
"Bagaimana dengan perawat itu, Sayang? Apa pekerjaannya bagus?" tanya Hanif saat mereka ada di kamar. Keduanya bersiap akan tidur.
"Aku masih belum tahu, Mas. Dia juga tadi baru sore mulai kerjanya jadi, masih belum tahu bagaimana cara kerja sebenarnya, tapi untuk sampai detik ini, masih bagus-bagus saja. Benar 'kan kalau dia itu rekomendasi dari dokter, Mas?" tanya Kinan sambil melihat wajah sang suami.
Wanita itu ingin melihat ekspresi Hanif saat mengatakan tentang perawat itu. Jujur dalam hatinya, dia takut jika antara sang suami dan Erin memiliki hubungan. Entah dari mana pemikiran itu berasal. Padahal sebelumnya dia bukan tipe wanita yang pencemburu.
"Iya, Sayang. Tadi pagi-pagi sekali dokter menghubungiku, dia menanyakan bagaimana perkembangan kesehatan kamu, sedangkan aku tidak tahu. Aku juga tidak mengerti perkembangan kondisi kamu sejauh mana. Dokter pun menyarankan untuk mengambil perawat agar nanti, dia bisa menanyakan beberapa hal pada perawat tersebut. Saat itu aku juga sudah menjawab, kalau kamu menolak dengan keberadaan perawat. Dokter pun menjelaskan beberapa hal tentang pentingnya kesehatan kamu jadi, aku memutuskan untuk mengambil perawat itu," ujar Hanif yang diangguki Kinan.
"Jadi dokter langsung menyarankan Erin?"
"Aku menanyakan pada dokter, apa saja syarat untuk seorang perawat yang cocok untuk kamu. Aku takutnya nanti malah ada kesalahan jadi, dokter menyarankan Erin untuk menjagamu."
"Benar cuma itu tidak ada yang lain? Kamu tidak mengenalnya sebelum ini kan?"
Hanif menatap sang istri, dia tidak mengerti arah pertanyaan dari wanita itu. "Memang tidak ada yang lain, Sayang. Apa kamu sudah mengenalnya? Apa dia bukan gadis yang baik?"
"Bukan itu, Mas. Maksudku kamu nggak ada hubungan apa-apa dengan dia, kan?"
Hanif menatap sang istri sambil tersenyum. Pria itu tidak menyangka jika Kinan bisa juga bertanya hal seperti itu. Selama ini hanya dia yang cemburu saat wanita itu dengan pria lain. Termasuk juga dengan dosen istrinya di kampus, tetapi baru kali ini Kinan cemburu padanya.
Tentu saja hal itu membuat Hanif lebih senang. Pria itu merasa bahwa sang istri benar-benar mencintainya karena selama ini, hanya dirinya yang mengatakan kalau dia sudah sangat mencintai wanita itu. Kinan merasa aneh saat melihat senyum istrinya.
"Kenapa kamu malah senyum-senyum padaku? Aku sedang bertanya sama kamu, Mas," tanya Kinan dengan nada ketus.
Dia tidak suka melihat suaminya yang tersenyum. Wanita itu merasa jika saat ini Hanif sedang bahagia, padahal dirinya sedang dilanda dilema. Kinan merasa jika sang suami bahagia dengan keberadaan Erin.
"Aku senang lihat kamu yang cemburu seperti ini," ucap Hanif masih dengan senyumnya.
__ADS_1
Kinan menatap sang suami dengan pandangan sinis. "Siapa yang cemburu? Aku sedang bertanya sama kamu, kenapa malah dibilang cemburu?"
"Meskipun kamu tidak mengakuinya, tapi aku sudah cukup mengerti dengan apa yang kamu katakan."
Kinan terdiam, dia juga tidak mengerti, kenapa dia begitu marah dengan sesuatu, yang belum tentu kebenarannya. Mungkin ini yang disebut mood wanita hamil. Dulu dia sering mengejek sang kakak ipar, yang memiliki mood yang tidak stabil. Kini dirinya yang harus merasakan hal itu. Namun, untuk mengatakan kebenaran pada sang suami pun dia merasa malu.
Kinan merebahkan tubuhnya dengan membelakangi sang suami. Hanif pun mengikutinya dan memeluk wanita itu dari belakang.
****
Pagi-pagi sekali Zayna sudah mengeluarkan isi perutnya di kamar mandi. Dia benar-benar merasa tersiksa, padahal saat hamil Baby Ars tidak seperti ini, tetapi kali ini kenapa malah membuatnya benar-benar tersiksa. Wanita itu juga sering mengeluh pusing. Ayman berencana mengajak sang istri untuk periksa hari ini.
Namun, melihat keadaan Zayna yang seperti itu, dia merasa kasihan jika harus membawanya keluar. Pria itu pun memutuskan untuk menghubungi dokter kandungan. Ayman meminta dokter memeriksa zaina di rumah saja. Untungnya dokter tersebut mau karena memang dia memiliki jadwal praktek siang.
