Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
41. Air terjun


__ADS_3

"Apa perlu aku carikan guru les untuk mengajari kamu pakai make up, Sayang?" tanya Ayman yang memperhatikan istrinya.


"Tidak perlu, aku bisa belajar sendiri," jawab Zayna tanpa menatap sang suami. Tangannya terus mengoleskan satu persatu alat yang ada di depannya.


"Jangan terlalu dipaksa, pakai biasa saja. Nanti malah akan terlihat aneh."


"Iya, Mas." Zayna pun melanjutkan make up-nya. Sementara Ayman kembali sibuk dengan pekerjaannya. Setelah cukup lama berkutat di depan cermin. Zayna memperhatikan hasil make up-nya dan melihat ke arah sang suami. Dia ingin Ayman sendiri yang menilai hasilnya.


"Mas, bagaimana? Apa sudah pas?" tanya Zayna seketika membuat Ayman menoleh. Pria itu begitu terpanah melihat kecantikan sang istri.


"Kamu cantik sekali, Sayang," ucap Ayman yang segera mendekati istrinya.


Ditatapnya wajah sang istri. Zayna benar-benar begitu cantik. Bukan berarti selama ini dia jelek, hanya saja kali ini cantiknya berkali lipat.


"Kamu cantik, Sayang. Sangat cantik."


"Jadi selama ini aku nggak cantik?" tanya Zayna pura-pura merajuk.


"Enggak, dong, kamu selama ini sudah cantik, tapi wajarlah jika semakin cantik dengan memberi sedikit polesan."


"Mas, bisa saja kalau lagi merayu. Barang mahal memang berkualitas, ya!"


"Aku bicara yang sebenarnya," sahut Ayman. "Ayo, kita jalan-jalan! Sebelum besok aku sibuk kerja. Kamu, kan, belum tahu bagaimana pemandangan kota ini."


"Mau, Mas, kita izin dulu sama mama. Apa nanti Mama kasih izin?"


"Kita bujuk sama-sama." Keduanya keluar menuju taman, di mana wanita paruh baya itu berada.


"Ma, aku mau ajak Zayna jalan-jalan sebentar. Besok, kan, aku kerja jadi pasti akan sibuk. Boleh, kan, Ma?"


"Iya, kalian pergilah. Lagian dia istrimu kenapa tanya Mama," ujar Mama Aisyah.


"Mama, nggak mau ikut?" tanya Zayna.


"Tidak, Mama di rumah saja. Hati-hati di jalan," jawab Mama Aisyah. "Oh, ya, kalian makan siang di rumah atau di luar sekalian?"

__ADS_1


"Di luar saja, Ma. Mungkin nanti aku pulangnya sore atau malam," jawab Ayman.


"Oh, ya sudah, hati-hati."


"Mama, mau nitip sesuatu? Biar nanti aku bawakan," tawar Zayna.


"Nggak usah, nanti Mama beli sendiri saja. Lagian kalau malam Mama nggak suka ngemil."


"Baiklah kalau gitu, kami pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Ayman sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu. Diikuti oleh Zayna.


"Waalaikumsalam," sahut Mama Aisyah.


Ayman menggandeng tangan istrinya keluar rumah. Untuk pertama kalinya, Zayna menaiki mobil milik sang suami. Dia terkesima dibuatnya. Seketika wanita itu didera rasa tidak percaya diri. Ayman yang mengerti pun menggenggam tangan sang istri.


"Na, mulai sekarang kamu harus terbiasa dengan apa yang aku miliki. Kalau perlu kamu bisa bersikap sombong agar tidak ada yang merendahkanmu. Sombong tidak semua jelek, kok. Banyak orang yang melakukannya agar tidak diinjak-injak orang lain. Lagipula sekarang kamu memiliki semua yang bisa kamu sombongkan karena milikku juga milikmu."


"Iya, Mas. Aku akan berusaha membiasakan diri agar bisa bersanding denganmu."


Ayman mengangguk dan berkata, "Hanya kamu yang pantas bersanding denganku."


"Kita mau ke mana, Mas?" tanya Zayna.


"Kamu maunya ke mana?"


