Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
176. Makan malam romantis


__ADS_3

Hanif mengajak sang istri memasuki gedung perusahaannya. Kinan hanya menuruti saja tanpa mau bertanya. Sesekali dia melihat ke kiri dan ke kanan untuk mengetahui tempat kerja sang suami. Hingga sampailah mereka di lantai yang paling atas.


Begitu lift terbuka, tampak pemandangan yang begitu indah di sana. Kinan begitu terharu dibuatnya. Dia tidak menyangka sang suami bisa melakukan hal seromantis ini.


“Kamu menyiapkan semua ini untukku, Mas?” tanya Kinan dengan mata yang berkaca-kaca. Pemandangan di depan yang begitu indah menurutnya.


“Aku sengaja membuatkan semua ini untukmu. Aku tidak mau pergi ke restoran atau tempat lainnya yang akan mengganggu kebersamaan kita. Itulah kenapa aku membuatnya di gedung perusahaan sendiri.”


“Kamu yang mempersiapkan semuanya sendiri, Mas?”


“Aku rela melakukan semua ini agar bisa berduaan denganmu. Maaf jika tidak sesuai dengan keinginanmu.”


Air mata wanita itu jatuh juga, setelah dari tadi dia coba tahan. “Ini bagus sekali, Mas.”


“Kamu suka?” tanya Hanif sambil memeluk sama istri dari belakang. Kinan mengangguk tanpa bisa berkata apa pun. Sesekali dia menghapus air matanya.


“Aku senang kalau kamu suka. Itu berarti usahaku tidak sia-sia. Sekarang, ayo kita ke sana! Kamu duduk saja, biar aku yang menyiapkan makanan,” ucap Hanif sambil membawa sang istri ke arah kursi yang dia sediakan.


“Kamu sendiri yang menyiapkannya?”


“Aku sudah bilang, kalau aku tidak menginginkan ada keberadaan orang lain di sini. Aku hanya ingin berdua denganmu.”


Kinan duduk di kursi yang sudah disediakan sang suami. Dia melihat sekeliling, begitu indah dekorasi yang dibuat oleh Hanif. Lampu berbentuk lambang hati yang begitu besar serta alunan musik yang semakin menambah suasana romantis.


“Silakan dinikmati, Nyonya,” ucap Hanif sambil meletakkan makanan yang sudah dia siapkan dan dua gelas minuman.”


“Minuman apa ini, Mas?” tanya Kinan sambil mengangkat gelas yang ada di hadapannya.


“Kamu tenang saja, itu bukan anggur seperti yang kamu pikirkan. Itu hanya jus, aku cuma memakai gelas seperti itu biar suasana lebih romantis saja,” sahut Hanif.


“Apa hubungannya gelas sama suasana romantis?” tanya Kinan dengan mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Iya, kan di televisi seperti itu gelasnya, makanya aku ngikutin saja,” jawab Hanif membuat Kinan tertawa. Namun wanita itu senang dengan usaha yang dilakukan sang suami, demi menyenangkan.


“Bagaimana rasa masakanku?” tanya Hanif saat melihat istrinya mulai menikmati makanannya.


“Makanan buatan kamu memang dari dulu enak, Mas. Berbeda sama aku yang memang nggak bisa masak.”


“Nanti juga bisa. Kalau kamu mau berusaha pasti bisa.”


“Kapan-kapan aku mau belajar masak sama kamu, ya, Mas?”


“Boleh, apa pun untuk kamu,” jawab Hanif membuat Kinan tersenyum.


Mereka pun menikmati makan malam sambil berbincang hangat. Sesekali pria itu menyuapi sang istri, begitu pun sebaliknya. Setelah selesai makan malam, Hanif mengajak wanita itu berdansa.


“Aku tidak bisa berdansa, Mas. Aku nggak mau,” tolak Kinan.


“Tidak apa-apa, aku juga tidak bisa berdansa. Kita bergerak sebisanya saja.”


“Memang ada seperti itu?”


Kinan tertawa dan mengikuti ajakan sang suami. Meski keduanya tidak bisa berdansa dan hanya mengikuti musik , tetapi keduanya menikmati malam ini dengan begitu bahagia. Usai menikmati alunan musik sambil berdansa, mereka berdiri di pinggir pagar pembatas gedung.


Hanif dan Kinan bisa melihat pemandangan kota yang begitu sangat indah. Tampak lampu kerlap-kerlip, deretan mobil juga memadati jalanan meski sudah sangat malam.


