
Suara tangisan bayi terdengar memenuhi ruang bersalin, membuat orang yang ada di sekitar merasa bahagia. Meski ada air mata yang juga menetes diikuti senyum terukir di bibir setiap orang. Itu bukan air mata kesedihan, melainkan air mata kebahagiaan. Malaikat kecil kini telah hadir di antara mereka, terutama Zayna dan Ayman.
Kedua orang itu merasa bahagia karena anak yang mereka tunggu-tunggu, akhirnya kini bisa dilihat secara langsung. Ayman juga merasa lega melihat istri dan anaknya dalam keadaan sehat. Seorang perawat masih membersihkan bayi yang masih merah itu, sementara dokter masih memeriksa keadaan ibunya. Dokter juga meminta Ayman untuk mengajak Zayna berbicara agar tetap tersadar.
Setelah dokter memastikan bahwa Zayna baik-baik saja, dokter beralih pada bayi. Dia menyarankan untuk membawa bayi itu kedekapan ibunya agar mendapatkan kehangatan. Zayna begitu terharu kala melihat dan bisa bersentuhan dengan tubuh mungil yang begitu lembut. Tubuhnya bergetar saat bersentuhan dengannya, ada rasa takut jika sentuhannya bisa membuat anaknya terluka.
Dokter meyakinkan Zayna bahwa semuanya akan baik-baik saja karena semuanya juga dalam pengawasan dokter dan juga perawat. Ayman juga ikut memperhatikan tingkah bayi itu. Ingin sekali dia menggendong bayi tersebut. Namun, pria itu juga sama takutnya untuk menyentuh anaknya.
Setelah dirasa cukup, seorang perawat membawa bayi tersebut untuk dimasukkan ke inkubator. Selama satu minggu bayi itu akan berada di sana untuk dievaluasi bagaimana keadaannya. Dokter juga menyarankan untuk memompa ASI untuk sementara waktu, sampai dokter memastikan keadaan bayi baik-baik saja. Ayman dan Zayna mengikuti apa saja yang dikatakan dokter karena mereka juga ingin yang terbaik untuk bayi mereka.
“Sayang, ingat jangan pernah berkata seperti tadi. Aku benar-benar sangat takut jika sesuatu terjadi pada kamu dan anak kita,” ucap Ayman setelah keadaan membaik
“Bicara apa, Mas?” tanya Zayna dengan mengerutkan keningnya. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan sang suami.
“Kamu jangan pura-pura, Sayang. Kamu tadi sebelum melahirkan bicara apa? Kamu ngelantur gitu, membuat aku takut.”
Zayna mencoba mengingat apa yang dikatakannya tadi. Beberapa detik akhirnya dia sadar apa saja yang sudah dikatakan pada sang suami tadi. Wanita itu jadi merasa bersalah, pantas saja Ayman sedari tadi merasa sangat tegang.
“Maaf, Mas. Tadi itu memang benar-benar aku nggak bisa berpikir dengan jernih. Benar kata orang jika seorang wanita yang melahirkan itu taruhannya nyawa. Aku merasa tadi sudah berada diambang kematian karena rasanya itu seperti ....”
“Sudah, tidak usah dijelaskan. Aku sudah mengerti, pokoknya kamu tidak boleh lagi bicara seperti itu, apa pun keadaannya. Aku hanya ingin melihat kamu baik-baik saja. Anak kita masih sangat membutuhkan kamu.”
__ADS_1
“Iya, Mas, maaf,” ucap Zayna sambil menggenggam telapak tangan sang suami.
Ayman segera memeluk sang istri, sambil mengucapkan beribu-ribu rasa terima kasih karena sudah menghadirkan malaikat kecil untuknya. Tiba-tiba saja pria itu menangis. Dia sudah menahannya dari tadi. Kini setelah ketegangan sudah terlewati, rasanya sudah lega.
Zayna yang mendengarnya pun ikut meneteskan air mata. Dia sangat tahu apa yang dirasakan sang suami. Pasti pria itu sangat takut kehilangan dirinya, apalagi kata-kata yang sudah dia ucapkan tadi. Zayna menyesal karena sudah membuat sang suami seperti itu.
