku pasti akan memberi restu, begitu juga dengan papanya.”


“Baguslah kalau begitu. Mengenai selanjutnya, biarkan anak-anak yang mengatasinya.”


Mama Aisyah dan mama Aida pun mengobrol sejenak, sebelum akhirnya mereka mengakhiri panggilan. Tanpa diketahui, ternyata Kinan sedari tadi menguping pembicaraan mamanya dan Tante Aida lewat sambungan telepon.


“Mama,” panggil Kinan.


“Eh, Kinan. Iya, ada apa?” tanya Mama Aisyah sambil menatap putrinya.


Kinan berjalan dan duduk di samping mamanya, yang saat ini sedang berada di taman samping rumah. Dia ingin bertanya pada mamanya.


“Maaf, Ma. Tadi aku mendengar Mama berbicara dengan Tante Aida. Aku ingin bertanya, jadi sebenarnya aku dan Pak Hanif itu tidak pernah dijodohkan, ya, Ma?” tanya Kinan.


Mama Aisyah menghela napas. Sebenarnya dia sudah berjanji untuk tidak mengatakan kepada Kinan. Akan tetapi, sepertinya sang putri sudah mendengar pembicaraannya tadi. Mau tidak mau, akhirnya wanita itu pun jujur pada putrinya.

__ADS_1


Dia juga tidak ingin Kinan kecewa padanya. Mengenai putrinya mau menerima Hanif atau tidak, biarlah takdir yang menentukan. Mereka berjodoh atau tidak.


“Sebenarnya memang begitu, Sayang. Kamu dan Hanif memang tidak pernah dijodohkan, tetapi Hanif sangat mencintai kamu. Dia berpikir jika dengan melakukan itu, dia bisa dekat dengan kamu. Dia sangat tahu kamu pasti akan menjauhinya. Entah karena dia seorang dosen atau karena dia pernah menghukummu. Setiap orang pasti punya cara tersendiri saat ingin mendekati seseorang yang mereka cintai. Begitu juga Hanif."


“Mama tahu dari mana Kalau Pak Hanif mencintaiku? Mama saja baru bertemu dengannya.”


“Dari Tante Aida. Mama sangat mengenal keluarga mereka. Tante Aida tidak akan pernah berbohong untuk hal sekecil apa pun. Agama mereka juga sangat bagus, Mama yakin Hanif bisa memperlakukanmu dengan baik. Itu juga yang membuat Mama setuju agar kamu bisa dekat dengan Hanif. Mama tidak ingin Putri Mama semakin menambah daftar dosa."


“Tapi, Ma. Kinan tidak menyukai Pak Hanif, bagaimana Mama bisa berpikir seperti itu?”


“Apa kamu yakin jika di dalam hatimu, tidak pernah ada Hanif di sana. Meskipun kamu baru mengenal dia, tapi Mama yakin pria itu mampu menyentuh hatimu meski hanya secuil. Dia pria yang baik, pikirkanlah pelan-pelan semuanya, sebelum terlambat. Mama hanya ingin yang terbaik untukmu, tapi jika kamu memang tidak mau menerimanya, Mama dan Papa juga tidak akan memaksamu. Hanif juga mengatakan hal seperti itu."


Kinan terdiam mendengarkan apa yang mamanya katakan. Benarkah jika pria itu mencintainya, tetapi sejak kapan? Kenapa selama ini pria itu tidak pernah mengatakannya? Sikapnya selama ini juga sangat mengesalkan. Apa iya itu tanda-tanda pria yang memang benar mencintainya.


“Kinan, kenapa diam?” tanya Mama Aisyah. "Jangan terlalu dipikirkan, jalani saja pelan-pelan."


“Iya, pikirkan lagi mengenai perasaan kamu.”


Kinan mengangguk dan meninggalkan mamanya menuju kamar. Jujur, selama dia dekat dengan Hanif, pria itu memang baik dan selalu menjaganya. Bahkan tanpa mempedulikan bagaimana keadaan dirinya sendiri. Kinan mencoba mengingat kejadian sejak hari di mana Hanif datang untuk pertama kali.


Saat itu Papa Hadi dan Mama Aisyah memang tidak mengatakan apa pun mengenai perjodohan. Akan tetapi, Hanif dengan percaya dirinya mengatakan hal itu. Tentu saja Kinan sangat marah. Masih banyak yang harus dia kejar saat ini, daripada harus membangun sebuah hubungan. Yang pastinya akan ada saatnya saling menyakiti.


Kinan bukan merasa trauma, tetapi saat ini dia hanya ingin menuruti permintaan orang tuanya untuk tidak memiliki hubungan dengan laki-laki. Rasa bersalah gadis itu sangat besar, hingga membuatnya enggan dekat dengan lawan jenis. Namun, saat ini berbeda. Hanif menawarkan pertunangan. Itu pun lewat kedua orang tuanya.


“Apa aku harus menerima Mas Hanif sebagai calon suamiku? Aku akui saat menjadi dosen dia sangat menyebalkan, tetapi saat di luar dia sangat baik. Aku jadi bingung harus bagaimana,” gumam Kinan.

__ADS_1


Sepanjang malam, Kinan tidak bisa tidur sama sekali. Dia masih kepikiran mengenai Hanif yang ingin segera bertunangan. Padahal mereka baru saja dekat.


Pagi hari, rumah Papa Hadi begitu ramai dengan kedatangan besannya. Siapa lagi kalau bukan Papa Rahmat dan Mama Savina. Zayna merasa senang dengan kedatangan kedua orang tuanya. Sebelumnya tidak ada pemberitahuan jika mereka akan datang hari ini karena memang mereka sengaja ingin membuat kejutan untuk putrinya.


Sebelumnya Papa Rahmat memang pernah mengatakan akan datang berkunjung. Baru kali ini keduanya ada waktu. Kondisi pria itu sudah ada kemajuan, sekarang sudah bisa berdiri sendiri. Zayna pun sangat senang melihatnya.


“Bagaimana kandungan kamu?” tanya Mama Savina sambil mengusap perut Zayna yang masih datar.


“Alhamdulillah, sehat, Ma, tapi gitu, aku jadi males ngapa-ngapain. Maunya tidur terus jalan-jalan.”


“Bagus, dong! Biar kamu nggak terlalu capek.”


“Tapi, aku kangen sama dapur, Ma. Ingin masak juga buat Mas Ayman. Sejak aku hamil, semua kebutuhan Mas Ayman dilayani sama Bibi. Aku jadi kesel,” jawab Zayna dengan cemberut, membuat semua orang yang ada di sana tertawa, termasuk Bik Ira. dia tidak menyangka jika menantu majikannya bisa merasa iri terhadapnya. Padahal dirinya juga tidak melakukan apa-apa, hanya melakukan tugas sebagai seorang pembantu saja.


“Kamu ini, Sayang, ada-ada saja. Bik Ira juga cuman melakukan tugasnya saja,” sahut Ayman.


“Ya, tetap saja.”


“Nanti kalau kandungan kamu sudah tujuh bulan juga bisa berubah mood-nya. Nanti kamu bisa masak lagi buat suami kamu,” sela Mama Aisyah.


“Iya, biasanya wanita hamil memang seperti itu. Kamu yang sabar saja,” timpal Mama Savina.


Mereka pun banyak berbincang dan tertawa bersama. Kinan juga ikut senang melihat Keluarga kakak iparnya. Sekarang sudah lebih baik dari sebelumnya. Semua orang memang sudah tahu bagaimana keluarga Zayna.


.

__ADS_1


.


__ADS_2