
Beberapa waktu sebelumnya...
"Ali? Sudah mau berangkat, nak?" tanya Bu Nur ketika matanya melihat derap langkah kaki sang anak yang kini sudah siap dengan setelan khas mengajar di pesantrennya itu.
Ali yang memang sudah biasa disambut seperti itu oleh sang Ibu pun, tampak mengembangkan senyuman hangatnya.
"Iya, Bu. Sebentar lagi jam mengajar sudah dimulai. Ali izin pamit untuk pergi ke pesantren," balas Ali dengan tutur katanya yang terdengar begitu lembut dan sangat santun.
Bu Nur pun membalas senyuman hangat sang anak dengan senyuman miliknya yang tak kalah indah dari anaknya itu.
Tampak setelah itu, Bu Nur menatap ke arah belakang Ali seakan mencari sesuatu yang seharusnya juga ikut bersama dengan Ali.
"Ali? Kamu sendirian kesini?" tanya Bu Nur terlihat sangat bingung.
Ali yang seolah paham kemana arah pembicaraan dari Ibunya itu lantas menatap sejenak ke arah belakangnya sebelum akhirnya ia kembali fokus kepada sang Ibu.
"Mungkin Aina lagi sibuk di dalam, Bu. Gak apa-apa, Ali juga kan selama ini biasanya diantar pergi sama Ibu. Jadi, gak masalah kalau memang Aina sekarang lagi ada urusan yang harus ia kerjakan," balas Ali kembali menutupi kesalahan dari Aina yang mungkin lupa dengan tugas yang seharusnya ia lakukan setiap harinya.
Tak mengapa, Ali memahami gadis itu yang memang pasti tidak mudah untuk beradaptasi dengan lingkungan barunya. Meski Ali sedikit merasa kecewa karena sang istri tidak mengantarkannya pergi namun Ali tau istrinya itu masih harus belajar banyak hal. Yang pasti, Ali tetap merasa salut akan keinginan Aina untuk mengikuti ritme kehidupan yang sungguh jauh berbeda dengan kehidupan gadis itu sebelumnya.
"Gak bisa dibiarin! Istri kamu itu, gak akan bisa paham kalau dia gak dimarahin dulu. Dia itu bukan lagi anak kecil yang kalau apa-apa harus diarahkan, Ali. Seharusnya dia sadar tugasnya sebagai seorang istri. Meski ini hanyalah hal kecil tapi ini adalah kewajiban yang harus ia lakukan. Ibu dari awal memang sudah menduga semuanya pasti akan seperti ini. Sejujurnya, Ibu sama sekali gak setuju kamu menikahinya. Gadis itu selamanya tidak akan per.."
Belum usai Bu Nur melanjutkan ucapannya, Ali lantas menggenggam tangan sang Ibu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
"Ibu, udah ya. Bagaimanapun juga sikap Aina saat ini. Hal itu gak akan merubah status dia yang merupakan istri sah Ali sekarang. Mungkin, dia butuh waktu untuk menerima semua ini dan beradaptasi dengan semuanya. Bukan hal yang mudah buat dia berada dilingkungan yang sangat baru baginya ini. Sudah ya, Bu. Jangan kayak gitu lagi. Aina istri sah Ali sekarang," tegas Ali tidak ingin sampai Ibunya justru melewati batasnya.
Mendengar kalimat tegas yang dikatakan oleh Ali itu membuat Bu Nur tidak memiliki pilihan lain lagi. Ia lantas menutup mulutnya rapat-rapat, berdebat dengan anaknya itu tidak akan pernah ada ujungnya memang.
"Ya udah, Ali berangkat dulu ya, Bu. Titip Aina dan yang lain. Sabar, Ibu. Nanti kelak Aina juga pasti akan paham dengan apa saja yang harus ia lakukan. Ali pamit sekarang," tutur Ali kembali yang hanya dibalas anggukkan oleh sang Ibu.
Saat Ali baru saja akan mengucapkan salam pamitnya, tiba-tiba saja seorang gadis berlari cepat seraya memanggil namanya.
"Mas Ali! Tunggu! Bentar! Ini!" teriaknya seraya mulai berlari kecil.
Ali pun tersenyum menyambut kedatangan gadis itu. Ali paham, pasti panggilan gadis itu untuk memberikannya sesuatu.
"Mas gak coba-coba buat lupa bawa bekal, kan? Nih! Ambil! Masa iya udah dibuatin malah gak dibawa. Gak usah bikin Fiyani jadi kesal deh, Mas. Kan udah Fiyani ingetin kalo tiap hari Fiyani bakalan bawain Mas Ali makanan," ucap Fiyani seraya menyodorkan sebuah kotak makan ke arah sang kakak.
Ali pun tersenyum, menyambut ramah kotak nasi, bekal untuknya bekerja itu.
