
"Kapan rencana kamu untuk menemui mereka?" tanya Kinan pada sang putra.
"Aku boleh pergi besok, Ma?”
"Kan, tadi Mama bilang terserah kamu."
Adam mengangguk dan kembali merebahkan kepalanya di pangkuan sang mama. Dia banyak bercerita, tentang apa saja yang dilakukan selama di luar kota, kecuali tentang kebersamaannya dengan sang kekasih tentunya. Setelah bercerita panjang lebar dengan Kinan, Adam kembali ke kamar. Pria itu sudah mengantuk, dari tadi dia ingin istirahat sejenak.
Wanita itu pun mengiyakannya karena dia tahu, jika sang putra memang sudah lelah. Kinan sudah memperingatkan Zea untuk tidak mengganggu kakaknya, tetapi gadis itu masih saja meminta antar. Kinan tahu jika putrinya rindu sang kakak dan memang seperti itulah kebiasaan mereka. Satu sama lain saling rindu jika beberapa hari tidak bertemu.
****
Sementara itu, di kantin sebuah kampus ternama, tiga orang gadis tengah menikmati makan siangnya. Mereka baru saja selesai mengikuti kelas. Siapa lagi kalau bukan di kembar Ay dan Zea.
"Aku malas tau nggak, sih! Tiap hari ada saja tugas dari dosen. Mana semuanya sulit," ucap Ainiya saat sedang menikmati makanannya.
"Dari dulu kamu juga selalu ngeluh setiap ada tugas. Ingat, ya! Kamu jangan sampai membuat mama dan papa marah, gara-gara kamu tidak serius untuk kuliah. Banyak di luaran sana anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah, tapi mereka tidak mampu. Seharusnya kamu lebih banyak bersyukur," sahut Ainaya yang tidak suka dengan keluhan saudaranya.
"Iya, Niya. Aku juga nggak mau punya kakak ipar yang nggak pintar. Bisa-bisa nanti membuat Kak Adam malu," sela Zea yang sedari tadi juga mendengar keluhan Ainiya.
"Iya, iya, aku cuma ingin mengatakan apa yang aku rasakan. Kenapa kalian serius sekali! Aku juga tahu apa yang mama dan papa tidak suka, tidak perlu dijelaskan lagi. Aku juga tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Kak Adam," sahut Ainiya dengan cemberut.
“Selamat pagi, Aina,” sapa seorang laki-laki yang duduk di samping gadis itu.
Ketiga wanita itu pun melihat ke arah orang yang baru datang. Dia adalah Vino, Selama ini pemuda itu selalu mengejar-ngejar Ainaya. Namun, gadis itu sama sekali tidak menanggapi.
__ADS_1
"Siapa yang memintamu duduk di sini? Di sebelah sana masih banyak kursi yang kosong. Sebaiknya kamu cari kursi sendiri Kami ingin bicara sesama wanita jadi, kamu silakan pergi," sahut Ainaya dengan ketus.
Pria yang ada di sampingnya ini tidak pernah patah semangat dalam mengajarnya dari dulu. Padahal gadis itu sudah berusaha menolaknya. Untuk saat ini Ainaya tidak ingin memiliki kekasih dan tidak ingin terlibat dalam hubungan terlarang itu. Dia masih ingin fokus pada masa depannya. Dibalik rencananya itu, Aina juga ingin membuat kedua orang tuanya bangga.
"Kamu kalau marah seperti ini jadi semakin cantik. Aku juga semakin jatuh cinta sama kamu," ucap Vino dengan tersenyum, seolah apa yang dikatakan gadis itu tidaklah penting.
Ainaya tidak peduli lagi dengan apa yang pria itu katakan. Dia terus saja menikmati makanan yang sudah dipesannya. Sementara Ainiya dan Zea hanya terkekeh dibuatnya. Semua penghuni kampus memang sudah tahu jika vino memang menyukai Aina.
Namun, gadis itu tidak tidak pernah membalasnya sama sekali. Padahal Jika dilihat dengan saksama, Vino termasuk orang yang baik meskipun pemuda itu orang yang suka membuat heboh, tetapi dia tidak pernah mempermainkan sebuah hubungan. Bahkan sampai detik ini pun Vino tidak pernah memiliki kekasih. Hanya saja banyak gadis yang mengejar-ngejarnya.
"Niya, aku mau balik, kamu mau ikut sekalian, apa bareng sama Zea?" tanya Ainaya sambil membereskan beberapa barangnya.
