
"Mas, katanya kamu mau ke rumah sakit? Kenapa masih di rumah?" tanya Zayna pada sang suami yang sedang memainkan ponselnya.
"Nggak jadi, Sayang. Tadi aku telepon Papa, katanya sekarang Kinan baik-baik saja. Sebentar lagi juga Papa sama Mama pulang, nanti kita tanya sama mereka. Besok baru kita jenguk Kinan bersama,” jawab jawab Ayman.
"Tadi papa nggak bilang apa-apa, mengenai keadaan Kinan, Mas?" tanya Zayna lagi. Dia masih ingin tahu benar keadaan adik iparnya.
"Tadi papa nggak ngomong apa-apa, cuma bilang kalau keadaan Kinan baik-baik saja, nggak tahulah, Sayang. Aku sebenarnya juga khawatir sama Kinan, tapi kita berpikir positif saja kalau Kinan baik-baik saja."
Zayna mengangguk dan berkata, "Aku hanya takut, kalau kecelakaan yang Kinan alami itu memang disengaja sama orang. Kamu 'kan tahu banyak yang tidak suka dengan pernikahan Kinan dan Hanif. Banyak yang iri padanya. Padahal Tuhan yang sudah menjodohkan mereka."
Ayman membenarkan apa yang dikatakan istrinya. Selama ini dia juga mendengar hal itu, hanya saja pria itu berpura-pura tidak tahu. Kinan juga tidak pernah mengatakan apa pun karena adiknya bukanlah orang yang suka mengadu.
"Aku juga sering mendengar hal itu, tapi mau bagaimana lagi. Kita juga tidak bisa terlalu ikut campur dalam urusan mereka. Aku yakin kalau Hanif bisa menyelesaikan semuanya dengan baik. Dia kan juga pria yang hebat," ucap Ayman dengan memuji adik iparnya.
Zayna mengangguk, dia juga sering mendengar kehebatan Hanif. Namun, sebagai seorang kakak, tetap saja wanita itu khawatir. Meski Kinan hanyalah adik ipar, tetapi Zayna sudah menganggapnya seperti adik sendiri. Bahkan dia lebih nyaman bercerita dengan Kinan, dari para dengan keluarganya sendiri atau orang lain.
Tidak berapa lama suara mobil terdengar berhenti di halaman rumah. Ayman dan Zayna sangat yakin jika itu adalah mobil kedua orang tuanya. Mereka pun keluar dari kamar untuk memastikan hal itu. Keduanya juga ingin mengetahui bagaimana keadaan Kinan yang sebenarnya.
"Cucu Oma belum tidur?" tanya Mama Aisyah begitu memasuki rumah dan melihat Baby Ars masih berada dalam gendongan Zayna. Terlihat bayi itu bergerak-gerak dengan begitu lincah.
"Belum Oma, ini sengaja nungguin Oma karena kangen seharian nggak ketemu," sahut Zayna dengan menirukan suara anak kecil.
"Kangen sama Oma, ya? Sebentar Oma cuci tangan dulu, biar bisa gendong kamu," ucap Mama Aisyah yang kemudian berlalu menuju kamar mandi, untuk mencuci tangan dan kakinya. Dia juga sangat merindukan cucunya dan ingin segera menggendong.
"Bagaimana keadaan Kinan, Pa?" tanya Ayman pada papanya, yang masih bersama dengan mereka.
__ADS_1
Papa Hadi duduk di sofa ruang tamu, diikuti oleh Ayman dan Zayna. Pria paruh baya itu terlihat beberapa kali menarik napas. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengusik pikirannya. Ayman jadi semakin penasaran apa yang terjadi pada adiknya.
"Tadi Kinan hampir saja keguguran. Ada seseorang yang sengaja ingin mencelakainya," ujar Papa Hadi membuat Ayman dan Zayna terkejut.
Tidak ada yang tahu jika Kinan hamil. Sebelumnya adiknya itu pernah mengeluh jika dirinya tidak kunjung hamil. Sekarang Papa Hadi malah mengatakan jika Kinan sedang hamil. Lebih parahnya lagi ada yang sengaja ingin mencelakainya.
Ayman dan Zayna penasaran, siapa orang yang sudah berani bermain-main dengan keluarga mereka. Bukankah itu berarti nyalinya cukup besar. Apa mungkin mereka tidak tahu siapa Kinan sebenarnya. Apa pun alasannya mencelakai orang lain tidaklah benar. Entah siapa pun korbannya, baik Kinan maupun orang lain.
"Maksud Papa apa? Apa Kinan sedang hamil saat ini? Tapi kemarin dia masih mengeluh kalau dirinya tidak kunjung hamil. Aku baru mendengar hal ini." Ayman menatap sang Papa, menunggu jawaban dari pria paruh baya itu.
