
Setelah perdebatan tadi di ruang tamu, akhirnya Zayna dan Ayman masuk ke kamarnya. Sejak wanita itu memasuki halaman rumah keluarga Hadi, dia dibuat kagum dengan rumah itu. Zayna tidak menyangka jika suaminya memiliki rumah sebesar ini. Meskipun ini rumah keluarganya, tetap saja Ayman termasuk bagian di dalamnya.
Dalam hati, Zayna merasa kecil. Akan tetapi, dia berusaha untuk menguatkan dirinya. Bagaimanapun sekarang statusnya adalah seorang istri. Wanita itu akan melakukan semua yang dia bisa agar tetap di sisi sang suami.
Sejak Ayman mengatakan siapa dirinya. Zayna sudah memperkirakan semua ini, mengingat jika orangtua Ayman adalah seorang pemilik perusahaan. Dia sering melihat di sebuah drama di televisi.
Kamar Ayman tampak begitu luas dengan desain sederhana. Seperti yang Zayna bayangkan, suaminya adalah orang yang sangat menyukai kebersihan. Buktinya kamar ini begitu rapi. Dalam lemari pun baju-baju tersusun tidak kalah rapinya. Di rumahnya dulu saja, mama dan adik-adiknya selalu mengacak-acak isi lemari jika ingin mencari sesuatu.
"Kamu lihatin apa, sih, Sayang?" tanya Ayman sambil memeluk istrinya dari belakang. Zayna sedang memperhatikan isi lemari sang suami.
"Nggak, Mas! Aku hanya kagum saja sama kamu. Kamar kamu terlihat rapi. Lemari juga tak kalah rapinya."
"Sudah jangan dilihatin terus. Masukkan pakaian kamu di sebelah sini," tunjuk Ayman pada sisi lemari yang kosong. "Tapi besok saja. Sekarang kita istirahat dulu, sudah malam. Capek juga, kan, tiga jam naik pesawat. Meskipun kita dari tadi hanya duduk saja, tetap saja capek."
"Iya, Mas. Aku memang capek, tapi aku mau mandi dulu. Badan aku lengket juga."
"Itu kamar mandinya sebelah sana."
"Iya, Mas." Zayna segera melepaskan pelukan sang suami dan menuju kamar mandi.
Ayman memandang punggung sang istri yang menghilang dibalik pintu. Dia sebenarnya tidak tega melihat Zayna diperlakukan seperti tadi, tetapi setiap kali dirinya ingin membela istrinya, wanita itu selalu memberi kode agar diam saja.
"Semoga kita bisa melewati cobaan ini bersama-sama, Na. Apa pun yang terjadi, aku tidak ingin kehilangan istri sebaik kamu. Aku yakin kamu kuat, Na," ucap Ayman dalam hati.
*****
__ADS_1
"Papa, sepertinya sudah luluh sama menantu Papa," cibir Aisyah saat keduanya berada di kamar.
"Kenapa tidak? Dia wanita yang baik, kok! Mama lihat saja nanti, aku yakin Mama pasti akan berbalik menyukai menantu kita," ucap Hadi dengan penuh keyakinan.
"Ya, semoga saja, Pa."
"Berarti ada kesempatan, dong? Sepertinya hati Mama juga sudah melunak?" tanya Hadi sambil memiringkan kepala untuk melihat istrinya.
"Siapa bilang?"
"Itu, tadi Mama bilang semoga saja. Biasanya kalau Papa mengatakan tentang Zayna, Mama selalu bilang tidak mungkin atau apalah alasan lainnya, yang intinya sama saja menolak, tapi sekarang sepertinya Mama mulai membuka hati."
Aisyah terdiam. Tidak dipungkiri apa yang dikatakan sang suami memang benar. Dia sudah mulai melunak setelah bertemu langsung dengan Zayna. Apalagi di saat kesan pertama, menantunya itu mencium punggung tangannya. Hal yang sudah sangat lama tidak dilakukan oleh orang lain selain kedua anaknya.
Wina yang sering dia puji pun tidak pernah melakukan hal itu. Hanya sekadar cipika-cipiki saja. Pernah sekali Aisyah menegurnya, tetapi gadis itu berdalih jika berpelukan lebih menunjukkan rasa kasih sayang.
