
"Sama seperti Aini, aku juga tidak tahu, Om. Selama ini saya selalu nyaman dekat dengan Kak Adam," jawab Zea.
"Berarti itu hanya perasaan nyaman saja," ucap Ayman.
"Awalnya Zea juga merasa ini perasaan seorang adik terhadap kakaknya, tapi seiring berjalannya waktu, aku merasa berbeda. Ada perasaan yang tidak bisa digambarkan saat dekat dengan Kak Adam. Berbeda seperti sekarang saat dekat dengan Kak Arslan yang terasa biasa saja. Aku senang bersama Kak Arslan, tapi hanya sebatas senang saja, tapi saat bersama dengan Kak Adam. Ada getaran yang tidak bisa digambarkan, aku merasa begitu bahagia yang tidak pernah aku rasakan, saat sedang bersama orang lain. Aku sudah mencoba untuk melupakannya dan berusaha mengubur perasaanku. Namun, semuanya semakin tumbuh Seiring berjalannya waktu. Sampai kemarin saat aku mendengar percakapan Papa dan Mama di ruang kerja, mengenai Kak Adam yang ternyata bukan anak kandung mereka. Barulah aku mengerti perasaanku pada Kak Adam memanglah perasaan cinta antara wanita dan laki-laki," jawab Zea panjang lebar.
“Zea,”tegur Kinan.
“Kinan, tenanglah dulu,” sela Ayman kemudian kembali menatap keponakannya. “Kak Adam cintanya sama Aini atau sama Zea?” tanyanya.
Zea dan Aini terdiam karena memang tidak dari keduanya yang dicintai Adam. Pria itu sudah memiliki calonnya sendiri. Ayman merasa lega, setidaknya kedua gadis itu mengerti jika cinta tidak dipaksakan.
“Om, apa aku tidak boleh berusaha untuk mendapatkan cinta Kak Adam? Aku juga ingin tahu bagaimana rasanya berusaha meraih cinta Kak Adam," ucap Zea.
Ayman menatap Kinan dan Hanif, biar mereka berdua saja yang menjawab. Bagaimanapun Zea sepenuhnya tanggung jawab mereka. Jujur dia merasa kasihan pada Zea karena harus merasakan cinta yang seperti ini. Belum merasakan manis, tapi pahitnya sudah terasa.
“Papa dan Mama masih dengan keputusan tadi pagi. Sebaiknya kamu kubur perasaan kamu, tidak akan ada hubungan selain kakak dan adaik antara kamu dan Adam,” jawab Hanif.
Tanpa semua orang ketahui jika Arslan saat ini sedang melakukan panggilan telepon dengan Adam. Dia menggunakan telepon rumah yang ada di sampingnya jadi, otomatis sepupunya itu mendengar pembicaraan ini. Adam tentu saja merasa sangat sedih. Dia bisa merasakan kesedihan yang begitu mendalam yang Zea rasakan.
Sebenarnya, bisa saja Adam membatalkan pernikahannya dengan Alin demi Zea. Meskipun dirinya tidak mencintai adiknya itu, setidaknya dia bisa membuat gadis itu tidak sedih dan selalu tersenyum. Perasaannya tidaklah penting, bagi pria itu kebahagiaan keluarga adalah segalanya. Terutama keluarga Hanif yang memberinya kebahagiaan.
__ADS_1
“Sebentar lagi, opa dan oma akan datang. Papa harap kalian semua bisa bersikap seolah tidak terjadi apa pun,” ucap Ayman setelah memandangi jam tangannya.
Mengenai masalah ini sebaiknya dia tidak terlalu ikut campur, biarlah Hanif dan Kinan yang menyelesaikan semuanya. Dia percaya keduanya bisa menyelesaikannya dengan baik. Apalagi selama ini adik iparnya itu juga selalu berpikir bijak.
“Aku akan mencobanya, Pa,” jawab Aini yang diangguki semuanya.
Benar saja, tidak sampai sepuluh menit saat pembahasan selesai, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Semua orang segera keluar untuk menyambut kedua orang tuanya. Terlihat Papa Hadi dan Mama Aisyah turun dari dalam mobil. Keduanya tersenyum begitu lebar ke arah anak dan cucunya.
