
Zea melangkahkan kaki menuju kamar si kembar. Namun, baru dia menaiki satu anak tangga, suara teriakan Aini membuat semua orang terkujut dan melihat ke arahnya.
“Zea!”
“Aini,” gumam Zea yang hanya mampu didengarnya sendiri.
Aini turun ke lantai satu dengan berlari, diikuti Arslan dan Aina yang juga ikut berlari. Para orang tua yang ada di ruang tamu juga terkejut, mereka pun pergi untuk melihat apa yang sedang terjadi. Memang sudah terbiasa gadis itu berteriak, tetapi teriakannya kali ini berbeda.
“Aku nggak nyangka kalau kamu tega menusukku dari belakang, saudara macam apa kamu?” tanya Aini dengan emosi yang memuncak. Dia benar-benar kecewa terhadap sepupunya itu. Bagaimana dia bisa menusuknya dari belakang.
“Mak–maksud kamu apa?” tanya Zea yang pura-pura tidak mengerti, padahal sudah sangat jelas arti dari kata-kata Aini. Apalagi perasaannya kini tertuju pada satu masalah itu.
“Kamu tidak usah pura-pura, kami sudah tahu mengenai perasaan kamu pada Kak Adam.”
“Aini, ada apa? Kenapa kamu teriak-teriak?” tanya Zayna yang begitu khawatir dengan keadaan anak dan keponakannya. Wanita itu mendekati mereka yang ada di tangga yang paling bawah.
Arslan menyenggol lengan Aini, sudah dia katakan sebelumnya jika adiknya harus mengontrol emosi. Akan tetapi, gadis itu malah meledakkan amarahnya begitu saja, tanpa melihat sekeliling. Tadi pemuda itu mendapat telepon dari Adam lewat ponsel Bik Ira, mengenai apa yang terjadi. Sepupunya itu meminta agar dirinya dan si kembar bisa menghibur Zea dan tidak memperkeruh suasana. Sekarang malah membuat ulah.
Semuanya terdiam, tidak ada yang berani berbicara, apalagi menjawab pertanyaan Zayna. Hanif dan Kinan saling pandang, seolah mengerti apa yang saat ini anak-anak ributkan. Apalagi sebelumnya Zea juga pernah berkata jika Aini menyukai Adam.
“Tidak ada yang mau menjawab pertanyaan Mama?” tanya Zayna lagi.
“Mama tanyakan saja pada Zea,” jawab Aini dengan ketus.
“Mama tanya kalian semua, jadi yang bisa jawab sebaiknya membuka suara.”
“Maafkan kami, Kak. Kedatangan kami cuma membawa masalah,” sahut Kinan yang berada di belakang Zayna.
“Kami? Kenapa kami? Ini kesalahan anak-anak, apa hubungannya dengan kalian?” tanya Zayna yang semakin tidak mengerti dengan apa yang dikatakan adik iparnya.
__ADS_1
Ayman juga menatap adiknya dengan heran. Tadi mereka sedang berada di ruang tamu, kenapa Kinan jadi merasa bersalah? Pria itu merasa ada masalah yang begitu serius di keluarga Kinan, bahkan anak-anak juga ikut terlibat.
“Mama dan Papa tidak salah, Tante. Ini semua kesalahanku,” sahut Zea.
“Stop! Aku sama sekali tidak mengerti maksud kalian semua. Adakah yang bisa menjelaskan semuanya agar semuanya jelas? Jangan memberi jawaban yang sama sekali tidak aku mengerti.”
“Biar aku yang jelaskan, Kak,” sahut Kinan.
Wanita itu pun menjelaskan semua yang dia dengar dan apa saja yang terjadi di rumah tadi pagi. Ayman dan Zayna terkejut mendengarnya, keduanya tidak menyangka jika hal tersebut terjadi dengan keponakannya. Mereka tahu jika Adam dan Zea sangat dekat, tetapi tidak menduga akan terjadi seperti ini. Memang hubungan mereka tidak haram, tetapi rasanya akan aneh.
“Begitulah, Kak. Kami sudah berusaha untuk memberi pengertian pada Zea, seiring berjalannya waktu pasti dia akan melupakan perasaannya. Apalagi Adam akan menikah,” lanjut Kinan.
“Tidak, Ma. Perasaanku pada Kak Adam akan selalu sama. Aku sudah mencobanya dari dulu,” sahut Zea.
“Zea, kamu masih berani berkata seperti itu di depanku. Bukankah kamu pernah bilang kalau kamu akan membantuku? Kenapa sekarang kamu mengkhianaiku?” tanya Aini yang kembali emosi mendengar apa yang Zea katakan.
