
Setelah menikmati makan siangnya Zayna berniat untuk pulang. Namun, Ayman tidak mengizinkan wanita itu pulang sendiri, jadi dia pun ikut pulang bersama dengan sang istri. Pria itu takut terjadi sesuatu pada Zayna. Padahal wanita itu tidak kenapa-apa.
Zayna mengatai Ayman lebay, tetapi pria itu tidak peduli. Baginya asal istri dan anaknya baik dan sehat sudah cukup. Semua demi mereka. Lagi pula saat ini dia sedang bahagia.
“Memang kamu nggak ada pekerjaan, Mas? Kenapa pulang juga?” tanya Zayna karena melihat sang suami membereskan meja.
“Sudah tidak ada. Aku nggak banyak pekerjaan hari ini.”
“kalau kamu nggak sibuk, kenapa teleponku nggak kamu angkat?” tanya Zayna dengan sinis.
“Ya ampun, Sayang! Aku lupa mengaktifkannya. Tadi ponselku baterainya habis, lalu aku charger dan lupa dinyalain lagi, sampai tadi Ilham ngasih aku beberapa dokumen untuk diperiksa. Nih, kamu lihat sendiri." Ayman menyerahkan ponselnya pada Zayna. Namun, istrinya itu menolak.
“Benar? Mas, nggak lagi bohong, kan?” tanya Zayna dengan memicingkan matanya ke arah sang suami.
“Benar, dong, Sayang. Aku tidak pernah bohong sama kamu. Ya sudah, yuk! Kita pulang sekarang. Aku juga mau ngomong sama Ilham sebentar,” ajak Ayman sambil menggandeng tangan istrinya.
Keduanya keluar dari ruangan bersama. Di depan sudah ada Ilham dan wanita tadi sedang berdiskusi. Sepertinya mereka sedang serius sekali, terlihat jika asisten Ayman itu mengajari dengan sungguh-sungguh.
“Ilham, aku mau pulang dulu. Untuk pekerjaanku hari ini, kamu yang handle saja. Kalau ada pertemuan penting atau ada sesuatu lainnya yang penting, tunda saja sampai besok,” ucap Ayman yang sudah berdiri di depan mejanya.
“Baik, Pak. Akan saya laksanakan.”
“Terima kasih, saya pergi dulu. Kalian tidak usah lembur hari ini, langsung pulang setelah pekerjaan selesai.”
“Iya, Pak,” sahut Ilham.
"Ayo, Sayang!" ajak Ayman yang kemudian menarik tangan sang istri.
Keduanya meninggalkan perusahaan dengan menggunakan mobil pria itu. Sepanjang perjalanan tangan Ayman tidak melepaskan genggamannya pada sang istri, kecuali saat memindahkan gigi mobil. Zayna pun tidak keberatan akan hal itu. Dia malah senang diperlakukan seperti itu.
“Kamu mau mampir ke mana dulu, Sayang? Barangkali kamu mau membeli sesuatu?” tanya Ayman setelah sesaat terdiam.
“Aku sih nggak pengen apa-apa, Mas, tapi lihat kiri-kanan dulu, barangkali ada makanan yang enak.”
__ADS_1
“Iya, nanti kalau ada yang suka, kamu bilang saja.”
“Bolehlah dibawa pulang. Di rumah juga ada Mama.”
“Memang kamu mau beli apa buat Mama?”
Zayna terlihat berpikir sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Namun, tidak ada sesuatu yang dia sukai. “Beli bakso saja, Mas. Sepertinya enak. Tempatnya ada di sana. Agak belok sedikit sih nggak apa-apa, kan, Mas?”
“Iya, nggak apa-apa sekalian beli buat yang lain juga.”
“Kamu sendiri, mau nggak, Mas?”
“Boleh, tapi jangan terlalu pedas.”
“Iya, biar sambalnya dipisah saja, ya!” ucap Zayna yang diangguki oleh Ayman.
Pria itu pun melajukan mobilnya menuju tempat penjual bakso yang dimaksud istrinya. Untung saja ini sudah lewat makan siang, jadi tempatnya tidak begitu ramai. Setelah selesai membeli bakso, keduanya pun pulang menuju rumahnya.
Jalanan yang tidak begitu ramai, membuat mereka jadi cepat sampai. Begitu masuk ke halaman rumah, tampak ada sebuah mobil terparkir di depan pintu. Ayman sama sekali tidak tahu itu mobil siapa. Dia juga baru kali ini melihatnya. Pria itu tiba-tiba merasa tidak enak. Ayman berpikir, pasti akan ada masalah setelah ini.