“Mama, apa kabar?” tanya Kinan sambil memeluk mamanya.
“Mama selalu baik, kamu sendiri bagaimana kabarnya? Kamu terlihat sedih, apa ada masalah?” tanya Mama Aisyah sambil mengurai pelukannya dan membingkai wajah sang putri dengan tagannya.
“Setiap manusia pasti memiliki masalah, tapi Mama tenang saja, aku pasti bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik.”
Mama Aisyah dan Papa Hadi bergantian memeluk anak dan cucunya. Mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama. Arslan membantu sopir membawakan barang kakek dan neneknya. Semua orang berusaha terlihat biasa saja agar tidak membuat suasana menjadi sedih.
****
“Alin, aku tidak bisa lama-lama di sini. Aku juga sudah bicara dengan kedua orang tuamu, jadi tujuanku ke sini sudah tercapai. Besok aku harus pulang,” ucap Adam saat dirinya selesai menikmati makan malam.
“Kenapa buru-buru sekali? Kita sudah sepakat kalau kita akan menghabiskan waktu di sini selama tiga hari, kenapa sekarang terburu-buru?” tanya Alin dengan nada kecewa.
__ADS_1
Sebenarnya Adam juga tidak bermaksud untuk merubah rencananya, tetapi pria itu sedari tadi selalu kepikiran keadaan adiknya. Dia tahu jika saat ini keadaan Zea sedang tidak baik-baik saja. Pria itu ingin pulang dan memastikan jika sang adik dalam keadaan baik.
“Aku ada pekerjaan mendadak, Lin!” seru Adam.
Alin tersenyum tipis, dia sangat tahu jika itu hanya alasan Adam saja. Pasti saat ini pria itu sedang mengkhawatirkan keadaan Zea. Entah apa lagi yang sedang terjadi pada gadis itu, selalu saja seperti ini saat dirinya sedang pergi bersama Adam.
"Adam, untuk kali ini tolong biarkan aku egois! Aku ingin memintamu tetap di sini, kamu sudah berjanji padaku untuk di sini selama tiga hari, untuk berbincang dengan kedua orang tuaku. Meskipun mereka sudah menyetujuinya, tapi aku juga masih kamu dekat dengan kedua orang tuaku. Aku juga tidak keberatan kalau kamu memintaku dekat dengan kedua orang tuamu jadi, aku mohon untuk saat ini kamu harus tetap di sini. Untuk kali ini saja," ucap Alin dengan wajah memelasnya. Dia sangat tahu jika Adam pasti tidak akan tega.
"Baiklah, aku akan tetap di sini sampai besok, tapi lusa aku harus pulang."
Alin terpaksa mengangguk, dia tidak mungkin lagi memaksa Adam. Meskipun dirinya belum puas dengan keberadaan pria itu di rumahnya, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Keduanya berbincang sejenak sebelum akhirnya mereka kembali ke kamar masing-masing. Adam tidur di kamar tamu yang dekat dengan ruang keluarga, sementara Alin di kamar pribadinya di lantai dua.
Di dalam kamar, Adam merasa tidak tenang. Dia pun mencoba menghubungi Zea. Namun, ponsel gadis itu tidak aktif. Adam semakin khawatir, mau tidak mau pria itu pun menghubungi Kinan dan menanyakan keadaan adiknya. Ternyata mereka menginap di rumah Ayman karena hari ini opa dan Oma datang.
Adam sampai melupakan hal itu. Seharusnya tadi sejak siang dirinya menghubungi Kinan jadi, dia punya alasan pada Alin untuk segera pulang. Mamanya juga mengatakan pada pemuda itu agar tidak terlalu khawatir karena semuanya sudah diatasi. Zea juga sudah lebih baik. Adam tahu jika mamanya berbohong.
Jelas-jelas tadi mereka berdebat di rumah Ayman, bagaimana mungkin adiknya baik-baik saja. Namun, Adam hanya mengiyakan saja. Dia tidak mungkin berdebat dengan mamanya. Pria itu pun merebahkan tubuhnya berharap setelah ini dirinya bisa tenang.
.
__ADS_1
.