Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
167. Zayna pulang


__ADS_3

Sudah tiga hari Zayna dirawat di rumah sakit. Hari ini dia akan pulang, tapi masih harus menjalani beberapa pemeriksaan. Sebelum pulang, dokter menyarankan wanita itu untuk belajar menyusui bayinya terlebih dahulu. Dokter ingin melihat perkembangan bayi itu karena selama tiga hari ini, ada perkembangan yang sangat baik.


Mudah-mudahan sampai seminggu semuanya bertambah baik. Zayna juga sangat senang saat mendengar kata dokter dia akan menyusui anaknya secara langsung. Sebelumnya wanita itu hanya memompa asinya saja. Dia juga ingin lebih dekat dengan Baby Ars.


Ayman baru saja selesai mengurus administrasi. Dia mendorong kursi roda Zayna menuju ruang di mana Baby Ars berada. Di sana ada dokter anak yang sudah menunggu. Dokter tersebut yang selalu memantau perkembangan semua bayi di sana. Dia juga yang akan mengajari Zayna menyusui. Maklum istri Ayman adalah ibu muda jadi, banyak yang tidak mengetahui cara menyusui dengan benar.


Zayna begitu terharu, saat seorang perawat meletakkan sang putra di pangkuannya, yang sudah diberi bantal agar posisi bayi lebih tinggi. Bibir wanita itu melengkung dengan sempurna, diiringi dengan air mata yang menetes. Dia tidak bisa menggambarkan apa yang dia rasakan saat ini. Yang pasti wanita itu benar-benar sangat bahagia.


Akhirnya Zayna bisa menggendong anaknya. Ini kedua kalinya dia menyentuh bayi itu setelah melahirkan. Begitu juga dengan Ayman yang begitu bahagia bisa melihat sang putra lebih dekat. Biasanya pria itu hanya bisa melihat lewat jendela.


Zayna merasa kesulitan, tapi dengan bantuan dokter, akhirnya wanita itu bisa menyusui putranya. Setelah selesai, perawat kembali memasukkan bayi itu ke dalam inkubator dan membawanya kembali ke ruangan bayi. Baby Ars masih harus dalam pemantauan dokter.


“Dokter, kira-kira kapan anak saya bisa pulang?” tanya Ayman setelah mereka semua keluar dari ruangan.


“Kita lihat saja perkembangan selanjutnya. Anda harus sabar, ini juga demi kebaikan anak Anda. Kita tunggu beberapa hari lagi, kalau memang keadaan bayi Anda benar-benar baik, Anda bisa membawanya pulang. Selama beberapa hari ini, setiap pagi saya sarankan Bu Zayna datang untuk menyusui. Itu juga untuk merangsang perkembangan anak Anda.”


“Dengan senang hati saya akan selalu ke sini setiap pagi, Dokter," sahut Zayna dengan senyum yang lebar.


Dia bahagia bisa bertemu dengan putranya setiap hari. Meskipun hanya bisa bersama selama beberapa menit, itu sudah cukup baginya. Zayna ingin saat pulang nanti, Baby Ars benar-benar dalam keadaan baik-baik saja.


“Baguslah, untuk hari ini sampai di sini dulu. Kita lanjutkan besok lagi," ucap Dokter.


“Iya, Dok. Terima kasih.”


“Jangan lupa, Anda juga harus banyak makanan bergizi agar ASI Anda lancar."


"Saya akan mengingat semua nasehat Anda.”

__ADS_1


“Baiklah, saya permisi dulu. Saya masih harus memeriksa anak yang lain.”


“Iya, Dok, silakan! Kami masih mau melihat anak kami.”


Dokter itu mengangguk dan pergi meninggalkan Ayman dan Zayna. Keduanya hanya bisa melihat sang putra lewat kaca jendela.


“Mas, kamu nggak ingin gendong dia?” tanya Zayna dengan tatapan yang tertuju pada putranya.


“Tentu mau, Sayang, tapi aku sangat takut menyentuhnya. Lihat badannya yang begitu kecil dan lembut. Aku takut menyakitinya.”


“Pelan-pelan saja, nggak apa-apa.”


