
Adam mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tidak ingin terlambat Sampai di bandara dan akan kehilangan adiknya. Jika sampai Adam terlambat, pasti akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan dan perasaan Zea. Entah kenapa di saat seperti ini, pria itu tiba-tiba merasakan sakit yang luar biasa.
Saat Alin mengkhianatinya, sakitnya tidak seperti ini, tetapi kenapa mendengar kepergian Zea saja hatinya sudah sangat sakit. Apa mungkin ini yang juga dirasakan oleh adiknya kemarin. Adam mencoba mengelak jika dirinya tidak memiliki perasaan. Namun, hatinya justru berkata lain.
Pria itu memang menginginkan keberadaan Zea di sisinya. Mulai hari ini dia akan memperjuangkan adiknya, entah apa pun nanti yang akan dikatakan oleh Papa Hanif dan Mama Kinan. Adam akan mempertanggungjawabkan semuanya. Pria itu akan berjuang bersama Zea.
"Semoga Zea belum pergi meninggalkan negara ini. Aku benar-benar mencintainya, jangan biarkan dia meninggalkanku. Jangan biarkan semuanya berakhir seperti ini." Setetes air mata jatuh membasahi pipi Adam.
Apa yang dia rasakan saat ini mungkin tidak sebanding dengan apa yang Zea rasakan. Gadis itu selalu tersiksa dengan perasaannya sendiri. Cinta yang ditolak serta pertentangan dari semua keluarga. Adam merasa sangat bersalah karena selama ini membiarkan Adiknya seorang diri, menghadapi segala penolakan yang datang pada Zea.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba terjadi kemacetan yang cukup panjang. Adam turun dan bertanya pada warga di sekitar. "Maaf, Pak. Ada apa, ya? Kenapa macet sekali?"
"Itu di depan ada dua kecelakaan, yang satunya mobil terguling, yang satunya mobil nabrak anak kecil."
"Ada dua, Pak?"
"Iya, tapi untungnya anak kecil nggak pa-pa, tapi pelaku tetap membawanya ke rumah sakit. Kalau mobil yang terbalik masih perlu waktu untuk mengevakuasinya."
Adam mengangguk dan berkata, "Terima kasih, Pak."
Adam bingung, dia tidak mungkin menunggu di sini. Bisa-bisa nanti dirinya akan terlambat menemui Zea. Pria itu pun memutuskan untuk putar arah dan mencari jalan alternatif lainnya. Untung saja ada orang yang menunjukkan arah jadi, Adam bisa segera pergi.
Dia memutar mobil dan melewati jalan tersebut. Jalannya ternyata sangat sempit jadi, pria itu harus mengemudi dengan hati-hati. Dalam hati Adam berdoa, semoga dia tidak terlambat sampai di bandara. Dia tidak ingin menyesal karena sudah menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Sementara itu Aini dan Aina yang berada di kampus merasa terkejut, saat berita yang keduanya dengar. Jika Zea sudah berhenti kuliah di sana dan akan meneruskan kuliah di luar negeri. Mereka tidak mengetahui berita apa pun sebelumnya, tetapi kenapa sekarang tiba-tiba saja sepupunya pergi. Bahkan tanpa berpamitan pada si kembar.
Beberapa mahasiswa bertanya pada Aina dan Aini. Namun, keduanya memilih diam karena memang tidak tahu menahu tentang keputusan Zea itu. Si kembar pun memutuskan segera ke rumah sepupunya untuk menanyakan hal ini. Begitu sampai di sana, ternyata Zea sudah berangkat.
Bik Isa membenarkan jika Zea memang pergi ke luar negeri. Wanita paruh baya itu juga mengatakan jika Adam baru saja ke bandara, untuk mengejar kepergian Zea. Si kembar bisa memastikan jika pria itu juga tidak tahu menahu mengenai kepergian adiknya.
__ADS_1
"Aina, apa kita mengejar Zea saja ke bandara?" tanya Aini dengan wajah sedihnya.
Dia merasa bersalah karena dirinya juga termasuk orang yang selama ini menekan sepupunya itu. Aini tidak bermaksud untuk seperti itu. Dia hanya kecewa saja, sama seperti Aina. Akan tetapi, sepertinya gadis itu terlalu berlebihan saja.