"Terserah, Mas, yang ngajak Mas sendiri."


"Aku mau nyenengin kamu jadi, kamu maunya ke mana?"


"Ke mana, ya? Ke tempat rekreasi, di sini ada nggak yang seru?"


"Banyak lah, Sayang. Kamu maunya ke mana? Ke pantai, taman wisata atau area bermain?"


"Nggak tahu, deh, Mas. Aku bingung, terserah kamu saja."


Ayman terlihat berpikir sebelum menjawab. Dia ingin suasana yang seru, tapi juga romantis. "Bagaimana kalau ke tempat wisata air terjun saja. Sekarang juga bukan hari libur jadi, pengunjungnya juga pasti sedikit. Kita bisa menikmatinya dengan santai."

__ADS_1


"Boleh, Mas. Aku juga pengen ke sana. Aku nggak pernah lihat air terjun. Tempatnya seperti apa, Mas?" tanya Zayna dengan antusias.


"Nanti kamu juga bisa lihat sendiri. Memang selama ini kamu nggak pernah ke tempat wisata air terjun?"


"Tidak pernah. Di daerahku wisata air terjun itu jauh. Papa juga sangat sibuk, kalaupun ke tempat itu pasti membutuhkan banyak uang jadi, setiap kali liburan aku selalu di rumah sendiri."


"Jadi maksudmu saat semua orang pergi liburan dan kamu sendiri di rumah?" tanya Ayman dengan heran karena bagaimanapun Zayna tetaplah anak mereka. Kenapa ditinggal sendiri di rumah?


"Uang papa nggak akan cukup jika kami semua pergi. Aku kasihan sama papa yang terus saja bekerja tanpa lelah. Jadi untuk berhemat, lebih baik aku tidak ikut."


Di sini Ayman mulai mengerti. Dia tahu jika keluarga Zayna tidak pernah mengajak istrinya berlibur dan selalu meninggalkan wanita itu sendiri. Padahal pria itua yakin jika dalam hati wanita itu juga ingin pergi bersama dengan keluarganya. Mulai saat ini pria itu berjanji. Apa pun keinginan istrinya, dia akan berusaha untuk mengabulkannya.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang dituju. Udara begitu dingin hingga menusuk tulang. Untung saja di dalam mobil ada jaket milik Ayman. Pria itu segera memakaikan ke tubuh istrinya.


"Maaf, ya, aku tadi lupa memintamu untuk membawa jaket. Jadi kamu pakai punyaku saja. Tidak apa-apa, kan, kebesaran?"


"Tidak apa-apa, ini juga sudah hangat."


"Ayo kita beli tiket dulu." Tampak beberapa pasangan yang juga datang. Zayna melihat ke sekeliling. Tempatnya begitu bersih dan sangat terawat. Pantas saja saat sang suami membeli tiket harganya cukup mahal untuk ukuran dirinya.


"Mas, apa air itu dingin?" tanya Zayna pada sang suami. Dia melihat orang-orang di sana menggigil kedinginan, tetapi tidak ada niatan untuk naik malah semakin menyelamkan tubuhnya. Banyak juga pasangan saling berbincang dan bersenda gurau.


"Iya, dingin. Makanya jarang ada yang mandi di sana. Kalau kamu mau ada yang hangat di atas sana. Ada tempatnya sendiri. Kamu mau ke sana?"


"Kita nggak bawa baju, Mas."


"Nggak apa-apa, kita nanti beli saja. Di sana juga ada yang menjualnya. Ayo, kita ke sana!"


Sebenarnya sayang jika harus membeli baju di tempat seperti ini, pasti mahal. Akan tetapi, rasa penasaran Zayna itu pun mengalahkan kebiasaannya yang selalu berhemat. Malah baginya kapan lagi ke sini dan memanfaatkan sang suami? Selagi di sini, dia ingin menggunakan waktu sebaik-baiknya. Terserah jika hari ini dia menguras dompet Ayman. Uangnya juga tidak akan habis jika digunakan untuk hari ini saja.


Dalam hati Zayna menertawakan dirinya sendiri yang terlihat seperti sok kaya. Namun, sang suami juga tidak keberatan akan hal itu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2