Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
61. Zanita pelakunya


__ADS_3

Zayna menangis dalam pelukan sang suami. Dia merasa lega, akhirnya setelah dua hari pindah ke ruang rawat inap, Papa Rahmat membuka matanya. Begitupun dengan Mama Savina yang baru saja datang. Tadi Zayna menghubungi mamanya. Segera wanita itu pun datang ke rumah sakit bersama dengan Zivana.


Setiap hari memang Mama Savina selalu pulang di sore hari dan akan datang di saat pagi. Sementara Zanita sendiri tidak pernah datang sejak hari itu. Semua orang tidak ada yang mempermasalahkan hal itu. Mereka pikir Zanita sibuk di rumah mertuanya.


"Terima kasih, Dok. Berkat bantuan dokter juga papa mertua saya bisa membuka matanya," ucap Ayman yang masih memeluk sang istri.


"Sama-sama, itu memang tugas saya. Kalau begitu saya permisi. Nanti saya akan datang saat waktu pemeriksaan."


"Terima kasih, Dok," ucap Mama Savina yang diangguki dokter sambil berlalu.


Mereka semua kembali masuk ke dalam kamar yang ditempati oleh Papa Rahmat. Terlihat pria itu sedang duduk bersandar. Zayna segera mendekati papanya dengan wajah sembabnya, tetapi senyum terus saja menghiasi bibir itu.


"Papa, bagaimana keadaan Papa sekarang? Mana yang sakit?" tanya Zayna.


"Papa tidak apa-apa," jawab Papa Rahmat. "Apa kamu terluka?"


"Tidak, aku tidak apa-apa. Papa yang sudah sampai seperti ini karena menolongku," ucap Zayna dengan mata berkaca-kaca.


"Itu sudah kewajiban seorang ayah untuk melindungi anaknya. Papa juga tidak pernah menyesali hal itu. Papa minta maaf, selama ini sudah bersikap tidak adil terhadapmu. Selama Papa tidur, banyak sekali hal yang terjadi dan itu membuat Papa sadar, jika semua itu terjadi karena Papa yang tidak bisa adil terhadap kalian. Selama ini kamu selalu melakukan semua tanggung jawab di rumah, tapi Papa tidak pernah menghargaimu. Malah bersikap semena-mena terhadapmu."


"Papa jangan bicara seperti itu. Aku senang Papa bisa sembuh. Aku harap Papa tidak lagi melakukan hal seperti kemarin. Papa membuatku tidak bisa hidup dengan tenang."


"Jangan jadikan beban apa yang Papa lakukan. Bahkan jika waktu diulang pun, papa akan tetap menyelamatkan kamu. Hanya itu yang bisa Papa lakukan dan Papa tahu kalau anak Papa ini wanita yang kuat."


"Sudah, Pa, sebaiknya Papa istirahat saja. Papa baru saja sadar."


Papa Rahmat mengangguk kemudian menatap sang istri. Pria itu tersenyum melihat wajah Savina yang juga sembab. "Maaf, sudah membuatmu khawatir."


"Tidak masalah, asal Papa kembali sadar, itu sudah cukup buatku. Aku juga minta maaf. Beberapa hari ini aku selalu membuat Papa kesal," sahut Mama Savina dengan suara seraknya.


"Papa juga sering membuat Mama marah. Maafkan papa!"

__ADS_1


"Tidak, Papa tidak salah jadi, tidak perlu meminta maaf," ucap Savina sambil menggenggam telapak tangan sang suami.


Pada saat sang suami terbaring tidak berdaya. Savina melihat bayang-bayang kesalahannya selama ini kembali ke permukaan. Setelah banyak berpikir, tidak ada satu kebaikan pun dalam dirinya yang pantas diingat. Semuanya hanya kesalahan, terutama kepada Zayna.


Wanita itu merasa sangat bersalah kepada putri sambungnya itu. Padahal selama ini Zayna sudah sangat baik kepada dirinya dan kedua putrinya. Rasa bencinya terhadap almarhumah Aisyah, dia lampiaskan pada Zayna.


Savina juga takut jika sang suami akan lebih menyayangi putri kandungnya daripada Zanita. Akan tetapi, justru dirinyalah yang membuat kesalahan. Hingga membuat kedua putrinya menjadi manja dan suka bersikap seenaknya. Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, tetapi sungguh itu tidak mungkin.


*****


"Bagaimana keadaan papamu, Zanita?" tanya Papa Ma'ruf saat mereka tengah menikmati sarapan.