Seharusnya dia bisa menahan diri agar tidak mengucapkan kalimat yang tidak seharusnya itu. Namun, semua berada di luar kendalinya. Semua seperti berada di ujung tanduk. Semuanya jadi serba salah. Zayna juga mengucapkan kata maaf pada sang suami.
“Maafkan aku sudah menangis, tapi ini bukan air mata kesedihan. Aku merasa benar-benar lega. Tuhan sudah berbaik hati padaku dengan mengirim malaikat kecil. Tuhan juga menyelamatkan kamu. Hari ini aku benar-benar sangat bersyukur. Aku yakin ini juga berkat doa-doa anak yatim kemarin,” ucap Ayman setelah mengurai pelukan mereka.
“Iya, Mas. Aku juga bersyukur karena Tuhan masih memberiku umur, untuk bisa melihat dan membesarkan anak kita.”
Dua orang perawat masuk ke dalam kamar. Mereka bertugas untuk memindahkan Zayna ke ruang rawat inap. Ayman meminta izin agar dirinya saja yang menggendong istrinya dan memindahkan ke ranjang. Kedua perawat itu pun mempersilakannya.
Bayi itu pasti sama kuatnya seperti ibunya. Tadi Mama Aisyah juga sudah menelepon besannya yang berada di luar kota. Mereka juga sempat terkejut mendengar berita jika Zayna melahirkan sekarang. Papa Rahmat dan Mama Savina segera memesan tiket tercepat hari ini. Namun, sayang pesawatnya akan terbang malam.
"Bagaimana perasaanmu kamu saat ini, Na?" tanya Mama Aisyah begitu dia memasuki ruangan.
"Sudah lebih baik, Ma," jawab Zayna dengan suara pelan, dia terlihat begitu lelah. Mama Aisyah memakluminya. Itu pasti karena proses persalinan tadi.
"Syukurlah kalau begitu. Mama benar-benar takut tadi. Lebih tegang lihat kamu melahirkan daripada Mama sendiri yang lahiran."
__ADS_1
"Memangnya Mama mau melahirkan lagi?" tanya Papa Hadi menyela obrolan mereka.
"Ya nggaklah, Pa. Mama bilang tadi sama Mama dulu. Mama sudah tua, sudah tidak pantas memiliki anak. Pantasnya sekarang ini gendong cucu."
"Barangkali saja Mama mau melahirkan lagi, soalnya Mama bilang begitu," gumam Papa Hadi membuat Mama Aisyah mendengus. "Selamat, Na. Akhirnya sekarang kamu jadi ibu dan juga Papa bangga sama kamu Ayman karena kamu sudah menjadi suami yang baik karena mau menemani istrimu melahirkan."
"Bukankah itu memang kewajiban seorang suami, Pa, agar kita bisa merasakan apa yang dirasakan oleh para istri," jawab Ayman.
"Iya, jangan seperti papamu yang langsung pergi saat melihat Mama kesakitan. Bisa-bisanya ada suami seperti itu," cibir Mama Aisyah membuat Ayman menatap papanya.
Papa Hadi yang selama ini begitu perhatian pada mamanya, ternyata bisa juga meninggalkan wanita itu saat sedang dilanda rasa sakit. Padahal dirinya selama ini selalu mencoba agar bisa seperti papanya.
"Papa bukannya mau meninggalkan Mama. Mama 'kan tahu kalau Papa paling tidak tega melihat Mama kesakitan jadi, lebih baik Papa keluar dari ruangan. Nanti aku malah bikin onar di dalam ruangan dan pasti akan semakin membuat dokter bingung," jawab Papa Hadi beralasan.
"Jadi selama Mama melahirkan dua kali, Papa tidak pernah menemani Mama?" tanya Ayman.
"Siapa bilang tidak menemani? Papa selalu menemani, hanya saja Papa nunggunya di luar ruangan."
"Sama saja, itu tidak menemani."
.
__ADS_1
.