
Pintu rumah diketuk seseorang dari luar. Zayna berinisiatif membukanya. Ternyata Fahri yang datang. Pria itu tersenyum saat melihat mantan kekasihnya ada di rumah ini.
"Apa kabar, Na?" tanya Fahri.
"Baik, kamu mau jemput Zanita? Dia ada di dalam. Kebetulan kami mau makan siang. Sebaiknya kamu ikut bergabung."
Zayna membuka pintu sedikit lebar agar Fahri bisa masuk, kemudian menutupnya kembali. Wanita itu berjalan menuju ruang makan diikuti adik iparnya. Semua orang menatap kadatangan Fahri. Tidak biasanya pria itu menjemput sang istri tanpa ada pemberitahuan sebelumnya.
"Fahri, kamu mau jemput Zanita?" tanya Rahmat.
"Iya, Pa."
"Aku belum mau pulang. Malam ini kita tidur di sini saja. Tidak apa-apa, kan? Kamu juga tidak pernah menginap di sini," ujar Zanita yang berpura-pura hubungannya baik-baik saja dengan sang suami. Dia tidak ingin Zayna tahu apa yang dialaminya selama menjadi istri Fahri.
"Iya, tidak apa-apa, malam ini kita akan tidur di sini," sahut Fahri yang sebenarnya senang bisa melihat Zayna ada di sini. Zanita bisa melihat tatapan sang suami pada kakaknya. Hal itu semakin membuat dia membenci Zayna.
"Duduklah! kita makan siang bersama," perintah Papa Rahmat.
"Iya, Pa." Fahri duduk di samping Zanita, sementara Zivana pindah ke samping Zayna.
Sepanjang acara makan siang, Fahri dan Zanita terus saja menatap Zayna yang melayani sang suami. Ayman pun terus saja tersenyum pada istrinya, membuat Zanita geram, tanpa sadar dia mengepalkan tangannya di bawah meja. Wanita itu benar-benar iri dengan apa yang kakaknya dapatkan.
Begitu juga dengan Fahri. Dia tidak suka dengan apa yang Zayna lakukan. Seharusnya dirinya yang ada di sana. Dilayani dan diberikan senyuman oleh wanita itu. Bukan malah menikah dengan istri yang tidak berguna seperti Zanita.
Setelah selesai makan, Ayman berniat untuk mengatakan yang sejujurnya. Di sini juga banyak orang jadi sekalian, begitu pikirnya. Dia juga perlu memperingatkan Fahri jika Zayna sudah menjadi miliknya karena sedari tadi, Ayman bisa melihat tatapan pria itu kepada sang istri.
Sedari tadi dia diam karena menghormati mertuanya. Ayman tidak ingin membuat keributan, apalagi ini di meja makan. Itulah kenapa sedari tadi pria itu tersenyum pada sang istri, sesekali berbisik yang semakin membuat Fahri cemburu.
"Pa, Ma, ada yang ingin aku bicarakan," ucap Ayman memulai pembicaraan.
__ADS_1
"Mau bicara, ya bicara saja. Tidak perlu terlalu serius. Memang mau bicara apa?" tanya Savina dengan nada ketus.
"Mungkin apa yang aku katakan ini akan menyakiti hati Papa dan Mama, tapi sungguh, aku tidak ada maksud untuk melakukannya."
Kalimat itu tentu saja membuat kedua mertuanya semakin penasaran. Apa sebenarnya yang ingin dikatakan menantunya tersebut? Sepertinya sangat serius sekali. Semua orang kini menatap Ayman dengan pertanyaan yang sama, apa yang terjadi?
"Katakan saja langsung, tidak perlu berbelit-belit," sela Papa Rahmat.
Ayman pun mulai bercerita tentang siapa dia dan keluarganya. Tentang apa pekerjaannya juga, tidak ada yang ditutup-tutupi oleh pria itu lagi. Baginya keluarga Zayna saat ini juga keluarganya. Kedua mertuanya tentu saja syok dan masih tidak percaya dengan apa yang didengar.
Seorang pria yang selama ini mereka anggap seorang tukang ojek, ternyata pemimpin perusahaan besar. Bukan itu saja, keluarga Ayman juga termasuk orang-orang terpandang. Ada rasa tidak percaya diri yang dirasakan Rahmat. Berbeda dengan Savina yang justru berbinar setelah mendengar semua cerita.