"Tunggu! Mama tidak mengerti maksud kamu. Memangnya Zea mengkhianati kamu apa, sampai kamu semarah itu padanya?” tanya Zayna pada putrinya.
“Astaghfirullah,” ucap Zayna sambil memijat keningnya, dia tidak menyangka bisa serumit ini. Bagaimana bisa mereka bisa menyukai pria yang sama dan memiliki hubungan kekeluargaan pula.
"Kenapa dari tadi kamu tidak cerita kepada kami, Kin?” tanya Ayman pada adiknya.
Mereka sudah terbiasa berbagi cerita apa pun, baik yang suka maupun yang duka. Akan tetapi, Kinan malah sengaja ingin menutupinya. Wanita itu menundukkan kepalanya dalam diam. Jujur dia merasa malu karena menjadi ibu yang gagal mendidik anaknya.
“Tadinya kami ingin menyimpan masalah ini karena tidak ingin merusak kebahagiaan kedatangan mama dan papa. Apalagi mereka sudah tua, tidak sepantasnya kita memberinya masalah seperti ini,” sahut Hanif yang ingin membela sang istri.
Ayman menganggukkan kepalanya. Benar apa yang dikatakan Hanif, mereka memang tidak seharusnya menambah beban pikiran orang tua mereka. Sekarang mereka harus mencari cara bagaimana menyelesaikan masalah perasaan Zea dan Aini. Meskipun Aini adalah keponakannya, tetapi pria itu sudah menganggap gadis itu seperti putrinya sendiri.
Dia tidak tega melihat Zea sedih seperti itu. Sebenarnya bukan masalah jika Adam dan Zea bersama, tetapi perasaan tidak bisa dipaksakan. Adam sudah memiliki calon istri dan sebentar lagi akan menikah. Mungkin ini juga lebih baik untuk putri dan keponakannya. Jika keduanya tidak mendapatkan Adam, tidak akan lagi ada perdebatan antar saudara.
__ADS_1
"Sebaiknya kita duduk dulu, kita bicarakan semuanya dengan tenang. Jangan ada yang emosi seperti ini, itu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru akan semakin menambah rumit masalah ini," ucap Zayna yang diangguki oleh semua orang.
"Iya, Mamamu benar. Kita cari bicara dari hati ke hati dengan tenang," sahut Ayman.
"Kita bicara di ruang keluarga saja. Takutnya nanti akan ada Mama dan Papa datang kita tidak sadar karena terlalu fokus dan mendengar pembicaraan kita."
Wanita itu pun pergi ke depan, untuk mengunci pintu agar tidak ada orang yang masuk, sementara semua orang sudah duduk di ruang keluarga. Para orang tua duduk di sofa, sedangkan anak-anak duduk di bawah lantai yang beralaskan permadani. Aina duduk di antara Aini dan Zea, sementara Arslan disamping sofa tempat duduk mamanya.
"Sekarang Adam ada di mana?" tanya Ayman membuka percakapan.
"Tadi pagi dia pamit mau pergi ke rumah calon mertuanya, Kak," jawab Hanif.
"Calon mertuanya? Adam sudah memiliki calon istri?" tanya Ayman yang diangguki oleh Hanif dan Kinan, sementara Zea hanya menundukkan kepala.
"Setelah apa yang terjadi tadi pagi, Adam masih tetap pergi?" tanya Zayna untuk memastikan pemikirannya.
"Tadinya dia nggak mau, Kak, tapi karena memang sudah janji pada kedua orang tua Alin sejak lama, jadi dia harus tetap pergi. Meskipun dalam suasana hati yang tidak baik," sahut Kinan mencoba membela sang putra. Zayna menganggukkan kepala, seolah mengerti maksud Kinan.
"Sekarang Papa mau tanya sama Aini. Sejak kapan kamu menyukai adam?” tanya Ayman dengan memandangi salah satu putrinya itu.
"Sudah dari dulu, Pa. Tepatnya kapan, aku juga sudah lupa. Bahkan Aina dan Zea juga sudah tahu kalau aku menyukai Adam. Mereka juga yang membantuku selama ini, menyingkirkan para wanita yang mendekati Kak Adam atau mungkin lebih tepatnya Zea melakukan semua itu untuk dirinya sendiri," cibir Aini di akhir kalimatnya.
"Aini!" tegur Aina yang berada di sampingnya.
"Memangnya kenapa? Benar 'kan apa yang aku katakan? Dia memang melakukan semuanya untuk dirinya sendiri dan hanya berpura-pura saja membantuku."
"Sudah, tidak perlu diperdebatkan. Sekarang Om juga mau tanya sama Zea, sejak kapan Zea menyukai Kak Adam?"
.
__ADS_1
.