“Iya, Sayang, tapi aku nggak tahu itu mobil siapa. Mungkin teman Mama. Ayo, kita masuk saja!”
Keduanya memasuki rumah yang tidak tertutup itu. Ayman dan Zayna bisa mendengar pembicaraan orang-orang yang ada di ruang tamu. Hanya ada suara wanita yang terdengar.
“Assalamualaikum,” ucap Ayman dan Zayna bersamaan.
“Waalaikumsalam,” sahut semua orang yang ada di ruang tamu.
Ternyata memang benar tamu mama Aisyah. Namun, kedatangan tamu itu membuat hati Zayna kesal. Bagaimana tidak kesal jika tamunya adalah Wina dan seseorang yang tidak dia kenal. Namun, tidak mungkin Zayna menunjukkan ketidaksukaannya. Wanita itu terus saja tersenyum meski ingin sekali dia marah.
“Ayman, kamu sudah pulang?” tanya Indri—tantenya Wina.
“Iya, Tante. Oh, iya, kenalin ini istriku, namanya Zayna," ucap Ayman pada Indri kemudian beralih pada istrinya. "Sayang, ini Tante Indri—tantenya Wina."
__ADS_1
Zayna mengulurkan tangannya. Namun, Wanita itu hanya bersalaman sekilas saja, bahkan tidak melihat wajahnya. Hal itu tentu saja membuat istri Ayman merasa tidak dihargai di sini. Kekesalannya jadi semakin bertambah.
“Ayo, duduk dulu Ayman! Kita berbincang-bincang sejenak," ajak Tante Indri.
“Iya, Tante. Ayo, Sayang? Kita duduk dulu,” ajak Ayman pada istrinya.
“Tidak perlu, Mas. Aku mau bawa ini ke dalam. Nggak enak juga kalau kelamaan,” tolak Zayna dengan menunjukkan kantong kresek sambil tersenyum.
Wanita itu pun berlalu menuju dapur, setelah berpamitan pada semua orang. Begitu sampai dapur, dia memberikan satu kantong kresek berisi bakso pada Bik Ira dan memintanya membagi dengan yang lain. Zayna memilih pergi menuju kamarnya. Lebih baik dia membersihkan tubuh dan beristirahat, daripada harus memikirkan tamu yang tidak ada urusan dengan dia sedikit pun.
Sementara itu, di ruang tamu, mereka berbincang-bincang hingga tantenya Wina mengutarakan niat kedatangannya ke sini. Dia tidak ingin lama-lama memendam semuanya.
“Ayman, Tante ke sini atas perintah almarhum kedua orang tua Wina untuk bicara denganmu,” ucap Indri.
“Almarhum kedua orang tua Wina? Maksud, Tante, mereka sudah meninggal?” tanya Ayman yang terkejut mendengarnya.
Bagaimana tidak, dia sama sekali tidak pernah mendengar kabar mereka selama ini. Bahkan Mama Aisyah juga sudah lama tidak pernah membicarakan mereka. Sekarang tiba-tiba mendapat kabar mengejutkan seperti ini.
“Iya, satu bulan yang lalu mereka mengalami kecelakaan. Bahkan Wina juga ikut terlibat dalam kecelakaan itu. Kami bersyukur, Tuhan masih menyelamatkannya."
“Innalillahiwainnailaihirojiun. Kenapa tidak ada yang memberitahu ke sini? Apa Mama tahu kejadian ini?” tanya Ayman pada Mama Aisyah.
“Tidak. Mama juga baru tahu.”
“Iya, kami baru beri kabar ke sini hari ini karena ponsel kedua orang tua Wina, dan Wina ikut terbakar di dalam mobil, jadi kami tidak memiliki kontak keluarga ini.”
Indri pun menceritakan kecelakaan yang menimpa keluarga Wina. Saat itu mereka pulang dari liburan. Di pertengahan jalan, tiba-tiba ada truk yang melaju dengan kecepatan tinggi ke arah mereka. Ayah Wina yang saat itu sedang menyetir sempat menghindar. Namun, malah berakibat fatal dengan menabrak mobil lainnya.
Wina yang saat itu berada di belakang terlempar ke luar. Sementara kedua orang tuanya masih berada di dalam. Mobil mereka terguling beberapa kali hingga akhirnya meledak. Wina melihat itu menjadi histeris, dia tidak mempedulikan luka di tubuhnya karena luka yang ada di dalam hatinya jauh lebih sakit.
.
.
__ADS_1
Maaf, ya! kemarin nggak up soalnya draftnya hilang. Jadi harus buat lagi.