"Kinan sebenarnya juga tidak tahu kalau dia sedang hamil," selama Mama Aisyah yang baru keluar dari kamar.
Wanita paruh baya itu duduk di samping Zayna dan mengambil alih menggendong cucunya. Baby Ars hanya diam saja sambil mengisap salah satu tangannya.
Mama Aisyah pun menceritakan apa yang dia dengar dan ketahui. Ayman dan Zayna hanya mendengarkan dengan saksama. Mereka cukup terkejut karena masih saja ada orang yang ingin mencelakai adiknya. Padahal sudah jelas-jelas mereka tahu siapa Kinan.
Selain anak dari Papa Hadi, dia juga mempunyai seorang suami yang cukup berpengaruh. Namun, mereka bersyukur bahwa Kinan baik-baik saja. Entah bagaimana jadinya jika terjadi sesuatu, di antara Kinan ataupun calon anaknya. Sudah pasti orang yang melakukannya tidak akan selamat.
Meski saat ini hidup si pelaku tidak tenang, setidaknya mereka masih bisa bernapas. Ayman tidak tahu apa yang akan dilakukan Hanif nanti. Biarlah adik iparnya melakukan yang seharusnya, berharap itu tidak membuatnya dalam masalah.
"Benar-benar kelewatan orang itu. Bagaimana bisa mereka berusaha mencelakai Kinan."
Ayman sangat marah mendengar cerita dari mamanya. Meskipun sebenarnya orang itu tidak berniat mencelakai Kinan, tetapi dari apa yang orang itu lakukan, sudah dipastikan jika dia tidak menyukai adiknya.
"Sudahlah tidak usah dibahas lagi. Semua sudah diurus oleh Hanif, biarlah itu menjadi urusannya saat ini. Mama hanya berdoa agar Kinan bisa segera pulang. Meskipun setelah ini dia harus bed rest, setidaknya anaknya sekarang baik-baik saja," sahut Mama Aisyah yang tidak ingin ada masalah lagi.
__ADS_1
"Kalau dia bed rest, lalu bagaimana dengan kuliahnya, Ma?" tanya Zayna yang sedari tadi hanya diam mendengarkan.
Mama Aisyah mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Kinan juga tidak membahas hal ini. Mungkin dia akan ambil cuti atau mungkin juga bisa online," jawab Mama Aisyah membuat Zayna menganggukkan kepalanya.
Wanita itu sangat tahu jika adik iparnya sangat tidak ingin berhenti kuliah. Itu juga yang awalnya dulu membuat Kinan sempat menolak lamaran Hanif. Adik iparnya itu sangat ingin segera menamatkan kuliahnya. Namun, sekarang harus berhenti begitu saja.
"Ada satu kabar lagi yang ingin Mama sampaikan mengenai keluarga Kinan," ucap nama Aisyah membuat Ayman dan Zayna menatapnya.
Kedua orang itu berharap, apa yang akan disampaikan oleh mamanya bukanlah kabar yang buruk. Cukup kecelakaan Kinan saja yang membuat keduanya tidak tenang. Adiknya baru saja membangun rumah tangga, kasihan jika harus menerima banyak cobaan.
"Kabar apa, Ma?" tanya Ayman.
Mama Aisyah pun menceritakan mengenai rencana Hanif dan Kinan, yang ingin mengadopsi Adam. Ayman dan Zayna hanya bisa mendukung sang adik. Keduanya juga tidak ikut campur dalam urusan rumah tangga adiknya. Meskipun Kinan adalah adiknya, tetapi dia sangat tahu batasan.
Lagi pula Ayman juga sangat mendukung keputusan adiknya untuk mengadopsi Adam. Kasihan anak itu, yang harus hidup dalam keluarga yang tidak mengharapkannya. Apalagi Zayna juga pernah merasakan hal itu, dia yang paling senang diantara semuanya.
"Ini sudah larut, sebaiknya kalian tidur. Lihat Baby Ars baru saja Mama gendong, sekarang sudah tidur saja," ucap Mama Aisyah sambil menatap cucunya yang ada di pangkuannya.
Semua orang melihat ke arah Baby Ars. Benar saja bayi itu sudah tertidur. Sepertinya dia memang benar-benar merindukan omanya. Biasanya wanita paruh baya itu selalu ada di dekat Baby Ars. Namun, seharian ini bayi itu tidak merasakan dekapannya.
Semua orang pun kembali ke kamar masing-masing. Zayna juga mengambil alih Baby Ars, yang berada dalam gendongan sang mertua dan membawanya ke kamar.
.
.
__ADS_1