"Terima kasih adik Mas yang paling cantik sedunia ini. Mas gak lupa kok makanya ini tadi kan sempet ngobrol sama Ibu juga. Sebenarnya tadi sengaja memperlambat salam pun juga biar kamu peka sih buat buru-buru kasih bekalnya ke Mas. Untung deh kamu orangnya cepat tangkap. Jadinya udah langsung dibawain makanan aja nih sama kamu," balas Ali sengaja menggoda sang adik.
Fiyani yang mendengarnya pun lantas mengembangkan senyuman lebarnya. Fiyani merasa senang karena makanannya disambut ramah oleh kakaknya.
"Lihatlah ini, Ali. Seharusnya membuatkan bekal ini bukan tugas dari adikmu lagi. Melainkan semua ini tugas dari istrimu itu. Tapi, dengan seenaknya bak seorang ratu di rumah ini, dia justru mengabaikan tugas penting ini," ucap Bu Nur terdengar seperti sengaja ingin mencuci otak anaknya itu sendiri.
Ali yang paham jika sang Ibu mengatakan semua itu karena keterpaksaan sang Ibu terhadap pernikahannya membuat Ali sekarang tampak hanya mampu mengembangkan senyumannya.
__ADS_1
"Bu, udah ya. Semua juga udah terjadi. Pasti ada rencana yang terbaik dari Allah untuk hidup Ali setelah ini. Makanya Allah sengaja membuat Ali menikah dengan Aina. Ali juga sudah mengatakan pada Ibu, bagaimanapun Aina. Dia itu istri Ali, yang artinya juga menantu Ibu. Ya udah, Ali berangkat sekarang ya. Ali takut terlambat jika terlalu lama di sini. Ali pamit. Assalamualaikum," papar Ali seraya berpamitan pada Ibu dan Adiknya.
Bu Nur yang memang sudah dirayapi dengan amarahnya karena Aina tidak menjalankan tugas sebagai istrinya yang sesuai dengan keinginan Bu Nur, membuat wanita paruh baya itu langsung mengangkat satu keranjang berisikan penuh pakaian kotor itu, membawanya menuju kamar Aina.
Tanpa mengetuk pintu, desiran panas di dalam tubuh Bu Nur pun semakin menjadi-jadi ketika ia melihat bagaimana Aina yang tampak berleha-leha, seolah baru saja bangkit dari tepian tempat tidurnya.
Bu Nur pun langsung saja menghempaskan keranjang itu dan memerintahkan dengan tegas untuk Aina pergi ke belakang. Dalam waktu 30 menit, Aina sudah harus selesai mencuci semua tumpukan pakaian kotor yang terlihat mustahil bisa diselesaikan dalam waktu singkat itu.
"Tapi, Bu. Apa mungkin bisa diselesaikan dalam waktu segitu? Sebelumnya juga tadi Aina lihat ada dua keranjang dengan tumpukan pakaian yang penuh lagi di sana. Apa Aina akan bekerja di sana sendirian? Apa tidak sebaiknya kita menyewa jasa laundry saja? Biar semuanya dikerjakan dengan cepat oleh tenaga kerja mereka. Aina bisa menelpon langganan laundry rumah Aina kalau memang Ibu mau," balas Aina membuat raut wajah Bu Nur tampak berubah semakin menyeramkan.
Melihat jari-jemari Aina yang mulai bergerak lincah ingin menelpon para laundry itu membuat Bu Nur langsung merampas cepat ponsel itu dari tangan Aina.
"Tidak perlu. Lagi pula, jika tenaga manusia masih menganggur di sini lantas untuk apa kita meminta bantuan kepada orang lain? Keluarga kami tidak sekaya keluargamu, Aina. Ada banyak kebutuhan yang lebih diprioritaskan daripada keinginan," balas Bu Nur membuat Aina tidak melihat peluang dari semuanya lagi.
Aina pun mengangguk, segera mengangkat keranjang itu menuju belakang.
Dari awal, Bu Nur sama sekali tidak setuju dengan pernikahan Ali dengan Aina. Bu Nur sebenarnya sudah memiliki wanita pilihannya untuk dijodohkan kepada sang anak, namun terpaksa harus ia kubur dalam-dalam hal itu ketika Kyai Hasan yang telah mengusulkannya.
Aina yang tidak berasal dari pesantren serta pakaian terbuka yang semula digunakan oleh Aina membuat Bu Nur semakin tidak setuju.
Meski setelah menikah ini Aina telah menutupi auratnya. Namun, tetap saja ada rasa yang berbeda menurut Bu Nur.
"Ibu! Ibu! Ada temannya Mas Ali, nih! Menantu idaman versi Ibu waktu itu!" teriak Fiyani yang membuat Bu Nur langsung teringat akan satu nama.
"Baik! Ibu segera ke sana!" balas Bu Nur seraya tersenyum lebar.
