
Ayman berjalan menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Tanpa mengetuk pintu, pria itu masuk ke kamar dengan pelan. Dalam remang-remang, terlihat Zayna yang sudah terlelap di atas tempat tidur. Perlahan dia mendekati ranjang. Ayman meletakkan kue kecil yang dibawa di atas meja dan mendekati sang istri.
Ditatapnya wajah damai wanita yang sudah menjadi istrinya itu. Tiga hari tidak bertemu, rasanya seperti sudah berbulan-bulan saja. Dia rindu dengan sifat manja Zayna, diciumnya kening sang istri berharap wanita itu terbangun. Namun, ibu hamil itu sama sekali tidak terganggu dengan apa yang dilakukan oleh Ayman.
“Sayang, bangun, yuk! Aku ada sesuatu untukmu,” ucap Ayman sambil mengusap rambut sang istri. Namun, wanita itu sepertinya sudah sangat terlelap, hingga tidak terganggu sama sekali.
Ayman pun kembali berusaha untuk membangunkan sang istri hingga beberapa kali. Akhirnya wanita itu membuka matanya. Pertama kali yang dilihat adalah wajah suaminya. Zayna sempat terkejut melihat keberadaan sang suami di kamar karena sebelumnya pria itu mengatakan jika akan pulang dua hari lagi.
“Selamat ulang tahun, Sayang. Semoga di umur kamu yang bertambah ini, kamu semakin sabar menghadapi suamimu.”
“Mas, kamu sudah pulang? Kenapa nggak bilang sama aku? Katanya masih dua hari lagi pulangnya?” tanya Zayna dengan mata berkaca-kaca tanpa menghiraukan ucapan sang suami.
Dia terharu melihat kejutan dari Ayman. Seumur hidupnya baru kali ini wanita itu mendapat kejutan ulang tahun. Yang tahun kemarin untuk pertama kalinya Zayna diajak sang suami jalan-jalan. Tahun ini untuk pertama kalinya juga, dia mendapat kejutan di hari kelahirannya.
"Aku sengaja pulang untukmu," jawab Ayman sambil mengusap pipi Zayna.
“Terima kasih, Mas. Aku saja lupa jika hari ini ulang tahunku, tapi kamu malah mengingatnya.”
“Aku tidak mungkin melupakan hari kelahiranmu. Selamat ulang tahun, semoga apa yang kamu inginkan bisa secepatnya terpenuhi,” ucap Ayman sambil menyerahkan kue ulang tahun ke depan istrinya.
“Apa yang aku inginkan semuanya sudah terpenuhi di sini, Mas. Memiliki suami yang baik, juga keluarga yang menyayangiku. Apalagi sekarang sudah ada calon buah hati kita. Sudah tidak ada lagi yang aku inginkan. Asalkan kalian selalu bersamaku, itu sudah membuatku bahagia,” ucap Zayna yang sudah meneteskan air mata.
Bukan air mata karena kesedihan, tetapi air mata bahagia. Zayna beruntung bisa menjadi menantu di keluarga ini. Dia tidak bisa membayangkan, bagaimana jika dirinya memiliki mertua yang galak dan judes.
“Sudah, jangan terlalu lama menangis. Ini hari bahagiamu, sekarang kamu tiup lilinnya,” ucap Ayman sambil menyodorkan kue di hadapan Zayna. Wanita itu pun meniupnya.
“Kok, kuenya kecil, Mas. Ini mah cuma cukup buat aku saja,” ucap Zayna dengan cemberut.
Tadinya Ayman mengira Zayna akan menjadi pendiam untuk hari ini, tetapi tetap saja wanita itu marah hanya karena kue. Pria itu pun terkekeh melihatnya.
“Ada yang lebih besar di bawah. Ayo, kita turun! Semua orang sudah menunggu kita," ajak Ayman dengan mengulurkan tangan pada Zayna.
__ADS_1
“Semua orang? Ini masih tengah malam, Mas. Pasti mereka sudah tidur.”
Zayna tidak percaya jika orang-orang mau bangun di tengah malam, hanya untuk merayakan ulang tahunnya. Dia pikir itu hanya kebohongan sang suami agar wanita itu mau bangun.
“Siapa bilang? Mereka sudah menunggu kamu.”
“Jadi mereka juga ikut merayakan ulang tahunku?” tanya Zayna dengan nada tidak percaya.
“Iya, mereka ‘kan juga sangat menyayangimu.”
“Ayo, Mas! Aku mau lihat,” ajak Zayna.
“Iya, pelan-pelan, nanti jatuh.”
