
"Aku mau ikut Papa ke rumah sakit saja, mau lihat mama dan adik. Aku nggak mau pulang. Ya, Pa, ya kita ke rumah sakit, ya," Adam mencoba membujuk papanya.
"Iya, kita ke rumah sakit, tapi pulang dulu. Kamu masih pakai baju sekolah ini."
"Aku pakai daleman kaos, kok, Pa. Jadi nanti bajunya dilepas saja. Kalau celana nggak pa-pa, pakai celana sekolah juga nggak kelihatan. Ayo, Pa! Nggak usah pulang, kelamaan." Adam menggoyangkan tangan papanya agar pria itu, mengizinkan dirinya untuk pergi ke rumah sakit.
"Ya sudah, Iya, kita ke rumah sakit," jawab Hanif membuat Adam tersenyum senang.
Dia tidak sabar melihat bagaimana wajah adiknya. Pasti akan cantik seperti mamanya. Anak itu berjanji akan menjaga adiknya itu, seperti Mama Kinan dan Papa Hanif menjaga dirinya. Hanif hanya melirik putranya yang terus saja tersenyum. Pria itu berharap Adam akan selalu seperti ini, menyayangi keluarganya tanpa membahas lagi masa lalu.
Tidak berapa lama, mobil yang dikendarai oleh Hanif akhirnya sampai juga di parkiran rumah sakit. Adam segera turun dan menarik tangannya papanya. Hanif hanya menggelengkan kepala, melihat bagaimana antusias putranya. Pria itu menunjukkan jalan untuk sang anak agar tidak salah ruangan.
"Apa mama sama adik ada di lantai yang sama, Pa?" tanya Adam saat keduanya menaiki lift. Anak itu melihat papanya menekan angka lima.
"Iya, mereka ada di lantai yang sama jadi, kamu tidak perlu naik lift lagi untuk ke ruangan adik."
"Aku mau lihat mama dulu, baru lihat adik."
Hanif mengangguk dan kemudian keluar dari lift saat pintu terbuka. Keduanya berjalan menuju ruangan Kinan, di mana para orang tua masih menunggu di sana. Mereka sepertinya masih asyik mendengarkan cerita Kinan. Bahkan tidak sadar jika belum ada satu pun yang makan siang.
"Assalamualaikum, Mama!" seru Adam yang kemudian berlari ke arah mamanya. Kinan menyambut dengan tersenyum lebar.
"Mama tidak apa-apa? Tidak sakit, kan?" tanya anak itu.
"Mama tidak apa-apa, hanya butuh istirahat sebentar juga sehat lagi," jawab Kinan yang kemudian memperhatikan penampilan putranya. "Kamu tidak pulang dulu tadi?"
Adam memang masih memakai celana sekolah dan bersepatu. Meskipun bagian atas sudah memakai kaos, tetapi wanita itu tahu jika itu adalah dalaman, yang dipakai putranya tadi pagi. Pasti tadi anak itu memaksa papanya untuk ke sini.
"Tidak, Ma. Aku 'kan juga pengen lihat adik bayi jadi, aku mau langsung ke sini saja. Sekarang adik bayinya di mana, Ma?"
__ADS_1
"Ada di ruangan khusus bayi, Sayang. Kamu mau ke sana? Minta antarin papa sana!"
"Sama Oma saja, Adam. Ayo, Oma juga sudah kangen sama dedek bayi," sela Mama Aida dengan cepat.
Adam mengangguk dan mengikuti omanya, menuju ruangan di mana adiknya berada. Anak itu banyak bertanya mengenai bayi yang diberi nama Zea itu. Mama Aida pun menceritakan sedikit gambaran tentang bayi itu.
****
"Nyonya belum memberi kabar, Neng?" tanya Bik Ira saat melihat majikannya memainkan ponsel. Baby Ars sedang ada di kamar, baru saja putranya tertidur.
"Sudah, Bik. Katanya memang sudah lahiran. Bayinya juga sehat, seperti perkiraan sebelumnya. Jika anaknya Kinan perempuan diberi nama Zea. Namanya cantik, ya, Bik. Sebenarnya aku ingin jenguk ke sana, tapi pasti nanti nggak dibolehin sama Mas Ayman. Takut terjadi sesuatu. Aku juga sadar diri, Bik, takutnya nanti seperti lahiran sebelumnya jadi, aku nurut saja duduk di rumah." Zayna mengusap perutnya yang buncit.
"Nanti bisa video call, Neng." Bik Ira mencoba menghibur majikannya.
"Iya, Bik."
Tiba-tiba Nina datang, gadis itu baru saja pulang dari kampus. Dia membuka kulkas dan mengambil air minum. Tidak lupa juga tangan yang satunya mengambil buah. Nina duduk di meja makan begitu saja, tanpa ada sapaan terhadap Zayna maupun Bik Ira—ibunya sendiri. Zayna sudah tidak bisa menahan diri untuk menegur gadis itu.
Nina masih mengunyah buah dengan menatap Zayna. Gadis itu paling tidak suka jika ada ya orang yang ikut campur dalam urusannya. Apalagi orang yang sama sekali tidak dia anggap.
"Memangnya kenapa? Bukan kamu yang beli, kan? Pak Ayman yang beli, pemilik rumah ini. Kamu siapa? Kamu itu cuma orang lain! Kamu juga sama seperti saya, menumpang juga jadi jangan belagu. Selama beberapa bulan saya menahannya, tapi sepertinya kamu tidak sadar diri," ucap Nina dengan nada ketus.
