Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
297. S2 - Berkunjung ke pondok


__ADS_3

Arslan dan Hira baru saja sampai di pondok pesantren tempat kedua orang tuanya tinggal. Beberapa santriwati yang sedang membantu di rumah orang tua Hira, segera menyambut kedatangan wanita itu bersama suaminya. Dia sangat senang akhirnya bisa bertemu dengan mereka.


"Ning Hira apa kabar?" tanya Ustazah Nurul yang menyambut kedatangan wanita itu di depan rumah.


"Alhamdulillah, saya baik. Ustazah sendiri bagaimana kabarnya?" tanya Hira balik.


"Alhamdulillah saya juga baik. Mari kita masuk! Tadi santriwati juga sudah membersihkan kamar Ning Hira biar bisa ditempati bersama dengan suami."


"Terima kasih, Ustazah Nurul. Anda sudah mau repot menyambut kami."


"Jangan terlalu sungkan. Kami senang dengan kedatangan Ning Hira."


Arslan menurunkan barang bawaan mereka. Tidak lupa juga oleh-oleh yang sudah dia beli di jalan tadi. Ada beberapa makanan ringan dan juga buah.


"Biar saya yang bawa, Gus," ucap seorang santri saat melihat Arslan kesulitan.


"Oh, i—iya," sahut Arslan dengan gugup.


Dia masih saja grogi jika ada yang memanggilnya gus. Rasanya dirinya tidak pantas dipanggil seperti itu, tetapi mau bagaimana lagi. Mertuanya seorang pemimpin pondok pesantren. Pernah sekali dia mengadu pada Hira agar orang-orang memanggil dia nama saja, paling tidak panggil Mas.


Namun, Hira menolak karena dia tidak ingin semua orang di pondok, memanggil suaminya sama seperti dirinya. Biar saja mereka memanggil gus. Itu juga sebagai ungkapan rasa hormatnya pada Arslan. Mau tidak mau pria itu pun akhirnya pasrah saja. Panggilan itu hanya saat dirinya berada di pondok saja.


"Assalamualaikum, Abi, Umi," ucap Hira dan Arslan bersamaan. Tidak lupa juga keduanya mencium punggung kedua orang tua itu. Sama seperti santriwati yang merasa begitu senang, Kyai Hasan dan istri juga merasa bahagia.


"Kalian sudah sampai? Umi kira kalian akan datang besok," ucap Umi Rikha.


"Tadinya Hira juga maunya seperti itu, Umi. Aku kasihan sama Mas Arslan yang baru pulang kerja langsung jalan ke sini, tapi beliau sendiri yang memaksa. Hira hanya bisa menurut."


"Kalau begitu ajak suamimu istirahat, pasti dia sangat lelah," sela Abi Hasan.


"Iya, BI," sahut Hira.


"Jangan lupa juga buatkan teh untuk suaminya," ucap Umi.


"Iya, Umi. Kami mau masuk kamar dulu," pamit Hira yang diangguki oleh kedua orang tuanya.


Wanita itu mengantar Sang suami ke kamar. Tidak lupa juga dia membuatkan teh untuk Arslan, barulah dia keluar lagi. Hira masih rindu dengan uminya, wanita itu ingin menghabiskan waktu sejenak dengan kedua orang tua kandungnya.

__ADS_1


"Kamu nggak istirahat juga, Ra?" tanya Umi Rikha saat melihat putrinya ikut duduk bersama dirinya dan sang suami.


"Tidak perlu, aku masih rindu sama Abi dan Umi," jawabnya sambil memeluk ibunya.


"Padahal kamu tiap hari juga nelepon Umi, kenapa masih bilang rindu?"


"Beda Umi, kalau bertemu secara langsung itu lebih terbawa suasana."


"Memang kamu nggak rindu sama Abi?" tanya Kyai Hasan yang pura-pura sedih.


"Tentu saja Hira juga rindu sama Abi."


Kyai Hasan tersenyum. Meskipun Hira sudah menjadi seorang istri, tetap saja baginya wanita itu adalah putrinya. Aura seorang istri juga terpancar di wajahnya. Keluguan Hira juga masih melekat pada dirinya.


"Bagaimana suamimu? Apa dia memperlakukan kamu dengan sangat baik?"


"Tentu saja, Abi. Justru Hira sangat berterima kasih sama Abi karena sudah memilihkan jodoh yang terbaik untuk Hira. Meskipun terkadang dalam rumah tangga ada saja masalah yang harus dihadapi, tetapi Hira senang karena Mas Arslan selalu sabar menghadapi Hira. Yang kadang suka emosi dan tidak bisa mengendalikan diri," ucap Hira sambil tersenyum ke arah abinya.


"Syukurlah kalau Arslan memperlakukan kamu dengan baik. Abi hanya ingin yang terbaik untuk kamu." Kyai Hasan mengusap rambut putrinya dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi, Nak. Beberapa waktu yang lalu, ada gosip yang beredar di pondok, kalau Arslan itu sebelumnya pernah memiliki seorang kekasih. Apa itu benar?" tanya Umi Rikha dengan hati-hati, takut jika menyinggung putrinya, tetapi Hira tampak biasa saja.


"Umi dengar gosip dari mana? Sejak kapan Umi suka mendengar gosip?"


"Umi hanya penasaran jadi, Umi tanya sama orang yang tanpa sengaja sedang membicarakan kamu dan suamimu."


