Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
155. Sebelum pergi


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap Kinan yang baru saja turun dari mobil.


Dia berjalan dengan cepat mendekati mamanya. Mama Aisyah yang sedang menyiram tanaman di halaman pun segera menghampiri putrinya. Wanita itu mengira jika Kinan akan langsung ke rumah mertuanya.


“Kalian datang ke sini nggak bilang-bilang,” ucap Mama Aisyah sambil memeluk putrinya.


“Memangnya aku nggak pernah datang ke sini, Ma?” tanya Kinan balik yang masih dalam pelukan mamanya.


“Tentu saja boleh, justru Mama senang kalau kamu datang ke sini.” Mama Aisyah mengurai pelukan mereka.


“Assalamualaikum, Ma,” ucap Hanif sambil mencium punggung tangan wanita paruh baya itu.


“Waalaikumsalam, ayo masuk! Kalian berdua sudah sarapan?”


“Sudah, Ma, tadi di hotel,” jawab Kinan yang kemudian melihat ke sekeliling rumah. “Rumah sepi sekali, ke mana semua orang, Ma?”


“Papa sudah berangkat ke kantor. Ayman sama Zayna mengantar Pak Rahmat dan Bu Savina ke bandara.”


“Mereka sudah pulang! Cepat sekali.”


“Iya, mereka sudah pesan tiket dari kemarin. Aku kira mereka akan di sini saja sampai acara tujuh bulanan Zayna, tapi mereka bilang nanti akan ke sini lagi. Sudahlah, ajak suamimu ke kamar. Mungkin dia mau istirahat, biar Mama suruh Bik Ira buat nyiapin minuman buat kalian.”


“Tidak perlu, Ma. Nanti biar aku ambil sendiri jika haus. Mama lanjutin saja nyiram tanamannya.”


“Ya sudah, Mama ke depan dulu. Kalian istirahat saja, nanti saat mau makan siang Mama bangunin.”


“Iya, Ma.”


Mama Aisyah kembali ke depan untuk menyiram tanamannya, sementara Kinan mengajak sang suami masuk ke dalam kamar. Pria itu melihat-lihat sekeliling kamar istrinya. Semua tampak tersusun dengan sangat rapi. Dia yakin jika wanita itu suka dengan kebersihan. Kemarin memang dia sudah pernah masuk ke sini, tetapi tidak begitu memperhatikan karena terlalu lelah.


“Kamu suka boneka juga?” tanya Hanif saat melihat beberapa boneka berjajar di atas ranjang.


“Iya, aku suka. Apalagi jika bentuknya unik-unik, kecuali kalau boneka panda. Apa pun bentuknya, aku suka semuanya," jawab Kinan sambil memeluk salah satu boneka panda.


“Sekarang kamu sudah punya suami jadi, semua boneka ini nggak harus di atas ranjang ‘kan? Sudah ada yang dipeluk.”


“Ada atau tidak, aku juga nggak pernah peluk boneka kalau tidur. Biasanya yang aku peluk ini,” ucap Kinan sambil menunjuk ke arah guling yang ada di tengah ranjang.


“Kalau begitu gulingnta saja yang disingkirkan," ucap Hanif sambil mengambil guling dan berniat menyingkirkannya jauh-jauh.


“Apa sih, Mas. Aku nggak bisa tidur kalau nggak ada gulingnya," sahut Kinan dengan berusaha menarik guling yang ada di tangan Hanif.

__ADS_1


“Buktinya semalam bisa tidur,” goda Hanif.


“Ih, itu beda lagi, Mas."


“Nggak ada bedanya, sama saja. Pokoknya nggak ada guling di atas ranjang.”


“Terserah kamu sajalah," ucap Kinan yang sudah melepaskan tarikannya. Hanif juga sepertinya tidak mau mengalah. "Kamu mau dibuatin teh apa kopi, Mas?”


“Nggak perlu, nanti saja. Sekarang aku mau istirahat sebentar, aku masih mengantuk.”


“Aku keluar sebentar kalau begitu.”


“Kamu mau ke mana?”


“Mau bicara sama Mama sebentar. Nanti aku pasti jarang sekali bertemu Mama. Sekarang mau menikmati waktu berdua sebelum pergi dari sini.”


“Ya sudah tidak apa-apa. Aku mau istirahat saja.”


Kinan mengangguk dan berlalu dari sana. Dia pergi ke depan untuk menemui mamanya. Wanita yang sudah melahirkan, membesarkan dan juga mengajarkan banyak hal padanya. Jasa-jasanya tidak akan bisa tergantikan oleh apa pun.


“Mama,” panggil Kinan sambil memeluk mamanya dari belakang.


“Kamu ini mengagetkan Mama saja. Kenapa masih di sini? Tidak istirahat? Kamu pasti masih capek.”