"Tadi pagi mama Savina telepon, katanya papa sudah sadar."


"Kamu tidak ingin ke sana?"


"Saya akan me—"


"Sebentar, biar Mama yang buka," ucap Lusi yang kemudian beranjak ke depan. Tidak lama, dia kembali lagi memanggil menantunya.


"Zanita, di depan ada yang memanggilmu," ucap Mama Lusi dengan gugup sekaligus kebingungan.


"Siapa, Ma, yang manggil? Kenapa Mama gugup begitu?" tanya Papa Ma'ruf.


"Papa lihat saja sendiri. Papa juga pasti akan terkejut."


Semua orang yang ada di sana saling pandang. Mereka semakin penasaran siapa yang datang di pagi hari. Apalagi sampai membuat Mama Lusi seperti itu. Papa Ma'ruf pun berjalan ke depan diikuti semuanya. Benar saja mereka terkejut, ternyata di depan pintu sudah ada dua orang memakai seragam polisi.


"Selamat pagi, Pak. Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Ma'ruf pada dua orang tersebut. Sama seperti istrinya, sebenarnya dia gugup. Hanya saja pria itu mencoba terlihat biasa saja.


"Selamat pagi, Pak. Kami mencari saudara Zanita. Apa benar dia tinggal di sini?" tanya salah satu orang itu.

__ADS_1


"Oh, iya, itu menantu saya. Ini orangnya," ucap Papa Ma'ruf sambil menunjuk ke arah Zanita. Yang ditunjuk pun terkejut. Tubuhnya gemetar, tidak tahu harus berbuat apa.


"I—iya, Pak. A—ada apa, ya?" tanya Zanita yang tengah gugup.


"Maaf saudari Zanita. Kami ingin membawa Anda karena Anda terbukti menjadi tersangka tabrak lari atas saudara Bapak Rahmat. Papa Anda sendiri," ucap polisi tersebut dengan tegas.


Tentu saja hal itu mengejutkan semua orang. Mereka tahu mengenai kejadian itu dan tidak menyangka jika pelakunya adalah Zanita. Padahal wanita itu adalah anak dari Rahmat. Kenapa dia begitu tega melakukan ini pada pria itu?


"Pak, apa Anda tidak salah tangkap? Rahmat itu papanya," sela Papa Ma'ruf. Dia sangat terkejut mendengarnya. Selama ini yang pria itu tahu adalah Zanita putri kesayangan besannya. Bagaimana bisa menantunya melakukan itu?


"Tidak, Pak. Sebaiknya saudari Zanita menjelaskan di kantor polisi saja. Anda juga bisa bertanya di sana."


"Tidak! Aku tidak mau ikut ke sana! Aku tidak melakukan apa-apa. Kalian jangan mencoba memfitnahku!" seru Zanita. Sampai kapan pun dia tidak mau pergi ke tempat itu.


"Maaf, mohon kerja samanya. Jika Anda memang tidak bersalah, Anda bisa membawa pengacara Anda sekaligus bukti untuk menyangkal tuduhan itu. Untuk saat ini mohon ikut bersama kami."


"Tidak! Aku tidak mau!"


Zanita akan melarikan diri. Untung saja polisi yang satu lagi dengan sigap menangkap wanita itu dengan cepat. Tangannya pun terpaksa diborgol agar tidak melarikan diri. Zanita mencoba memberontak. Dia tidak terima diperlakukan seperti itu karena dirinya bukanlah orang jahat.


"Mas, tolong selamatkan aku. Aku benar-benar tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Aku tidak mungkin mencelakakan papaku sendiri. Mereka sudah memfitnahku. Pasti ini kerjaan Zayna. Dia tidak terima karena aku sudah merebut kamu darinya," ucap Zanita. Namun, Fahri sama sekali tidak menjawab. Pria itu masih berdiam diri di tempat. Dia masih terkejut dengan apa yang sudah dia lihat pagi ini.


Melihat keterdiaman Fahri, membuat hati Zanita terluka karena laki-laki itu tidak mempedulikannya. Dia tertawa miris, menertawakan kehidupannya yang kacau. Semua berawal dari rasa irinya saat melihat Zayna bahagia dan tertawa.


Polisi pun membawa paksa wanita itu dengan memasukkannya ke dalam mobil. Zanita yang semula memberontak, kini hanya diam saja. Apalagi melihat keluarga sang suami sama sekali tidak ada yang berusaha untuk membelanya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2