Ayman dan Zayna berjalan menuju ruang makan. Wanita itu sungguh terkejut melihat semua orang sudah duduk mengelilingi meja makan. Bahkan Bik Ira dan Pak Doni juga ikut duduk di sana.
“Selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun ... selamat ulang tahun Zayna ... selamat ulang tahun.” Suara tepuk tangan mengiringi nyanyian yang ditujukan untuk Zayna.
“Terima kasih semuanya, aku sangat bahagia. Kalian begitu memperhatikanku.” Zayna berusaha menghapus air mata yang membasahi pipinya. “Terima kasih juga sudah menyayangi dan memperlakukanku seperti keluarga sendiri.
“Sudah, Kak. Nggak usah nangis, ini ‘kan hari ulang tahun Kakak. Ayo, sekarang tiup lilinnya!” perintah Kinan sambil membawakan kue ke depan Zayna.
Wanita hamil itu pun segera meniupnya. Dalam hati dia berdoa agar kebahagiaan seperti ini tidak pernah hilang. Zayna ingin orang-orang di sekitar tetap menyayanginya dan tidak akan pernah berubah.
“Ayo, kita makan! Semuanya sudah siap di meja,” ajak Bik Ira.
“Bik, ini sudah sangat malam. Masa kita makan, nanti kalau aku gendut bagaimana?” keluh Kinan.
“Ya ampun, Non. Sekali-kali juga nggak pa-pa. Nggak tiap hari juga,” sahut Bik Ira.
“Iya, kamu ini bagaimana. Ini ‘kan untuk merayakan ulang tahun kakakmu," ujar Ayman yang ikut kesal dengan keluhan gadis itu.
__ADS_1
“Tapi, aku bentar lagi akan nikah. Nanti kalau aku gendut bagaimana? Kan, malu nanti.”
“Kakak biayain senam buat ngurusin badan kamu. Yang penting sekarang kita semua makan,” ucap Ayman.
“Kakak mah gitu. Aku juga bisa biayain senam, iya kalau bisa kurus, kalau nggak bagaimana?”
“Nggak bakalan. Sudah, kamu terlalu banyak protes. Ayo, cepat makan!"
“Sudahlah, Mas. Jangan dipaksa, kasihan nanti kalau dia gemuk,” sela Zayna membuat semua orang menatapnya.
Kinan merasa tidak enak karena menolak merayakan ulang tahun kakak iparnya. Akhirnya mau tidak mau, gadis itu pun ikut makan juga bersama dengan yang lainnya. Ayman tersenyum melihat adiknya yang akhirnya ikut makan.
“Oh iya, Mas. Kamu tadi belum jawab pertanyaanku. Bukankah kamu bilang pulangnya dua hari lagi? Kenapa sekarang pulang? Apa pekerjaan kamu sudah selesai?” tanya Zayna pada sang suami.
“Sebenarnya belum, Sayang, tapi semua sudah dihandle oleh Ilham. Kamu tenang saja, dia bisa diandalkan.”
“Apa tidak apa-apa, Mas?”
“Kamu tidak perlu memikirkan pekerjaanku. Lebih baik sekarang kita nikmati saja pesta ini.” Zayna pun melanjutkan makannya. Begitu pun dengan yang lainnya.
“Sayang, ini hadiah dari Mama dan Papa. Memang tidak besar, tapi Mama dan Papa berharap kamu menyukainya," ucap Mama Aisyah sambil menyerahkan satu kotak kecil hadiah.
“Terima kasih, apa pun pemberian Mama dan Papa, aku pasti menyukainya. Terima kasih sudah menyiapkan semua ini,” ucap Zayna sambil mengusap air matanya. Semakin acaranya berjalan, justru semakin membuatnya menangis.
“Ini dari aku, Kak. Sebenarnya ini aku belinya pakai uang Papa yang dikasih ke aku, tapi anggap saja ini dari aku karena aku yang membelinya. Kakak 'kan tahu aku belum bekerja, jadi aku pakai uang pemberian Papa," ucap Kinan yang juga sambil menyerahkan kado untuk kakak iparnya.
“Terima kasih, dari siapa pun uangnya, Kakak mengucapkan terima kasih karena kamu juga sudah perhatian sama kakak."
Bik Ira dan Pak Doni tidak mau kalah. Mereka juga memberi kado untuk Zayna. Wanita hamil itu merasa senang karena semua orang perhatian padanya. Tidak peduli seberapa besar kado mereka, yang penting baginya adalah perhatian dan kasih sayangnya.
.
__ADS_1
.