Aina juga tidak mengerti mengapa juga mertuanya itu memberikan batas waktu dalam Aina mengerjakan semua pekerjaan rumah yang dalam pikiran Aina tidak bisa diselesaikan dengan batas waktu yang telah ditentukan oleh Bu Nur itu.
Hembusan nafas yang begitu panjang pun terdengar keluar sempurna dari mulut Aina. Seketika cairan bening pun mengembun sempurna di kedua bola matanya.
Aina merasa sedih ketika sekarang hidupnya justru berubah sangat drastis, padahal dulu ia sama sekali tidak pernah melakukan hal ini.
"Kenapa mesin cuci pun gak ada di sini sih? Gimana caranya nyuci baju kalo mesin cuci aja gak ada? Ya Allah, kenapa engkau memberikan aku ujian seberat ini. Ya Allah, tolong turunkan mesin cuci dari langit sekarang juga! Aina benar-benar lagi membutuhkannya sekarang!" doa Aina yang terdengar begitu konyol.
Mendengar sesuatu telah terjatuh, membuat Aina buru-buru membuka kedua bola matanya, harap-harap jika yang terjatuh sekarang adalah mesin cuci seperti yang sudah ia doakan kepada Allah itu.
Namun, sekarang Aina harus menelan pil yang sangat pahit. Karena yang terjatuh di dekatnya itu bukanlah mesin cuci melainkan sebuah sabun cuci baju berukuran besar dan juga pengharum baju yang Aina juga tidak mengerti untuk apa kedua benda itu.
Yang pasti, Aina hanya bisa membaca merek dari kedua benda itu tanpa tau apa fungsinya.
"Dulu, kamu lakuin apa aja sih di rumah sampai gak ngerti gimana caranya nyuci baju tanpa mesin cuci gini? Aku yakin, pasti kamu juga gak tau kan apa kedua barang yang baru saja aku jatuhkan itu?" tutur Fiyani menanyakan kepada kakak iparnya itu.
Melihat raut wajah meremehkan dari wajah adik iparnya itu membuat hati Aina terasa memanas. Ingin sekali ia mengatakan jika apa yang Fiyani katakan itu memang benar, namun Aina kembali berpikir jika ia melakukan itu pasti gadis itu akan langsung menertawakan dirinya hingga puas.
Tidak! Aina tidak boleh melakukan hal itu. Bagaimanapun juga harga dirinya jauh lebih penting di hadapan gadis yang memang sedari awal tidak suka dengannya sama dengan Ibu mertuanya itu.
"Tau! Itu cuman Daia dan Molto, mana mungkin aku tidak tau apa fungsi kedua benda itu. Jika ingin meremehkan aku, pikir-pikir dulu deh, ya. Memang di rumah aku tidak pernah melakukan apapun karena di sana kami memiliki pembantu yang akan menyelesaikan pekerjaan rumah kami. Aku memang merasa kaget ketika di sini harus melakukan semuanya sendiri tanpa adanya bantuan dari asisten rumah tangga. Tapi, aku juga tidak menampikkan satu hal sih. Bagaimanapun juga, kalau kata Ibu mertua, garis besarnya yang aku tangkap. Keluarga ini tidak bisa membayar jasa asisten rumah tangga, sangat berbeda jauh dengan keluargaku. Bahkan rumah ini pun tidak ada bandingannya juga dengan rumahku," balas Aina yang ingin sekali ia mengatakan semua kalimat itu kepada gadis di hadapannya.
__ADS_1
"Hey! Kamu kenapa diam saja?! Memang tidak tahu atau bagaimana?" tanya Fiyani menyadarkan Aina dari lamunannya.
Aina yang tidak ingin mencari masalah dengan keluarga sang suami pun lantas memilih untuk menyimpan dalam-dalam unek-unek yang padahal ingin sekali ia ledakkan sekarang juga.
"Aku tau, Fiyani. Kamu tidak perlu khawatir, di kemasan Daia dan Molto kan juga sudah tertulis apa kegunaannya. Jadi, mustahil jika aku tidak tau apa kegunaan dari keduanya," balas Aina setenang mungkin. Ia berusaha agar tidak ada mengeluarkan kata-kata yang nantinya akan menyakiti gadis belia itu.
Meski Aina sudah menjawabnya dengan kalimat yang santun sekali pun, nyatanya gadis itu masih memasang raut wajah kesalnya sekarang. Entah mengapa bisa, gadis itu justru terlihat sangat membencinya. Padahal Aina sama sekali tidak pernah mengibarkan bendera perang dengan gadis itu.
"Terserahmu saja. Entah kamu tau atau tidak, aku juga gak peduli. Silahkan selesaikan pekerjaanmu atau Ibu akan marah besar karena melihat pekerjaanmu yang lelet ini," balas Fiyani sebelum akhirnya gadis itu pun berlalu pergi, meninggalkan Aina.
