Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
168. Masakan pertama


__ADS_3

Selesai menikmati sarapannya, Ayman pamit pada istri dan Mamanya untuk pergi ke kantor. Sebelum pergi, pria itu juga mengingatkan sang istri untuk tidak lupa minum obatnya. Juga makan makanan yang sehat. Ayman juga sudah mewanti Bik Ira untuk tidak memasak makanan pedas.


Padahal wanita paruh baya itu juga pasti sudah tahu mengenai hal itu karena dirinya juga pernah melahirkan. Bahkan bisa dikatakan jika dirinya lebih berpengalaman. Namun, Bik Ira tetap mengiyakan apa yang dikatakan Ayman. Wanita itu tahu betapa sayangnya majikannya itu pada Zayna.


"Mas, sebaiknya kamu segera berangkat. Daripada bikin kepala pusing. Bik Ira dan Mama lebih berpengalaman. Mereka pasti sudah tahu apa yang harus dilakukan," ucap Zayna.


"Aku cuma mengingatkan, Sayang," sahut Ayman membela diri.


"Sekarang sudah, kan? Sebaiknya sekarang berangkat."


Ayman pun akhirnya terpaksa harus berangkat ke kantor. Baru saja Ilham juga mengirimkan pesan agar dirinya segera ke kantor. Ada beberapa masalah dengan proyek baru dan pria itu malas untuk menyelesaikannya karena melibatkan rekannya yang kurang profesional.


Sementara itu, di rumah keluarga Papa Wisnu, Kinan sedang belajar masak bersama dengan mertuanya. Hari ini dia tidak ada kelas di kampus jadi, wanita itu memutuskan untuk belajar pada Mama Aida. Dapur dibuat berantakan oleh Kinan. Namun, justru wanita paruh baya itu senang karena menantunya sudah mau belajar. Wajar jika dapur berantakan.


Mama Aida juga tidak pernah keberatan jika dirinya harus mengajari menantunya yang belajar memasak. Justru dia senang bisa menemani Kinan di dapur.


“Sudah selesai? Kita coba, bagaimana rasanya,” ucap Mama Aida yang diangguki oleh Kinan.


“Sekarang mama yang coba dulu,” ucap Kinan sambil menyerahkan satu sendok pada mertuanya.


Dari penampilannya, sungguh sangat tidak meyakinkan. Namun, Mama Aida tidak mungkin mematahkan semangat menantunya itu. Terpaksa wanita itu mencicipinya, Kinan menunggu dengan harap-harap cemas, berharap hasilnya tidak mengecewakan.


“Bagaimana, Ma?” tanya Kinan saat Mama Aida yang sudah mencicipi satu sendok masakannya. Wanita itu terlihat berpikir, membuat Kinan semakin cemas.


“Enak, kok! Meskipun tampilannya sedikit hancur, tapi rasanya enak. Coba kamu cicipi!” seru Mama Aida.


“Benar, Ma?” tanya Kinan yang merasa tidak yakin. Anggukan dari Mama Aida membuat Kinan bersemangat untuk mencicipi makanan buatannya sendiri. Benar saja, rasanya enak, berbeda dengan tampilannya.


“Syukurlah! Meskipun tidak sempurna, tapi setidaknya berhasil.”


“Lain kali kalau menyajikan harus lebih rapi, supaya waktu makan juga nggak jijik. Bukan maksud Mama buat bilang masakan kamu nggak enak, tapi harus lebih rapi lagi. Orang akan semakin ingin makan jika dari tampilannya sudah membuat penasaran.”


“Iya, Ma. Nanti akan aku coba.”


“Nah! Sekarang setelah masak, kamu harus membersihkan ini semua. Kamu bisa minta bantuan sama Bik Isa saja,” ucap Mama Aida yang segera pergi dari sana.


“Yah ... Mama. Kenapa pergi gitu aja, sih?”


“Mama capek, minta bantuan sama bisa saja,” sahut mama Aidah sambil sedikit berteriak.


Meskipun begitu Kinan tetap tersenyum. Dia senang Mama mertuanya mau mengajari masak dengan telaten. Wanita itu jadi merindukan Mama Aisyah. Wanita yang sudah melahirkannya itu juga sangat baik.

__ADS_1


“Tenang saja, Neng. Ada Bik Isa yang akan bantuin beresin semua ini," ucap Bik Isa yang baru datang dari belakang.


“Terima kasih, Bik.”


“Iya, Neng.”


“Bik Isa, sudah lama kerja sama Mama?”


“Lumayan, Neng. Sejak Den Hanif kecil.”


“Berarti sudah sangat lama sekali. Apa Bibi nggak pernah kepikiran mau pergi cari majikan yang baru?”


