
Acara tahlilan telah usai. Zayna memilih kembali ke kamarnya untuk beristirahat. Sebenarnya itu hanya dia jadikan alasan untuk menghindari keluarganya. Jujur wanita itu masih sangat kecewa dengan apa yang dia dengar di pemakaman tadi. Mengenai siapa jati diri Zanita sebenarnya.
Zayna jadi bertanya pada dirinya sendiri. "Apakah aku juga anak tiri? Zanita yang selama ini diperlakukan sayang oleh Papa, nyatanya dia anak tiri. Apalagi aku yang diperlakukan tidak adil?"
Ingin sekali Zayna menanyakannya secara langsung. Namun, dia tidak berani. Terlalu menyakitkan jawaban yang akan dia dengar, baik jika dia anak tiri ataupun anak kandung. Jika memang wanita itu anak tiri, betapa Zayna merasa sedih karena tidak tahu siapa Papanya. Jika dia anak kandung, berarti dirinya sama sekali tidak begitu berharga daripada Zanita yang anak tiri.
Pintu kamar terbuka, tampak Ayman yang memasuki kamar. Zayna pun pura-pura memejamkan matanya. Dia tidak mau sang suami tahu jika dirinya tengah bersedih. Pria itu duduk di ranjang di samping istrinya. Dia mengusap rambut wanita itu.
"Kamu ada apa, sih, Sayang? Apa yang sudah terjadi? Kenapa kamu dari tadi diam saja?" tanya Ayman. Namun, Zayna hanya diam tidak menjawab satu kata pun. "Aku tahu kamu belum tidur, jadi tidak usah pura-pura." lanjutnya.
Seketika membuat Zayna membuka mata dan menatap sang suami. Dia pun terbangun dan duduk bersandar di kepala ranjang. Wanita itu menghela napas pelan.
"Tidak ada apa-apa, Mas. Hanya sedang lelah saja."
"Kamu mungkin bisa membohongi semua orang, tapi tidak denganku. Aku tahu kamu selama ini tahan banting, jadi lelah tidak akan membuatmu seperti sekarang ini. Pasti ada sesuatu yang kamu sembunyikan dariku, kan?"
Zayna menunduk, dia memang tidak bisa berbohong pada sang suami. Setetes air mata jatuh membasahi pipi wanita itu. Ayman segera memeluk sang istri. Dugaannya benar, ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
"Menangislah jika itu bisa membuat kamu merasa lega," ucap Ayman sambil mengusap punggung wanita itu. Zayna pun memeluk sang suami dan menumpahkan air mata di dada pria itu. Cukup lama akhirnya dia mengakhiri tangisnya. Wanita itu mengusap kedua matanya yang sudah sebab.
"Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?" tanya Ayman dengan pelan.
__ADS_1
"Apa, Mas, tidak ingat dengan apa yang dikatakan Zanita di pemakaman tadi?" tanya Zayna membuat Ayman mengerutkan keningnya. Dia mencoba mengingatnya.
"Memang apa yang Zanita katakan? Aku sama sekali tidak mengerti. Sepertinya dia mengatakan hal yang biasa saja."
"Dia mengatakan jika dirinya bukanlah anak kandung Papa. Kamu tahu, hatiku terluka mendengarnya. jika selama ini Zanita bukan anak kandung Papa, kenapa Papa memperlakukannya dengan baik dan memperlakukanku dengan buruk? Selama ini aku selalu menanamkan dalam hatiku, bahwa Zanita adalah adikku. Tentu saja Papa lebih menyayanginya karena aku sudah lebih besar dan harus mengerti keadaan keluargaku, tetapi hari ini hatiku hancur karena tahu sebuah rahasia yang menyakitkan. Kenapa Papa setega itu padaku?"
Zayna kembali menangis kala teringat perlakuan beda yang dia terima selama ini. Jika itu Mama Savina yang melakukannya, dia tidak masalah karena wanita itu tahu mereka tidak ada hubungan darah, tetapi Papa Rahmat, sudah jelas jika Zayna anak kandungnya.
"Kita belum tahu detailnya, Sayang, jadi jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Sebaiknya kita tanyakan sama Papa secara langsung."