“Nanti sajalah, kalau dia sudah benar-benar sehat dan kuat, aku akan menggendongnya. Untuk saat ini aku melihatnya saja," ucap Ayman yang diangguki Zayna. "Sudah siang, Sayang. Ayo, kita pulang! Kamu juga masih harus banyak beristirahat. Selama di rumah sakit, kamu tidurnya kurang nyenyak.”


“Iya, memang benar. Ayo, kita pulang! Besok aku mau ke sini lagi. Kalau kamu ada pekerjaan, aku bisa sama pak Doni," sahut Zayna.


“Tidak, aku akan selalu mengantarkan kamu ke sini di pagi hari. Setelah dari rumah sakit, baru aku akan ke kantor.”


Selama perjalanan pulang Ayman dan Zayna membicarakan tentang rencana untuk anak mereka. Wanita itu memutuskan untuk tidak memakai jasa baby sitter. Dia ingin merawat anaknya sendiri karena ingin selalu tahu perkembangan apa saja yang terjadi pada Baby Ars. Ayman pun setuju dengan rencana istrinya.


Pria itu juga tidak rela ada orang lain yang menjaga anaknya. Banyak lagi yang mereka bicarakan tentang baby Ars, hingga tidak terasa keduanya sampai di depan rumah. Tampak Mama Aisyah berdiri di sana bersama dengan Bik Ira. Zayna turun dengan dibantu oleh Ayman, wanita itu berjalan pelan-pelan menuju mertuanya.


“Assalamualaikum,” ucap Zayna dan Ayman bersamaan. Keduanya mencium punggung tangan Mama Aisyah secara bergantian.


“Waalaikumsalam, selamat, Neng. Bibi tidak menyangka Neng Zayna akan melahirkan secepat ini. Selamat juga buat Den Ayman, sekarang sudah menjadi seorang ayah,” sahut Bik Ira.


“Terima kasih, Bik.”

__ADS_1


“Ayo, kita masuk! Kamu pasti masih capek. Istirahatlah dulu di kamar,” ajak mama Aisyah pada menantunya.


“Terima kasih, Ma. Aku di rumah sakit juga sudah terlalu banyak istirahat. Sekarang ingin banyakin gerak lebih dulu.”


Mama Aisyah mengangguk dan bertanya di sela langkahnya. “Kamu sudah sarapan?”


“Aku sudah sarapan tadi di rumah sakit kalau Mas Ayman belum. Tadi nggak sempat cari makan,” jawab Zayna.


“Biar Bibi yang siapin,” sahut Bik Ira yang mendengar pembicaraan majikannya kemudian bertanya pada Ayman. “Aden mau makan apa?”


“Apa saja, Bik," jawab Ayman.


“Sebentar, Bibi siapin dulu.” Bik Ira pun segera pergi ke dapur.


“Papa sudah berangkat, Ma?” tanya Ayman karena melihat rumah hanya ada Mama Aisyah dan Bik Ira.


“Sudah dari pagi.”


“Siang nanti aku ke kantor sebentar, ya, Sayang. Nggak pa-pa, kan?” tanya Ayman pada istrinya.


“Iya, Mas. Nggak apa-apa lagian di rumah juga ada Mama dan Bik Ira. Apa perlu aku siapin baju ke kantornya?”


“Tidak perlu, kamu istirahat saja. Aku mau sarapan dulu, setelah itu baru ke kantor,” ucap Ayman yang segera berlalu menuju meja makan, sementara Zayna bersama dengan Mama Aisyah menuju ruang keluarga.


Keduanya berbincang mengenai Baby Ars. Wanita paruh baya itu senang mendengar kemajuan dari cucunya. Dia tidak sabar ingin menggendong bayi itu karena sejak lahir, Mama Aisyah hanya bisa melihatnya dari jauh, tanpa bisa menyentuh apalagi menggendongnya.


Mama Aisyah mendengarkan apa saja yang menantunya katakan mengenai cucunya. separuh baya itu ingin ikut jika besok Zayna ke rumah sakit lagi. Dia juga ingin melihat cucunya lebih dekat. Kalau boleh, Mama Aisyah juga ingin menggendongnya. Meski hanya sebentar saja.

__ADS_1


.


.


__ADS_2