Aina lantas menghela nafasnya, mencoba untuk tetap bersabar meski hatinya meronta-ronta untuk mengamuk. Aina memang sengaja mengalah karena ia tidak ingin mencari masalah atau sampai masalah itu nantinya sampai di telinga Ayahnya yang justru malah mengundang masalah besar.
"Udah! Semangat Aina! Mending sekarang aku kerjakan semuanya sampai tuntas. Kalo gak tau gimana caranya, kan kamu punya ponsel yang sudah super duper canggih, lalu apalagi yang kamu pikirkan coba? Ya udah, mending sekarang aku Google in dulu apa kegunaan dari Daia dan Molto ini," gumam Aina pelan yang langsung mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya.
Akan tetapi, ketika Aina baru saja membuka laman Google itu, tiba-tiba saja Aina teringat akan satu hal.
Aina ingat jelas bagaimana tadi Ali justru membalas pertanyaannya dengan wajah yang tampak terlihat aneh. Buru-buru Aina pun mengetikkan arti dari pertanyaan yang sebelumnya ia ajukan kepada Ali.
"Kenapa ya Mas Ali bisa berubah aneh gitu tadi. Emang apa sih artinya dari ana uhibbuka fillah, kayaknya gak ada yang spesial deh. Palingan juga kalimat buat penyemangat hari kan ya? Nah, ini sudah muncul. Artinya itu adalah..."
Kedua bola mata Aina pun membulat sempurna ketika ia menangkap arti yang tertera pada Google itu. Aina benar-benar tidak bisa berpikir dengan jernih lagi sekarang.
Tak heran jika tadi Ali justru terlihat aneh ketika ia mengatakan pertanyaan itu. Demi apapun, pasti jika ia kembali bertemu dengan Ali, Aina benar-benar tidak bisa menunjukkan wajahnya sekarang.
"Mampus! Mas Ali pasti akan menertawakan aku terus. Kenapa ceroboh banget sih Aina! Gini nih kalo terlalu sok buat jadi orang arab. Jadi salah ngasih pertanyaan kan!" tutur Aina merutuki kebodohannya itu.
Aina pun lantas segera mencuci semua pakaian kotor itu, tujuannya hanya dua, agar dirinya tidak dimarahi oleh ibu mertuanya dan juga menghapus ingatannya akan kebodohan pertanyaannya.
Aina lalu mulai mengerjakan semuanya dengan cekatan dan cepat. Aina tidak akan membiarkan jika dirinya sampai dimarahi lagi oleh Bu Nur. Sesekali Aina meratapi nasibnya yang terkesan sengaja dijadikan babu oleh keluarga suaminya itu.
Berulang kali, Aina pun mengingat bagaimana hidupnya yang sangat enak ketika masih berada di rumah keluarganya. Dulu, ia sama sekali tidak perlu repot-repot untuk melakukan ini. Semua pembantunya memiliki tugas masing-masing untuk menyelesaikan semuanya.
Setelah berhasil menyelesaikan cuciannya hingga kepada menjemurnya, Aina pun kembali diperintahkan oleh sang mertua agar membersihkan seluruh rumah keluarga sang suami hingga ke sudut-sudut rumahnya.
Ingin sekali rasanya Aina meneteskan air matanya, berkoar-koar mengatakan jika ia telah lelah sekarang dan ingin istirahat. Ia ingin mengatakan kepada Bu Nur dan juga adik iparnya itu jika posisinya di rumah ini adalah istri bukan malah menjadi pembantu baru mereka.
Ingin sekali rasanya Aina melakukan hal itu, namun pesan yang disampaikan oleh Ibu Aina membuatnya mengurungkan semua itu.
"Rumah mertuamu nanti itu artinya rumah kamu juga. Kamu memiliki tanggung jawab yang sama akan rumah itu. Mertuamu itu, dia juga orang tuamu, Nak. Jangan sesekali menyakiti hatinya ya," pesan Zayna kepada anaknya itu.
Aina pun segera menepis semuanya, secepat mungkin menyelesaikan semua pekerjaan rumahnya.
Beberapa saat kemudian, senyuman pun mengembang di wajah Aina. Buru-buru ia melangkah menuju kamarnya untuk beristirahat setelah rasanya tubuhnya seperti remuk karena dipaksa melakukan banyak kerjaan oleh ibu mertuanya.
"Akhirnya.. aku bisa istirahat juga," gumam Aina merasa begitu bahagia.
Namun, lagi-lagi sesuatu terjadi. Ketika Aina baru saja akan memasuki kamarnya, sebuah suara menghentikannya.
__ADS_1
"Apa-apaan ini, Aina?! Mau kemana kamu? Cepat ke dapur dan masak!" tegas Bu Nur tak terbantahkan.