“Kok, pulang, Nay? Kita baru saja kumpul," sela Zea yang masih menikmati makanannya.
Niya yang teringat dengan keadaan mamanya pun memutuskan untuk ikut. "Aku pulang sama kamu, aku juga khawatir sama mama. Zea mobilnya kamu bawa, ya!"
Zea mengangguk, memang kemarin mobil gadis itu dibawa oleh Niya karena memang sengaja agar Adam mengantar adiknya itu. Ketiganya memang selalu ke mana pun bersama.
"Kamu mau aku antar saja, Naya?" tanya Vino.
"Tidak perlu, aku sudah bawa mobil sendiri. Terima kasih atas tawarannya, permisi." Ainaya meninggalkan kantin, diikuti oleh saudara kembarnya. Keduanya menaiki mobil dan meninggalkan halaman kampus. Kendaraan itu melaju dengan kecepatan sedang.
"Kamu kenapa, sih? Kayaknya nggak suka banget sama Vino? Padahal dia kan sudah baik sama kamu? Setidaknya kamu kasih dia kesempatan untuk membuktikan diri," tanya Ainiya saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Kalau kamu mau, kamu saja yang sama dia."
__ADS_1
"Aku nggak maulah. Aku juga sudah ada Kak Adam. Vino nggak ada apa-apanya dibanding dengan Kak Adam. Pokoknya di dunia ini tidak akan ada yang bisa menggantikan posisi ke Adam di hatiku," sahut Ainiya dengan keyakinan yang besar.
"Bagaimana kalau di hati Kak Adam sudah ada orang lain dan mereka berencana untuk menikah?"
"Mana ada seperti itu, Kak Adam nggak mungkin menghianati aku. Zea juga bilang kalau Kak Adam nggak punya kekasih lagi, setelah kita menggagalkan acara kencan mereka waktu itu." Niya terkekeh kala mengingat ulahnya saat itu
"Itu mah kamu saja sama Zea. Aku nggak ikut-ikutan, aku cuma duduk di mobil saja, enggak ikut masuk," kilah Ainaya mencoba untuk membeladiri.
"Itu terserah kamu. Pokoknya kamu juga ikut kita. Aku juga nggak akan pernah rela kalau Kak Adam sampai menikah dengan wanita lain. Kalau itu sampai terjadi, berarti siap-siap saja wanita itu harus berurusan denganku," ucap Niya dengan begitu yakin.
Sejenak Ainaya tertegun dengan kalimat yang begitu tegas dari saudaranya. Entah kenapa dirinya merasa ada sesuatu, yang akan terjadi di masa depan dan itu bukanlah hal yang baik. Semoga saja itu hanya firasat saja. Dia tidak ingin hubungan antara keluarga hancur, hanya gara-gara perasaan cinta semata.
Apalagi Oma Aisyah juga sudah terlalu tua juga jika harus menghadapi masalah anak dan cucunya. Gadis itu senang jika memang Adam berjodoh dengan Niya, tetapi jika Tuhan berkehendak lain mereka bisa apa. Bukankah setiap orang sudah diatur jodohnya oleh Tuhan.
"Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak suka kalau aku bersama dengan Kak Adam?" tanya Niya dengan memicingkan mata ke arah saudaranya.
"Siapa bilang aku gak suka, hanya saja kamu jangan terlalu mencintainya. Takut jika dia memang bukan jodoh kamu. Setiap jodoh manusia sudah diatur oleh Sang Maha Pencipta. Kita tidak tahu siapa yang akan bersama kita hingga tua nanti. Kamu berdoa saja, semoga kamu dan Kak Adam memang berjodoh. Jika pun tidak, kamu harus bisa menguasai diri dan menerima semuanya dengan lapang dada.”
“Entahlah aku juga sebenarnya sudah berusaha untuk melupakan perasaanku pada Kak Adam, tetapi setiap kali melihat dia di depanku, hati ini begitu berdebar. Ada perasaan yang tidak pernah aku rasakan terhadap pria lain. Aku tidak tahu bagaimana jadinya jika Kak Adam berjodoh dengan orang lain. Aku tidak sanggup menghadapi semua ini," ujar Ainiya sambil menundukkan kepala.
Sebenarnya gadis itu juga ingin membuka hati untuk orang lain, tetapi seluruh hati dan pikirannya sudah tertuju pada Adam. Jujur dia juga merasa bersalah, pada kedua orang tuanya karena harus memiliki perasaan pada sepupunya. Yang dia takutkan adalah hubungan keluarga jadi semakin sulit.
.
.
__ADS_1