Bukan hanya Papa Rahmat dan Mama Savina yang terkejut. Fahri, Zanita dan Zivana juga tidak kalah terkejutnya, terutama Zanita. Dia semakin merasa iri terhadap kakaknya. Entah mendapat keberuntungan dari mana wanita itu bisa mendapatkan semua. Sedangkan dirinya tidak mendapatkan apa pun.
Suami yang sudah tidak mencintainya. Mertua yang juga selalu menekannya dan membuat dirinya sengsara setiap hari. Lengkap sekali penderitaan yang dialami Zanita. Sedangkan Zayna justru terlihat sangat bahagia.
"Maafkan aku, Pa. Bukan maksudku untuk membohongi Papa dan keluarga karena memang itu adalah keinginan keluarga agar aku tidak salah pilih. Aku hanya ingin seorang wanita yang benar-benar mencintaiku, bukan karena harta."
"Apa keluargamu sudah menerima Zayna?"
"Insya Allah sudah, Pa. Mama Aisyah sangat menyayangiku. Bahkan memperlakukanku seperti putrinya." Bukan Ayman yang menjawab, tapi Zayna.
Papa Rahmat merasa lega karena putrinya diperlakukan dengan baik oleh orang lain. Hal yang tidak pernah bisa dia lakukan. Pria paruh baya itu juga bisa melihat wajah bahagia Zayna. Ternyata kekhawatirannya tidak terbukti.
Selama ini Papa Rahmat takut jika putrinya tidak bahagia, menikah dengan seorang tukang ojek. Nyatanya Ayman bahkan lebih kaya darinya. Pantas saja menantunya bisa mengirim uang sepuluh juta kemarin. Meskipun itu tidak ada apa-apanya bagi Ayman, tetapi itu sangat besar baginya.
"Maaf, jika perbuatanku sudah menyakiti Papa, Mama dan keluarga." Sesal Ayman. Dia merasa tidak enak pada mertuanya karena merasa seperti mempermainkan mereka.
"Itu tidak masalah buat Papa. Asal kamu bisa membuat Zayna bahagia, tidak ada masalah. Lagi pula siapa pun kamu, asal kamu bisa menjaga dan membimbing Zayna ke jalan yang benar, yang lainnya tidak berarti."
__ADS_1
"Terima kasih, Papa, sudah mengerti keadaanku."
Fahri mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia benar-benar kalah dari Ayman. Padahal sebelumnya dia merasa di atas angin karena pria itu bukanlah saingannya, tetapi kini setelah kebenaran terbuka, pria itu tidak memiliki kekuatan untuk menatap Zayna. sebelumnya dia punya keinginan untuk merebut kembali mantan kekasihnya, dari tangan Ayman.
Setelah selesai pembicaraan itu, semua orang kembali dengan kegiatan masing-masing. Hanya tinggal Zayna yang membersihkan meja dengan dibantu Zanita yang sesekali melirik suami kakaknya. Ayman masih duduk di tempatnya. Dia menunggu sang istri selesai melakukan pekerjaannya.
"Ayo, Mas! Kita istirahat," ajak Zayna.
"Sudah selesai?" tanya Ayman yang diangguki istrinya.
Sementara itu, di dalam kamar orang tua mereka. Rahmat membaringkan tubuhnya di samping sang istri. Pria itu masih memikirkan apa yang disampaikan oleh menantunya. Setelah ini pasti akan ada banyak drama yang akan terjadi.
"Aku harap kamu tidak membuat masalah dengan Ayman dan Zayna," ucap Rahmat tanpa melihat istrinya.
"Apa maksud kamu?" tanya Savina yang tidak mengerti atau lebih tepatnya pura-pura tidak mengerti.
"Setelah ini aku yakin kamu dan Zanita tidak akan diam. Apalagi setelah melihat Zayna bahagia. Aku bahkan berpikir Zanita akan merengek padamu dan meminta agar Ayman bisa meninggalkan Zayna dan menikahinya. Jika kamu sampai melakukan sesuatu kepada mereka dan menuruti keinginan putrimu itu, Semua orang akan tahu siapa Zanita sebenarnya."
"Kamu mengancamku?"
"Kenapa tidak? Selama ini aku diam bukan berarti kamu bisa berbuat seenaknya."
"Bukankah kita sepakat untuk merahasiakan ini?"
.
.
.
__ADS_1