"Sebaiknya kamu istirahat saja, Sayang. Mengenai Baby Ars biar Mama Aisyah yang jaga. Nanti kalau dia haus, bisa sama kamu lagi. Kamu lemas begitu," ucap Ayman yang tidak tega melihat keadaan sang istri.
"Makanya itu, sekarang kamu lagi lemas jadi, lebih baik Baby Ars sama mama dulu. Sebentar lagi juga dokter datang buat periksa kamu. Setelah keadaan kamu baik, baru bisa ajak Baby Ars lagi."
"Kenapa pakai panggil dokter segala, Mas. Aku 'kan bisa ke sana. Aku jadi nggak enak sama dokternya."
"Apa Kamu nggak lihat keadaan kamu seperti ini? Lebih baik dokternya dipanggil, aku juga nggak tega bawa kamu ke rumah sakit. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana? Aku khawatir sama kamu. Lagian kenapa pakai nggak enak segala. Kita juga bayar dokter itu."
"Iya, Na. Kamu jangan ngeyel, sebaiknya ikuti kata-kata suami kamu. Kamu juga jangan khawatirkan Baby Ars. Lihat! Dia dari tadi diam saja, pasti dia mengerti keadaan mamanya," sela Mama Aisyah yang baru saja datang.
"Maaf, ya, Ma. Sudah membuat Mama repot," ucap Zayna yang merasa tidak enak pada mertuanya.
Dia jadi banyak menyusahkan Mama Aisyah. Padahal sebelumnya wanita itu sudah berjanji akan merawat anaknya sendiri, tanpa merepotkan orang lain, termasuk juga mertuanya. Meskipun Mama Aisyah merasa tidak direpotkan, tetap saja Zayna merasa tidak enak. Dia jadi berpikir untuk mencari baby sitter secepatnya, tanpa menunggu anak keduanya lahir.
__ADS_1
"Kamu bicara apa?Ama tidak pernah merasa direpotkan. Baby Ars itu cucu Mama, mana mungkin dia merepotkan."
Tidak berapa lama, dokter yang dipanggil Ayman pun sudah datang. Bik Isa yang tadi membukakan pintu pun, membawanya ke kamar Ayman dan Zayna di lantai dua. Dokter tersebut memeriksa ibu hamil itu dan memberikan beberapa vitamin. Ada yang untuk mengurangi mual, ada juga untuk menambah stamina ibu hamil tersebut. Terlihat wanita itu begitu lesu.
"Selamat, Pak Ayman, untuk kehamilan istrinya. Saya tidak menyangka jika Anda tokcer juga," ucap dokter itu setelah selesai dengan pekerjaannya.
"Anda bisa saja, Dokter. Tuhan memang mempercayakan sama kami dan memberikan kami rezeki yang kedua," jawab Ayman dengan tersenyum.
"Ini vitaminnya, selanjutnya jika masih mual saja, nanti obatnya akan saya ganti yang lain. Anda bisa datang ke klinik saya untuk periksa dan konsultasi di sana."
Dokter mengajak Ayman untuk keluar agar Zayna bisa beristirahat. Ayman dan Mama Aisyah pun mengikutinya agar tidak, mengganggu istirahat ibu hamil itu. Mereka duduk di ruang tamu, Dokter pun menjelaskan beberapa hal mengenai resiko kehamilan dengan jarak yang begitu dekat. Ayman merasa was-was saat mendengar penjelasan dari dokter tersebut.
Hal ini yang sangat ditakutkan pria itu. Ini juga kesalahannya karena tidak bisa mengontrol diri. Namun, kembali lagi, ini memang rezeki mereka, tetapi sangat menakutkan, saat mengetahui apa saja resiko yang akan dialami Zayna nanti. Kemarin saja ya tidak ada resiko bisa seperti itu, apalagi nanti. Ayman hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu menjaga anak dan istrinya.
"Apa tidak ada obat untuk istri saya agar semua itu tidak terjadi, Dok?"
"Semua itu memang sudah takdir, Pak Ayman. Setiap dokter juga pasti akan mengusahakan yang terbaik untuk pasiennya. Saya hanya bisa memberi vitamin agar istri dan anak Anda sehat sampai lahiran nanti. Mengenai bagaimana nanti keadaannya, kita hanya bisa berpasrah pada Sang Pencipta. Saya sebagai dokter pasti akan selalu membantu dan memberikan pertolongan yang terbaik," ujar dokter.
Mama Aisyah yang ada di sana pun juga merasa takut. Dia memang pernah mendengar hal seperti itu. Namun, tidak menyangka jika kini menantunya juga akan merasakan hal yang sama. Apalagi kemarin Baby Ars lahir dengan cara prematur. Entah bagaimana dengan anak kedua Ayman nanti.
"Saya sudah menjelaskan semuanya. Jika ada yang kurang jelas, Anda bisa menghubungi saya. Saya harap Pak Ayman bisa menjaga istri dengan baik. Saya juga harus permisi, sebentar lagi saya ada jadwal praktek."
Dokter tersebut berpamitan pada Ayman dan juga Mama Aisyah. Keduanya mengantar dokter sampai depan rumah.
.
.
__ADS_1