"Kalau mengenai itu memang benar, Umi, tapi Mas Arslan mengakhirinya sebelum kami menikah. Mas Arslan juga sudah tidak memiliki perasaan apa pun pada wanita itu," ucap Hira yang sedikit berbohong.


Dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya mengenai apa yang sudah dilakukan Arslan. Itu sama saja membuka aib suaminya, biarlah semua orang tahu jika pria itu memang pernah menjalin hubungan dengan wanita lain. Itu lebih baik daripada mereka tahu jika Arslan hanya memanfaatkan keadaan saja. Apalagi di lingkungan pondok pasti akan banyak yang menggunjingnya. Tembok di rumahnya juga suka menguping.


"Apa kamu yakin seperti itu? Umi khawatir jika kamu mengalami hal-hal seperti yang ada di film-film itu."


Hampir saja Hira tertawa mendengar apa yang dikatakan uminya. Bagaimana bisa berpikir ke arah sana. "Lagian Umi kenapa yang ditonton film-film seperti itu? Lebih baik lihat ceramah. Umi 'kan biasanya lihat begitu?"


"Umi juga butuh hiburan, perlu melihat seperti itu juga. Bukan berarti istri seorang Kyai juga tidak suka sinetron, hanya saja sinetronnya yang bisa diambil manfaatnya saja."


"Terus ada manfaatnya setelah nonton sinetron itu?" tanya Hira sambil menatap wajah Umi Rikha.

__ADS_1


"Manfaat itu tergantung orang yang melihat, mau diambil dari sisi mana. Kalau orang sudah berpikiran buruk, bahkan tontonan yang bermanfaat pun akan jadi tidak bermanfaat. Bagi Umi, tontonan seperti itu mengajarkan Umi untuk ikhlas dan bersabar. Banyak di luaran sana yang mungkin memiliki nasib seperti itu. Juga mengasah keikhlasan diri kita, sampai sejauh mana diri kita bisa ikhlas menerima segala sesuatunya."


Hira mengangguk, tidak dipungkiri jika dirinya juga terkadang suka melihat acara seperti itu. Meskipun hanya sesekali saja jika dirinya sedang tidak ada pekerjaan.


"Mertua kamu besok akan datang ke sini, Nak?"


"Sepertinya tidak, Umi. Masih ada acara tahlilan di rumah Tante Kinan jadi, papa sama mama masih ada di sana buat bantu-bantu."


"Oh, iya, kami juga belum sempat bertakziah ke sana. Mungkin nanti pas tujuh hari saja."


"Iya, Umi. Tante Kinan juga pasti mengerti keadaan Abi dan Umi."


Hira berbincang sejenak dengan kedua orang tuanya, setelah itu dia berkeliling ke arah pondok santriwati. Wanita itu juga rindu pada anak-anak di sana. Semua senang melihat kedatangan Hira. Sudah lama mereka tidak bertemu dan berbincang seperti ini, biasanya hanya saling sapa sekilas saja.


"Akhirnya Ning Hira datang juga. Ning Hira juga semakin cantik saja, ya, Ustaz?" tanya seorang pria pada Ustaz Ali, yang saat ini sedang memperhatikan keberadaan Hira. Wanita itu tengah dikelilingi santriwati. Mereka juga bertanya mengenai kehidupan Hira saat ini, bahagia atau sama saja seperti di sini.


"Ustaz ini bilang apa, sih? Kenapa jadi membicarakan hal yang tidak baik? Nanti kalau suaminya dengar pasti akan marah," tegur Ustaz Ali.


"Saya tidak mengatakan apa-apa. Saya juga tidak mengatakan sesuatu yang terlalu berlebihan. Saya hanya ingin memuji kecantikan Ning Hira saja, tidak lebih," kilah ustaz tersebut.


"Sama saja. Itu juga termasuk zina mata. Sebaiknya kita kembali ke pondok santri, nanti saja kita ke sana," ucap ustaz Ali yang kemudian berbalik.


"Kita nggak jadi ke sana, Ustaz?" tanyanya sambil mengikuti langkah sahabatnya itu.


"Sudah biarkan saja, biar Ning Hira menghabiskan waktu dengan anak-anak."


Tadinya mereka ingin melihat santriwati yang sedang membersihkan halaman. Keduanya ingin tahu pekerjaan mereka sudah benar atau belum. Sekarang di sana sudah ada Hira, pasti wanita itu bisa mengatasinya.


"Apa Anda tidak cemburu melihat Ning Hira bersama suaminya? Saya tahu kalau Ustaz pernah memiliki perasaan padanya. Katakan saja yang sesungguhnya bagaimana perasaan anda saat ini?”


Ustaz Ali menghela napas pelan sambil mengusap dadanya. "Ternyata Anda sangat kepo dengan urusan orang lain, ya?" tanya pria itu tanpa menghentikan langkahnya.


"Tentu saja saya ingin tahu, Ustaz. Secara seluruh pondok pesantren sudah mengira kalau Ning Hira dan Ustaz Ali akan berjodoh, tetapi ternyata ... Kyai Hasan sudah memilihkan jodoh untuk Ning Hira. Bahkan saat itu berita ini sangat mengejutkan seluruh penghuni pondok."


"Semua sudah berlalu jadi, tidak usah dibahas lagi. Mungkin Tuhan juga sudah menyiapkan jodoh untuk saya, semoga saja jodoh saya nanti memang yang terbaik."


"Amin, semoga saja seperti itu. Saya juga akan mendoakan Ustaz."

__ADS_1


__ADS_2