"Sudah, Ma, jangan terlalu dipikirkan. Lebih baik kita ikuti saja jalan yang sudah Tuhan berikan. Asalkan Mama tidak menutup hati. Mama cobalah beri kesempatan untuk Zayna agar bisa membuktikan bagaimana dia bisa layak untuk menjadi bagian di keluarga ini. Jangan pernah membatasi apa pun geraknya. Papa percaya Mama memiliki hati yang baik," ujar Handi dengan tersenyum. "Ayo, kita tidur! Besok Mama masih harus menghadapi menantu Mama itu." Aisyah hanya mengangguk dan mengikuti sang suami menuju ke alam mimpi.
Pagi-pagi sekali Aisyah terbangun. Dia berniat ke dapur untuk melihat pekerjaan asisten rumah tangganya. Wanita itu memang jarang sekali memasak. Semua diserahkan pada Bik Ira. Aisyah hanya mengawasi dan mencicipinya saja sebelum semua makanan terhidang.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Aisyah yang baru memasuki dapur. Dia melihat Zayna sedang memasak, sementara Bik Ira hanya melihat saja sambil membersihkan peralatan yang habis dipakai.
"Eh, Nyonya. Ini, Nyonya Zayna yang masak. Bibi sudah bilang biar Bibi saja yang masak, tapi Nyonya Zayna nggak mau. Dia bilang ingin memasak untuk suami dan mertuanya. Maaf, Nyonya, tapi masakan Nyonya Zayna enak. Tadi saya icip sedikit," ujar Bik Ira sambil nyengir.
"Maaf, ya, Ma. Aku nggak izin dulu sama Mama. Aku sekarang masak ayam goreng sama sambal. Kata Mas Ayman di keluarga ini, semua pencinta sambal, makanya aku buat sambel dengan tiga jenis. Mudah-mudahan suka, ya?"
__ADS_1
"Di keluarga ini ti—"
"Mama mau coba? Ini enak, kata Mas Ayman, Mama paling suka sambal cabe hijau."
"Saya tidak—"
Setiap kali Aisyah ingin bicara, Zayna akan memotongnya. Bukan maksudnya untuk tidak sopan. Hanya saja dia tidak ingin mendengar penolakan dari mertuanya sebelum melihat dan merasakan hasil pekerjaannya.
"Ayo, Ma! Buka mulutnya, ini enak, kok." Zayna menyuapkan ayam yang ada sambal cabe hijau ke depan mulut Aisyah. Mau tidak mau, akhirnya mertuanya pun membuka mulutnya.
"Ini enak," ucap Aisyah tanpa sadar. Seketika dia membuang muka karena sudah memuji makanan Zayna. Wanita itu mengakui jika makanan buatan menantunya benar-benar enak.
"Syukurlah kalau mama suka. Berarti selera Mama juga sama seperti Mas aiman. Apalagi dulu waktu di rumah kontrakan, Mas Ayman selalu menghabiskan sambal ini. Dia paling lahap kalau makan," ujar Zayna sambil mengingat kebersamaannya bersama sang suami.
"Oh, ya? Masak, sih! Ayman di rumah susah sekali makan," ujar Aisyah dengan nada keheranan.
"Wah, benarkah? Tapi di rumah kontrakan, Mas Ayman lahap sekali makannya."
Aisyah merasa senang mendengar cerita Zayna. Dia sangat tahu jika putranya sangat pemilih soal makanan karenanya wanita itu senang jika putranya sudah menemukan makanan kesukaannya. Apalagi yang memasak orang yang sudah dekat dengan Ayman.
"Ya sudah, kalian lanjutkan saja masaknya. Saya mau ke kamar, mau lihat papa sudah bangun apa belum," ucap Aisyah yang segera berlalu tanpa menunggu jawaban dari Zayna maupun Bik Ira.
Dalam hati Zayna tersenyum. Ternyata perlu kesabaran tinggi untuk menaklukkan hati mertuanya, tetapi dia tidak akan menyerah dan akan tetap berusaha.
.
__ADS_1
.
.