“Nggak, Neng. Nyonya Aida sudah sangat baik sama Bibi. Zaman sekarang sangat susah cari majikan baik seperti keluarga ini," jawab Bik Isa yang diangguki Kinan.


“Saya juga pasti akan sangat susah mencari mertua lain seperti Mama Aida.”


“Memangnya Neng sudah berencana mau cari mertua baru?”


“Hust, enggaklah, Bik! Bibi ada-ada saja, nanti kalau kedengaran Mama bagaimana? Saya ‘kan cuma bercanda.”


“Iya, Neng, maaf. Bibi juga bercanda.” Kedua wanita itu pun tertawa sambil membersihkan dapur.


“Sayang, aku cari-cariin kamu ternyata ada di sini,” ucap Hanif sambil memeluk Kinan dari belakang.


“Mas, kamu ngagetin saja! Jangan gini dong! Nggak enak ada Bik Isa,” ucap Kinan pelan.


“Nggak apa-apa, Bik Isa juga biasa saja, ya, Bik?”


“Iya, Den,,” sahut Bik Isa tanpa melihat majikannya itu, sementara Kinan masih berusaha untuk melepaskan pelukan Hanif.


“Mas, kamu jam segini sudah ada di rumah?”


“Iya, barusan ada meeting di sekitar. Ya sudah, aku mau pulang saja, sekalian makan siang di rumah. Aku juga kangen sama kamu. Kata Mama kamu masak, ya?”


“Iya, tapi jelek, Mas.”


“Jelek?”


“Iya, ini contohnya. Jelek, kan? Tapi rasanya lumayan.”


“Nggak pa-pa, aku akan memakannya.” Hanif Akan mengambil piring itu. Namun, segera ditepis oleh Kinan.

__ADS_1


“Jangan makan yang ini. Ini bekas Mama sama aku tadi. Aku ambilin yang baru,” ucap Kinan yang segera mengambil piring dan mengisinya.


“Aku tunggu di meja makan, ya, Sayang!”


“Iya, Mas.”


Hanif pun menuju meja makan, menunggu sang istri menyiapkan makan siang untuknya. Sambil menunggu makanan datang, pria itu memainkan ponselnya, membalas pesan dari Rio asistennya. Pemuda itu saat ini sudah mulai bekerja di perusahaan. Hanif kagum dengannya, pekerjaan ini baru untuknya dan Rio mampu beradaptasi dengan cepat.


"Ini, Mas. Silakan dinikmati," ucap Kinan sambil menyerahkan sepiring nasi dan lauk yang dia buat tadi. Ada juga jus yang disiapkan untuk sang suami.


"Kamu nggak makan juga, Sayang?" tanya Ayman karena Kinan cuma membawa satu piring.


"Aku sudah kenyang, dari tadi nyicipin makanan terus. Aku temenin kamu saja."


"Sini, aku suapin kamu," ucap Hanif sambil mengarahkan satu sendok makanan ke arah Kinan, tetapi wanita itu menolak.


"Aku nggak mau, Mas. Aku sudah kenyang, buat kamu saja."


Hanif pun menikmati makan siang dengan ditemani oleh Kinan. Wanita itu sangat senang dengan saat hasil masakan pertamanya dinikmati oleh sang suami. Dia ingin seperti Zayna yang sangat pandai memasak. Setiap hari kakak iparnya selalu membuat segala jenis menu.


Ayman juga tidak ada hentinya memuji kehebatan istrinya. Wanita itu ingin seperti itu. Dia juga suka jika Hanif romantis, tapi harus tahu tempat, tidak seperti tadi.


"Habis ini kamu ke kantor lagi, Mas?"


"Iya, masih ada beberapa pekerjaan. Memangnya ada apa? Kamu kangen sama aku?" tanya Hanif dengan menaik turunkan alisnya.


"Apa, sih, Mas! Nggak juga, aku cuma nanya saja."


"Sayang, mengenai dosen yang gantiin aku, apa dia sudah ngajar?"


"Belum, Mas. Katanya sih sebentar lagi, tapi nggak tahu kapan."


"Aku dengar, dia masih sendiri. Apa benar?"


"Aku nggak tahu."


"Kok, kamu nggak tahu sih, Sayang?"


"Aku 'kan nggak pernah cari tahu tentang hal yang gak penting itu, Mas. Yang penting ada dosen yang ngajar, sudah itu saja. Aku tinggal belajar."


"Kalau itu bagus, jangan terlalu peduli dengan dosen baru itu. Meskipun satu kampus membicarakannya, kamu jangan sekali-kali ikut membicarakannya apalagi sampai memujanya. Aku tidak rela."

__ADS_1


.


.


__ADS_2