"Aku justru lebih takut jika jawaban yang diberikan Papa akan lebih menyakitkan lagi untukku. Apa kurangnya aku selama ini? Aku melakukan semua pekerjaan rumah dengan ikhlas. Berharap mereka mau menganggap keberadaanku. Aku juga menyayangi mereka meski tidak ada balasan untukku, tapi kenyataan yang aku dengar hari ini benar-benar melukai hatiku."
"Kenapa istriku sekarang jadi perhitungan seperti ini? Mana Zayna selama ini? Yang aku kenal wanita baik dan tidak menaruh dendam pada siapa pun. Jangan seperti ini. Bukankah kamu selalu memaafkan setiap kesalahan orang lain? Kali ini pun kamu harus seperti itu. Apalagi mereka keluargamu."
"Aku lelah, Mas. Aku ingin istirahat," ucap Zayna yang segera mengusap air matanya dan membaringkan tubuhnya membelakangi sang suami. Dia tahu ini perbuatan yang tidak pantas. Akan tetapi, saat ini hatinya benar-benar terluka. Wanita itu butuh waktu untuk menenangkan diri.
Ayman yang melihat sang istri membelakanginya pun merasa bersalah karena sudah memaksa Zayna untuk memaafkan keluarganya, tanpa tahu bagaimana perasaan wanita itu. Dia memang tidak pernah merasakan apa yang dirasakan sang istri karena selama ini kedua orang tuanya begitu menyayanginya. Sebenarnya Ayman ingin meminta maaf, tapi dilihat dari kondisi sekarang sepertinya Zayna masih perlu waktu untuk sendiri dan memikirkan semuanya.
Pria itu pun tidak ingin mengganggu dan memilih untuk keluar dari kamar saja. Dia ingin membantu keluarga membereskan semua bekas acara pengajian.
"Zayna kemana? Tumben dia nggak keluar, dari tadi juga dia diam saja. Apa terjadi sesuatu?" tanya Papa Rahmat pada menantunya.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa, Pa. Zayna bilang, dia lelah karena itu ingin istirahat lebih dulu," jawab Ayman berbohong karena dia tidak mungkin mengatakan yang sejujurnya pada sang mertua. Sebenarnya pria itu juga penasaran mengenai apa yang dikatakan istrinya tadi, tetapi bukan haknya untuk bertanya. Biarlah nanti Zayna sendiri yang berbicara dengan Papa Rahmat.
Ayman membantu membereskan sisa acara pengajian dengan dibantu oleh beberapa tetangga, yang masih ada di sana. Dia bersyukur masih ada orang yang perhatian pada keluarga mertuanya. Pria itu mengira orang-orang akan menggunjing kematian Zivana. Namun, hal itu tidak terjadi.
Setelah semua selesai, warga yang membantu pun berpamitan untuk pulang. Ayman mengucapkan terima kasih kepada mereka. Begitupun dengan Mama Savina.
"Papa sama Mama istirahat saja. Ini sudah malam," ucap Ayman pada kedua mertuanya yang masih duduk di ruang keluarga.
"Iya, kamu juga istirahatlah, kasihan Zayna tidur sendirian dari tadi," sahut Papa Rahmat.
"Iya, Pa. Aku istirahat dulu." Ayman pun meninggalkan kedua mertuanya dan masuk ke kamar.
"Apa Papa merasa sesuatu yang aneh dengan Zayna?" tanya Mama Savina saat Ayman sudah tidak terlihat.
"Sebenarnya Papa juga merasakan hal yang sama. Sejak di pemakaman tadi, dia selalu diam. Bahkan tidak mau dekat denganku, tapi aku tidak tahu apa penyebabnya."
"Apa Papa benar tidak tahu? Sepertinya dia mendengar apa yang Zanita katakan, mengenai dirinya yang bukan anak kandung. Pasti Zayna merasa sedih karena Papa lebih menyayangi Zanita yang bukan anak Papa. Sedangkan dirinya yang jelas-jelas anak kandung malah Papa abaikan."
Rahmat terkejut mendengar apa yang dikatakan istrinya. Dia benar-benar tidak sadar saat itu jika di sana ada Zayna yang pasti mendengar pembicaraan mereka. Pria itu belum mengatakan apa pun mengenai hal itu. Sekarang pasti putrinya salah paham padanya karena itu sedari tadi Zayna menghindari papanya.
.
__ADS_1
.
.