“Kalau begitu, ayo, kita ke taman samping saja! Kita ngobrol di sana. Mama juga ingin mendengar cerita anak mama ini.”


Mama Aisyah pun mengajak Kinan ke samping rumah. Lebih dulu dia meminta tolong pada asisten Ruman tangganya, untuk membuatkan dua minuman dan juga camilan ke taman samping. Bik Ira pun menyiapkan apa yang diinginkan oleh majikannya dan segera membawakannya ke taman.


“Kalian jadi nanti menetap di rumah Papa Wisnu?” tanya Mama Aisyah setelah beberapa saat.


“Iya, Ma. Mas Hanif juga bilang seperti itu tadi.”


“Kamu nggak keberatan tinggal sama mertuamu?”


“Tidak, Ma. Bagiku mereka sekarang juga orang tuaku, aku juga harus mengabdikan diri pada mereka. Mama sering mengajariku seperti itu, kan?”


“Syukurlah jika begitu, anggap mereka seperti orang tua kamu sendiri. Perlakukan mereka seperti kamu memperlakukan Papa dan Mama. Jika kamu dan mertuamu berbeda pendapat, itu hal yang wajar. Kamu harus tetap menghormatinya, cari solusi yang tepat agar tidak menyakiti hati mertuamu. Sekali kamu menyakitinya, itu pasti akan membekas."


“Iya, Ma. Terima kasih nasehatnya. Aku juga banyak belajar bagaimana Kak Zayna dan Mama selalu tampak akur dan bahagia. Kalian juga selalu bersikap layaknya anak dan mama sendiri. Bahkan ada beberapa orang yang mengira jika Kak Ayman lah menantu Mama.” Mama Aisyah dan Kinan sama-sama tertawa. Mereka mengingat moment kala mereka sedang makan di luar dan ada rekan bisnis Papa Hadi. Dia mengira jika Zayna putrinya dan Ayman menantunya.


“Iya, kamu benar. Ada beberapa juga yang mengira jika Zayna itu kamu. Sudah jelas-jelas kalau kamu belum menikah saat itu, masa dibilang sudah hamil.”

__ADS_1


“Mereka ‘kan nggak tahu, Ma.”


Mama Aisyah dan Kinan pun bercerita banyak hal dari mengenai pernikahan, maupun kehidupan mereka sehari-hari. Wanita paruh baya itu berharap rumah tangga putrinya akan selalu bahagia. Jika mereka sedang ada masalah, mudah-mudahan bisa teratasi dengan cepat dan baik. Sebagai orang tua Mama Aisyah hanya bisa berdoa, selebihnya biarlah Tuhan yang menentukan.


“Assalamualaikum,” ucap Zayna saat baru memasuki rumah.


“Waalaikumsalam, Neng,” jawab Bik Ira.


“Mama mana, Bik?”


“Ada di taman samping rumah, Neng. Sama Non Kinan.”


“Kinan ada di sini?”


“Iya, sama suaminya, tapi suaminya masuk kamar. Kalau Non Kinan ada di taman samping rumah.”


“Ya sudah, Bik. Saya ke sana dulu.”


“Mau dibuatkan minum, Neng?” tanya Bik Ira sebelum Kinan benar-benar pergi.


“Tidak usah, nanti saya biar ambil sendiri.” Bik Ira mengangguk dan kembali melanjutkan aktifitasnya, sedangkan Zayna menuju taman.


“Kinan, kapan kamu datang?” sapa Zayna.


“Kakak, aku baru saja sampai. Kak Ayman mana?”


“Mas Ayman pergi ke kantor. Baru saja Ilham telepon, katanya ada klien yang mendadak ingin bertemu.”


Kinan mengangguk dan berkata, “Kakak, duduk di sini yuk! Kita ngobrol sama-sama. Mungkin nanti aku akan jarang sekali bertemu dengan kalian.”


“Siapa bilang seperti itu. Kita masih tinggal satu kota jadi, masih bisalah bertemu. Aku yang sama orang tua beda kota saja bisa bertemu.”


“Iya, tapi pasti berbeda.”


“Iya sih, tapi apa pun itu, aku hanya bisa berdoa agar kamu dan suamimu selalu baik-baik saja dan selalu berbahagia."


"Amin, terima kasih doanya, Kak."


Mereka pun berbincang sambil bercanda. Zayna menatap adik iparnya yang terlihat begitu bahagia. Dia senang melihatnya karena semua orang tahu jika awalnya Kinan merasa terpaksa menikah dengan Hanif. Namun, melihat kebaikan dan kegigihan pria itu, sudah pasti mampu meluluhkan hati Kinan.


Cukup lama mereka menghabiskan waktu di taman, tidak terasa suara adzan Zuhur berkumandang. Padahal pengantin baru itu masih ingin berbincang dengan keluarganya.

__ADS_1


.


.


__ADS_2