"Sebenarnya aku mau tanya sama kamu, Mas. Ada acara apa, sih, kamu tiba-tiba mengajakku makan malam di sini? Apalagi dengan kejutan yang luar biasa seperti ini."


"Tidak ada apa-apa, Sayang. Apa salahnya, menyenangkan hati istri. Bukankah itu juga bisa menambah pahala untukku? Setelah kita menikah, aku tidak pernah memberimu kejutan atau hal lainnya. Ini hanya hal kecil yang bisa aku persembahkan untukmu," bisik Hanif yang semakin mempererat pelukannya.


"Terima kasih atas kejutan yang kamu buat untukku, Mas. Aku benar-benar bahagia. Sebenarnya dulu aku juga pernah bermimpi, memiliki seseorang yang bisa membuatku bahagia. Terutama memberiku kejutan seperti ini. Sekarang kamu mengabulkan mimpiku itu, Mas, terima kasih."


"Aku senang jika apa yang aku siapkan ternyata sesuai dengan keinginanmu. Jujur saat tadi menyiapkan semua ini, aku takut jika tidak sesuai dengan seleramu. Apalagi saat aku mencari di Google, ternyata hal yang disukai wanita itu banyak sekali jawabannya."

__ADS_1


"Kamu sampai berusaha sebesar itu, Mas. Aku jadi nggak bisa berkata apa-apa."


"Semua ini memang untuk kamu." Hanif berdiri di belakang Kinan dan memeluk wanita itu. "Di sini sangat dingin, apa perlu kita masuk ke ruanganku saja."


"Jadi nggak romantis tempatnya kalau ke ruangan kamu. Semua kejutannya ada di sini," sahut Kinan yang belum rela meninggalkan tempat ini begitu saja.


Dia ingin menyimpan semua kenangan ini. Apalagi mengingat betapa besarnya perjuangan Hanif dalam menyiapkannya. Kinan semakin berat untuk pergi.


"Kita sudah cukup lama di sini."


"Tapi aku masih mau menikmatinya. Kita di sini sebentar lagi saja."


"Baiklah, terserah kamu saja."


Beberapa menit berlalu, Hanif dan Kinan memutuskan untuk pulang. Meskipun berat, tetapi wanita itu juga tidak mungkin tetap di sana. Beberapa kali dia melihat ke belakang sebelum benar-benar meninggalkan tempat itu. Terlalu larut saat pulang membuat Kinan tertidur di mobil.


Hanif yang melihatnya pun hanya tersenyum. Tadi wanita itu menolak untuk pulang, tetapi kini bahkan belum sampai di rumah dia sudah tertidur. Pria itu tahu jika sang istri dari tadi mencoba menahan rasa kantuknya, demi menikmati waktu bersama. Keduanya memang jarang ada waktu untuk menikmati kebersamaan.


Mereka sama-sama sibuk dengan kegiatan masing-masing. Hanif masih bersyukur Kinan menyempatkan waktu untuk saling bertukar kabar. Jika tidak, entah apa yang akan terjadi dengan kehidupan rumah tangga mereka. Meskipun masih muda, Kinan bisa bersikap dan berpikir lebih dewasa dari wanita seusianya.


Mobil yang dikendarai oleh Hanif memasuki halaman rumah. Suasana juga tampak sepi di sana. Sepertinya semua orang sudah tertidur. Namun, saat dia baru turun dari mobil, tampak pintu terbuka. Ada Mama Aida di sana.


Wanita itu memang sengaja menunggu keduanya Meskipun mereka sudah dewasa, tetapi bagi Mama Aida, Hanif dan Kinan tetaplah anak mereka. Setiap keduanya pergi ke mana pun pasti dirinya akan khawatir.


"Kinan tertidur, Nif?" tanya Mama Aida dengan suara pelan.


"Iya, Ma, tadi di jalan. Padahal di sana tadi dia nggak mau pulang. Baru naik mobil sudah nggak sadarkan diri," ucap Hanif sambil terkekeh, yang justru mendapat pukulan dari Mama Aida.


"Kamu ini bisa-bisanya mengejek istri sendiri. Kalau dia dengar, bisa marah sama kamu. Mama nggak mau ikutan."


"Justru karena dia tidur, makanya aku berani bicara seperti itu." Hanif pun membawa sang istri ke kamar. Mama Aida juga ikut membantu Hanif membukakan pintu dan menata tempat tidur untuk menantunya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2