Zayna membuka mulutnya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Nina. Bagaimana mungkin bisa ada anak seorang pembantu, yang bisa berkata demikian. Memang dia tahu dirinya bukan pemilik rumah ini, tetapi bagaimanapun juga dia adalah istri Ayman. Otomatis juga nyonya di rumah ini.
Meskipun mereka sama-sama orang luar, tetapi sekarang status mereka berbeda dan itu sangat jauh. Sepertinya gadis itu perlu diberi pengertian. Kali ini dia akan mengambil tindakan tegas. Zayna tidak mau dianggap remeh oleh orang lain, siapa pun itu.
"Nina, apa yang kamu katakan? Neng Zayna itu majikan kita. Tidak seharusnya kamu bicara seperti itu!" seru Bik Ira yang begitu marah pada putrinya. Wanita itu memang tahu jika Nina tidak menyukai Zayna. Selama ini dia berusaha untuk menutupinya, tetapi gadis itu malah membukanya sekarang.
"Memangnya kenapa, Bu? Benar 'kan apa yang aku katakan! Dia itu cuma istrinya Pak Ayman, dia bukan majikan kita. Aku tidak mau menghormatinya. Dia juga sama saja seperti kita!"
__ADS_1
"Wah! Ternyata kamu sudah menunjukkan siapa dirimu sebenarnya. Aku tidak menyangka kalau kamu bisa juga berbicara seperti itu. Padahal aku mengira kamu wanita baik-baik, ternyata penilaianku salah," ujar Zayna dengan nada sinis.
"Memangnya kenapa? Kamu juga tidak bisa melakukan apa pun terhadapku."
"Oh ya! Kenapa kamu bisa seyakin itu?"
"Tentu saja aku yakin,” jawab Nina dengan angkuhnya.
Zayna menganggukkan kepalanya. Nina memang benar-benar tidak pantas berada di rumah ini. Bisa-bisa nanti akan memberi pengaruh buruk pada keluarga ini, terutama anak-anaknya. Bik Ira juga sepertinya sudah menasehatinya, tetapi memang dasar anaknya saja yang tidak bisa diberi tahu.
"Sekarang kamu kemasi barang-barang kamu dan segera tinggalkan rumah ini sekarang juga. Kalau tidak, maka aku sendiri yang akan mengusirmu."
Nina melototkan matanya. Dia tidak bisa menerima begitu saja keputusan Zayna, yang menurutnya tidak ada artinya. "Aku tidak mau! Punya hak apa kamu bisa mengusirku dari rumah ini? Hanya Nyonya Aisyah, Tuan Hadi dan Tuan Ayman yang bisa mengusirku. Kamu tidak punya hak atas itu."
"Siapa bilang dia tidak punya hak? Justru dia yang paling memiliki hak besar untuk mengusir kamu dari rumah ini," sela Mama Aisyah yang baru saja datang.
Dia benar-benar tidak menyangka jika anak dari asisten rumah tangganya, bisa berbicara seperti itu pada Zayna. Padahal menantunya adalah wanita yang baik, tetapi Nina sama sekali tidak tahu terima kasih. Selama ini dirinya sudah tertipu dengan sifat baiknya, yang ternyata itu hanyalah palsu.
Nina begitu terkejut melihat keberadaan Nyonya Aisyah di sana. Dia tidak mengira jika majikannya itu akan datang sekarang. Padahal tadi katanya akan pulang malam, sedangkan sejarang masih sore sudah pulang. Kalau sudah seperti ini dirinya harus bisa mengambil hati majikannya itu.
"Nyonya, maaf, bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya tidak suka dengan sikap Nyonya Zayna yang terlalu menekan saya. Saya tidak boleh ini dan itu. Saya hanya memakan apel ini saja, tapi Nyonya Zayna malah marah-marah sama saya. Padahal beliau bisa membeli lagi," ucap Nina dengan nada dibuat sesedih mungkin. Bahkan terkesan seperti menahan tangis.
Zayna membuang napas pelan sambil menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir ternyata anak Bik Ira begitu pandai berakting. Kenapa tidak masuk dunia entertainment saja, daripada harus membuang-buang waktu untuk kuliah. Kasihan juga Bik Ira yang selama ini bekerja keras untuk putrinya itu.
"Kamu pikir saya percaya dengan apa yang kamu katakan? Saya lebih mengenal menantu saya daripada kamu. Tidak usah menjelek-jelekan dia karena apa yang kamu katakan, tidak akan berpengaruh pada penilaian saya tentang kamu. Semua keputusan ada pada Zayna, terserah dia mau bagaimana."
"Seperti yang aku katakan tadi, kalau sebaiknya kamu, Nina, segera meninggalkan rumah ini sekarang! Kalau tidak, satpam di luar yang akan mengusir kamu. Tinggal pilih yang mana," ucap Zayna dengan menatap wajah Nina yang pias. Gadis itu sudah tidak bisa membela diri lagi.
Bik Ira hanya diam saja, tidak membantu putrinya karena dia juga tahu, jika sikap putrinya sudah sangat-sangat keterlaluan. Wanita paruh baya itu juga tidak membenarkan kesalahan yang dibuat oleh putrinya.
__ADS_1
.
.