Memang benar cinta tidak bisa dipaksakan, begitu pula dengan Adam. Sebesar apa pun cintanya pada pria itu jika Adam lebih mencintai wanita lain atau mungkin mencintai Zea. Seharusnya dia sebagai orang yang bijak, bisa menerima semua ini dengan lapang dada. Bukan malah menyudutkan dan menyalahkan orang lain.
"Sebaiknya tidak usah, kita juga pasti sudah terlambat. Coba aku hubungi Zea dulu."
Aina mencoba menghubungi nomor sepupunya, terapi ponselnya ternyata tidak aktif. Dia pun beralih menghubungi Kinan. Ponsel wanita itu ternyata sangat sibuk. Aina menggelengkan kepala ke arah saudara kembarnya.
"Pasti Zea sudah berangkat," ucap Aini dengan nada sedih.
"Tidak apa-apa, nanti kita tanyakan saja pada Tante Kinan atau mungkin kita langsung telepon Oma Aida. Biar bisa bicara dengan Zea."
Aini mengembuskan napas lelah. Memang saat ini sudah tidak ada yang bisa dia lakukan, mudah-mudahan saja nanti Zea mau memaafkannya. Mereka pun memutuskan untuk pulang saja karena sudah tidak ada lagi yang mereka lakukan di sini. Rumah tampak sepi tak ada seorang pun juga, semuanya pergi.
"Pasti Zea selama ini merasa kesepian, Na. Aku memang benar-benar keterlaluan," ucap Aina begitu mobil sudah melaju meninggalkan rumah keluarga Hanif.
“Apa Zea masih mau bicara denganku, setelah apa yang aku lakukan padanya?"
"Zea bukan orang yang pendendam, pasti dia akan memaafkanmu."
Aini mengangguk, sepupunya itu memang orang yang baik. Dirinya saja yang tidak bersyukur memiliki keluarga seperti itu.
Aina senang melihat saudaranya yang sadar jika apa yang dilakukan itu salah. Semoga kedepannya Aini bisa berpikir terlebih dahulu, sebelum melakukan sesuatu.
Selama perjalanan pulang, Aini bertanya pada saudaranya mengenai perasaan Zea selama ini. Aina menjelaskannya dengan lembut. Sepupunya memang sudah berusaha untuk melupakan rasanya pada Adam, tetapi semuanya tidak semudah yang dibayangkan. Mereka juga tidak tahu hati itu berlabuh pada siapa.
Hingga akhirnya mereka sampai juga di rumah. Keduanya masuk secara bersamaan sambil mengucap salam. Zayna yang berada di ruang keluarga melihat wajah kedua putrinya begitu tanpa kusut, sepertinya sedang ada masalah.
__ADS_1
"Ada apa ini? Pulang-pulang mukanya ditekuk. Apa ada masalah?" tanya Zayna saat kedua anaknya duduk di samping.
"Zea berhenti kuliah, Ma. Dan akan kuliah di luar negeri, tinggal sama Oma Aida," jawab Aina membuat Zayna terkejut.
Wanita itu tidak mengetahui apa pun mengenai rencana keponakannya itu. Mungkin lebih tepatnya memang sengaja ditutupi. Ini pasti juga ada hubungannya dengan masalah perasaan Zea terhadap Adam. Akan tetapi, apa mungkin harus seperti ini.
"Kapan Zea pergi?" tanya Mama Zayna.
"Sudah baru saja."
"Apa? Kenapa cepat sekali! Zea bahkan belum pamitan sama Mama."
"Sama kami saja tidak.”
"Terus kalian tahu dari mana kalau Zea pergi ke luar negeri?"
"Satu kampus juga sudah tahu. Tadi kami juga ke rumahnya dan menanyakan tentang kebenaran berita itu. Ternyata memang benar, bahkan saat kami sampai di rumah itu Zea sudah berangkat bersama dengan Tante Kinan."
"Jadi kalian belum sempat bicara dengan Zea?"
Keduanya menggeleng bersamaan.
Sebagai orang tua, Zayna mengerti perasaan Hanif dan Kinan. Mungkin ini memang yang terbaik untuk anak-anak mereka. Entah bagaimana kedepannya Adam dan Zea, berjodoh atau tidak, biarlah waktu yang menjawab. Kalau memang mereka tidak berjodoh, mau dipaksakan bagaimanapun juga tidak akan bisa.
"Ya sudah, kalian mandi sana! Setelah itu, kita makan sama-sama."
"Iya, Ma."
.
__ADS_1
.